Rabu, 09 Desember 2009

Fathur Robbany (15)


bis.jpg

Mengikuti Pengajian Syeikh Abdul Qodir al-Jilany
Hari Ahad tanggal 17 Syawal 545 H di Pesantrennya.

Dunia ini Hakikatnya Musibah

Ya Allah limpahilah rahmat bagi Kanjeng Kanjeng Nabi Muhammad Saw dan keluarganya.

“Berikanlah kami kesabaran dan berikanlah keteguhan langkah kami.” Limpahilah anugerahMu yang banyak, limpahilah rizki syukur atas anugerahMu…”

Bersabarlah kalian semua, sesungguhnya seluruh isi dunia ini hakikatnya adalah bencana dan musibah. Sedikit sekali yang bukan musibah. Setiap rasa nikmat melainkan diiringi oleh derita. Dan setiap kesenangan, melainkan ada kesedihan. Tak ada keleluasaan yang muncul melainkan disana ada kesempitan. Berikanlah dunia dan kehidupanmu, raihlah bagianmu dari dunia dengan aturan syar’y. Karena aturan Ilahi itu merupakan terapi bagi penyakit dari duniamu.

Berjalanlan di alur syariat jika anda menghendaki. Dan raihlan melalui tangan “Amr Ilahi” manakala anda tergolong kaum sufi. Dan melalui tangan Kinerja Allah Ta’ala anda meraihnya, manakala anda tergolong orang yang patuh, orang yang sudah sampai kepadaNya. Dengan langkah kepadamu, dan Perintah yang memerintahmu serta mencegahmu, sedangkan KinerjaNya menggerakkan apa yang ada dalam dirimu.
Manusia itu terbagi tiga kelompok. Kelompok awam, kelompok khowash dan kelompok khowashul khowash (sangat khusus).


Manusia awam adalah muslim yang taqwa, yang memegang teguh aturan syariah dalam ibadahnya, dan mereka ini masuk dalam kategori firman Allah swt:
“Apa yang datang dari Rasul ambillah, dan apa yang dilarang bagimu, hindarilah.”

Jika hal ini bisa sempurna lahir maupun batin, hati hamba akan cemerlang, lalu hatinya merasa cukup karena berpegang pada syara’, lalu ia meraih Ilham dari Allah Ta’ala, karena IlhamNya ada dalam segalanya, sebagaimana firmanNya:
“Maka Allah mengilhaminya, baik sikap menyimpangnya dan ketaqwaannya.”
Hamba ini begitu bertaqwa hatinya dan terus memandang Ilham Ilahi. Tandanya ia meraih dzahirnya perintah, bahwa dalam kehidupan ini ada yang merajai dimana kekuasaan ada di TanganNya.

Lalu cahaya hatinya memancar karena itu, setelah menjalankan ibadah syariatnya dengan kekuatan imannya dan tauhidnya, setelah hatinya keluar dari dunia dan jagad makhluk ini dengan segala keruwetan dan busa-busanya. Lalu datanglah subuh hari, datanglah cahaya iman, cahaya taqarrub dari Tuhannya Azza wa-Jalla. Cahaya amal dan cahaya kesabaran, cahaya kasih dan ketentraman. Semua ini buah dari ibadah menurut aturan syariah, dan berkah dibalik semua itu.

Sedangkan para Abdal (Wali Abdal) adalah kaum Khowashul khowash justru yang memberikan fatwa syara’, lantas mereka ini memandang perintah Ilahi, Kinerja, Gerak dan IlhamNya. Selain itu semua berarti kehancuran dalam kehancuran, sakit dalam kesakitan, haram dalam keharaman. Kepusingan dalam pokok agama, rumit dalam hati dan runyam dalam jasadnya.

Wahai kaum Sufi. Apa yang diberlakukan oleh Allah Ta’ala bagi dirimu, sesungguhnya agar kamu memandang bagaimana kamu memberlakukannya? Apakah kamu bisa kokoh atau sebaliknya malah lari? Apakah kamu jujur atau mendustai? Sebab siapa yang tidak selaras dengan kepastianNya, tidak meraih kasih sayang dan tidak meraih keselarasan. Siapa yang tidak rela pada ketentuanNya, maka tidak akan meraih ridloNya. Siapa yang tidak memberi tidak diberi.

Wahai si bodoh, kamu ingin berubah dan berganti sesuai dengan seleramu. Kamu jadi tuhan kedua dengan menginginkan agar Allah Azza wa-Jalla berselaras dengan dirimu. Kamu harus membalik pandanganmu, agar kamu benar. Kalau bukan karena takdir-takdir itu, kamu tidak akan tahu mana klaim-klaim kebohongan, dan ketika tertarik, maka jelaslah disana, mutiara-mutiara. Ingkarilah nafsumu yang senantiasa kontra kepada Allah Azza wa-Jalla. Kalau kamu bisa kontra pada nafsumu, kamu pasti bisa kontra pada selain dirimu. Atas kekuatan imanmu, kamu bisa menghapuskan seluruh kemungkaran jiwamu. Tapi karena kelemahan imanmu pula, kamu hanya duduk di rumah dan enggan menghilangkan kemungkaran hatimu.

Langkah-langkah iman itu adalah kekuatan yang bisa jadi bekal untuk mengapai syetan-syetan manusia dan jin, yang bisa membuat kokoh ketika kamu menghilangkan cobaan dan bencana. Pijakan-pijakan iman yang ada, jika tidak memiliki langkah kuat, jangan disebut iman. Singkirkan semuanya, dan Cintailah Khalik secara total. Bila Dia menghendaki, Allah akan memberikan limpahan cintaNya padamu hal-hal yang kau benci, tetapi engkau tetap terjaga di sana. Karena Dialah Yang Membuat Cinta, bukan dirimu, sebagaimana sabda Nabi SAW.:
“Ada tiga hal dari duniamu yang membuat aku mencinta: Wewangian, wanita, dan kesejukan jiwa dijadikan padaku dalam sholat.”

Beliau dilimpahi cinta itu setelah menyingkir, meninggalkan, zuhud dan berpaling. Karena itu kosongkan hatimu dari selain, sehingga jika muncul kecintaan semata karena kehendakNya.

0 komentar:

Template by - Abdul Munir - 2008