Senin, 11 Januari 2010

Penuntasan Hujjah

Demi menuntaskan hujjahnya, Imam Husain as kemudian berseru kepada manusia-manusia durhaka itu:

“Hai orang-orang, coba kalian perhatikan kata-kataku. Kalian semua tahu siapa aku dan dengan siapakah nasabku bersambung. Kembalilah kalian hati nurani kalian, niscaya kalian akan mencela diri kalian. Cobalah kalian sadari, apakah maslahat untuk kalian jika kalian membunuhku?! Bukankah aku adalah petera dari puteri Nabi kalian? Bukankah aku adalah putera washi dan sepupu nabi kalian? Bukankah aku adalah putera washi Nabi yang telah beriman sebelum orang lain beriman serta mengakui kebenaran apa yang dibawa Nabi dari Allah? Bukankah Hamzah, pemuka kaum syuhada, adalah paman ayahku? Bukankah Jakfar yang terbang di dalam surga dengan kedua sayapnya itu adalah pamanku? Bukankah tentang aku dan kakakku, Hasan, kalian telah mendengar sabda Rasulullah SAWW: ‘Sesungguhnya keduanya adalah pemuka kaum pemuda penghuni surga’?

“Hai orang-orang, jika kalian mengakui kebenaran kata-kataku, kalian akan pasti mengetahui mana yang hak. Demi Allah, Allah memusuhi para pendusta, dan karenanya aku tidak akan berdusta. Hai orang-orang, seandainya kalian meragukan kebenaran kata-kataku, apakah mungkin kalian meragukan bahwa aku adalah putera dari puteri Nabi kalian? Demi Allah, baik di tengah kalian maupun di tengah orang-orang lain, tidak ada putera dari puteri Nabi selain aku.”

“Alangkah celakanya kalian. Adakah kalian hendak menuntut darahku sedangkan aku tidak pernah membunuh siapapun diantara kalian? Adakah kalian akan meng-qisasku sedangkan aku tidak pernah mengusik harta benda kalian atau melukai seseorang dari kalian?”

Semua orang terdiam mendengar kata-kata Imam Husain as. Tak seorang pun berani menjawab. Beliau berseru lagi:

“Hai Syaits bin Rab’ii, Hai Hajjar bin Ajbar, hai Qais bin Asy’ats, hai Zaid bin Harits, bukan kalian telah menulis surat kepadaku dan menyatakan: ‘Buah di pohon-pohon kami telah matang, kebun-kebun kami telah hijau, dan jika engkau datang kepada kami niscaya kami akan mempersiapkan pasukan untukmu’?”

Qais bin Asy’ats tiba-tiba menjawab: “Kata-katamu ini sudah tidak ada gunanya lagi. Kamu tak usah berperang dan lebih baik menyerah kepada anak-anak pamanmu itu karena mereka tidak akan berbuat buruk kepadamu.”

Imam Husain as berkata: “Demi Allah, aku tidak akan menyerah kepada kalian. Aku tidak bersedia menjadi orang hina di depan orang-orang durhaka. Aku tidak akan membebani diriku dengan ketaatan kepada aturan manusia-manusia yang terbelenggu.”

Puteri Fatimah Azzahra ini kemudian membacakan dua ayat suci dalam AlQuran dengan suara lantang:

“Sesungguhnya aku hanya berlindung kepada Tuhanku dan Tuhan kalian dari kehendak kalian untuk merajamku.“[1]

“Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhan kalian dari setiap manusia takabur yang tak beriman kepada hari pembalasan.“[2]

Imam Husain as kemudian meminta Umar bin Sa’ad datang mendekati beliau. Meski dengan berat hati dan gengsi, Ibnu Sa’ad itu memenuhi permintaan Imam Husain as.

“Hai Ibnu Sa’ad!” Cecar Imam Husain as. “Apakah kamu akan membunuhku supaya Abdullah bin Siyad si anak zina dan putera zina itu menyerahkan kekuasaan di Rey dan Jurjan kepadamu? Demi Allah, apa yang kamu harapkan itu tidak dapat kamu capai. Kamu tidak menyaksikan hari yang kamu harapkan akan menuai ucapan selamat atas kekuasaanmu di dua wilayah itu. Aku seakan sudah melihat bagaimana kepala tertancap diujung tombak kemudian dilempari oleh anak-anak kecil di Kufah.”

Kata-kata Imam Husain as ini memancing emosi Umar bin Sa’ad. Dia segera berpaling ke arah pasukannya sambil berteriak: “Menunggu apa kalian? Cepat bereskan si pemalas ini. Seranglah Husain dan para pengikutnya yang jumlahnya hanya segelintir itu.â€‌

Imam Husain as segera bergegas menunggangi kudanya. Orang-orang yang ada masih tetap dimintanya untuk tenang lagi. Ketika mereka masih bersedia diam, beliau menyampaikan sebuah khutbah yangn diawali dengan puja puji kepada Allah dan salam serta salawat kepada para nabi dan rasul serta para malaikat Allah. Dalam khutbahnya beliau antara lain berkata kepada pasukan musuh sbb:

“Celakalah kalian semua. Kemiskinan dan kesengsaraan adalah nasib kalian tadinya dengan penuh antusias telah menganggapku sebagai penyambung lidah kalian sehingga kamipun datang dengan maksud menolong kalian. Namun, pedang-pedang yang tadinya adalah milik kami lalu kami serahkan kepada kalian kini telah kalian hunus untuk menghabisi kami. Kobaran api yang tadinya kami kobarkan untuk melawan musuh kami dan kalian kini kalian kobarkan terhadap kami. Kalian berkomplot dengan musuh untuk menumpas teman-teman kalian sendiri. Padahal musuh-musuh itu tidaklah menerapkan keadilan di tengah kalian sehingga kalian pun tidak memiliki harapan yang baik di tengah mereka.”

“Karena itu celakalah kalian semua! Di saat pedang-pedang masih tersimpan di dalam sarangnya, ketika jiwa semua orang masih tenang dan tak ada yang berpikir untuk berperang, mengapa sejak itu pula kalian enggan membiarkan kami tenang?! Sebaliknya kalian malah seperti gerombolan hama yang mengalir menuju bencana, dan ibarat kumpulan kupu-kupu yang terbang centang perenang di tengah bencana.”

“Celakalah kalian, hai para budak dan orang-orang pinggiran! Hai orang-orang yang berpaling dari Kitab Allah! Hai para pendurjana! Hai air ludah yang mengalir dari mulut syaitan! Hai para pemadam sunnah Ilahiah! Adakah kalian masih akan membantu kelompok musuh dan membiarkan kami tertindas sendirian?â€‌

Imam Husain as kemudian membacakan ayat-ayat suci AlQuran sbb:

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan. Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin).â€‌[3]

“Demi Allah, perbuatan makar kalian ini bukanlah yang pertama kalinya. Perbuatan ini sudah mengakar dan mendarah daging dalam diri kalian. Darinyalah dahan-dahan kalian tumbuh dan terawat. Kalian adalah buah paling najis dari pohon ini dan kini sedang dikulum oleh pemilik yang mengawasinya, tetapi di saat kalian nanti sudah menjadi duri dan tulang yang mengganjal tenggorokan niscaya kalian akan ditelan begitu saja.â€‌

“Ketahuilah, Ubaidillah bin Siyad, anak zina putera si anak zina itu telah menghadapkanku pada dua pilihan; berperang mengangkat pedang dan meneguk syahadah, atau pasrah kepada kehinaan, tetapi alangkah jauhnya kehinaan itu dari kami.”

“Allah tidak menerima kehinaan menimpa kami. Rasulullah dan orang-orang yang beriman juga tidak menerimanya. Kesucian yang telah membina kami sama sekali tidak memperkenankan kami berada di bawah kezaliman dan penganiayaan. Mereka semua tidak akan merestui keputusan kami untuk lebih mengutamakan ketaatan kepada manusia-manusia durjana dan hina daripada kematian sebagai manusia agung dan mulia.”

“Ketahuilah bahwa aku bersama segelintir jamaahku ini telah siap berperang walaupun jumlah kami kecil dan tak akan ada lagi orang yang membantu kami.”

“Keengganan berkorban demi suatu kecintaan adalah pantangan bagi kami. Keengganan seperti ini agar kami dapat tidur nyenyak adalah pantangan bagi kami. Kamilah orang-orang yang tak kenal lelah. Dalam ajaran kami tidak akan ada pengenduran tali pinggang.â€‌

Imam Husain as kemudian mengaitkan kata-katanya dengan bait-bait syair Farwah bin Musaik AlMuradi. Dari beberapa bait syair itu beliau mengungkapkan tamsil sebagai berikut:

“Seandainya kami menang dan berhasil mengalahkan musuh maka ini bukan sesuatu yang baru bagi kami karena sejak dulu kehendak dan kejadian seperti ini sudah pernah kami alami. Namun, seandainya kamipun tak berdaya maka itu bukan berarti kami telah kalah karena niat dan kehendak kami adalah demi kebaikan dan takwa, dan makna sedemikian ini tidak akan pernah mengenal kata kalah.”

“Seandainya kematian menarik diri dari suatu kaum, maka kematian akan mereggut suatu kaum yang lain, dan sesungguhnya tak ada satupun manusia yang bisa lolos dari kematian. Kematian inilah yang telah meniadakan para pemuka kaum kami, sebagaimana ia telah meniadakan kaum-kaum terdahulu.”

“Seandainya para raja dan penguasa bumi di alam dunia dapat hidup abadi, niscaya kamipun akan dapat hidup abadi. Seandainya orang-orang besar dapat bertahan hidup, maka kami pun juga akan bertahan hidup. Akan tetapi keabadian (di alam dunia) tidak akan pernah ada.”

“Maka dari itu, katakanlah kepada mereka yang menghujat kami: ‘Sadarlah kalian, dan ketahuilah bahwa kalian juga akan menyongsong kematian sebagaimana kami.’

“Demi Allah, setelah syahadahku nanti, kalian tidak akan bisa menggapai apa yang kalian dambakan. Kalian tidak akan bisa lama-lama di dunia ini. Seperti saat kalian berkelana dengan mengendarai, kalian akan merasakan waktu ini hanya seperti putaran batu penggilingan yang mengelilingi kalian. Dan karena porosnya berkutat pada kalian maka kalian tertambat pada keraguan. Ini adalah suatu perjanjian yang dijalin ayahku dengan restu kakekku.”

“Sekarang coba kalian pertemukan pandangan kalian dengan pikran para komplotan kalian. Cobalah kalian pikirkan lalu ambillah keputusan karena kalian tahu pasti urusan kalian sendiri. Pikirkan matang-matang agar kalian tidak menyesal dan tertimpa beban pikiran. Jika ini sudah kalian pikirkan, maka kalian tak usah ragu-ragu dalam menyerangku. Habisilah aku sesegera mungkin!”

“Aku bertawakkal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian semua. Tak sesuatu yang bergerak di muka bumi ini kecuali sudah ditentukan dalam kodrat-Nya. Saya yakin bahwa Tuhanku ada di pihak yang benar.”[4]

Imam Husain as kemudian menghadapkan wajahnya ke arah para sahabatnya. Setelah mengucapkan pujian kepada Allah beliau berkata: “Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Mulia telah meridhai terbunuhnya kalian dan aku pada hari ini, maka sabarlah kalian dan bersiaplah untuk berperang.”[5]

Demi menuntaskan hujjahnya lagi, beliau berkata kepada para sahabat dan pengikutnya:

“Hai putera-putera yang mulia, bertabah kalian, karena sesungguhnya kematian ini tak lain adalah jembatan yang akan kalian titi dari penderitaan menuju surga yang sangat luas, menuju kenikmatan yang abadi. Maka janganlah kalian khawatir untuk berpindah dari penjara menuju istana, sedangkan musuh-musuh kalian tak lain ibarat orang yang dipindahkan dari istana menuju penjara dan siksaan. Mengutipkan sabda Rasulullah, ayahku pernah berkata kepadaku: ‘Sesungguhnya dunia adalah penjara bagi orang yang beriman dan surga bagi orang yang kafir. Kematian adalah jembatan menuju surga bagi mereka yang beriman serta merupakan jembatan menuju neraka bagi mereka yang kafir. Aku tidaklah berdusta dan tidak pula didustai.”[6]

0 komentar:

Template by - Abdul Munir - 2008