Rabu, 09 Desember 2009

Nasehat RasuluLlah SAW kepada putrinda


2.jpg
Makam Baqi’

Suatu hari RasuluLlah SAW menyempatkan diri berkunjung ke rumah Fatimah RA. Setiba di kediaman putri kesayangannya tersebut RasuluLlah SAW berucap salam kemudian masuk. Ketika itu didapatinya Fatimah tengah menangis sambil menggiling syair (Gandum) dengan penggilingan tangan dari batu. Seketika itu RasuluLlah SAW bertanya , “Duhai Fatimah, apa gerangan yang membuat engkau menangis ? Semoga Allah SWT tidak menyebabkan air matamu berderai”.

Jawab Fatimah “Wahai RasuluLlah, penggilingan dan urusan rumah tangga inilah yang menyebabkan ananda menangis”.

Lalu duduklah RasuluLlah SAW di sisi Fatimah. Kemudian Fatimah melanjutkan, “Duhai Ayahnda, sudikah kiranya Ayah meminta kepada Ali suamiku mencarikan seorang jariyah (hamba perempuan) untuk membantu ananda menggiling gandum dan menyelesaikan pekerjaan rumah “.

Maka bangkitlah RasuluLlah SAW mendekati penggilingan itu. Dengan tangannya beliau mengambil sejumput syair kemudian diletakkannya di penggilingan seraya membaca basmalah. Ajaib, dengan ijin Allah penggilingan tersebut berputar sendiri.

Sementara penggilingan itu berputar, RasuluLlah SAW bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa, sehingga habislah butir-butir syair itu tergiling.

“Berhentilah berputar dengan izin Allah SWT”. Maka penggilingan itupun berhenti berputar. Lalu dengan izin Allah SWT penggilingan itu berkata-kata dalam bahasa manusia, “ Yaa RasuluLlah SAW , Demi Allah yang telah menjadikan Tuan kebenaran sebagai nabi dan rasul-Nya. Kalaulah tuan menyuruh hamba menggiling syair dari timur hingga ke barat niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT, ‘Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah para malaikat yang kasar lagi keras yang tidak mendurhakai Allah akan apa yang diperintahkan dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya’. Maka hamba takut ya RasuluLlah jika kelak hamba menjadi batu dalam neraka”.

Dan bersabdalah RasuluLlah SAW, “Bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fatimah az-zahra di dalam surga”. Maka bergembiralah batu penggilingan itu dan kemudian diamlah ia. Lalu RasuluLlah SAW bersabda kepada Fatimah, “Jikalau Allah SWT menghendaki niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan-Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya beberapa derajad untukmu. Wanita yang menggiling tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah SWT menuliskan setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajad.”.

Kemudian RasuluLlah SAW meneruskan nasihatnya, “Wahai Fatimah, wanita yang berkeringat ketika menggiling gandum untuk suaminya, Allah SWT menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh parit. Wanita yang meminyaki dan menyisir rambut anak-anaknya serta mencuci pakaian mereka Allah SWT mencatat sebagai orang yang memberi makan seribu orang lapar dan memberi pakaian seribu orang telanjang. Sedangkan wanita yang menghalangi hajat tertangga-tetangganya, Allah SAW akan menghalanginya dari meminum air telaga kautsar di hari kiyamat”.

RasuluLlah SAW kembali meneruskan, “Wahai Fatimah, yang lebih utama dari semua itu adalah keridaan suami terhadap isterinya. Jika suamimu tidak ridha, maka aku tidak akan mendoakan kamu. Tidak kah engkau ketahui, ridha suami adalah ridha Allah SWT, dan kemarahannya adalah kemarahan Allah SWT”.

“apabila wanita mengandung janin, maka beristighfarlah para malaikat dan Allah SWT mencatat tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapus seribu kejahatannya. Apabila ia sakit hendak melahirkan, maka Allah SWT mencatat pahala orang – orang yang berjihad. Apabila ia melahirkan maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya ketika ibunya melahirkannya. Apabila ia meninggal, maka tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun. Kelak akan didapati kuburnya sebagai taman dari taman-taman surga. Dan Allah SWT mengaruniakan pahala seribu haji dan seribu umrah. Dan beristighfarlah seribu malaikat untuknya di hari kiyamat.

“Wahai Fatimah, wanita yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati serta ikhlas dan niat yang benar, maka Allah SWT akan menghapuskan dosa-dosanya. Dan Allah SWT akan mengenakannya seperangkat pakaian hijau, dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut di tubuhnya seribu kebaikan. Wanita yang tersenyum di hadapan suaminya, Allah SWT memandangnya dengan pandangan rahmat”.

“Wahai Fatimah, wanita yang menghamparkan alas untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati, berserulah malaikat untuknya, “teruskanlah amalmu maka Allah SWT telah mengampunimu dari dosa yang lalu dan dosa yang akan datang. “

“Wahai Fatimah wanita yang megoleskan minyak pada rambut dan jenggot suaminya serta rela memotong kumis dan menggunting kuku suaminya, Allah SWT memberinya minuman dari sungai-sungai surga, Allah SWT meringankan sakaratulmautnya dan kuburnya akan menjadi taman dari taman-taman surga. Allah SWT aka menyelamatkannya dari api neraka, selamat dari lilitan siratal mustaqim”.

...

Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaaf WaliyuLlah dengan empat pesan


habib-ahmad-bin-hamid-al-kaaf.jpg

Beliau dikenal sebagai salah seorang ulama besar di Palembang. Banyak ulama dari berbagai penjuru Nusantara mengaji kepada beliau.

Ada pendapat, Palembang bisa di ibaratkan sebagai Hadramaut (markas para Habib dan Ulama besar). Sebab di Palembang memang banyak Habib dan Ulama besar, demikian pula makam-makam mereka. Salah seorang diantaranya adalah Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaaf, yang juga dikenal sebagai wali masthur. Yaitu wali yang karamah-karamahnya tersembunyi. Padahal karamahnya cukup banyak.

Salah satu karamahnya ialah ketika beliau menziarahi orang tua beliau (Habib Hamid Al-Kaff dan Hababah Fathimah AL-Jufri) di kampung yusrain, 10 Ilir Palembang. Dalam perjalanan kebetulan turun hujan lebat dan deras. Untuk bebrapa saat beliau mengibaskan tangan beliau ke langit sambil berdoa. Ajaib, hujanpun reda.

Nama beliau adalah Ahmad bin Hamid Al-Kaff. Sampai di akhir hayat beliau tinggal di jalan K.H. hasyim Asy’ari No. 1 Rt 01/I, 14 Ulu Palembang. Beliau lahir di Pekalongan Jawa Tengah dan dibesarkan di Palembang. Sejak kecil beliau diasuh oleh Habib Ahmad bin AbduLlah bin Thalib Al-Attas.

Uniknya, hampir setiap pagi buta Habib Ahmad Alatas menjemput muridnya ke rumahnya untuk shalat subuh berjama’ah karena sangat menyaynginya. Saking akrabnya, ketika bermain-main di waktu kecil, Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaff sering berlindung di bawah jubah Habib Ahmad Alatas. Ketika usia 7 tahun saat anak-anak lain duduk di kelas satu madrasah Ibtidaiyyah, Habib Ahmad belajar ke Tarim Hadramaut Yaman bersama sepupunya Habib Abdullah-yang akrab dipanggil Endung.

Di sana mereka berguru kepada Habib Ali Al-Habsyi. Ada sekitar 10 tahun beliau mengaji kepada sejumlah ulama besar di Tarim. Salah seorang guru beliau adalah Habib Ali Al-Habsyi, ulama besar penulis Maulid Simtuth Durar. Selama mengaji kepada Habib Ali Al-Habsyi , beliau mendapat pendidikan disiplin yang sangat keras. Misalnya sering hanya mendapatkan sarapan 3 butir kurma. Selain kepada Habib Ali , beliau juga belajar tasawuf kepada Habib Alwi bin AbduLlah Shahab . sedangkan sepupu beliau Habib Endung belajar fiqih dan ilmu-ilmu alat seperti nahwu, sharaf dan balaghah. Sepulang dari Hadramaut pada usia 17 tahun . Habib Ahmad Al-Kaff menikah dengan Syarifah Aminah Binti Salim Al-Kaff . meski usianya belum genap 20 tahun namun beliau sudah mulai dikenal sebagai ulama yag menjalani kehidupan zuhud dan mubaligh yang membuka majlis ta’lim. Dua diantara murid beliau yakni Habib alwi bin Ahmad Bahsin dan Habib Syaikhan Al-gathmir belakangan dikenal pula sebagai ulama dan mubaligh.

Selain di Palembang, Habib Ahmad juga berdakwah dan mengajar di beberapa daerah di tanah air, misalnya madrasah Al-Khairiyah Surabaya. Salah seorang murid beliau yang kemudian dikenal sebagai ulama adalah habib Salim bin ahmad bin Jindan ulama terkemuka di Jakarta, yang wafat pada tahun 1969.

Empat Pertanyaan

Ketinggian ilmu dan kewalian Habib Ahmad al-Kaff diakui oleh Habib Alwi bin Muhammad al Haddad ulama besar dan wali yang bermukim di Bogor. Diceritakan pada suatu hari seorang Habib dari Palembang (Habib Ahmad bi Zen bin Syihab) dan rekan-rekannya menjenguk Habib Alwi, mengharap berkah dan hikmahnya.

Mengetahui bahwa tamu-tamunya dari Palembang, dengan spontan Habib Alwi berkata, “Bukankah kalian mengenal Habib Ahmad bin Hamid al-Kaff ?. Buat apa kalian jauh-jauh datang ke sini, sedangkan di kota kalian ada wali yang maqam kewaliannya tidak berbeda denganku ? saya pernah bertemu dia di dalam mimpi”. Tentu saja rombongan dari Palembang tersebut kaget. Maka Habib Alwi menceritakan perihal mimpinya. Suatu hari Habib Alwi berpikir keras bagaimana cara hijrah dari bogor untuk menghindari teror dari aparat penjajah belanda. Beliau kemudian bertawasul kepada RasuluLlah SAW, dan malam harinya beliau bermimpi bertemu RasuluLlah SAW memohon jalan keluar untuk masalah yang dihadapinya. Yang menarik, di sebelah Rasul duduk seorang laki-laki yang wajahnya bercahaya.

Maka RasuluLlah SAW pun bersabda, “Sesungguhnya semua jalan keluar dari masalahmu ada di tangan cucuku di sebelahku ini”. Dialah Habib Habib Ahmad bin Hamid al-Kaff. Maka Habib Alwi pun menceritakan persoalan yang dihadapinya kepada Habib Ahmad al-Kaff- yang segera mengemukakan pemecahan/jalan keluarnya. Sejak itulah Habib Alwi membanggakan Habib Ahmad al-Kaff.

Sebagaimana para waliyullah yang lain, Habib Ahmad al-Kaff juga selalu mengamalkan ibada khusus. Setiap hari misalnya, Mursyid Tariqah Alawiyah tersebut membaca shalawat lebih dari 100.000 kali. Selain itu beliau juga menulis sebuah kitab tentang tatacara menziarahi guru beliau Habib ahmad Alatas. Beliau juga mewariskakn pesan spiritual yang disebut Pesan Pertanyaan yang empat, yaitu empat pertanyaan mengenai ke mana tujuan manusia setelah meninggal.

Lahirnya empat pertanyaan tersebut bermula ketika Habib Ahmad al-Kaff diajak oleh salah seorang anggota keluarga untuk menikmati gambus. Seketika itu beliau berkata, “Aku belum hendak bersenang-senang sebelum aku tahu apakah aku akan mengucapkan kalimat tauhid di akhir hayatku. Apakah aku akan selamat dari siksa kubur, apakah timbangan amalku akan lebih berat dari dosaku, apakah aku akan selamat dari jembatan shiratal mustaqim”. Itulah yang dimaksud dengan “empat pertanyaan” yang dipesankannya kepada para murid, keluarga dan keturunannya.

Habib Ahmad al-Kaff wafat di Palembang pada 25 Jumadil akhir 1275 H/1955 Masehi. Jenasah beliau dimakamkan di komplek pemakaman Telaga 60, 14 Hulu Palembang. Beliau meninggalkan lima anak : Habib Hamid, Habib AbduLlah, Habib

Burhan, Habib Ali, dan Syarifah Khadijah.

foto396.jpg

Disalin dari Majalah alKisah

...

Fathur Robbany (15)


bis.jpg

Mengikuti Pengajian Syeikh Abdul Qodir al-Jilany
Hari Ahad tanggal 17 Syawal 545 H di Pesantrennya.

Dunia ini Hakikatnya Musibah

Ya Allah limpahilah rahmat bagi Kanjeng Kanjeng Nabi Muhammad Saw dan keluarganya.

“Berikanlah kami kesabaran dan berikanlah keteguhan langkah kami.” Limpahilah anugerahMu yang banyak, limpahilah rizki syukur atas anugerahMu…”

Bersabarlah kalian semua, sesungguhnya seluruh isi dunia ini hakikatnya adalah bencana dan musibah. Sedikit sekali yang bukan musibah. Setiap rasa nikmat melainkan diiringi oleh derita. Dan setiap kesenangan, melainkan ada kesedihan. Tak ada keleluasaan yang muncul melainkan disana ada kesempitan. Berikanlah dunia dan kehidupanmu, raihlah bagianmu dari dunia dengan aturan syar’y. Karena aturan Ilahi itu merupakan terapi bagi penyakit dari duniamu.

Berjalanlan di alur syariat jika anda menghendaki. Dan raihlan melalui tangan “Amr Ilahi” manakala anda tergolong kaum sufi. Dan melalui tangan Kinerja Allah Ta’ala anda meraihnya, manakala anda tergolong orang yang patuh, orang yang sudah sampai kepadaNya. Dengan langkah kepadamu, dan Perintah yang memerintahmu serta mencegahmu, sedangkan KinerjaNya menggerakkan apa yang ada dalam dirimu.
Manusia itu terbagi tiga kelompok. Kelompok awam, kelompok khowash dan kelompok khowashul khowash (sangat khusus).


Manusia awam adalah muslim yang taqwa, yang memegang teguh aturan syariah dalam ibadahnya, dan mereka ini masuk dalam kategori firman Allah swt:
“Apa yang datang dari Rasul ambillah, dan apa yang dilarang bagimu, hindarilah.”

Jika hal ini bisa sempurna lahir maupun batin, hati hamba akan cemerlang, lalu hatinya merasa cukup karena berpegang pada syara’, lalu ia meraih Ilham dari Allah Ta’ala, karena IlhamNya ada dalam segalanya, sebagaimana firmanNya:
“Maka Allah mengilhaminya, baik sikap menyimpangnya dan ketaqwaannya.”
Hamba ini begitu bertaqwa hatinya dan terus memandang Ilham Ilahi. Tandanya ia meraih dzahirnya perintah, bahwa dalam kehidupan ini ada yang merajai dimana kekuasaan ada di TanganNya.

Lalu cahaya hatinya memancar karena itu, setelah menjalankan ibadah syariatnya dengan kekuatan imannya dan tauhidnya, setelah hatinya keluar dari dunia dan jagad makhluk ini dengan segala keruwetan dan busa-busanya. Lalu datanglah subuh hari, datanglah cahaya iman, cahaya taqarrub dari Tuhannya Azza wa-Jalla. Cahaya amal dan cahaya kesabaran, cahaya kasih dan ketentraman. Semua ini buah dari ibadah menurut aturan syariah, dan berkah dibalik semua itu.

Sedangkan para Abdal (Wali Abdal) adalah kaum Khowashul khowash justru yang memberikan fatwa syara’, lantas mereka ini memandang perintah Ilahi, Kinerja, Gerak dan IlhamNya. Selain itu semua berarti kehancuran dalam kehancuran, sakit dalam kesakitan, haram dalam keharaman. Kepusingan dalam pokok agama, rumit dalam hati dan runyam dalam jasadnya.

Wahai kaum Sufi. Apa yang diberlakukan oleh Allah Ta’ala bagi dirimu, sesungguhnya agar kamu memandang bagaimana kamu memberlakukannya? Apakah kamu bisa kokoh atau sebaliknya malah lari? Apakah kamu jujur atau mendustai? Sebab siapa yang tidak selaras dengan kepastianNya, tidak meraih kasih sayang dan tidak meraih keselarasan. Siapa yang tidak rela pada ketentuanNya, maka tidak akan meraih ridloNya. Siapa yang tidak memberi tidak diberi.

Wahai si bodoh, kamu ingin berubah dan berganti sesuai dengan seleramu. Kamu jadi tuhan kedua dengan menginginkan agar Allah Azza wa-Jalla berselaras dengan dirimu. Kamu harus membalik pandanganmu, agar kamu benar. Kalau bukan karena takdir-takdir itu, kamu tidak akan tahu mana klaim-klaim kebohongan, dan ketika tertarik, maka jelaslah disana, mutiara-mutiara. Ingkarilah nafsumu yang senantiasa kontra kepada Allah Azza wa-Jalla. Kalau kamu bisa kontra pada nafsumu, kamu pasti bisa kontra pada selain dirimu. Atas kekuatan imanmu, kamu bisa menghapuskan seluruh kemungkaran jiwamu. Tapi karena kelemahan imanmu pula, kamu hanya duduk di rumah dan enggan menghilangkan kemungkaran hatimu.

Langkah-langkah iman itu adalah kekuatan yang bisa jadi bekal untuk mengapai syetan-syetan manusia dan jin, yang bisa membuat kokoh ketika kamu menghilangkan cobaan dan bencana. Pijakan-pijakan iman yang ada, jika tidak memiliki langkah kuat, jangan disebut iman. Singkirkan semuanya, dan Cintailah Khalik secara total. Bila Dia menghendaki, Allah akan memberikan limpahan cintaNya padamu hal-hal yang kau benci, tetapi engkau tetap terjaga di sana. Karena Dialah Yang Membuat Cinta, bukan dirimu, sebagaimana sabda Nabi SAW.:
“Ada tiga hal dari duniamu yang membuat aku mencinta: Wewangian, wanita, dan kesejukan jiwa dijadikan padaku dalam sholat.”

Beliau dilimpahi cinta itu setelah menyingkir, meninggalkan, zuhud dan berpaling. Karena itu kosongkan hatimu dari selain, sehingga jika muncul kecintaan semata karena kehendakNya.

...

Fathur Robbany (14)


.jpg

Mengikuti Pengajian Syeikh Abdul Qodir al-Jilany
Hari Jum’at Pertengahan Syawal Tahun 545 H, di Madrasahnya

Jangan Jual Agama Dengan Debu

Qalbu orang-orang beriman senantiasa bersih, suci dan melupakan makhluk, terus menerus mengingat Allah Azza wa-Jalla, melupakan dunia, mengingat akhirat, melupakan apa yang ada padamu, dan mengingat apa yang ada di sisi Allah Ta’ala.

Kalian bisa terhijab oleh mereka dan seluruh apa yang ada pada para makhluk itu, disebabkan kesibukanmu dengan dunia dan melalaikan akhirat. Kalian meninggalkan rasa malu di hadapan Allah Azza wa-Jalla, sehingga kalian tersungkur di sana. Karena itu terimalah nasehat kawan anda yang mukmin dan anda jangan kontra. Karena dia yang tahu apa yang ada pada dirimu, hal-hal yang anda tidak tahu tentang dirimu. Karena itu Rasulullah SAW bersabda:
“Orang mukmin adalah cermin bagi sesama mukmin.”

Mukmin yang benar dalam nasehatnya bagi sesama mukmin, akan menampakkan kejelasan apa yang tersembunyi pada saudaranya, yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Ia mengenalkan mana yang menjadi kebaikan dan mana yang berdampak keburukan. Maha Suci Allah yang telah memberikan anugerah di hatiku untuk menasehati makhluk dan hal demikian telah dijadikan sebagai hasrat besarku.

Saya menasehati dan saya sama sekali tidak menginginkan imbalan. Sebab akhiratku telah menjadi bagian sukses bagi diriku di sisi Tuhanku Azza wa-Jalla. Aku tidak mencari dunia, karena aku bukan budak dunia, juga bukan hamba akhirat, bahkan bukan hamba selain Allah azza wa-Jalla.
Aku tidak menyembah kecuali hanya kepada Sang Pencipta, Yang Esa, Yang Maha Esa nan Qadim. Kepuasanku ada pada kebahagian kalian, dan kedukaanku jika kalian hancur celaka. Jika aku melihat murid yang benar dan benar-benar telah meraih kemenangan melalui diriku, aku merasakan kepuasan dan kelegaan, bahkan kegembiraan, karena bagaimana hal itu terjadi melalui diriku?

Anak-anak muridku….
Hasratku adalah anda, bukan diriku. Jika anda bisa berubah, itu demi anda, bukan demi diriku. Aku hanya menggambarkan pelajaran, dan sesungguhnya yang membuat aku senang, semata karena ini semua hanya untuk dirimu.

Wahai para kaum Sufi
Tinggalkan takabur di hadapan Allah Azza wa-Jalla dan takabur di hadapan sesama makhluk. Lihatlah kadar diri-diri anda, dan rendah hatilah dirimu.
Awalmu hanya setets air hina, dan akhirmu hanyalah bangkai yang terbuang. Karena itu kamu semua jangan tergolong orang yang tamak dan dikendalikan hawa nafsu. Hawa nafsu yang mendorong anda untuk memasuki pintu-pintu penguasa untuk mencari sesuatu dari mereka, untuk mendapatkan bagian atau pemberian mereka, padahal bagian yang diberikan itu begitu hinadina.
Kanjeng Nabi SAW, bersabda:
“Siksa paling dahsyat dari Allah Azza wajalla pada hambaNya, adalah ambisinya si hamba untuk meraih apa yang tidak dibagikan padanya.”

Betapa celakanya, wahai orang bodoh terhadap takdir dan bagian dari Allah. Apakah kalian menyangka bahwa generasi dunia ini mampu memberikan bagian pada kalian, hal-hal yang bukan bagianmu? Tetapi anda perlu ingat, bahwa waswas (godaan) syetan yang terus menggoda kealam dan hati anda, sampai anda tidak lagi menjadi hamba Allah Azza wa-Jalla, dan menjadi hamba diri anda sendiri, menjadi budak nafsu dan syetan anda. Menjadi budak naluri, harta dan uang anda. Hati-hatilah mana tempat kemenangan dan kebahagiaan sampai anda mampu menempuh jalan ubudiyah anda.

Diantara para Ulama sufi mengatakan, “Siapa yang tidak mengenal tempat kebahagiaan hakiki, pasti tidak pernah bahagia.” Anda mengetahua tempatnya, tetapi anda hanya mengenal melalui kedua mata kepala anda, bukan dengan matahati dan rahasia batin anda. Iman anda hanya melintas belaka, sampai anda hanya melihat tidak dengan penglihatan hakiki.
Allah Azza wa-Jalla berfirman:
“Sesungguhnya bukan mata yang buta, tetapi yang buta adalah matahati yang ada di dalam dada.”

Si tamak yang memburu dunia dari tangan makhluk telah menjual agama dengan debu, menjual apa yang abadi dengan yang fana, lalu dia tak mendapatkan kedua-duanya. Sepanjang iman anda kurang, anda merasa kurang dengan dunia dan kehidupan anda hanya untuk merebut sesama, sampai agama anda tergadaikan dan anda merasa bisa makan dari mereka.
Namun sepanjang iman anda sempurna, anda akan senantiasa mampu bertawakkal jiwa anda kepada Allah azza wa-Jalla dan keluar dari sebab akibat duniawi, memutuskan hati pada budak dunia menuju kepada Allah Ta’ala, lalu hati anda pergi menjauh dari seluruh makhluk.

Disinilah hatimu bisa keluar dari negerimu, keluar dari keluargamu, keluar dari took dan popularitasmu.
Lalu anda menyerahkan semua itu pada mereka, seakan-akan Malakat Maut hendak menjemput anda, anda seperti sedang disambar oleh kamatian, seakan-akan bumi hendak menelan anda, dan gelombang takdir telah meraih anda memasukkan ke dalam lautan ilmu dan menenggelamkan anda di sana. Siapa yang mampu di tahap ini, segala penderitaan dunia tidak berpengaruh baginya, sebab dunia hanya pada lahirnya, bukan masuk dalam batinnya. Bahkan dunia untuk yang lain bukan untuk hatinya.

Wahai para kaum….
Jika anda semua mampu melakukan apa yang saya sebutkan itu, mampu mengeluarkan sebab akibat dunia dan ketergantungan padanya dari hatimu, anda akan meraih kemenangan dari segala segi. Jika anda tidak mampu meraih semua itu, paling tidak sebagian ajaran itu anda dapatkan.
Nabi kita SAW bersabda:
“Kosongkan dirimu dari problema duniawi semampu (semaksimalmu).”

Anak-anak muridku…
Jika kamu sekalian mampu mengosongkan hatimu dari dunia, lakukanlah. Jika tidak, maka cepatlah larikan hatimu menuju kepada Allah Azza-wa-Jalla. Gantungkan hatimu pada Rahmat Allah Ta’ala, sampai problema dunia keluar dari hatimu, karena Allah azza wa-Jalla Maha Kuasa atas segalanya dan Maha mengetahui. Pada KuasaNyalah segalanya tergenggam. Kokohlah di pintuNya, mohonlah agar hatimu disucikan dari selain DiriNya, lalu dipenuhi iman dan ma’rifat padaNya, mengenalNya dan cukup denganNya, jauh bergantung pada makhlukNya. Mohonlah agar dianugerahi Yaqin, dan kemesraan qalbu bersamaNya, kesibukan fisik untuk taat padaNya. Mohonlah semuanya dariNya bukan dari selain Dia. Jangan sampai anda menyerahkan pada sesama makhluk, tetapi serahkan padaNya, bukan lainNya. Engkau bermuamalah denganNya dan bagiNya, bukan bagi yang lain.

Anak muridku….
Kefahaman teoritis dan ucapan, tetapi tidak disertai amal qalbu, membuat anda tidak bisa melangkah kepada Allah Ta’ala, walau pun selangkah. Perjalanan adalah perjalanan Qalbu. Kedekatan adalah kedekatan rahasia qalbu. Amal sesungguhnya adalah amal hakiki disertai disiplin pada aturan syar’y dalam gerak fisik badan kita, dan Tawadlu (rendah hati) kepada Allah azza wa-Jalla dan kepada para hambaNya.

Siapa yang mengukur dirinya dengan hasrat diri sendiri, maka tidak akan dapatkan ukuran benar. Siapa yang memamerkan amalnya pada makhluk, bukanlah disebut amal. Amal sesungguhnya justru tersembunyi, kecuali hal-hal yang fardlu, yang harus ditampakkan. Dan anda telah sembrono dalam melangkahkan jejak asas jiwa anda. Tentu tidak ada manfaatnya manfaatnya anda membangun sesuatu di atasnya, karena bangunan akan roboh.

Fondasi amal adalah Tauhid dan Ikhlas. Siapa yang tidak berpijak pada Tauhid dan Ikhlas, tidak akan meraih amal. Kokohkan asas fondasi amal anda dengan Tauhid dan Ikhlas, lalu bangunlah amal itu dengan Daya Allah Azza wa-Jalla, bukan dengan kekuatan dan dayamu. Tangan Tauhid adalah penegak, bukan tangan syirik dan kemunafikan. Orang yang bertauhid adalah yang mampu meninggikan derajat amalnya, bukan pada orang munafik.

Ya Allah jauhkan diri kami dari kemunafikan dalam seluruh tingkah kami. Dan berikan kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan lindungi kami dari azab neraka.

...

Al-Kisah

...

Kisah Bal’am dan wabah Tha’un

images

Suatu hari Nabi Musa AS dan puluhan ribu orang Bani Israil singgah di Kan’an, salah satu wilayah di Syam-Syiria. Melihat kedatangan mereka, segeralah warga Kan’an mengadukan mereka kepada Bal’am, seorang tokoh yang sangat disegani. “Orang ini adalah Musa bin Imran yang memimpin Bani Israil. Dia datang untuk mengusir kami lalu menempati negeri kami padahal kami tidak memiliki tempat tinggal. Engkau adalah orang yang doanya makbul, maka doakanlah mereka dengan keburukan”. Kata warga Kan’an.

Mendengar itu justru Bal’am marah. “Celakalah kamu. Yang bersama Nabi الله itu adalah para malaikat dan orang-orang yang beriman. Bagaimana mungkin aku mendoakan mereka dengan nasib buruk padahal aku mengetahui dari الله apa yang aku ketahui “. Katanya. Karena mereka terus membujuk, akhirnya Bal’am terpengaruh juga. Maka Bal’am pun mengendarai keledainya menuju gunung Husban, tempat tinggal Nabi Musa AS berkemah. Namun belum jauh berjalan, keledainya berhenti. Mungkin karena kelelahan, maka iapun turun dan beristirahat sejenak. Tak lama kemudian ia melanjutkan perjalanan. Tetapi belum jauh berjalan, keledainya berhenti lagi. Anehnya dengan izin الله keledai itu dapat berbicara.

“Celakalah kamu wahai Bal’am, hendak pergi ke mana kamu ?, apakah kamu tidak melihat para malaikat di depanku yang memalingkan wajahnya ?, apakah kamu hendak menemui Nabi الله dan orang-orang mukmin untuk mendoakan dengan sesuatu yang buruk?” kata keledai.

Tetapi karena telah dikuasai hawa nafsu, Bal’am tidak menghiraukan perkataan keladai tersebut, bahka ia semakin kuat memukul hewan tunggangan itu. Akhirnya dengan terpaksa keledai itu menuruti perintah tuannya, berjalan sampai di puncak gunung Husban.

Sesampai di puncak gunung itu serta merta Bal’am pun mendoakan sesuatu yang buruk untuk Nabi Musa AS dan kaumnya. Akan tetapi ketika ia memulai doanya, الله SWT mengubah gerakan-gerakan lidahnya, sehingga yang keluar dari mulunya adalah doa yang sangat baik untuk Nabi Musa AS dan kaumnya, dan mendoakan sesuatu yang buruk untuk kaum Kan’an.

Mendengar hal itu kaum Kan’an kaget . “Hai Bal’am, apa yang kamu lakukan ?, kamu telah mendoakan dengan sesuatu yang baik kepada mereka dan mendoakan sesuatu yang buruk untuk kami ?”kata mereka.

“Sesungguhnya doa yang keluar dari mulutku tadi bukan karena kemauanku akan tetapi kekuasaan dan kehendak اللهSWT yang sama sekali tidak aku sadari”. Jawab Bal’am. Kemudian Bal’am berkata lagi kepada kaumnya,”Kalau begitu aku akan membuat tipu daya dan muslihat dikalangan Bani Israil”.

Maka dikumpulkanlah beberapa wanita cantik, mereka diberi pakaian yang indah dengan perhiasan dan wewangian. Dengan dibekali beberapa barang dagangan yang menarik, mereka dikirim ke perkemahan Nabi Musa AS.

“Suruh mereka menuruti keiinginan orang-orang yang ingin berzina, agar mereka semua celaka”. Kata Bal’am kepada kaumnya.

Tak lama kemudian, para wanita cantik itu tiba di perkemahan Nabi Musa AS. Salah seorang diantara mereka adalah Kasbi binti Suar, berjalan di depan kemah Zamri bin Syalum. Maka kepala suku Syam’un itupun terpesona hatinya lalu membawa Kasbi menghadap Nabi Mus AS.

“Mungkin Tuan akan mengatakan bahwa wanita ini adalah haram bagiku, karena itu Tuan melarangku untuk mendekatinya”. Kata Zamri.

“Benar, wanita ini diharamkan bagimu, jangan dekati dia”. Jawab Nabi Musa AS.

“Demi الله , pada masalah yang satu ini aku tidak akan menta’atimu”. Kata Zamri. Segera setelah itu ia membawa wanita tersebut ke dalam kemahnya. Dan terjadilah apa yang diperkirakan oleh Bal’am.

Tak lama kemudian الله SWT menurunkan wabah Tha’un (kolera) di kalangan Bani Israil. Ketika penyakit itu mewabah, Fanhash bin Al-Aizar bin Harun, sahabat Nabi Musa AS sedang pergi. Saat kembali ke perkemahan dan mendengar mewabahnya penyakit Tha’un tersebut, ia segera mengambil sebilah tombak lalu menyergap Zamri dan membawa keluar lelaki dan perempuan itu dari kemah.

Sungguh ajaib, setelah itu penyakit Tha’un yang menewaskan lebih dari 70.000 orang Bani Israil, segera hilang lenyap. Di dalam Al-Qur’an, kisah tentang Bal’am bin Wara’ tersebut terekam dalam Surah Al-A’raf 175-177 sebagai pelajaran bagi umat. Tiga ayat itu dimaksudkan sebagai perumpamaan mengenai orang yang telah dianugerahi ilmu oleh الله SWT tetapi tidak mengamalkannya dan sebaliknya malah menyimpang dari nikmat yang diberikan.

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini adalah agar orang – orang yang berilmu mau berhati-hati, takut kepada الله dalam menggunakan ilmunya, dan mengamalkannya untuk mencapai ketinggian derajat, kemuliaan serta bermanfaat bagi orang lain bukan untuk merendahkan derajat kemanusiaan.


...

Pelajaran Hakikat رسول الله SAWW


imagesرسول الله SAWW terlambat hadir di masjid untuk mengimami salat subuh karena bermimpi mendapat pelajaran hakikat dari الله SWT.
Sejak azan subuh berkumandang sampai menjelang fajar, رسول الله SAWW belum muncul di masjid. Para sahabat menjadi gelisah. Beberapa sahabat diutus menemui رسول الله SAWW di rumah beliau, namun yang lain mencegah sebab mereka yakin bahwa رسول الله SAWW akan hadir. Maka merekapun menunggu رسول الله SAWW sembari membaca Al-Qur’an.
Tak lama kemudian رسول الله SAWW masuk ke dalam masjid dan memerintahkan salah seorang sahabat untuk membaca iqamat. Kemudian beliau menjadi imam dan mempercepat shalatnya. Seusai salam, beliau membaca doa dengan suara keras. Suaranya yang jernih penuh wibawa menggetarkan para jama’ah lalu beliau bersabda, “Tetaplah kalian pada shaf masing-masing”.
رسول الله SAWW lalu mengahadap ke arah jama’ah dengan pandangan yang sejuk. Wajahnya yang putih bersinar menandakan suasana hati yang sedang gembira. Mata beliau yang indah dan tajam menatap jama’ah satu per satu. Para jama’ah tertunduk tidak berani menatap wajah رسول الله SAWW yang agung.
Sejurus kemudian beliau bersabda, “Aku akan memberi tahu kalian apa yang menyebabkan aku terlambat datang. Semalam aku bangun mengambil air wudhu lalu mendirikan shalat. Dalam shalatku aku tertidur karena kantuk yang amat berat. Ternyata aku bermimpi bersama الله SWT dalam Rupa yang sangat gemilang”.
Setelah diam sejurus, beliau meneruskan sabdanya, “DIA berfirman, ‘”Wahai Muhammad”. Aku menjawab, ;’Labbaika Yaa Rabb”.
”Mengapa para malaikat berselisih ?”
“Hamba tidak tahu”.
Lalu رسول الله SAWW melanjutkan ceritanya, “الله SWT bertanya sampai tiga kali, kulihat DIA meletakkan telapak TanganNYA di atas bahuku, hingga dapat kurasakan dingin Jari-Jari NYA di dadaku. Segala sesuatu nampak jelas di depanku, dan aku mengetahuinya. Lalu DIA berfirman lagi, “’Wahai Muhammad”’.
“Labbaika Yaa Rabb”.
“Tentang apa para malaikat berselisih ?”
“Tentang penebus-penebus dosa”.
“Apa penebus-penebus dosa itu ?”
“Langkah menuju kebaikan, duduk di masjid setelah shalat, mengguyurkan air wudhu pada saat-saat tidak disukai”.
“Tentang apa mereka berselisih ?”
“Tentang memberi makan, ucapan yang lemah lembut, shalat malam ketika manusia tertidur nyenyak”.
“Mintalah !”
“Yaa الله sesungguhnya aku mohon kepadaMU taufik untuk mengerjakan hal-hal yang baik, meninggalkan yang munkar, mencintai orang-orang miskin dan agar ENGKAU mengampuniku dan merahmatiku jika ENGKAU hendak menimpakan cobaan”.
Setelah itu رسول الله SAWW membaca sebuah doa pendek yang semalam dipanjatkan kepada الله SWT, “ALLAHUMMA INNY AS-ALUKA CHUBBAKA WA CHUBBA MAN YUHIBBUKA WA KULLA AMALIN YUQARRIBUNY ILAA CHUBBIKA”. (Yaa الله aku mohon kepadaMU kecintaanMu dan kecintaan orang-orang yang mencintaiMU , serta kecintaan kepada amal yang mendekatkan kepada kecintaan kepadaMU )
Kemudian dengan suara yang sangat pelan sementara mata beliau yang sangat mulia berkaca-kaca – رسول الله SAWW mengakhiri sabdanya, “ini adalah pelajaran hakikat maka pelajarilah”.
Sumber majalah Al-Kisah
...

Template by - Abdul Munir - 2008