Rabu, 09 Desember 2009

Kisah Bal’am dan wabah Tha’un

images

Suatu hari Nabi Musa AS dan puluhan ribu orang Bani Israil singgah di Kan’an, salah satu wilayah di Syam-Syiria. Melihat kedatangan mereka, segeralah warga Kan’an mengadukan mereka kepada Bal’am, seorang tokoh yang sangat disegani. “Orang ini adalah Musa bin Imran yang memimpin Bani Israil. Dia datang untuk mengusir kami lalu menempati negeri kami padahal kami tidak memiliki tempat tinggal. Engkau adalah orang yang doanya makbul, maka doakanlah mereka dengan keburukan”. Kata warga Kan’an.

Mendengar itu justru Bal’am marah. “Celakalah kamu. Yang bersama Nabi الله itu adalah para malaikat dan orang-orang yang beriman. Bagaimana mungkin aku mendoakan mereka dengan nasib buruk padahal aku mengetahui dari الله apa yang aku ketahui “. Katanya. Karena mereka terus membujuk, akhirnya Bal’am terpengaruh juga. Maka Bal’am pun mengendarai keledainya menuju gunung Husban, tempat tinggal Nabi Musa AS berkemah. Namun belum jauh berjalan, keledainya berhenti. Mungkin karena kelelahan, maka iapun turun dan beristirahat sejenak. Tak lama kemudian ia melanjutkan perjalanan. Tetapi belum jauh berjalan, keledainya berhenti lagi. Anehnya dengan izin الله keledai itu dapat berbicara.

“Celakalah kamu wahai Bal’am, hendak pergi ke mana kamu ?, apakah kamu tidak melihat para malaikat di depanku yang memalingkan wajahnya ?, apakah kamu hendak menemui Nabi الله dan orang-orang mukmin untuk mendoakan dengan sesuatu yang buruk?” kata keledai.

Tetapi karena telah dikuasai hawa nafsu, Bal’am tidak menghiraukan perkataan keladai tersebut, bahka ia semakin kuat memukul hewan tunggangan itu. Akhirnya dengan terpaksa keledai itu menuruti perintah tuannya, berjalan sampai di puncak gunung Husban.

Sesampai di puncak gunung itu serta merta Bal’am pun mendoakan sesuatu yang buruk untuk Nabi Musa AS dan kaumnya. Akan tetapi ketika ia memulai doanya, الله SWT mengubah gerakan-gerakan lidahnya, sehingga yang keluar dari mulunya adalah doa yang sangat baik untuk Nabi Musa AS dan kaumnya, dan mendoakan sesuatu yang buruk untuk kaum Kan’an.

Mendengar hal itu kaum Kan’an kaget . “Hai Bal’am, apa yang kamu lakukan ?, kamu telah mendoakan dengan sesuatu yang baik kepada mereka dan mendoakan sesuatu yang buruk untuk kami ?”kata mereka.

“Sesungguhnya doa yang keluar dari mulutku tadi bukan karena kemauanku akan tetapi kekuasaan dan kehendak اللهSWT yang sama sekali tidak aku sadari”. Jawab Bal’am. Kemudian Bal’am berkata lagi kepada kaumnya,”Kalau begitu aku akan membuat tipu daya dan muslihat dikalangan Bani Israil”.

Maka dikumpulkanlah beberapa wanita cantik, mereka diberi pakaian yang indah dengan perhiasan dan wewangian. Dengan dibekali beberapa barang dagangan yang menarik, mereka dikirim ke perkemahan Nabi Musa AS.

“Suruh mereka menuruti keiinginan orang-orang yang ingin berzina, agar mereka semua celaka”. Kata Bal’am kepada kaumnya.

Tak lama kemudian, para wanita cantik itu tiba di perkemahan Nabi Musa AS. Salah seorang diantara mereka adalah Kasbi binti Suar, berjalan di depan kemah Zamri bin Syalum. Maka kepala suku Syam’un itupun terpesona hatinya lalu membawa Kasbi menghadap Nabi Mus AS.

“Mungkin Tuan akan mengatakan bahwa wanita ini adalah haram bagiku, karena itu Tuan melarangku untuk mendekatinya”. Kata Zamri.

“Benar, wanita ini diharamkan bagimu, jangan dekati dia”. Jawab Nabi Musa AS.

“Demi الله , pada masalah yang satu ini aku tidak akan menta’atimu”. Kata Zamri. Segera setelah itu ia membawa wanita tersebut ke dalam kemahnya. Dan terjadilah apa yang diperkirakan oleh Bal’am.

Tak lama kemudian الله SWT menurunkan wabah Tha’un (kolera) di kalangan Bani Israil. Ketika penyakit itu mewabah, Fanhash bin Al-Aizar bin Harun, sahabat Nabi Musa AS sedang pergi. Saat kembali ke perkemahan dan mendengar mewabahnya penyakit Tha’un tersebut, ia segera mengambil sebilah tombak lalu menyergap Zamri dan membawa keluar lelaki dan perempuan itu dari kemah.

Sungguh ajaib, setelah itu penyakit Tha’un yang menewaskan lebih dari 70.000 orang Bani Israil, segera hilang lenyap. Di dalam Al-Qur’an, kisah tentang Bal’am bin Wara’ tersebut terekam dalam Surah Al-A’raf 175-177 sebagai pelajaran bagi umat. Tiga ayat itu dimaksudkan sebagai perumpamaan mengenai orang yang telah dianugerahi ilmu oleh الله SWT tetapi tidak mengamalkannya dan sebaliknya malah menyimpang dari nikmat yang diberikan.

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini adalah agar orang – orang yang berilmu mau berhati-hati, takut kepada الله dalam menggunakan ilmunya, dan mengamalkannya untuk mencapai ketinggian derajat, kemuliaan serta bermanfaat bagi orang lain bukan untuk merendahkan derajat kemanusiaan.


...

Pelajaran Hakikat رسول الله SAWW


imagesرسول الله SAWW terlambat hadir di masjid untuk mengimami salat subuh karena bermimpi mendapat pelajaran hakikat dari الله SWT.
Sejak azan subuh berkumandang sampai menjelang fajar, رسول الله SAWW belum muncul di masjid. Para sahabat menjadi gelisah. Beberapa sahabat diutus menemui رسول الله SAWW di rumah beliau, namun yang lain mencegah sebab mereka yakin bahwa رسول الله SAWW akan hadir. Maka merekapun menunggu رسول الله SAWW sembari membaca Al-Qur’an.
Tak lama kemudian رسول الله SAWW masuk ke dalam masjid dan memerintahkan salah seorang sahabat untuk membaca iqamat. Kemudian beliau menjadi imam dan mempercepat shalatnya. Seusai salam, beliau membaca doa dengan suara keras. Suaranya yang jernih penuh wibawa menggetarkan para jama’ah lalu beliau bersabda, “Tetaplah kalian pada shaf masing-masing”.
رسول الله SAWW lalu mengahadap ke arah jama’ah dengan pandangan yang sejuk. Wajahnya yang putih bersinar menandakan suasana hati yang sedang gembira. Mata beliau yang indah dan tajam menatap jama’ah satu per satu. Para jama’ah tertunduk tidak berani menatap wajah رسول الله SAWW yang agung.
Sejurus kemudian beliau bersabda, “Aku akan memberi tahu kalian apa yang menyebabkan aku terlambat datang. Semalam aku bangun mengambil air wudhu lalu mendirikan shalat. Dalam shalatku aku tertidur karena kantuk yang amat berat. Ternyata aku bermimpi bersama الله SWT dalam Rupa yang sangat gemilang”.
Setelah diam sejurus, beliau meneruskan sabdanya, “DIA berfirman, ‘”Wahai Muhammad”. Aku menjawab, ;’Labbaika Yaa Rabb”.
”Mengapa para malaikat berselisih ?”
“Hamba tidak tahu”.
Lalu رسول الله SAWW melanjutkan ceritanya, “الله SWT bertanya sampai tiga kali, kulihat DIA meletakkan telapak TanganNYA di atas bahuku, hingga dapat kurasakan dingin Jari-Jari NYA di dadaku. Segala sesuatu nampak jelas di depanku, dan aku mengetahuinya. Lalu DIA berfirman lagi, “’Wahai Muhammad”’.
“Labbaika Yaa Rabb”.
“Tentang apa para malaikat berselisih ?”
“Tentang penebus-penebus dosa”.
“Apa penebus-penebus dosa itu ?”
“Langkah menuju kebaikan, duduk di masjid setelah shalat, mengguyurkan air wudhu pada saat-saat tidak disukai”.
“Tentang apa mereka berselisih ?”
“Tentang memberi makan, ucapan yang lemah lembut, shalat malam ketika manusia tertidur nyenyak”.
“Mintalah !”
“Yaa الله sesungguhnya aku mohon kepadaMU taufik untuk mengerjakan hal-hal yang baik, meninggalkan yang munkar, mencintai orang-orang miskin dan agar ENGKAU mengampuniku dan merahmatiku jika ENGKAU hendak menimpakan cobaan”.
Setelah itu رسول الله SAWW membaca sebuah doa pendek yang semalam dipanjatkan kepada الله SWT, “ALLAHUMMA INNY AS-ALUKA CHUBBAKA WA CHUBBA MAN YUHIBBUKA WA KULLA AMALIN YUQARRIBUNY ILAA CHUBBIKA”. (Yaa الله aku mohon kepadaMU kecintaanMu dan kecintaan orang-orang yang mencintaiMU , serta kecintaan kepada amal yang mendekatkan kepada kecintaan kepadaMU )
Kemudian dengan suara yang sangat pelan sementara mata beliau yang sangat mulia berkaca-kaca – رسول الله SAWW mengakhiri sabdanya, “ini adalah pelajaran hakikat maka pelajarilah”.
Sumber majalah Al-Kisah
...

Senin, 07 Desember 2009

Al-Hikam


  1. Tetaplah berjalan jangan berhenti
  2. Pilihan-Nya adalah yang terbaik
  3. استسلام
  4. Bagaimana Mungkin الله Terhijab Dari Kita
  5. كل شيء هالك الا وجه
  6. ’Apa bila hawa nafsu dibelenggu dengan meninggalka...
  7. Engkau mengharapkan dapat merasakan manisnya tha’a...
  8. barang siapa yang mau memukul kepalaku ini maka ak...
  9. Amal lahiriyah adalah seperti kerangka, sedangkan ...
  10. Amal dhahir selamanya mengikuti keadaan bathin
  11. Jangan sedih karena sedikit amal
  12. Tiada keraguan terhadap janji Allah
  13. Tiada doa yang tertolak
  14. Sebagian tanda Kebutaan Mata Hati
  15. TENANGKAN DIRIMU wahai murid DARI TADBIR yaitu..
  16. SAHWAT YANG HALUS
  17. Mengandalkan amal ibadah
  18. SHIDIQ 
  19. Sesungguhnya aku ini adalah fitnah oleh karena itu...
  20. Do’a hanya untuk melahirkan rasa butuh kepada-Nya
  21. Jalan menuju Alloh sebanyak hitungan nafas makhluk...






...

Tetaplah berjalan jangan berhenti


4

Manakala seorang salik berkeinginan untuk berhenti pada sesuatu yang telah dibukakan untuk dirinya (dari beberapa ma’rifat), niscaya akan ada seruan dari alam hakikat “Sesungguhnya yang engkau cari (bukan itu) tetapi masih berada di depanmu”. Dan manakala ditampakkan keindahan alam semesta (yang menarik hati untuk condong kepadanya, maka hakikatnya akan menyeru, “Sesungguhnya aku ini adalah fitnah oleh karena itu janganlah engkau kufur”.

Orang yang menempuh perjalanan menuju Alloh akan ditampakkan di tengah perjalanannya berbagai cayaha dan rahasia-rahasia. Apabila timbul keinginan untuk berhenti pada penampakan-penampakan itu, dimana ia berkeyakinan bahwa ia telah sampai pada tujuan dan ma’rifah, niscaya akan ada seruan yang lembut (hatif) dari alam hakikat, “sesungguhnya sesuatu yang engkau cari masih berada di depanmu, oleh karena itu bersungguh-sungguhlah dalam berjalan dan jangan berhenti”. Dan manakala diperlihatkan keelokan dunia dan alam semesta beserta kecantikannya sehingga membuat hati condong dan tertarik kepadanya, niscaya ia akan dipanggil dari alam hakikat, “sesungguhya aku adalah fitnah maka janganlah engkau kufur dan pejamkanlah matamu dari semua itu dan janganlah engkau berpaling kepadanya, dan abadikan suluk (perjalananmu)”.

Ketahuilah sesungguhnya apabila engkau masih memiliki hasrat dan keinginan selain Alloh berarti engkau masih dalam perjalanan yang jauh dan belum sampai tujuan. Jika engkau membersihkan segala keinginanmu, niscaya telah sampailah engkau. Alangkah sesuainya apa yang disampaikan oleh Abul Hasan At-Tustari mengenai hal di atas :

Dan janganlah engkau menoleh kepada yang lain dalam perjalananmu

Karena sesungguhnya segala sesuatu selain Alloh akan berubah

Maka jadikanlah dzikir kepada-Nya sebagai perisai

Pada kesempatan lain dikatakan,” Ingatlah jika engkau ingin mendapatkan bagian dari apa yang diperoleh para kekasih Alloh, wajib bagi kamu untuk meninggalkan manusia kecuali mereka yang dapat menunjukkanmu jalan kepada Alloh baik dengan isyarah yang benar dan amal yang kokoh yang tidak berlawanan dengan kitab dan sunah, dan berpalinglah dari dunia secara keseluruhan. Dan janganlah kamu termasuk golongan orang yang berpaling dari dunia akan tetapi mengharapkan sesuatu yang lain, akan tetapi jadikanlah keberpalingan itu menuju penghambaan kepada Alloh SWT yang memerintahkanmu untuk berpaling dari musuh-Nya. Apabila engkau telah mendapatkan dua perkara ini (berpaling dari manusia dan zuhud atas dunia) maka engkau akan teguh bersama Alloh dengan bermuraqabah kepada-Nya, senantiasa bertaubat, beristighfar dan senantiasa kembali kepada-Nya, tunduk dengan hukum-hukum-Nya, dan istiqamah

Adapun penafsiran masalah di atas yaitu, bahwa engkau berdiri sebagai hamba Alloh dan selalu mengawasi hatimu agar hatimu tidak melihat sesuatu di dunai ini selain Dia. Apabila datang di hatimu sesuatu selain Dia, maka akan ada seruan kebenaran (hatif yang haq) yang berkata, “Sesungguhnya engkau telah buta dari jalan kebenaran. Bagaimana engkau berdiri dihadapan Alloh dengan keadaan seperti itu sementara engkau telah pula mendengarkan firman-Nya

وَكَانَ اللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَ قِيْبَا

,” ” Dan sesungguhnya Alloh mengawasi segala sesuatu”.

Maka pada saat itu akan tumbuhlah rasa malu pada dirimu yang akan membawamu kepada taubat dan semestinya engkau abadikan taubatmu

...

Pilihan-Nya adalah yang terbaik

Janganlah engkau menuntut dari-Nya agar Dia mengeluarkanmu dari suatu keadaan dan menjadikanmu pada kondisi yang lain yang engkau inginkan, karena jika Dia menghendaki niscaya Dia akan menjadikanmu sesuai yang engkau inginkan tanpa harus mengeluarkanmu dari keadaanmu yang sekarang.

Sebagaimana seseorang berada dalam suatu keadaan atau kondisi yang tidak ia suka baik itu berhubungan dengan masalah dunia atau agama, maka tidak semestinya dia berkeinginan keluar dari keadaan tersebut atas inisiatif sendiri dan berpaling dari hukum waktu –nya, karena yang demikian ini sama saja ia menginginkan sesuatu yang tidak di wujudkan oleh Alloh SWT pada saat itu sebagaimana diterangkan pada bab terdahulu :

ما ترك من الجهل شيئا من اراد ان يحدث في الوقت غير ما اظهره الله فيه

Tidak terlepas dari sifat kebodohan, orang yang hendak mengadakan sesuatu pada waktu yang الله tidak mengadakannya pada saat itu

Maka yang mesti ia lakukan adalah tidak berpaling dari hukum waktu dan tidak mencari sesuatu dari Tuhannya agar Ia dikeluarkan dari keadaan tersebut, karena yang demikian ini termasuk memilih-milih sesuatu untuk keinginan dirinya bukan menyerahkan pilihan Tuhan untuk dirinya. Oleh karena itu yang terbaik adalah ber-adab- / tatakrama yang baik dihadapan-Nya dan memilih kehendak-Nya daripada kehendak diri sendiri. Apabila sudah demikian, maka akan tampak jelas kebenaran keadaan dirinya dan akan terlihat jelas kecintaan / mahabah nya kepada Alloh Ta’ala. Maka ia akan berbuat sebagaimana perbuatan kekasih, sementara ia tetap pada keadaan / ahwalnya tanpa harus keluar dari ahwal tersebut. Maka jadilah ia ketika itu sebagai orang yang selalu dalam kehendak Alloh bukan kehendak diri sendiri, dan pasti hal itu lebih baik daripada apa yang ia pilih untuk dirinya.

Di dalam kitab Tanwir dikisahkan, diantara mereka ada yang berkata :

“Aku pernah menginginkan jika aku dapat meninggalkan semua sebab-sebab rizki (tidak bekerja / bertajrid) sementara setiap hari aku bisa mendapatkan dua potong roti. Dan yang demikian ini aku maksudkan agar aku dapat santai dari kepayahan mencari rizki”.

Orang tersebut melanjutkan kisahnya :

“Maka suatu saat aku dimasukkan ke dalam penjara, dan di sana setiap hari aku mendapatkan dua potong roti sampai waktu yang cukup lama, hingga aku merasa sangat bosan. Maka aku memikirkan masa laluku yang menginginkan dua potong roti setiap hari, sehingga terbersit dalam hatiku sebuah suara, “Sesungguhnya engkau menginginkan dari-Ku dua potong roti setiap hari akan tetapi engkau tidak meminta kepada-Ku kebaikan dan keselamatan. Oleh karena itu Aku beri engkau apa yang engkau minta”. Maka aku mohon ampun dan kembali kepada Alloh dan tiba-tiba pintu penjara terketuk sehingga aku selamat dapat keluar dan kembali ke tempat tinggalku”.

Maka beretikalah wahai orang mukmin dan janganlah engkau meminta untuk dikeluarkan dari suatu keadaan atau dimasukkan dalam suatu keadaan yang lain, karena yang demikian ini termasuk su’ul adab bersama Alloh. Bersabarlah engkau dari pada keluar dari suatu keadaan atas inisiatif dirimu sendiri, mungkin akan engkau dapatkan apa yang engkau inginkan, akan tetapi tidak engkau dapatkan kedamaian di dalamnya.

...

استسلام


ما ترك من الجهل شيئا من اراد ان يحدث في الوقت غير ما اظهره الله فيه

Tidak terlepas dari sifat kebodohan, orang yang hendak mengadakan sesuatu pada waktu yang الله tidak mengadakannya pada saat itu.

Apaila الله تعالى menempatkan seorang hamba pada suatu haal (keadaan) dari beberapa keadaan yang menghendaki ia harus konsisten pada keadaan tersebut, maka hendaknya ia senantiasa bersikap dengan adab yang baik agar ia tetap berada di dalam ahwal yang diberikan الله kepadanya, dan hendaknya ia ridha dengan haal (keadaan) tersebut, dan hendaklah ia ber-muraqabah kepada الله تعالى dengan sangat memperhatikan adab kepada-Nya, dan di dalam keadaan yang demikian senantiasa ia menyesuaikan diri dengan kehendak الله تعالى sampai الله memindahkannya dari satu hal kepada hal yang lain.

Abu Utsman RA berkata, “Aku Selama 40 tahun, tiada sekali-kali الله تعالى menempatkan aku dalam suatu keadaan (hal) kemudian aku membenci keaadan itu. Dan tidak pula Ia memindahkan aku ke keadaan (hal) lain kemudian aku membencinya”.
Dan sesungguhnya membenci suatu (hal) / keadaan ruhani pemberian الله, disertai keinginan dirinya untuk berpindah kepada hal yang lain, maka yang demikian ini sama saja ia ingin mengadakan sesuatu yang tidak diadakan oleh الله. Dan yang demikian ini adalah kebodohan yang nyata dari hamba kepada Tuhannya, dan merupakan Suu-ul adab / akhlak yang tidak baik dari seorang hamba kepada Tuannya عز وجل. Dan yang demikian ini termasuk penentangan terhadap hukum waktu menurut pendapat para sufi, Yang bagi mereka perkara ini termasuk dosa yang cukup besar.

Maka wajib bagi seorang hamba untuk ber استسلام, tunduk dan ta’at terhadap hukum Tuhannya Setiap saat. Itulah etika ubudiyah dan keharusan bagi العلم باالله, dan inilah salah satu makna الوقت pada istilah mereka (ahli tasawuf). Dan sebagian perkataan mereka adalah : الوقت سيف ‘Waktu adalah pedang’. Maksudnya adalah seperti pedang yang memiliki sifat memotong. Oleh karena itu barang siapa yang tidak dapat memperlakukan waktu dengan bijak maka sang waktu akan memotongnya dari jalan الله. Dan sesungguhnya hakikat waktu adalah apa yang wajib disikapi oleh seorang hamba pada memenuhi kehendak الحق. Barang siapa yang ditolong oleh waktu maka waktu baginya adalah keberuntungan. Dan barang siapa yang dikesalkan oleh waktu, maka waktu baginya adalah kesialan.


احالتك الاعمال على وجود الفراغ من رعونات النفس

Keinginanmu menunda amal, hingga nanti jika ada waktu luang, yang demikian itu termasuk memperturutkan nafsu


Apabila seorang hamba bercampuran dengan aktifitas duniawi seperti perniagaan, kerja mencari penghidupan dan lain sebagainya, sudah pasti semua itu membuat dirinya sibuk, yang dapat menghalanginya dari melakukan amal kebajikan. Dan keinginan untuk menunda amal sampai mendapatkan waktu luang sehingga ia berkata, “Nanti jika ada waktu luang maka aku akan beramal”, maka yang demikian ini termasuk memperturutkan hawa nafsu. Menuruti hawa nafsu adalah termasuk kebodohan, sedang kebodohan itu disebabkan oleh beberapa segi, yang pertama adalah ketetapan hati untuk memilih dunia daripada akhirat. Dan yang demikian ini bukanlah sifat orang berakal dan orang-orang beriman. الله تعالى berfirman :

بل تؤثرون الحياةالدني والأخرة خيروأبقى

Bahkan mereka lebih memilih kenikmatan dunia, Dan adalah akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.
Kedua, adalah penundaan terhadap amal salih dan menunggu sampai mendapatkan waktu lapang. Dan terkadang ia tidak pernah mendapatkan sama sekali, malahan ia disambar oleh maut terlebih dahulu. Atau akan bertambah kesibukannya karena sesungguhnya اشغال الدنى (kesibukan dunia) akan saling mengajak yang satu kepada yang lain.
Ketiga, barangkali ia sempat mendapatkan waktu yang lapang. Akan tetapi karena berjalannya waktu maka azam-nya sudah berganti, dan niyatnya sudah menjadi lemah. Dan pada yang demikian ini akan mengajak pada menyedikitkan amal dan penolehan kepada kemampuan dan kekuatan dirinya di dalam mengerjakan amal tersebut, bukan karena pertolongan الله.

Oleh karena itu yang paling baik adalah bersegera mengerjakan amal pada seketika dan pada kondisi apa saja, dan segera bangkit ketika mendapat kesempatan sebelum datangnya maut dan hilangnya kesempatan. Dan hendaklah bertawakal kepada الله SWT agar dimudahkan dalam beramal salih.

Sumber syarah Al-Hikam
...

Bagaimana Mungkin الله Terhijab Dari Kita

كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو الذى اظهر كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa sesuatu dapat menghalangi Dia / menjadi hijab bagi الله padahal Dia-lah Yang menampakkan segala sesuatu. (atas apa yang Ia sinarkan sehingga tampaklah seluruh alam yang semula tidak ada menjadi wujud)




كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو ظهر بكل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia-lah Yang tampak dengan segala sesuatu. (Sehingga dari sesuatu yang wujud, orang-orang dapat mengambil dalil akan adanya لله), sebagaimana firman لله SWT,
سنريهم آياتنا في الآفاق وفي انفسكم
Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami pada setiap ufuk dan pada diri kamu sekalian.


كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو ظهر فى كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia tampak di dalam segala sesuatu. (karena sesungguhnya Dia bermanifestasi di dalam segala sesuatu dengan segala kebagusan sifat-sifat-Nya dan asma-asma-Nya).


كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو ظهر لكل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia-lah yang tampak bagi segala sesuatu. (di dalam mengkondisikan segala sesuatu sehingga semua yang ada tunduk dan sujud kepada-Nya, bertasbih dengan me-Maha Sucikan-Nya, akan tetapi kita tidak faham dengan tasbih dan tahmid mereka).


كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو ظاهرقبل كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia telah ada sebelum adanya segala sesuatu. (sebagaimana aktualisasi nama-nya Yang Maha Azali dan Yang Maha Abadi)


كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو اظاهر من كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia lebih tampak daripada segala sesuatu. (Karena Yang wujud sudah pasti lebih tampak daripada yang ‘adam / tidak wujud pada segala keadaan, vsebagaimana telah diterangkan bahwa segala sesuatu selain لله pada hakikatnya adalah ‘adam apabila disandingkan dengan wujud لله.


كيف يتصور ان يحجبه شيء وهوالواحد الذي ليس معه شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia adalah Dzat Yang Maha Esa yang tidak ada sesuatu yang menyertai-Nya. (Karena segala sesuatu selain Dia adalah sudah pasti ‘adam / nihil.


كيف يتصور ان يحجبه شيء وهواقرب اليك من كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia lebih dekat kepadamu daripada segala sesuatu. (dikarenakan kesenantiasaan Dia meliputi engkau dan dikarenakan adanya Dia yang mengatur diri engkau.


كيف يتصور ان يحجبه شيء ولولاه ماكان وجود كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal kalau bukan karena Dia maka tidak akan terwujud segala sesuatu.


يا عجبا كيف يظهر الوجود فى العدم
Alangkah ajaib, bagaimana Yang Wujud akan tampak di dalam sesuatu yang tidak ada (kosong). (karena العدم adalah gelap, dan الوجود adalah terang. Dan keduanya adalah berlawanan sehingga tidak mungkin terkumpul keduanya.


ام كيف يثبت الحادث مع من له وصف القدم
Bagaimana sesuatu yang baru (الحدث) akan eksis disandingkan dengan Dzat Yang memiliki sifat Dahulu. (karena sesuatu yang bathil tidak akan eksis apabila tampak Yang Haq sebagaimana firman لله SWT :
وقل جاءالحق وزهق الباطل ان الباطل كان زهوقا
Katakanlah kepada mereka, telah datang kebenaran dan rusaklah yang bathil. Sesungguhnya yang bathil akan binasa.
Dan sebagaimana firman-Nya:
بل نقذف بالحق علي الباطل فيدمغه فاذ هو زاهق
Tetapi kebatilan kami halau dengan kebenaran sehingga menjadi sia-sia maka kemudian ia binasa.




...

Template by - Abdul Munir - 2008