Senin, 11 Januari 2010

Pertemuan Imam Husain as Dengan Umar Bin Sa’ad

Demi menuntaskan hujjahnya, Imam Husain as menyampaikan pesan kepada Umar bin Sa’ad bahwa beliau ingin bertemu dengannya. Umar setuju. Maka, diadakanlah sebuah pertemuan antara keduanya. Umar bin Sa’ad ditemani 20 orang dari pasukannya sebagaimana Imam Husain as juga ditemani oleh 20 pengikutnya. Namun, di tengah pertemuan ini keduanya memerintahkan semua pengikut masing-masing itu untuk keluar dari ruang pertemuan kecuali dua orang dari mereka masing-masing. Dari pihak Imam Husain yang dizinkan untuk terus terlibat dalam pertemuan adalah Abbas dan Ali Akbar as, sedangkan dari pihak Umar bin Sa’ad yang diperbolehkan tinggal adalah puteranya, Hafs, dan seorang budaknya.

Dalam pertemuan 6 orang ini terjadi dialog sebagai berikut:

Imam Husain as: “Hai putera Sa’ad, adakah kamu tidak takut kepada Allah, Tuhan yang semua orang akan kembali kepada-Nya. Kamu berniat memerangiku walaupun kamu tahu aku adalah cucu Rasulullah, putera Fatimah Azzahra, dan Ali. Hai putera Sa’ad, tinggalkanlah mereka (Yazid dan pengikutnya) itu, dan kamu lebih baik bergabung denganku karena ini akan mendekatkanmu dengan Allah.”

Umar bin Sa’ad: “Aku takut mereka menghancurkan tempat tinggalku.”

Imam Husain as: “Aku akan membangunnya kalau mereka merusaknya.”

Umar bin Sa’ad: “Aku takut mereka merampas kebunku.”

Imam Husain as: “Kalau mereka merampasnya, aku akan menggantinya dengan yang lebih baik.”

Umar bin Sa’ad: “Aku punya keluarga dan sanak famili, aku takut mereka disakiti.”

Imam Husain as terdiam dan tak mau menyambung jawaban lagi. Sambil bangkit untuk keluar meninggalkan ruang pertemuan beliau berucap: “Allah akan membinasakanmu di tempat tidurmu. Aku berharap kamu tidak akan dapat memakan gandum di Ray kecuali sedikit.”

Dengan nada mengejek, Umar bin Sa’ad menjawab: “Kalau aku tidak dapat menyantap gandumnya, barley-nya sudah cukup bagiku.”

“Hai putera Sa’ad, jadi kamu hendak membunuhku dengan harapan dapat berkuasa di Ray dan Jirjan seperti yang dijanjikan Ibnu Ziyad. Demi Allah kamu tidak akan dapat menggapai ambisimu itu karena ayahku sudah memberitahuku tentang ini. Lakukan segala apa yang kamu inginkan karena sepeninggalku di dunia ini nanti kamu tidak akan pernah bahagia lagi. Aku seakan sudah melihat kepalamu tertancap di ujung tombak dipajang di Kufah. Kepalamu itu dilempari oleh anak-anak kecil.”

Imam Husain as kemudian pergi meninggalkan Umar bin Sa’ad tanpa membawa hasil apapun dari pertemuan tersebut. Umar bin Sa’ad memang dikenal sebagai pria pandir, pengkhianat, dan pendusta. Sifat-sifat buruk ini antara lain dia perlihatkan dalam surat yang dikirimnya kepada Ibnu Ziyad. Dalam surat ini dia menyatakan: “Husain telah memutuskan untuk pulang kembali ke negerinya atau jika tidak dia akan pergi menghadap Yazid untuk menyatakan baiat.” Ini jelas satu kebohongan yang dikaitkan dengan Imam Husain as, dan karenanya beliau berkali-kali menegaskan: “Sesungguhnya si anak zina (Umar) putera si anak zina itu (Sa’ad) telah menghadapkanku pada dua pilihan, mati atau hidup secara terhina. Tetapi kehinaan bagiku adalah pantangan. Allah dan rasul-Nya serta orang-orang yang mukmin dan salih tidak mungkin akan menerima kehinaan dan tidak menganggap kehinaan lebih baik daripada kematian dengan penuh kehormatan…” [1]

Setelah membaca surat ini, Ubaidillah bin Ziyad berkata: “Ini adalah surat seorang pendamba kebaikan dan penyayang untuk kaumnya.”[2]

Akan tetapi, begitu Ibnu Ziyad hendak membalas surat ini, Syimir bin Dzil Jausyan bangkit dan berkata kepadanya: “Apakah engkau percaya kepada kata-kata Ibnu Sa’ad sementara engkau tahu Husain tidak menjabat tanganmu untuk menyatakan baiat?”

Kata-kata Syimir segera mengubah pandangannya tentang Ibnu Ziyad. Karena itu dalam surat balasannya dia menuliskan:

“Aku mengirimmu bukan untuk perdamaian, kompromi, dan mengulur urusan. Ketahuilah, jika dia menuruti perintahku maka kirimkan dia kepadaku sebagai orang yang sudah menyerah. Jika tidak, maka sikapilah dia dengan kekerasan, perangilah dia, dan jika dia sudah mati letakkan jasad di bawah injakan kaki-kaki onta…”

“Jika ini kamu lakukan, berarti kamu sudah dekat denganku dan aku akan memberimu imbalan yang besar. Jika tidak maka menyingkirlah kamu dan jabatan panglima perang akan aku serahkan kepada Syimir.”

Surat ini disusul dengan satu surat lagi yang menyatakan: “Aku sudah mengirimkan pasukan yang cukup untukmu. Kamu harus melaporkan apa yang terjadi siang dan malam. Husain dan para pengikutnya jangan diberi jalan untuk mendatangi sungat ElFrat. Jangan biarkan mereka menngambil walaupun setetes.”

Pada hari ketujuh bulan Muharram, Ubaidillah bin Ziyad mengirim 500 pasukan berkuda dipimpin Amr bin Hajjaj untuk memperketat penjagaan sungai ElFrat dari jangkauan Imam Husain as dan para pengikutnya. Belum cukup dengan itu, Ubaidillah alias Ibnu Ziyad itu mengirim lagi 4000 pasukan ke Karbala disertai dengan surat untuk Umar bin Sa’ad. Seperti sebelumnya, surat ini menekan Umar supaya melaksanakan tugasnya sebaik mungkin, jika tidak maka Umar harus menyingkir dan posisinya akan digantikan Syimir. Namun, kepada Syimir Umar mengatakan: “Aku akan tetap memegang komando pasukan, dan posisi terhormat ini tidak akan jatuh ke tanganmu. Biarlah kamu tetap memimpin pasukan pejalan kaki.”[3]

Syimir yang merasa sudah tidak ada lagi waktu untuk berbasa-basi segera menghampiri perkemahan Imam Husain as kemudian berteriak: “Hai, dimana kalian wahai anak-anak saudara perempuanku?”[4]

Mendengar suara teriakan manusia keparat itu, Imam Husain as berkata kepada beberapa orang saudara, termasuk Abu Fadhl Abbas as: “Aku tahu Syimir adalah manusia yang fasik, tetapi karena dia masih tergolong kerabat kalian, maka jawablah teriakannya.” Maka, empat orang yang bersangkutan pun menjawab: “Apa kamu maukan dari kami?!”

“Kalian adalah anak-anak saudara perempuanku. Kalian saya jamin aman asalkan kalian melepaskan diri kalian dari Husain dan patuh kepada Amirul Mukminin Yazid bin Muawiah” Pekik Syimir.

Abu Fadhl Abbas menjawab: “Apakah kamu akan mengamankanku sedangkan putera Rasul tetap diberi keamanan?![5] Semoga Allah melaknatmu beserta keamanan yang kamu miliki itu!”

0 komentar:

Template by - Abdul Munir - 2008