“Sesungguhnya seseorang dari kalian mencukupkan dengan apa yang menjadi kepuasan nafsunya, sampai menjadi empat hasta dan satu jengkal serta segala perkara kembali pada kesudahannya (akhirnya).”
Syaikh Abu Ali Ad-Daqaaq mengatakan,”Sesungguhnya makna kemerdekaan/kebebasan dibatasi dalam ketiadaan seorang hamba dibawah pengaruh perbudakan makhluk ; tidak dikendalikan penguasa yang mengatur alam (para raja atau presiden) dan tanda sahnya kemerdekaan dibuktikan dengan keguguran sifat yang membedakan dari hatinya diantara hal-hal (yang menjadi pilihannya). Bagaimana semua posisi yang menghadangnya adalah sama”.
Haritsah RA pernah mengatakan pada َسُوْلُ اللّه SAWW, “Jiwaku zuhud dari dunia. Bagiku tidak ada bedanya antara batu dan emas”. Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Barang siapa menghinakan dunia, maka dia bebas darinya, dan jika berpindah menuju kampung akhirat maka dia juga bebas darinya”. Beliau juga mengatakan bahwa orang yang bebas dari dunia maka akhirat kelak juga bebas darinya”.
Syaikh Abu Ali Ad-Daqaaq mengatakan, “Ketahuilah bahwa hakikat kemerdekaan terletak dalam kesempurnaan penghambaan. Jika penghambaannya benar untuk اللّه, maka kemerdekaannya bersih dari perbudakan sesuatu yang berubah. Adapun orang yang berangan-angan bahwa dirinya dipasrahkan hanya kepada-Nya dengan melepaskan semua waktu untuk ibada dan menyatukannya dengan lrikan-Nya dari batasan amar makruf nahi munkar maka dia termasuk orang yang mengerti dalam membedakan beban-beban hukum. Demikian itu menjadikannya terlepas dari dua dunia”.
اللّه SWT berfirman,
“وَاعْبُدْ رََّكَ حَتَّى يَأتِيَكَ الْيَقِيْنُ
“dan sembahlah Tuhanmu hingga dating keyakinan padamu” (Al-Hijr 99)
Yakni kematian. Penafsiran ini lebih disepakati para ahli tafsir.
Tanda kemerdekaan bagi seorang hamba diantaranya adalah ketiadaan hatinya di bawah penghambaan makhluk, kepentingan-kepentingan dunia dan tujuan-tujuan akhirat. Dirinya adalah dirinya. Tidak satupun keduniaan yang bersifat sementara mampu memperbudaknya, tidak juga keinginan, angan-angan, permintaan, tujuan, harapan, dan keuntungan. Dirinya bebas dari semua itu. Dalf As-Syibli pernah ditanya, “Tidakkah engkau tahu bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Pengasih ?” lalu dijawab,”Benar semenjak saya mengetahui sifat kasih saying-Nya, saya tidak lagi meminta dia untuk mengasihi saya. Maqam kemerdekaan amatlah mulia”.
Abul Abbas As-Sayyari berkata, “Seandainya shalat tanpa bacaan Al-Qur’an sah, maka sah pula gubahan syair ini :
Saya berangankan suatu kondisi
Berada dalam suatu zaman
Yang engkau akan melihat dua biji mata saya
Sebagai kemerdekaan yang terbit
Banyak pendapat para guru sufi tentang makna kemerdekaan diantaranya adalah pendapat Husain bin Manshur yang mengatakan, “Barang siapa menghendaki kemerdekaan, maka teruslah dalam penghambaan (kepada اللّه)”.
Imam Al-Junaid ditanya tentang orang yang tidak terpengaruh oleh dunia melainkan seukuran isapan satu biji-bijian terkecil, lalu dijawab, “Seorang budak juga tidak terpengaruh oleh keberadaan dirham. Sesungguhnya kau tidak akan sampai pada makna kemerdekaan sementara hakikat penghambaan yang menjadi tanggunganmu masih tersisa (terpengaruh kepentingan).
Bisyir Al-Hafi berkata, “Barang siapa menginginkan kelezatan makanan kebebasan dan terbebas dari perbudakan, maka sucikanlah rahasia yang berada diantara idrinya dengan اللّه”.
Husain Al-Manshur juga pernah mengatakan, “Jika seorang hamba mengambil hak beberapa maqam penghambaan secara keseluruhan yang menjadikannya bebas dari kepayahan penghambaan, maka kerjakan fungsi penghambaan dengan tanpa tekanan dan beban. Itu adalah maqam para Nabi SAWW dan orang-orang yyang ahli kebenaran. Artinya, menjadi orang yang terbebani namun merasa tidak terbebani dan hatinya tidak diliputi rasa berat (karena penghambaannya kepada اللّه), meski hokum syariat pada kenyataannya membemani yang demikian”.
Manshur Al-Faqih membacakan syair :
Tidakkah ersisa pada diri manusia
Kebebasan, dan tidak juga pada jun
Telah berlalu kebebasan dua golongan
Maka mereka menghiasi hidup dengan kepahitan
Ketahuilah bahwa sesungguhnya sebagian besar kebebasan terdapat dalam pemberian pelayanan pad orang-orang faqir. Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Alloh memberikan wahyu kepada Nabi Dawud AS, ‘Jika kamu melihat-Ku dengan pencarian, maka jadikanlah dirimu sebagai pelayan-Ku’”.
RasluLlah SAWW bersabda :
سيّدُالْقوْمِ خادمهم
“Tuan bagi suatu kaum adalah yang menjadi pelayan bagi mereka”.
Yahya bin Mu’adz mengatakan, “Anak-anak dunia adalah orang yang dilayani para budak dan pelayan, sedang anak-anak akhirat adalah orang-orang yang dilayani kelompok orang merdeka lagi orang baik”.
Ibrahim bin Adham mengatakan, “Sesungguhnya kebebasan yang mulia adalah keluar (terbebasnya diri) dari penghambaan dunia sebelum dunia meninggalkannya”. Dia juga mengatakan, “Jangan berkawan kecuali kepada orang yang bebas (merdeka) lagi mulia. Mendengarlah dan jangan berbicara”.
Yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada اللّه dengan ingatan (zikir) yang banyak”. (Al-Ahzab 41)
َسُوْلُ اللّه SAWW bersabda :
ألا أنبّئكم بخير أعمالكم وأزْكاها عند ملككم وارفعها في درجاتكمْ وخير منْ إعطاءالذّهب والورق وأنتلقوا عدوّكم وتضْربوا أعْناقهم ويضْربوا أعْناقكم قالوا ماذاك يارسول اللّه قال ذكراللّه
Artinya ”Ingatlah, akan aku beri tahu kalian tentang sebaik-baik amal kalian, paling suci dari amal kalian di sisi Raja kalian, dan paling tinggi untuk derajad kalian, dan lebih baik daripada pemberian emas dan perak, ataupun daripada engkau bertemu musuh kalian sehingga kalian memukul leher mereka atau mereka memukul leher kalian ?”
Para Sahabat bertanya, ”Apa itu wahai َسُوْلُ اللّه ?.
Beliau menjawab, ”ZikruLlah”.
َسُوْلُ اللّه SAWW bersabda :
لاتقوم الساعة على احد يقوال اللّه اللّه
”Hari kiyamat tidak akan terjadi pada seseorang yang mengucapkan اللّهاللّه
َسُوْلُ اللّه SAWW juga pernah bersabda :
لاتقوم الساعة حتّى لا يقال في الارض اللّه اللّه
”Kiyamat tidak akan terjadi sehingga di bumi ini tidak ada yang mengucapkan اللّهاللّه
Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, ”Zikir adalah rukun yang sangat kuat dalam perjalanan menuju Al-Haq, bahkan keberadaannya merupakan tiang. Seseorang tidak akan sampai menuju اللّه kecuali dengan melanggengkan zikir.
Zikir ada dua macam, zikir lisan dan zikir hati. Zikir lisan diperuntukkan bagi hamba yang mempergunakan kemampuannya sehingga menghantarkannya pada kelanggengan zikir di dalam hati. Zikir lisan ini memiliki pengaruh kepada zikir hati. Jika seorang hamba berzikir dengan lidah dan hatinya sekaligus, maka dia adalah seorang ahli zikir yang sempurna dalam sifat dan keadaan perjalanan spiritualnya.
Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, ”Zikir menyebarkan kewalian. Barang siapa menetapi zikir maka dia akana dianugerahi penyebaran dan jika ia melepas zikirnya maka penyebaran kewalian akan dicabut darinya”.
Diceritakan bahwa Dalf As-Syibli dalam permulaan perjalanan sufinya setiap hari menyerap sedikit demi sedikit dan mengendalikan nafsunya dengan teguh supaya tidak terputus dari kontinuitas zikir. Jiak sifat lupa memasuki hatinya, maka dia memukul nafsunya sampai pecah. Terkadang keteguhan ini lenyap sebelum menyentuh. Terkadang pula ia memukul dinding pembatas dengan dua tangan dan dua kakinya. Dikatakan, zikir kepada اللّه dengan hati adalah pedang para murid. Dengan pedang itu mereka berperang melawan musuh-musuh dan menghalau beberapa penyakit yang mencoba mengganggunya. Musibah ketika membayangi hamba dan sempat menggetarkan hatinya, maka dia membatasinya dari semua yang dibencinya pada saat itu juga.
Muhammad Al-Washiti pernah ditanya tentang zikir maka dijawab, ”Zikir adalah keluar dari medan kelupaan menuju kepastian musyahadah yang mampu mengalahkan tekanan ketakutan dan tarikan rasa cinta”. Dzunun Al-Mishri berkata, ”Barang siapa ingat اللّه dengan ingatan yang hakiki, maka dia pasti lupa segala sesuatu di sisi ingatan-Nya (zikir kepada اللّه) dan اللّه akan menjaganya dari segala sesuatu. Baginya punya pengganti dari segala hal.
Abu Utsman pernah ditanya dari hal yang demikian, ”Kami berzikir kepada اللّه tetapi tidak menemukan kemanisan di dalam hati kami”. Kemudian dijawab,”Pujilah اللّه agar menghiasi diantara luka-lukamu dengan ketaatan”.
Di dalam hadits yang masyhur َسُوْلُ اللّه SAWW pernah bersabda, ”
إِذَارأيْتم الْجنّة فارْتعوا بها قيْل له وما رياض الجنة فقال مجالس الذكر
Jika kamu melihat surga maka merumputlah. Ditanyakan kepada Beliau, “Apakah itu kebun surga ?”. Beliau menjawab, “’Majlis zikir”.
Jabir bin AbdiLlah menceritakan, “Suatu hari َسُوْلُ اللّه SAWW keluar menuju kami lalu bersabda, “
يا أيّهاالنْاس ارتعوا فيْ رياض الجنّة قلنا يا رسول اللّه ما رياض الجنة قال مجالس الذّكر قال اغدوا وروْحواْ والذْكروا من كان يحبُّ أنْ يعْلم منزلته عنْد اللّه تعالى فلينظر كيف منْزلة اللّه تعالى عنده فانّ اللّه تعالى ينزل العبد حيْث أنزله منْ نفْسه
“Hai manusia merumputlah kalian semua di kebun surga.’Kami bertanya, ‘Wahai َسُوْلُ اللّه, apakah kebun surga itu ?’ Beliau menjawab, ‘Majlis zikir. Makan pagilah kalian dengan zikir, makan sorelah kalian dengan zikir. Barang siapa ingin mengetahui kedudukannya di sisi اللّه maka pandanglah bagaimana kedudukan اللّه di sisinya (di hatinya). Sesunggguhnya اللّه turun pada hamba menurut turunnya hamba di sisi-Nya”.
Dalf As-Syibli mengatakan, “ Bukankah اللّه telah berfirman, “Aku duduk di sisi orang yang mengingat-Ku. Apa yang kalian peroleh wahai manusia, dari majlis Al-Haqq ini ?”’.
As-Syibli kemudian mendendangkan sya’ir :
Saya ingat pada-Mu
Tidak, saya lupa pada-Mu sepintas
Apa yang lebih ringan dalam zikir
Selain zikir lidahku
Saya dengan tanpa cinta
Mati dari keninginan
Hati pergi tanpa arah menujuku
Berputar dari timur ke barat
Ketika cinta melihatku
Sesungguhnya Engkau hadir padaku
Saya menyaksikan-Mu ada
Di segala tempat
Saya berdialog dengan yang diadakan
Dengan tanpa ucapan
Saya melirik yang diketahui
Dengan tanpa pandangan
Diantara keistimewaan zikir adalah tidak dibatasi waktu, bahka tidak ada waktu melainkan seorang hamba diperintahkan berzikir, baik yang bersifat wajib maupun sunah. Salat meski memiliki kedudukan sebagai ibadah yang paling mulia, namun pada waktu-waktu tertentu tidak boleh dilakukan. Sedangkan zikir dilakukan sepanjang waktu dalam berbagai keadaan.
اللّه berfirman :
الّذين يذكرون اللّه قياماً وقعوْداَ وعلى جنوبهمْ
“Orang-orang yang mengingat اللّه baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring (Ali Imran 191).
Abu Bakar bin Furak mengatakan, “Posisi berdiri dengan kebenaran zikir dan posisi duduk dengan menahan diri dari sikap berpura-pura (berzikir).
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq pernah ditanya, “Apakah berzikir atau berpikir yang lebih mulia ?”
“Apa yang terjadi pada Syaikh ?”
“Syaikh AbduRrahman menajwab, “Bagi saya, zikir lebih sempurna daripada berfikir karena اللّه Dzat Al-Haqq disifati dengan zikir tidak dengan berfikir. Sesuatu yang menjadi sifat asli Al-Haqq adalah lebih sempurna dari sesuatu yang dikhususkan oleh makhluk sebagai sifat Al-Haqq”.
Maka ustadz Abu Ali tersenyum membenarkan jawaban As-Syaikh.
Muhammad Al-Kattani mengatakan, “seandainya tidak ada ketentuan yang mengatakan bahwa zikir kepada-Nya adalah kewajiban terhadap saya, niscaya saya tidak mengingat-Nya sebagai pengagungan kepada-Nya sebagaimana saya mengingat-Nya”.
Ustadz Abu Ali mendendangkan syair kepada teman-temannya :
Tidakkah saya jika mengingat-Mu
Selain keninginan mengusirku
Hatiku, rahasiaku, ruhku
Ketika mengingat-Mu
Sehingga sekaan-akan mata-mata
Dari-Mu membisiku untuk-Mu
Celakalah
Zikir adalah untuk-Mu semata.
Diantara keistimewaan zikir adalah menjadikan diterimanya zikir-zikir yang lain.
Firman اللّه SWT :
فاذْكروْنِي اذْكركُمْ
Ingatlah Aku, maka aku akan mengingatmu (Al-Baqarah 152)
Dalam suatu hadits disebutkan bahwa Jibril As pernah berkata kepada َسُوْلُ اللّه SAWW bahwa اللّه SWT berfirman “Aku memberi umatmu sesuatu yang belum pernah Aku berikan kepada umat-umat yang lain”.
“Apa itu wahai Jibril ?”
“Yaitu firman-Nya yang mengatakan, ‘(Karena itu) ingatlah kalian maka Aku akan mengingatmu (Al-Baqarah 152). Tidak ada seorangpun selain umat ini yang pernah mengucapkannya.
Menurut penafsiran, ayat tadi bermakna bahwa malaikat selalu berkonsultasi dengan orang yang berzikir ketika hendak mencabut nyawanya.
Di dalam sebagian kitab-kitab agama disebutkan bahwa Nabi Musa AS pernah bertanya, “Wahai Tuhan, di mana Engkau berada ?”
“Di hati hamba-Ku yang beriman”.
Sufyan Atsauri pernah bertanya kepada Dzunun Al-Mishri tentang zikir lalu dijawab, “Zikir adalah kegaiban orang yang berzikir dari zikir itu sendiri”. Kemudian beliau melantunkan sebuah syair :
Tidak, karena saya melupakan-MU
lebih banyak dari mengingat-Mu
Namun dengan itu lidahku mengalir.
Sahal bin AbdiLlah berkata, Tiada hari melainkan Dzat Yang Maha Agung memanggil-manggil, “Wahai hamba-Ku, kalian tidak pernah berlaku adil terhadap-Ku. Engkau memohon kepada-Ku tetapi engkau pergi kepada selain-Ku. Aku menghilangkan musibah-misibah darimu tetapi engkau memikul beban-beban kesalahan. Wahai anak Adam, apa yang akan kamu katakan kelak ketika datang kepada-Ku ?”
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, “Di surga terdapat lembah yang subur. Ketika seseorang berzikir, maka para malaikat menanam pohon-pohon di lembah itu. Ketika sebagian malaikat berhenti, maka ditanyakan kepadanya, “Mengapa kamu berhenti ?” lalu dijawab, “Kawanku (orang yang berzikir) telah membuat badanku lelah dan payah ”.
Dikatakan bahwa mencari kelezatan yang hilang ada di dalam tiga hal yaitu di dalam shalat, zikir dan membaca Al-Qur’an. Sesungguhnya kalian pasti menemukannya karena jika tidak maka ketahuilah bahwa pintu sedang ditutup.
Ahmad Al-Aswad bercerita, “Saya pernah bersama Ibrahim Al-Khawas dalam suatu perjalanan. Kami mendatangi suatu tempat yang di dalamnya banyak terdapat ular. Ketika tiba pada suatu pesisir pantai, Ibrahim merapatkan sampannya lalu duduk dan sayapun ikut duduk. Akhirnya malampun tiba. Udara yang sangat dingin mendorong ular keluar dari sarang mereka. Binatang berbisa tersebut merayap kesana kemari untuk mencari mangsa dan terus berjalan hingga mendekati kami. Ibrahim berbisik kepadaku, ”berzikirlah kepada اللّه”. Sayapun mengucapkan zikir, dan anehnya binatang-binatang tersebut menjauh. Tidak berapa lama ular ular tersebut mendatangi kami, dan Ibrahim mengingatkan kami seperti semula, dan saya menurutinya hingga pagi hari. Setelah matahari cerah, dia berdiri dan berjalan, kemudian saya ikut berdiri dan berjalan. Baru beberapa langkah kami berjalan, tiba-tiba seekor ular besar jatuh di bekas tempat duduk Ibrahim dalam keadaan tidur melingkar. Sayapun berkata, “ alangkah pulas tidur ular ini”. Lalu dijawab Ibrahim, “Tidak, semenjak beberapa masa yang silam, saya tidak pernah tidur malam lebih nyaman daripada pagi ini “.
Dikatakan, “Barang siapa yang tidak merasakan kerasnya lupa, maka dia tidak dapat merasakan manisnya zikir.” Sarry As- Saqathy berkata, Dalam sebagian kitab disebutkan, “Jika mengingat-Ku lebih menguasai hamba-Ku, berarti dia rindu kepada-Ku yang membuat Aku rindu kepadanya”. Sarry mengatakan, “اللّه memberi wahyu kepada Dawud AS, “Bersama-Ku, bergembiralah dan dengan mengingat-Ku, bersenang-senanglah”.
Ahmad An-Nuri mengatakan, “Segala sesuatu memiliki siksaan, dan siksaan bagi orang makrifat adalah keterputusannya dari zikir”. Di dalam kitab Injil disebutkan, “Ingatlah Aku ketika kamu marah, maka Aku pasti mengingatmu ketika Aku marah. Ridhalah dengan pertolongan-Ku karena pertolongan-Ku lebih baik daripada pertolonganmu kepada dirimu sendiri”.
Seorang pendeta yahudi pernah ditanya, “Apakah tuan puasa ?”
“Saya puasa dengan mengingat-Nya. Jika saya mengingat selain-Nya berarti saya telah berbuka”.
Seseorang yang mengabadikan hatinya dengan zikir maka setan yang mendekatinya pasti terbanting, sebagaimana manusia yang mendekati setan tanpa zikir juga pasti terbanting. Para setan bingung menyaksikan hal ini. Mereka bermusyawarah, “Apa yang dimilikinya ?” lalu dijelaskan, “Manusia telah menyentuhnya”.
Sahal bin AbduLlah mengatakan, “Saya tidak mengetahui maksiyat yang lebih buruk melebihi lupa/lalai kepada Tuhan”. Dinyatakan bahwa zikir khafi (secara rahasia) tidak bisa diangkat ke langit oleh para malaikat karena tidak tampak baginya. Zikir semacam ini merupakan rahasia antara seorang hamba dengan اللّه. Salah seorang ulama sufi menuturkan pengalaman anehnya. Dia mengatakan, “Diceritakan kepada saya tentang seorang ahli zikir yang tinggal di sarang harimau. Sayapun mendatanginya. Di sana saya melihat dia sedang duduk berzikir. Tiba-tiba seekor harimau menerkam dan berusaha merobek-robek badannya. Dia pingsan dan sayapun pingsan. Ketika dia sadar dan saya juga mampu berdiri, maka saya bertanya kepadanya, “Ada apa?”. Diapun menjawab bahwa اللّه telah merobohkan harimau itu”.
AbduLlah Al- Jariri mengatakan, “Diantara sahabat-sahabat kami ada seorang pria yang banyak mengucapkan اللّه..اللّه. ketika dia berjalan di sela-sela barisan pohon kurma, tiba-tiba sebatang pohon kurma tumbang dan menimpa kepala ahli zikir tersebut.kepalanya pecah dan darah mengalir dari sekujur tubuhnya. Di tanah tertulis ribuan kata اللّه, اللّه dengan tinta darahnya”.
Pada bulan Juli 1951 sebuah tim yang terdiri
dari ahli-ahli Rusia melakukan penelitian terhadap
Lembah Kaat. Sepertinya mereka tertarik untuk menemukan
sebuah tambang baru di daerah tersebut.
Dalam penelitiannya mereka menemukan beberapa
potong kayu di daerah tersebut berserakan.
Mereka kemudian mulai menggali tempat tersebut
dengan tujuan untuk menemukan sesuatu yang berharga.
Tetapi alangkah terkejutnya mereka ketika menemukan
kumpulan potongan-potongan kayu tertimbun di situ.
Salah seorang ahli yang ikut serta memperkirakan,
setelah meneliti beberapa lapisanya, bahwa kayu-kayu
tersebut bukanlah kayu yang biasa, dan menyimpan rahasia
yang sangat besar di dalamnya.
Mereka mengekskavasi tempat tersebut dengan penuh keingintahuan.
Mereka menemukan cukup banyak potongan-potongan
kayu di daerah penggalian tersebut, dan
di samping itu mereka juga menemukan hal-hal
lain yang sangat menarik. Mereka juga menemukan
sepotong kayu panjang yang berbentuk persegi.
Mereka sangatlah terkejut setelah mendapati
bahwa potongan kayu yang berukuran 14 X 10 inchi
tersebut ternyata kondisinya jauh lebih baik
dibandingkan potongan-potongan kayu yang lain.
Setelah waktu penelitian yang memakan waktu yang
cukup lama, hingga akhir tahun 1952, mereka
mengambil kesimpulan bahwa potongan kayu tersebut
merupakan potongan dari bahtera Nabi Nuh a.s.
yang terdampar di puncak Gunung Calff (Judy).
Dan potongan (pelat) kayu tersebut,
di mana terdapat beberapa ukiran dari
huruf kuno, merupakan bagian dari bahtera tersebut.
Setelah terbukti bahwa potongan kayu
tersebut merupakan potongan kayu dari
bahtera Nabi Nuh a.s., timbullah pertanyaan
tentang kalimat apakah yang tertera di
potongan kayu tersebut. Sebuah dewan yang
terdiri dari kalangan pakar dibentuk oleh
Pemerintah Rusia di bawah Departemen Riset
mereka untuk mencaritahu makna dari tulisan
tersebut. Dewan tersebut memulai kerjanya pada
tanggal 27 Februari 1953.
Berikut adalah nama-nama dari anggota dewan tersebut:
1. Prof. Solomon, Universitas Moskow
2. Prof. Ifa Han Kheeno, Lu Lu Han College , China
3. Mr. Mishaou Lu Farug, Pakar fosil
4. Mr. Taumol Goru, Pengajar Cafezud College
5. Prof. De Pakan, Institut Lenin
6. Mr. M. Ahmad Colad, Asosiasi Riset Zitcomen
7. Mayor Cottor, Stalin College
Kemudian ketujuh orang pakar ini setelah
menghabiskan waktu selama delapan bulan
akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa
bahan kayu tersebut sama dengan bahan kayu
yang digunakan untuk membangun bahtera Nabi
Nuh a.s., dan bahwa Nabi Nuh a.s. telah meletakkan
pelat kayu tersebut di kapalnya demi keselamatan dari
bahtera tersebut dan untuk mendapatkan ridho Illahi.
Terletak di tengah-tengah dari pelat tersebut adalah
sebuah gambar yang berbentuk telapak tangan dimana juga terukir
beberapa kata dari bahasa Saamaani.
Mr. N.F. Max, Pakar Bahasa Kuno, dari Mancester, Inggris telah
menerjemahkan kalimat yang tertera di pelat tersebut menjadi:
"Ya Allah, penolongku! Jagalah tanganku dengan kebaikan dan bimbingan
dari dzatMu Yang Suci, yaitu Muhammad, Ali, Fatima, Shabbar dan Shabbir.
Karena mereka adalah yang teragung dan termulia.
Dunia ini diciptakan untuk mereka maka tolonglah aku demi nama mereka."
Semuanya sangatlah terkejut setelah mengetahui arti
tulisan tersebut. Terutama yang membikin mereka
sangatlah bingung adalah kenapa pelat kayu tersebut
setelah lewat beberapa abad tetap dalam keadaan utuh dan tidak rusak sedikitpun.
Pelat kayu tersebut saat ini masih disimpan dengan
rapih di Pusat Penelitian Fosil Moskow di Rusia.
Jika anda sekalian mempunyai waktu untuk mengunjungi
Moskow, maka mampirlah di tempat tersebut, karena pelat
kayu tersebut akan menguatkan keyakinan anda terhadap kedudukan Ahlul Bayt a.s.
Terjemahan kalimat tersebut telah dipublikasikan antara lain di:
1. Weekly - Mirror, Inggris 28Desember 1953
2. Star of Britain , London , Manchester 23 Januari 1954
3. Manchester Sunlight, 23Januari 1954
4. London Weekly Mirror, 1Februari 1954
5. Bathraf Najaf , Iraq 2 Februari 1954
6. Al-Huda, Kairo 31 Maret 1954
7. Ellia - Light, Knowledge & Truth, Lahore 10 Juli 1969
من علمة الاعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل
( Termasuk tanda-tanda seseorang berpegangan / mengandalkan amal ibadahnya adalah kurangnya rasa harap akan rahmat اللهketika ia tergelincirز
Berpegangan atau mengandalkan pertolongan الله merupakan sifat arifuun yang ahli mengesakan Tuhan. Dan berpegangan / mengandalkan kepada selain الله adalah sifat orang yang lalai dan bodoh, dan apa saja yang termasuk selain الله hingga berpegangan kepada ilmunya, dan amalnya, dan ahwalnya. Adapun ahli ma’rifat yang selalu mengesakan Tuhan, sesungguhnya mereka berada dalam kondisi kelapangan dalam kedekatannya dengan الله dan musyahadahnya. Mereka selalu menatap / bertawajuh kepada Tuhannya dan mereka fana dari diri mereka sendiri. Oleh karena itu apabila mereka tergelincir dalam dosa atau mereka lalai, maka mereka selalu melihat akan peran dan campur tangan Tuhan terhadap segala sesuatu yang terjadi pada dirinya, dan mereka melihat mengalirnya qadha الله kepada mereka.
Demikian juga apabila mereka dapat melakukan keta’atan kepada الله maka mereka tidak melihat segalanya merupakan hasil dari usahanya sendiri, demikian juga mereka tidak melihat adanya kekuatan dirinya dalam melakukan keta’atan, kerana yang terlebih dahulu masuk ke dalam hati mereka adalah dzikir atau ingat kepadaTuhannya, oleh karena itu dirinya tenang di dalam aliran taqdir-Nya dan hatinya juga tenang terhadap apa saja yang terlintas kepadanya dari pancaran cahaya-Nya. Oleh karena itu tiada beda dari dua keadaan yang dialaminya –yaitu ketika ta’at dan ketika tergelincir dalam dosa-, karena sesungguhnya mereka telah tenggelam di dalam lautan tauhid . Maka dari itu sama saja bagi mereka antara rasa takut / khauf dan harap / raja’ . oleh karena itu tidaklah mengurangi rasa takut mereka meskipun mereka telah berhasil menjauhi kemaksiyatan. Juga tidak menambahi dari harap mereka dengan amal kebaikan yang telah mereka lakukan.
Dikatakan, “Orang ‘arif tegak berdiri kokoh dengan pertolongan الله. Sungguh الله telah menjaga urusan mereka. Apabila tampak keta’atan dari mereka, maka mereka tidak mengharapkan pahala karena mereka tidak melihat dirinya yang melakukan amal keta’atan. Demikian pula apabila terjadi perbuatan dosa, maka mereka tiada melihat selain kepada الله yang mengalirkan taqdirNya. Maka hatinya menjadi tenang dengan الله dan penglihatannya kepadaNya dan takut akan kebesaranNya serta harapannya kepadaNya.
Adapun selain mereka, maka mereka menisbatkan kepada dirinya sendiri akan amal, perbuatan, dan mereka mengambil bagian dari segala amal mereka. Oleh karena itu mereka berpegangan kepada amal mereka dan hatinya merasa tenang akan hal keadaan mereka. Kemudian apabila mereka tergelincir pada perbuatan dosa, maka akan berkuranglah harap/raja’ mereka akan rahmat ampunan dan pertolongan الله sebagaimana mereka ketika melakukan ta’at maka mereka menjadikannya sebagai andalan dan pegangan yang mereka anggap dapat menyelamatkan. Akhirnya mereka tidak sadar telah bergantung kepada asbab dan terhijab dari Tuhaninya. Oleh karena itu barang siapa yang mendapati tanda dari keadaan yang demikian ini, naka sudah seharusnyalah ia mengetahui posisi dan kedudukannya sehingga tidak mendakwakan diri sebagai bagian dari golongan khos / orang-orang pilihan yang ahli dekat dengan الله. Dan posisi mereka sesungguhnya masih pada golongan Ashabil Yamiin.
Telah berkata Sayikh Abu Abdurrahman As-Sulamy dan AL-Hafidz Abu Na’im Al-ishfahaany dari Yusuf bin AL-Husain Ar-Razy RA, “sebagian orang datang kepadaku dan berkata kepadaku,’Janganlah sekali-kali engkau melihat keinginanmu dalam semua amalmu kecuali engkau bertaubat karenanya’. Maka aku jawab, “Jika taubat dapat menyelamatkan diriku, maka tidak aku ijinkan ia membuatku merasa aman dari Tuhanku. Jika kejujuran dan keikhlasan keduanya menjadi hambaku, niscaya aku jual keduanya sebagai kezuhudanku dari keduanya. Karena sesunguhnya jika diriku di sisi الله ditentukan olehNya sebagai orqang yang beruntung dan diterima amalnya, maka tidaklah mengkhawatirkan diriku segala bentuk dosa dan kesalahan. Dan jika diriku disisiNya dikehendaki sebagai orang yang celaka, maka tidaklah akan menyelamatkanku semua amal, kesungguhan dan keikhlasanku. Dan sesungguhnya الله telah menjadikanku sebagai manusia yang tanpa amal apapun demikian pula penolong yang menyelamatkanku dariNya. KemudianIa menunjukkanku kepada agamaNya yang diridhoiNya dengan firmanNya Barang siapa yang mengambil agama selain agama Islam maka tidak akan diterima dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi oleh karena itu peganganku kepada kemurahanNya dan belas kasihNya lebih utama bagiku daripada peganganku kepada amalku dan sifatku yang tidak sempurna. Karena sesungguhnya membandingkan kemurahan الله dan kasih sayangNya dengan amal dan perbuatan kita adalah disebabkan kekurang tahuan kuta akan kemurahan الله dan kebaikanNya.
اجتهادك فيمن ضمن لك وتقصيرك فيما طلب منك دلليل على انطماس البصيرة منك
(KESUNGGUHAN KAMU UNTUK MEMPEROLEH APA YANG TELAH DIJAMIN الله UNTUKMU) Yaitu segala sesuatu yang telah الله tanggung seperti rizki sebagai kemurahan اللهdan kebaikan-Nya, sebagaimana firman الله “Dan berapa banyak segala yang melata di atas bumi tidak membawa rizkinya. الله lah yang memberi rizki kepada mereka, demikian pula rizkimu…” SEDANGKAN KAMU LALAI TERHADAP KEWAJIPAN YANG DIAMANATKAN KEPADAMU) yaitu beberapa amalan ibadah yang menyebabkan kamu sampai kepada-Nya seperti beberapa bacaan dzikir dan shalawat dan lain-lain dari bermacam-macam keta’atan sebagai mana firman الله“Dan tidaklah Aku jadikan Jin dan Manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku. ( yang demikian ini MENUNJUKKAN KEBUTAAN MATA HATIMU).
Sesuatu yang telah ditanggung الله bagi hambanya adalah rizki yang dengan rizki tersebut hamba الله dapat mempertahankan eksistensinya untuk hidup di dunia. Dan arti pertanggungan الله dalam hal rizki hamba-Nya adalah bahwa الله menjamin rizki untuk kelangsungan hidup hamba-Nya dan الله menghendaki hamba tersebut hatinya menjadi lapang serta tidak menanggung beban berat dalam mencarinya, atau hati menjadi susah karenanya. Adapun yang dituntut oleh اللهatas hambanya adalah amal ibadah agar hamba tersebut dapat sampai kepada kebahagiaan di akhirat dan dekat dengan الله Ta’ala. Dan yang dimaksudkan ibadah sebagai tuntutan dari الله adalah bahwasanya serangkaian keta’atan tersebut menjadi beban yang harus dilakukan oleh hamba secara bersungguh-sungguh sebagaimana telah diatur dalam syari’at mengenai sebab dan waktunya dan lain sebagainya. Pada sebagian atsar diterangkan firman الله Ta’ala “Wahai hambaKu ta’atlah kepadaKu dan janganlah engkau mengaturKu untuk hal kebaikanmu”.
Telah berkata Ibrahim Al-Khawash, “Ilmu itu kesemuanya terdapat dalam dua kalimat yaitu ‘Jangan engkau bebani diri dengan sesuatu yang telah dijamin, dan jangan sia-siakan sesuatu yang diwajibkan. Oleh karena itu barang siapa yang telah mampu menempati keadaan ini (yaitu bersungguh-sungguh dalam menjalankan kewajiban dan melapangkan hati terhadap sesuatu yang telah ditanggung الله Ta’ala) maka sungguh telah terbukalah mata hatinya dan telah bersinarlah nuurul Haq / cahaya kebenaran di dalam hatinya dan telah berhasilah ia mencapai puncak tujuan. Akan tetapi bagi yang sebaliknya, maka sengguh telah kabur dan butalah mata hatinya.
Adapun pengarang kitab ini rahimahuLlah memberikan istilah Ijtihad (bersungguh-sungguh), hal ini memberikan isyarah bahwa mencari rizki secara wajar dan tidak memforsir diri hanya untuk tujuan duniawi semata adalah tidak terecela dan mubah hukumnya, dan bukan termasuk perkara yang dapat mengeruhkan mata hati. Telah disebutkan dalam kitab Tanwirul Qulub, perihal firman الله Ta’ala, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk melakukan shalat, dan bersungguhlah dalam mengerjakannya. Sesungguhnya Aku tidak meminta rizki darimu akan tetapi Aku lah yang memberimu rizki” Maksud ayat ini adalah “Laksanakanlah pelayanan kepadaKu maka Aku akan melaksanakan pembagian rizki dariKu –Qum bikhidzmatiNa, wa Nahnu Naquumu laka biqismatiNaa.” Di sini terdapat dua perkara, yaitu perkara yang telah dijamin/ditanggung الله maka janganlah engkau sedih karenanya, dan perkara tuntutan الله kepadamu maka jangan di sia-siakan. Oleh karena itu barang siapa yang bersungguh-sungguh atas sesuatu yang telah dijamin sementara ia melalaikan sesuatu yang diwajibkan, maka tampak jelaslah kebodohannya, dan telah meluaslah kelalaiannya.
Bukankah kita telah melihat bahwa الله telah memberi rizki kepada orang yang durhaka kepada-Nya, maka bagaimana mungkin الله tidak memberi rizki kepada hambanya yang ta’at. Jikalau الله telah mengalirkan rizki-Nya kepada orang yang ingkar / kufur kepada-Nya, bagaimana mungkin الله tidak memberi rizki kepada hambanya yang beriman. Bukankah kita sebagai orang mukmin telah mengetahui dengan jelas bahwa dunia telah dijamin bagi kita, dan amal untuk akhirat adalah tuntutan bagi kita. Sebagaimana firman الله,”Watazawwaduu fa inna khaira zaad at-taqwadan persiapkanlah bekal dan sebaik-baik bekal adalah taqwa”. Sebagian dari mereka (orang-orang shalih) berkata,“Sesungguhnya الله telah menjamin kemaslahatan duniaku dan الله menuntut amal untuk akhiratku. Dan Tidaklah اللهmenuntut kemaslahatan duniaku dan menjamin akhiratku.”