Detik-detik terakhir kehidupan Imam Husain as telah semakin berdetak keras. Maka, kepada kaum wanita keluarga dan kerabatnya bintang ketiga dari untaian suci Imam Ahlul Bait as yang siap menyongsong kematian sakral itu berkata:
“Kenakanlah gaun duka cita kalian. Bersiaplah menanggung bencana dan ujian. Namun, ketahuilah bahwa Allah adalah Penjaga dan Pelindung kalian. Dia akan menyelamatkan kalian dari keburukan musuh, mendatangkan kebaikan dari persoalan yang kalian hadapi, mengazab musuh dengan berbagai macam siksaan, dan akan mengganti bencana kalian dengan berbagai macam kenikmatan dan kemuliaan. Maka janganlah kalian mengeluh dengan rintihan dan kata-kata yang dapat mengurangi keagungan kalian.” [Jala' Al'Uyun hal.213]
Imam Hussain as. menatap wajah puteri-puterinya satu persatu sambil berkata: “Sakinah, Fatimah, Zanab, Ummu Kaltsum, salamku atas kalian. Inilah akhir pertemuan kita, dan akan serea tiba saatnya kalian dirundung nestapa.”
Wajah Imam bersimbah air mata sehingga Hazrat Zainab memberanikan diri untuk bertanya: “Mengapa engkau menangis?”
“Bagaimana aku akan dapat meredam tangis, sedangkan sebentar lagi kalian akan digiring oleh musuh sebagai tawanan?!”[2]
Sakinah juga bertanya: “Ayahku, apakah engkau akan menyerah kepada kematian?” [3]
“Bagaimana tidak, sedangkan aku sudah tidak mendapati orang yang akan menolongku?!” Jawab Imam.
Sakinah berkata lagi: “Kalau begitu, lebih baik pulangkan kami ke tanah suci kakek.” [4]
Imam Husain menjawab: “Mana mungkin aku bisa memulangkan kalian? Andaikan mereka mau melepaskan diriku, tidak mungkin aku akan menjerumuskan diriku kepada kebinasaan..”[5]
Sejurus kemudian Sang Imam bergerak untuk menjejakkan kakinya seorang diri menuju gerombolan musuh yang sudah haus akan darah beliau itu. Namun, gerakannya tertahan lagi oleh sisa-sisa jerit tangis anak-anak yang menahan dahaga. “Tak usah kalian menangis, demi kalian jiwaku akan aku korbankan.”
Kepada adiknya, Hazrat Zainab as, beliau berpesan: “Aku titipkan anak-anak dan kaum wanita ini kepadamu. Jadikanlah kamu sebagai ibu mereka sepeninggalku, dan tak perlu engkau mengurai-uraikan rambutmu (sebagai luapan dukacita) atas kepergianku. Apabila anak-anak yatimku merindukan ayahnya, biarlah putera Ali yang akan tampil sebagai ayah mereka.”
Dengan suara lirih, beliau akhirnya mengucapkan salam perpisahan: “Alwidaa’, alwidaa’, alfiraaq, alfiraaq.”[6]
Putera Ali bin Abi Thalib as itu kemudian mengendarai Dzul Janah, kuda yang sebelum ditunggangi oleh Abul adhl Abbas as. Anak-anak kecil dan kaum wanita tetap tak kuasa menahan ratapan duka lara. Gerakan Imam diiringi raung tangis mereka. Sebagian tersimpuh sambil memeluk kaki Dzul Janah. “Ayah! Ayah!” Panggil puteri beliau yang masih berusia tiga tahun. “Aku haus, aku haus! Mau kemana engkau ayah? Lihatlah aku, ayah. Aku sedang kehausan.”
Hati Sang Imam kembali menjerit. Imam sempat tersedu menahan tangis, tetapi kemudian tetap menarik kendali kudanya menuju laskar iblis kerajaan Bani Umayyah itu. Di situ beliau mencoba untuk mengajukan permohonan.
“Hai putera Sa’ad!” Seru beliau. “Aku menginginkan darimu satu diantara tiga pilihan. Pertama, kamu bebaskan aku untuk kembali kembali ke tanah suci kakekku dan menetap di sana.”
“Itu tidak mungkin!” Sergah Ibnu Sa’ad dengan raut muka yang angkuh.
“Kedua,” Lanjut Imam. “Berilah kami air, karena keluargaku sedang tercekik dahaga.”
“Ini juga tidak bisa!” Teriak panglima pasukan Yazid dari Kufah itu.
Imam berkata lagi: “Kalau begitu, kalian tahu aku disini hanya seorang diri. Karenanya, sekarang aku minta satu diantara kalian maju berduel denganku.”
Umar bin Sa’ad menjawab: “Ini pekerjaan gampang. Saya terima permintaanmu untuk memulai duel.”
...
Senin, 11 Januari 2010
Perpisahan Terakhir
di
04.38
0
komentar
Penuntasan Hujjah Terakhir
Setelah para pemuda dan para pengikutnya sudah terbunuh, Imam Husain as akhirnya mempersiapkan diri untuk mengorbankan jiwa dan raganya. Demi penuntasan hujjah untuk terakhir kalinya, beliau berkali-kali meneriakkan pertanyaan:
“Adakah seseorang yang akan melindungi kehormatan Rasulullah dari bencana ini?”
“Adakah orang bertauhid yang takut kepada Allah berkenaan dengan kami?”
“Adakah orang yang akan menolong permohonan kami demi keridhaan Allah?”[Qiyam Salar-e Syahidaan hal.225]
Teriakan Imam Husain as ini mengundang jerit tangis kaum wanita yang masih harus beliau lindungi.
Beliau berteriak lagi: “Adakah orang yang menyisakan rasa belas kasih? Adakah seorang penolong?”
Ali Zainal Abidin Assajjad, putera beliau satu-satunya yang sedang sakit keras dan tak berdaya untuk maju ke medan laga berusaha bangkit dari pembaringannya dan berteriak: “Aku siap. Aku akan mengorbankan jiwa.” Dengan tubuhnya yang lemas Ali Assajjad itu berusaha meraih pedang, namun lempengan besi tajam itu masih sangat berat untuk tubuhnya yang nyaris tenaga itu. Pemuda ini lantas meraih tombak, satu-satunya senjata yang baginya justru lebih menyerupai untuk menyanggah tubuhnya yang lunglai itu. Dengan sisa-sisa tenaga dia mencoba beranjak menuju gerombolan musuh. Namun Imam Husain as tidak membiarnya berperang dalam kondisi seperti itu. Beliau memerintahkan Ummu Kaltsum untuk mencegahnya, namun Assajjad menolak. “Biarkan aku yang akan menolongnya. ” Pinta Assajjad.
Imam Husain as akhirnya turun tangan sendiri untuk mencegah dan membawanya kembali ke pembaringan lalu berkata: “Tenanglah puteraku. Tetaplah kamu di sini. Biarkan aku sendiri yang akan menghadapi pedang, sedangkan kamu cukuplah menanti belenggu. Puteraku, kamu harus kembali ke kampung halaman di Madinah. Sampaikan salamku untuk pusara kakekku, ibuku, dan saudaraku. Sampaikan salamku kepada saudarimu, Fatimah. Sampaikan salamku kepada para pengikut kita dan katakan kepada mereka: ayahku berkata; ‘Aku berharap kepada kalian untuk mengingat bibirku yang kering kehausan jika kalian hendak meneguk air, dan menangislah kalian dan jangan kalian lupakan keterasingan dan syahadahku saat kalian bicara tentang keterasingan seorang syahid.”
Salam atasmu, wahai Abu Abdillah AlHusain. Salam kami, para pengikutmu, atas engkau yang telah menumpah darah sucimu di jalan Allah.
Di saat-saat terakhir itu, Imam Husain as mendatangi tenda-tenda satu persatu. Beliau panggil satu persatu anak-anak beliau. Beliau meminta mereka untuk tabah dan sabar. “Hai para pelipur hatiku sekalian,” Tutur Imam Husain as penuh harap, “Allah tidak akan berpisah dengan kalian di dunia dan akhirat. Ketahuilah dunia ini tidaklah abadi. Akhiratlah tempat pesinggahan yang abadi.” Imam Husain as kemudian menumpahkan segala rahasia kepemimpinan (imamah) kepada putera yang kelak mewarisi kepemimpinannya, Ali Zainal Abidin Assajjad as.
Imam Husain as antara lain berkata: “Pusaka-pusaka para nabi, washi, dan kitab suci aku serahkan kepada Ummu Salamah, dan semuanya akan diserahkan (kepadamu) sepulangmu dari Karbala.”
Imam lalu mendekati adiknya, Zainab AlKubra as dan meminta supaya diambilkan gamisnya yang sudah lama dan usang. Dengan wajahnya yang dipenuhi sketsa penderitaan dan duka cita itu, Hazrat Zainab mencarikannya kemudian menyerahkannya kepada Imam. Beliau mengenakannya setelah sebagian beliau sobek kemudian diikatkan kuat-kuat sebagai tali yang mengikat gamis itu dengan tubuhnya agar tak mudah lepas atau dibuka oleh orang lain. Gerakan Sang Imam yang diiringi oleh ratapan dan tangisan anggota kerabat yang ada di sekitarnya, seiring dengan jerit tangis bayi mungil Ali Asghar, putera beliau yang masih berusia enam bulan. Bayi itu menjerit-jerit menahan dahaga setelah sekian lama tidak mendapatkan tetesan air susu dari ibunya yang juga sudah lama tercekik kehausan.
Tak tega mendengar tangisan itu, Imam meminta puteranya yang masih bayi itu supaya diberikan kepada beliau. Bayi itu diserahkan kepada beliau oleh seorang wanita bernama Qandaqah. Beliau meraih bayi itu lalu menciuminya sambil berucap: “Alangkah celakanya kaum ini sejak mereka dimusuhi oleh kakekmu.” Bayi bernama Ali Asghar itu beliau bawa ke depan barisan pasukan musuh dan memperlihatkannya kepada mereka untuk menguji adakah mereka masih menyisakan jiwa dan perasaan mereka sebagai manusia. Beliau berucap kepada Allah: “Ya Allah, hanya inilah yang tertinggal dariku, dan jiwanyapun rela aku korbankan dijalan-Mu”
Beliau lalu menatap ke wajah-wajah manusia durjana di depannya itu. Bayi berusia enam bulan beliau junjung sambil berseru: “Hai para pengikut keluarga Abu Sufyan, jika kalian menganggapku sebagai pendosa, lantas dosa apakah yang diperbuat oleh bayi ini sehingga setetes airpun tidak kalian berikan untuknya yang sedang mengerang kehausan.”
Sungguh biadab, tak seorangpun diantara manusia iblis itu yang tersentuh oleh kata-kata beliau. Yang terjadi justru keganasan yang tak mengenal sama sekali rasa kasih sayang dan norma insaniah. Seorang berhati srigala bernama Harmalah bin Kahil Al-Asadi diam-diam mencantumkan pangkal anak panahnya ke tali busur lalu menariknya kuat-kuat. Tanpa ada komando, benda yang ujungnya runcing melesat ke arah bayi Ali Asghar. Sepecahan detik kemudian bayi malang itu menggelepar di atas telapak Imam Husain as yang tak menduga akan mendapat serangan sesadis itu sehingga tak sempat berkelit atau melindunginya dengan cara apapun. Beliau tak dapat berbuat sesuatu hingga bayi itu diam tak berkutik setelah anak panah itu menebus lehernya. Ali Akbar telah menemui ajalnya dalam kondisi yang mengenaskan. Darah segar mengucur dari lehernya hingga menggenangi telapak tangan ayahnya. Dengan demikian, lengkaplah penderitaan Imam Husain as.
Dengan hati yang tersayat-sayat, beliau melangkah kembali ke arah perkemahan. Beliau menggali lubang kecil untuk tempat persemayaman jasad suci Ali Asghar. Dari langit beliau mendengar suara bergema: “Biarkanlah dia gugur, wahai Husain, sesungguhnya di surga sudah menanti orang yang akan menyusuinya.”[1]
Imam menghampiri perkemahannya untuk mengucapkan kalimat perpisahan terakhir. Dalam hal ini kepada puteranya yang sedang sakit, Assajjad as, beliau bertutur: “Puteraku, sampaikan salamku kepada para pengikutku. Katakanlah kepada mereka sesungguhnya ayahku telah gugur seorang diri, maka ratapilah dia.”[2]
...
di
04.37
0
komentar
Musibah Hazrat Abu Fadhl Abbas as
Dalam riwayat disebutkan bahwa Abu Fadhl Abbas [Ayah Abu Fadhl Abbas adalah Ali bin Abi Thalib as. Ibunya adalah Fatimah AlKilabi, wanita yang lebih dikenal dengan sebutan Ummul Banin. Isterinya adalah Lababah binti Ubaidillah bin Abbas bin Abdul Muthalib. Lababah mempunyai empat orang putera bernama Ubaidillah, Fadhl, Hasan, dan Qasim, serta seorang puteri. Abu Fadhl Abbas gugur di Karbala saat masih berusia 34 tahun. (Sardar Karbala hal.341)] as adalah pria yang berperawakan tinggi, tegap, dan kekar. Dadanya bidang dan wajahnya putih berseri. Sedemikian elok dan rupawannya fisik Abbas sehingga adik Imam Husain as dari lain ibu ini tenar dengan julukan â€کPurnama Bani Hasyim’ (Qamar bani Hasyim).
Dalam sejarah Abbas juga dikenal sebagai pemegang panji Karbala. Keberaniann, kehebatan, dan kekuatannya saat itu tak tertandingi oleh siapapun. Sebagai manusia yang tumbuh besar di tengah binaan keluarga suci dan mulia, dia memiliki keteguhan dan kesetiaan yang luar biasa kepada kepemimpinan dalam untaian figur-figur utama Ahlul Bait as. Perjuangan di Karbala telah menyematkan namanya dalam sejarah keislaman dan Ahlul Bait Rasul sebagai salah satu pahlawan yang sangat legendaris.
Tentang ini Imam Ali Zainal Abidin Assajjad as berkata: “Sesungguhnya di sisi Allah Abbas memiliki kedudukan (sedemikian tinggi) sehingga seluruh para syuhada cemburu menyaksikannya pada hari kiamat.â€[1]
Imam Assajad as dalam doanya untuk Abbas as juga berucap: “Ya Allah, rahmatilah pamanku, Abbas. Sesungguhnya dia telah mengorbankan jiwanya untuk saudaranya.”
Dalam peperangan kedua tangannya telah dipotong oleh musuh sehingga Allah menggantinya dengan sepasang sayap untuk terbang dengan para malaikat di alam surga. Di sisi Allah dia memiliki kedudukan yang sangat agung sehingga membuat para sahabat cemburu melihatnya.[2]
Sang Purnama Bani Hasyim adalah pria dewasa yang perasaannya dikenal sangat peka. Perasaannya sangat tersayat menakala dia mendengar ratapan kehausan dan tumpahnya darah para pahlawan Karbala. Saat itulah dia semakin merasakan tidak ada gunanya hidup bila tidak dia gunakan untuk berjihad membela junjungan dan pemimpinnya, Imam Husain as. Namun, selama terjadi peperangan yang menggugurkan satu persatu dari sahabat dan kerabatnya, yang bisa dia nantikan hanyalah menanti instruksi Sang Imam. Dan saat dia mendapat instruksi itu, banyak diantara pasukan musuh yang harus bergelimpangan ditangannya untuk kemudian dia kirim ke neraka jahannam dengan harapan dapat membalas kebejatan para musuh itu dengan sekuat tenaga.
Dalam penantian instruksi dari saudara sekaligus pemimpinnya itu, kata-kata yang dia ucapkan kepada beliau adalah: “Kakakku, sudahkah engkau mengizinkan aku?” Pernyataan Sang Purnama ini membuat hati Sang Imam luluh sehingga menangis tersedu dan berkata: “Adikku, engkau adalah pengibar panjiku dan lambang pasukanku.” [3] Beliau juga mengatakan: “Engkaulah pemegang panjiku, namun cobalah engkau carikan seteguk air untuk anak-anak itu.”[4]
Hazrat Abbas as lantas mendatangi kelompok Bani Umayyah dan mencoba menasihati mereka kendati Abbas tahu bahwa itu tidak akan mereka dengar. Setelah terbukti nasihat itu sia-sia, dia kembali menghadap Imam Husain as dan mendengar jerit tangis anak-anak kecil yang kehausan meminta dibawakan air. Hati Abbas merintih. Sambil menatap langit, bibirnya berucap: “Tuhanku, Junjunganku, aku berharap dapat memenuhi janjiku, aku akan membawakan satu girbah air untuk anak-anak itu.â€[5]
Abbas kemudian meraih tombak dan memacu kudanya sambil membawa girbah (kantung air dari kulit) menuju sungai Elfrat yang seluruh tepi dijaga oleh sekitar empat ribu pasukan musuh. Begitu Abbas tiba di dekat sungai itu, pasukan musuh itu segera mengepungnya sambil memasang anak panah ke busurnya ke arah adik Imam Husain as tersebut. Pemandangan seperti itu tak membuatnya gentar. Begitu beberapa anak panah melesat, Abbas segera berkelit dan bergerak tangkas menyerang musuh. Sekali terjang, pedang Abbas berhasil membabat nyawa sejumlah pasukan. Kemanapun kuda Abbas bergerak, gerombalan musuh bubar dan porak poranda. Akibatnya, penjagaan sungai ElFrat yang berlapis-lapis akhirnya jebol diterjang pendekar Abbas.
Sambil menahan letih dan rasa haus yang mencekiknya, Abbas turun ke sungai dengan kudanya. Mula-mula dia berusaha cepat-cepat mengisi girbahnya dengan air. Setelah itu dia meraih air dengan telapak tangannya untuk diminumnya. Namun, belum sempat air itu menyentuh bibirnya, Abbas teringat kepada Imam Husain as dan kerabatnya yang sedang kehausan menantikan kedatangannya. Air di telapak tangannya langsung dia tumpahkan lagi sambil berucap: “Demi Allah aku tidak akan meneguk air sementara junjunganku Husain sedang kehausan.â€[6]
Hazrat Abbas as kemudian berusaha kembali dengan menempuh jalur lain melalui tanah yang ditumbuhi pohon-pohon kurma agar air yang dibawanya tiba dengan selamat ke tangan Imam. Namun, perjalanan Abbas tetap dihadang musuh. Dia tidak diperkenankan membawa air itu kepada Ahlul Nabi tersebut. Kali ini pasukan Umar bin Sa’ad semakin garang. Abbas dikepung lagi. Pasukan yang menghadang di depannya adalah pasukan pemanah yang sudah siap melepaskan sekian banyak anak panah untuk mencabik-cabik tubuhnya. Namun, sebelum menjadi sarang benda-benda tajam beracun itu, dengan tangkasnya pedang Abbas menyambar musuh ada di depannya. Sejurus kemudian kepungan musuh kembali porak-poranda diobrak-abrik Abbas.
Menyaksikan kehebatan Abbas yang tidak bisa dipatahkan dengan berhadapan langsung itu, beberapa pasukan penunggang kuda ahli diperintahkan untuk bekerjasama menghabisi Abbas dengan cara menyelinap dan bersembunyi di balik pepohonan kurma. Saat Abbas lewat, dua pasukan musuh bernama Zaid bin Warqa dan Hakim bin Tufail yang juga bersembunyi di balik pohon segera muncul sambil menghantamkan pedangnya ke tangan Abbas. Tanpa ampun lagi, tangan kanan Abbas putus dan terpisah dari tubuhnya. Tangan kirinya segera menyambar girbah air dan pedangnya. Dengan satu tangan dan sisa-sisa tenaga itu, Abbas masih bisa membalas beberapa orang pasukan hingga tewas. Saat itu dia sempat berucap: “Demi Allah, walaupun tangan kananku telah kalian potong aku tetap akan membela agamaku, membela Imam yang jujur, penuh keyakinan, dan cucu Nabi yang suci dan terpercaya.â€[7]
Hazrat Abbas as tetap berusaha bertahan dan menyerang walaupun badannya sudah lemah akibat pendarahan. Dalam kondisi yang nyaris tak berdaya itu, seseorang bernama Nufail Arzaq tiba-tiba muncul bak siluman dari balik pohon sambil mengayunkan pedangnya ke arah bahu Abbas. Abbas tak sempat menghindar lagi. Satu-satunya tangan yang diharapkan dapat membawakan air untuk anak keturunan Rasul yang sedang kehausan itu akhirnya putus. Dalam keadaan tanpa tangan, adik Imam Husain ini mencoba meraihnya kantung air dengan menggigitnya. Tapi kebrutalan hati musuh tak kunjung reda. Kantung itu dipanah sehingga air yang diharapkan itu tumpah. Air itu pun mengucur habis seiring dengan habisnya harapan Abbas. Aksi pembantaian ini berlanjut dengan tembusnya satu lagi anak panah ke dada Abbas. Tak cukup dengan itu, Hakim bin Tufail datang lagi menghantamkan batangan besi ke ubun-ubun Abbas. Abbas pun terjungkal dari atas kuda sambil mengerang kesakitan dan berteriak : “Hai kakakku, temuilah aku!â€
Dengan sengalan nafas yang masih tersisa Abbas as berucap lagi untuk Imam Husain as: “Salam atasmu dariku, wahai Abu Abdillah.â€[8]
Suara dan ratapan Abbas ini secara ajaib terdengar oleh Imam Husain as sehingga beliaupun beranjak ke arahnya sambil berteriak-teriak: “Dimanakah kamu?†Imam Husain as tiba-tiba dikejutkan oleh kuda Abu Fadhl Abbas yang diberi nama Dzul Janah itu. Secara ajaib kuda itu dapat berucap berucap: “Hai junjunganku, adakah engkau tidak melihat ke tanah?â€[9]
Imam lantas melihat ke tanah dan tampaklah di depan mata beliau dua pasang tangan tergeletak di atas tanah. Tangan yang dikenalnya segera diraih dan dipeluknya. Tak jauh dari situ pula, Imam melihat tubuh adiknya yang tinggi besar itu tergeletak dalam keadaan penuh luka bersimbah darah. Imam pun tak kuasa menahan duka. Beliau menangis tersedu dan meratap hingga mengiris hati seluruh hamba sejati Allah di langit dan bumi.
“Kini tulang punggungku sudah patah, daya upayaku sudah menyurut, dan musuhku pun semakin mencaci maki diriku.†Ratap putera Fatimah itu sambil memeluk Abbas, adiknya dari lain ibu. Di tengah isak tangisnya, Imam juga berucap kepada Abbas: “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, adikku. Engkau telah berjuang di jalan Allah dengan sempurna.â€[10]
Jasad Abbas yang tak bertangan itu ternyata masih bernyawa. Mulutnya bergetar dan kemudian bersuara lirih: “Kakakku, tolong jangan engkau bawa aku ke tenda sana. Sebab, selain aku telah gagal memenuhi janjiku untuk membawakan air kepada anak-anak kecil itu, aku adalah pemegang panji sayap tengah. Jika orang-orang di perkemahan sana tahu aku telah terbunuh, maka ketabahan mereka akan menipis.â€
Imam Husain as kembali mendekap erat-erat kepada adiknya yang bersimbah darah itu. Air mata Abbas yang mengalir beliau usap.
“Mengapa engkau menangis?†Tanya Imam.
“Wahai kakakku, wahai pelipur mataku. Bagaimana aku tidak akan menangis saat aku melihatmu mengangkat kepalaku dari tanah dan merebahkanku dalam pangkuanmu, sementara tak lama lagi tidak akan ada seorangpun yang akan meraih dan mendekap kepalamu, tidak ada seorangpun yang akan membersihkan debu-debu dan tanah di wajahmu.â€
Kata-kata Abbas ini semakin meluluhkan hati Imam Husain as sehingga beliau semakin terbawa derai isak dan tangis haru sambil bersimpuh di sisi adiknya tanpa mempedulikan sengat terik mentari yang membakar. Dengan hati yang pilu Sang Imam mengucapkan salam perpisahan kepada tulang punggung pasukannya yang sudah tak berdaya itu lalu beranjak pergi dengan langkah kaki yang berat. Abbas pun gugur tergeletak bermandi darah, debu, dan air mata di bawah guyuran cahaya panas mentari sahara.
Begitu tiba di tenda tempat beliau tinggal, Imam yang masih tak kuasa membendung derai air mata duka segera disambut dengan pertanyaan dari puterinya, Sakinah.
“Ayah, bagaimanakah dengan nasib pamanku? Bukankah dia telah berjanji kepadaku untuk membawakan air, dan bukankah dia tidak mungkin ingkar janji?”
Pertanyaan Sakinah nampak sulit untuk dijawab ayahnya. Hanya isak tangis yang segera menjawabnya, sebelum kemudian beliau berkata dengan suara meratap pilu: “Puteriku, sesungguhnya paman sudah terbunuh, tetapi ketahuilah bahwa arwahnya sudah bersemayam di dalam surga.”[11]
Berita pilu ini tak urung segera disusul dengan gemuruh tangis dan ratapan pedih Sakinah, Zainab Al-Kubra, dan wanita-wanita lain di sekitarnya. “Oh Abbas!” “Oh, saudaraku!” “Habislah sudah sang penolong!” “Betapa pedihnya nanti bencana sesudah kepergianmu!”[12]
Sang Imam sendiri tetap tak kuasa menahan duka lara kepergian Abbas yang telah menjadi perisai tangguh kelompoknya. “Oh Abbas, oh adikku, oh buah hatiku, kini kami benar-benar telah kehilangan dirimu. Patah sudah tulang punggungku. Lemah sudah strategiku. Punah sudah harapanku.”[13]
...
di
04.36
0
komentar
Musibah Hazrat Qasim as
Pada malam Asyura Imam Husain as telah memberitahu para sahabatnya bahwa mereka besok akan syahid. “Kalian semua besok akan terbunuh.” Ujar beliau. Saat itu, Qasim bin Hasan bin Ali as, seorang remaja rupawan datang menghadap Imam Husain as.
“Paman,” Panggil putera Imam Hasan as itu, “apakah aku juga akan terbunuh?” Pertanyaan ini membuat sang Imam terharu dan segera memeluk erat kemenakannya itu lalu bertanya: “Bagaimanakah menurutmu kematian itu?”
Anak yang baru beranjak usia remaja itu menjawab: “Kematian bagiku adalah lebih manis daripada madu.”[Sugand Nameh hal.284] Mendengar jawaban ini, Imam segera memberitahu: “Kamu akan terbunuh setelah terjadi bencana besar, dan bahkan Ali Asghar pun juga akan terbunuh.”
Pada hari Asyura, saat sudah mempersiapkan diri untuk berperang, Qasim pergi menghadap pamannya untuk mengajukan sebuah permohonan. “Paman, izin aku untuk ikut berperang.” Pintanya. Namun Imam menjawab: “Kamu bagiku adalah cindera mata dari kakakku, [1] maka bagaimana aku dapat merelakan kematianmu?”
Sikap Imam Husain as ini tidak memudarkan semangat Qasim. Dia tetap memohon lagi agar beliau membiarkannya bertempur melawan musuh. Namun Imam tetap menahan kepergian Qasim. Remaja tampan ini bersedih lalu terduduk seorang diri sambil berenung penuh duka cita. Di saat itu tiba-tiba dia teringat pada pesan ayahnya dulu, Imam Hasan as. Saat masih hidup, kepada Qasim Imam Hasan pernah berpesan: “Jika nanti suatu penderitaan sedang menimpamu, maka bukalah catatan yang kamu ikatkan dilenganmu, lalu bacalah dan amalkanlah.”[2]
Qasim kemudian berpikir-pikir lagi tentang musibah sedemikian besar yang belum pernah dia alami sebelumnya. Dari situ dia lantas merasa bahwa sekarang inilah saatnya dia membaca surat wasiat itu. Surat itu dibukanya dan disitu dia mendapatkan pesan ayahnya yang mengatakan:
“Hai Qasim, aku berpesan kepadamu bahwa jika kamu mendapati pamanmu Husain di Karbala dalam keadaan terasing dan kerumuni oleh musuh, maka janganlah kamu tinggalkan jihad, dan jangan sampai kamu enggan mengorbankan jiwamu deminya.”[3]
Qasim lalu membawa pesan tertulis itu kepada Imam Husain as. Imam Husain as terharu dan tiba menangis begitu menyaksikan ciri khas tulisan kangan kakak yang amat dicintainya itu, lalu berkata kepada Qasim:
“Jika ayahmu telah berwasiat demikian kepadamu, maka saudaraku Hasan itu juga pernah berwasiat suatu hal kepada sehingga akupun sekarang harus menikahkan puteriku Fatimah denganmu.” Imam meraih tangan Qasim dan membawanya ke dalam tenda. Beliau bertanya kepada semua orang dan para pemuda yang ada di sekitarnya: “Adakah pakaian bagus untuk aku kenakan kepada Qasim?” Semua orang menjawab tidak.
Imam lalu meminta adiknya, Hazrat Zainab, supaya mengambilkan beberapa potong pakaian peninggalan Imam Hasan as dari sebuah peti. Setelah pakaian itu didatangkan, beliau mengenakan serban dan gamis Imam Hasan itu kepada Qasim lalu mengakad nikahkan Fatimah dengannya. Begitu selesai, Imam berujar kepada Qasim: “Hai puteraku, adakah sekarang kamu siap melangkah menuju kematian?”[4]
Qasim menjawab: “Entahlah paman, bagaimana aku harus pergi meninggalkanmu seorang diri tanpa pelindung dan kawan diantara sekian banyak musuh. Yang pasti, jiwaku jiwaku siap berkorban untuk jiwamu, diriku siap melindungi dirimu.[5]“
Setelah kembali mengajukan permohonan dengan amat sanga untuk berperang, Imam Husain as akhirnya rela melepaskan Qasim berperang melawan musuh. Beliau menyobek serbannya menjadi dua potong, satu untuk beliau pakai lagi untuk serban, selebihnya beliau kenakan dalam bentuk kain kafan. Setelah menyerahkan sebilah pedang kepada Qasim, Imampun melepaskan kepergiannya ke arah musuh yang tak sabar menanti korban-korban suci selanjutnya.
Di medan pertempuran, Qasim sang remaja suci itu menyorot tajam mata Umar bin Sa’ad kemudian menumbuknya dengan kata-kata: “Hai Umar, masihkan kamu tidak takut kepada Allah?! Apakah kamu tetap saja mengabaikan hak Rasulullah?! Lantas bagaimana kamu bisa mengaku sebagai seorang Muslim sementara kamu memblokir sungai Elfrat agar putera dan Ahlul Bait Rasul yang berteriak-teriak kehausan itu tidak dapat meneguk airnya?!”
Dengan angkuhnya Umar bin Sa’ad menjawab: “Aku hanya akan membiarkan kalian meminumnya airnya jika kalian menanggalkan sikap takabur kalian.”
“Oh tidak, terima kasih, (kami tidak akan meminumnya).” Sergah Qasim.
Saat menatap wajah-wajah musuh yang berjajar di depannya, putera Imam Hasan as itu sempat mengucapkan sebuah syair tentang jiwanya yang sudah membaja dan kenal kata gentar itu. Syair itu berbunyi:
“Jika kalian belum mengenalku, maka ketahuilah bahwa akulah putera AlHasan, cucu Nabi Al-Mustafa, manusia kepercayaan (Allah). Dan ini adalah Husain yang sedang menderita bagai tawanan yang disandera di tengah orang-orang.“[6]
Meski usianya masih belia, Qasim akhirnya mementaskan kehebatan ilmu perang yang dikuasainya di atas gelanggang sejarah heroisme Karbala. Sejumlah musuh jatuh bergelimpangan setelah menikmati kerasnya sabetan pedang Qasim.
Syaikh Mufid ra dalam kitabnya, Al-Irsyad, meriwayatkan dari Hamid bin Muslim yang berkata:
“Saat itu aku berada di tengah pasukan Ibnu Sa’ad. Aku menyaksikan seorang remaja belia yang wajahnya sangat rupawan dan bersinar bagai purnama. Dia mengenakan pakaian dan izar (semacam sarung). Kakinya mengenakan sepasang sendal yang tali satu diantaranya sudah terputus. Menyaksikan remaja itu, Amr bin Sa’ad Al-Izadi berkata: ‘ Demi Allah, aku memperlakukannya dengan kasar dan membunuhnya.’[7]
“Aku berseru: ‘Subhanallah! Kehendak macam apakah yang kamu katakan ini?! Orang sebanyak itu dan kini sedang mengelilinginya itu sudah cukup untuk membantainya. Lantas untuk apa kamu mau ikut-ikutan menghabisinya?!’
“Saat aku masih berpikir demikian, seekor kuda tiba-tiba menerjang kemudian disusul dengan hantaman pedang yang mengena bagian kepala anak yang sedang teraniaya itu. Kepalanya terkoyak sehingga Qasim tersungkur ke tanah dan berteriak: ‘Oh paman, aku haus, aku dahaga. Beri aku seteguk air minum!’
“Hazrat Husain bin Ali dari jauh mencoba memberinya semangat dan ketabahan hati, sementara pasukan musuh terus mengerubungi sambil menganiayanya secara bertubi-tubi. Saat mereka hendak memenggal kepalanya, remaja belia itu merintih dan meminta diberi kesempatan untuk mengucapkan suatu wasiat kepada seseorang. Namun, saat dia tidak melihat siapapun di dekatnya kecuali kuda tunggangannya. Maka, ditujukan kepada kudanya itu dia berkata: “Katakanlah kepada puteri pamanku, sesungguhnya aku terbunuh dalam keadaan dahaga seorang diri. Maka, jika kamu meminum air, ingatlah aku dan ratapilah aku, dan jika (di sini) kamu hendak mewarnai kukumu dengan sesuatu, maka warnailah dengan darahku.”[8]
Dalam keadaan tak berdaya itu, Qasim dipenggal oleh musuh. Kepalanya terpisah dari badan. Menyaksikan pemandangan sedemikian biadab itu, Imam Husain as segera menerjang barisan pasukan musuh. Bagaikan elang yang menukik dari angkasa saat memburu mangsa, Imam Husain as menerobos gerombolan musuh dan mengincar manusia liar yang telah memenggal kepada kepala Qasim. Begitu manusia biadab berama Amr bin Sa’ad itu terlihat di depan beliau, Imam Husain as segera membabatkan pedangnya ke arah Amr. Amr pun mengerang kesakitan begitu melihat tangannya sudah terpisah dari pangkal lengannya akibat sabetan pedang Imam Husain as. Namun, tanpa ampun lagi, diiringi gelegar suara Imam Husain as yang menggetarkan nyali pasukan musuh yang ada di sekitarnya, Amr bin Sa’ad mendapat serangan kedua kalinya dari pedang Imam. Manusia sadis terhempas dari kudanya. Dalam keadaan bermandi darah diapun sekarat dan mati.
Debu yang beterbangan pun reda. Di saat musuh tercengang, Imam mendekati dan meraih kepala Qasim dan memeluknya jasadnya yang tak bernyawa itu. Imam berucap: “Demi Allah, adalah sesuatu yang tidak mungkin bagi pamanmu untuk tidak memenuhi panggilanmu jika kamu memanggilnya, atau memenuhinya tetapi tidak berguna untukmu.â€[9] Hai Puteraku, orang-orang kafir telah membunuhmu. Mereka tidak tahu siapa kamu, ayahmu dan kakekmu.â€[10]
Gugurnya Qasim di medan jihad tak urung disambut dengan jerit tangis histeris isteri yang baru saja dinikahinya. Ratapan histeris juga datang dari ibu Qasim. Mereka melumuri wajah mereka dengan darah suci Qasim sambil menangis tanpa henti hingga kemudian dengan hati pilu Imam Husain as meminta mereka untuk tabah didepan cobaan yang amat besar ini. Beliau kemudian membawa jenazah suci Qasim ke dalam tenda yang khusus untuk dibaringkan di sisi jenazah para syuhada sebelum Qasim. Dengan wajah yang tak dapat membendung luapan duka, beliau menatap ke arah langit dan berucap:
“Ya Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, Engkau tahu bahwa orang-orang (Kufah) itu telah mengundangku untuk mendukungku. Namun sekarang mereka telah melepaskan tangan dariku kemudian menjabat tangan musuhku. Mereka membantu musuh dan bangkit memerangiku. Ya Allah Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana, binasakanlah mereka, ceri beraikan mereka hingga tidak ada lagi satupun diantara mereka yang tersisa. Laknat Allah atas para pembunuh kalian (para syuhada).â€
Di Karbala, saat putera-putera ksatria Ali bin Abi Thalib as tidak tersisa lagi kecuali Imam Husain as dan Abu Fadl Abbas, Abbas datang menghampiri kakaknya, Imam Husain as dan berkata: “Terbunuhya para sahabat dan kerabatku kini telah membuatky tak kuasa lagi menahan rasa sabar. Maka izinkan aku untuk membalas darah mereka.â€
Saudara-saudara Imam Husain as yang sudah maju ke depan dan membawa bendera perlawanan sebelum Abbbas ialah Abdullah, Jakfar, dan Ustman. Mereka sudah gugur mendahului Abbas hingga akhirnya tibalah giliran Abbas sendiri untuk melakukan perlawanan di atas pentas peperangan yang sebenarnya lebih merupakan panggung pembantaian itu.
...
di
04.35
0
komentar
Banjir Darah Hari Asyura
Untuk sementara kalangan, hari Asyura saat itu adalah hari jihad, pengorbanan, dan perjuangan menegakkan kebenaran. Namun, untuk kalangan lain, hari itu adalah hari pesta darah, hari perang, dan hari penumpahan ambisi-ambisi duniawi. Akibatnya, terjadilah banjir darah para pahlawan Karbala yang terdiri anak keturunan Rasul dan para pecintanya.
Hari itu tanah Karbala sedang diguyur sengatan terik mentari yang mengeringkan tenggorokan para pahlawan Karbala. Hari itu, para pejuang Islam sejati itu satu persatu bergelimpangan meninggalkan sanjungan sejatinya, Husain putera Fatimah binti Muhammad SAWW. Bintang kejora Ahlul Bait Rasul ini akhirnya menatap pemandangan sekelilingnya. Wajah-wajah setia pecinta keluarga suci Nabi itu sudah tiada. Dari para pejuang gagah berani itu yang ada hanyalah onggokan jasad tanpa nyawa. Putera Amirul Mukminin sejati itu melantunkan kata mutiaranya:
“Akulah putera Ali dari Bani Hasyim, dan cukuplah kiranya ini menjadi kebanggaan bagiku. Fatimah adalah ibundaku, dan Muhammad adalah kakekku. Dengan perantara kamilah Allah menunjukkan kebenaran dari kesesatan. Kamilah pelita-pelita Allah yang menerangi muka bumi. Kamilah pemilik telaga Al-Kautsar yang akan memberi minum para pecinta kami dengan cawan-cawan Rasul. Tak seorangpun dapat mengingkari kedudukan kami ini.“
“Para pengikut kami adalah umat yang paling mulia di tengah makhluk, dan musuh-musuh kami adalah orang paling rugi pada hari kiamat. Beruntunglah hamba-hamba yang dapat berkunjung kepada kami di surga setelah kematian, surga yang keindahannya tak kunjung habis untuk disifati.“[1]
Hari Asyura adalah hari pementasan duka nestapa Ahlul Bait Rasul, hari rintihan sunyi putera Fatimah, hari keterasingan putera Azzahra, hari kehausan dan jerit tangis anak keturunan Nabi. “Adakah sang penolong yang akan menolong kami? Adakah sang pelindung yang akan melindungi kami? Adakah sang pembela yang akan menjaga kehormatan Rasulullah?” Pinta putera Ali bin Abi Thalib as itu kepada umat kakeknya, Muhammad SAWW.[2]
Rintih pinta cucu Rasul itu tak dijawab kecuali oleh beberapa pemuda Bani Hasyim yaitu keluarga, kaum kerabat dan pengikut beliau yang masih tersisa. Diantara mereka adalah Ali Akbar, putera beliau sendiri. Ali Akbar meminta izin sang ayah untuk maju melawan musuh. Sang ayah mendapati wajah anaknya itu dibinari cahaya spiritual yang amat cemerlang, mengingatkan beliau pada wajah Rasul. Wajah memohon itu direstui tatapan bisu sang ayah. Hanya linangan air mata dan tak sepatah katapun terucap sebagai kata perpisahan untuk pemuda ksatria itu di alam fana. Demi tujuan sebuah yang agung, Imam Husain as itu harus rela mengorbankan jiwa dan raga putera yang sangat dikasihinya.
Demikianlah, Imam Husain as akhirnya mempersembahkan putera tercintanya, Ali Akbar, sebagai pejuang pertama Bani Hasyim di Karbala. Dalam pertempurannya, Ali Akbar selalu beliau perhatikan dengan seksama dan penuh ketabahan. Dalam keadaan berlinang air mata, imam Husain as berucap:
“Ya Allah, saksikanlah seorang remaja yang paras, perangai, dan tutur katanya paling menyerupai rasul-Mu kini telah tampil berjuang melawan kaum itu. Kepada wajah remaha inilah kami memandang jika kami sedang merindukan rasul-Mu.”
Imam Husain as kemudian berseru kepada Umar bin Sa’ad: “Hai putera Sa’ad semoga Allah memutuskan hubungan kekeluargaanmu sebagaimana kamu telah memutuskan hubungan kekeluargaanku.”
Ali Akbar bin Husain as sudah ada di medan laga. Tanpa di duga pasukan musuh, mereka tercengang menyaksikan kepiawaian Ali Akbar dalam berperang. Gerakan dan ketangkasannya dalam bertempur mengingatkan mereka kepada Haidar Al-Karrar alias Ali bin Abi Thalib as yang tenar dengan Singa Allah. Tak sedikit pasukan musuh yang mati menjadi mangsa sambaran pedang Ali Akbar. Namun, saat tenaganya sudah terkuras dan jumlah musuh seakan tak berkurang, Ali Akbar sempat mendatangi sang ayah dan berkata: “Ayah, aku tercekik kehausan sehingga (senjata) besipun kini memberatkanku…”[3]
Imam Husain as menjawab: “Tabahkan dirimu, hai puteraku tercinta. Sesungguhnya Rasulullah tak lama lagi akan memberimu minum yang akan membuatmu tidak akan pernah lagi merasa kehausan.”
Remaja berhati baja itu akhirnya kembali lagi ke medan laga. Namun, keadaannya yang sudah nyaris tanpa daya itu segera dimanfaatkan musuh untuk menghabisi riwayatnya. Maka dari itu, kedatangannya disambut dengan hantaman pedang tepat mengena di bagian atas kepala Ali Akbar. Darahnya yang mengucur segera disusul dengan sambaran anak panah yang menusuk tubuhnya secara bertubi-tubi. Dalam kondisi fisik yang mengenaskan itu, bibir Ali Akbar mengucapkan kata-kata yang dimaksudkan kepada ayahnya:
“Sekarang aku sudah melihat kakekku yang sedang membawa cawan yang beliau persiapkan untukmu.”[4]
Ali Akbar lalu tergolek di atas kudanya yang berputar-putar ke sana kemari setelah kehilangan kendali di tengah riuhnya suasana perang. Tubunnya yang sudah mengenaskan itu masih sempat dihantam senjata dan dipanah lagi saat kuda yang tak terkendali itu bergerak di sekitar pasukan musuh. Di saat-saat itulah, sambil memanfaatkan sisa-sisa tenaga dan nafasnya, Ali Akbar berucap lagi:
“Salam atasmu wahai ayahku, sekarang aku sudah menyaksikan kakekku Rasulullah. Beliau menyampaikan salam kepadamu dan bersabda: ‘Cepatlah datang kepada kami!’”[5]
Kata-kata yang didengar Imam Husain as ini segera disambut dengan kata-kata lantang beliau: “Allah akan membinasakan kaum yang telah membunuhmu!”[6]
“Hai orang-orang Kufah, aku berharap mata kalian kelak akan dipedihkan oleh tangisan, dada kalian akan dibebani rintihan untuk selamanya, dan Allah tidak memberkati kalian, dan Dia akan mencerai beraikan kumpulan kalian.”
Setelah memekikkan kutukan ini, Imam Husain as maju sendiri ke medan perang menerobos dan membubarkan barisan depan musuh. Beliau mendekati kuda Ali Akbar dan menggiringnya ke tempat yang aman lalu menurunkan tubuh penuh luka dan bermandi darah puteranya itu dari kuda. Tubuh suci direbahkan dalam pelukan hangat beliau. Di situ dada Ali Akbar ternyata masih bergerak. Setelah kelopak matanya terbuka perlahan, bibirnya berucap:
“Ayahku yang mulia, aku sudah melihat pintu-pintu langit terbuka, para bidadari di surga sedang berkumpul sambil membawa cawan-cawan minuman dan memanggil-manggil diriku. Sekarang aku akan pergi ke sana dan membinarkan wajah mereka yang merindukan kedatanganku itu…”
Ruh Ali Akbar melayang setelah jasadnya menghembus nafas terakhir. Kepergiannya ke alam keabadian diantar ayahandanya yang mulia itu dengan kata-kata:
“Adalah sesuatu yang berat bagi kakekmu, pamanmu, dan ayahmu untuk tidak memenuhi permohonanmu.[7]
Imam Husain as membawa jasadnya yang penuh luka bacokan dan menjadi sarang anak panah itu ke arah perkemahan. Hazrat Zainab segera keluar dari dalam tenda dan menyambut jasad itu dengan jerit tangis dan ratapan. Jasad itu dipeluknya erat sambil meratap: “Oh kemenakanku. Oh putera kesayangku.” Imam Husain as mengantarkan adiknya itu ke dalam kemah orang-orang perempuan lagi lalu kembali memeluk jasad Ali Akbar sambil berucap:
“Puteraku, engkau sudah beristirahat dari kegundahan dan kegetiran hidup di dunia. Kini tinggallah ayahmu seorang diri.”[8]
Imam Husain as lantas memerintahkan para pemuda Bani Hasyim untuk membawa jasad suci yang tercabik-cabik itu ke dalam tenda tempat jasad para syuhada dikumpulkan. Jasad putera kesayangan Imam itu diusung diiringi dengan kata-kata beliau berkali-kali: “Innaa lillaahi wa innaa ilahi raaji’uun.“
Dengan hati pilu putera Ali bin Abi Thalib as ini berkata dengan nada tinggi kepada Umar bin Sa’ad:
“Tahukah kamu apa yang akan terjadi nanti denganmu? Allah pasti akan membinasakan keluarga dan keturunanmu sebagaimana kamu membinasakan keluargaku, sebagaimana kamu tidak mengindahkan kekerabatanku dengan Rasulullah. Allah tidak akan memberkahimu. Allah akan menguasakan atasmu seseorang yang akan memenggal kepalamu di atas tempat tidurmu!”
Satu lagi diantara ksatria Karbala dari kerabat Rasul yang berdiri teguh melawan badai bencana dengan segala jiwa dan raga ialah Abdullah bin Muslim bin Aqil. Dia termasuk prajurit yang meminta sendiri kepada Imam Husain as untuk angkat pedang melawan musuh. Imam menjawab:
“Masih belum lama ayahmu Muslim gugur sebagai syahid. Aku akan mengizinkanmu berperang jika kamu membawa ibumu yang sudah tua itu keluar dari suasana pertempuran ini.”
Abdullah bin Muslim menjawab: “Ibuku pasti siap berkorban untukmu, dan aku sendiri bukanlah orang yang mengutamakan kehidupan di dunia daripada kehidupan yang abadi di akhirat. Aku memohon restumu untuk mengorban jiwaku di jalanmu.”
Sang Imam suci dan agung itupun kemudian merestuinya. Maka, dengan jiwa yang besar dan tak kenal kata gentar, Abdullah maju ke medan laga dengan tatapan yang tajam ke arah musuh yang bergerombol bak srigala kelaparan. Di tengah kerumunan manusia-manusia srigala padang pasir itu, Abdullah bin Muslim mengamuk bak singa sahara. Pedangnya berkelebat-kelebat memangkas nyawa manusia-manusia tak berperasaan dari Kufah itu. Beberapa serdadu bergelimpang diterjang keperkasaan Abdullah yang mewarisi darah kependekaran ayahnya, sebelum kemudian dia sendiri tak berdaya melawan prajurit iblis yang menyemut itu. Putera Muslim bin Aqil ini gugur di tangan Amr bin Sabih Assaidawi dan Asad bin Malik.
Berakhirnya legenda kependekaran Abdullah disusul dengan tampilnya satu lagi putera Muslim, Muhammad. Sebagaimana Abdullah, Muhammad juga meneguk manisnya derajat syahadah di bumi gersang Karbala itu.
Dikisahkan pula dalam sejarah bahwa di hari yang paling na’as untuk anak keturunan dan kerabat suci Rasul itu, Hazrat Zainab Al-Kubra as sempat mengenakan baju baru kepada kedua puteranya, Muhammad dan ‘Aun, sebelum kemudian menyerahkan pedang kepada mereka sambil menahan jerit hati yang pilu di dalam hati. Dengan linangan air mata, wanita suci, pemberani, dan mulia ini meminta restu kepada kakaknya supaya kedua puteranya itu ikut mempersembahkan jiwa dan raganya di jalan Allah. Imam Husain as tadinya masih ingin menahan keberadaan kedua putera itu. Namun, keinginan itu luluh setelah Hazrat Zainab tetap mendesak beliau supaya mengizinkan kepergian mereka. Imam lantas merestui kepergian kedua kemenakan yang dikasihinya itu.
Yang maju terlebih dahulu adalah Muhammad bin Abdullah bin Jakfar. Seperti syuhada sebelumnya, Muhammad jatuh dan gugur setelah menghabisi ajal sejumlah serdadu musuh. Setelah itu baru menyusullah ‘Aun bin Abdullah bin Jakfar. Dalam keadaan bertahan dan menyerang pasukan musuh, dia mencoba mendekati jasad saudaranya yang sudah tak bernyawa itu lalu berkata: “Saudaraku, nantikan aku yang tak lama lagi akan menyusulmu.”
Benar, tak lama setelah itu ‘Aun menyusul kepergian saudaranya ke alam keabadian setelah tubuhnya mendapat serangan telak dari seseorang Abdullah bin Qathanah. Arwah kedua putera Hazrat Zainab itu terbang tinggi bak dua merpati menuju kerimbunan taman-taman surgawi.
Diriwayatkan pula bahwa dua kakak beradik dari putera-putera Muslim bin Aqil juga tampil ke medan laga. Mereka adalah Abdurrahman bin Aqil dan Jakfar bin Aqil. Kedua tampil untuk mempersembahkan jiwa dan raganya di jalan yang hak. Keduanya kemudian disusul lagi oleh Muhammad bin Abi Said bin Aqil yang juga tampil dengan langkah mantap untuk menerjang pasukan iblis hingga titik darah penghabisan, titik darah yang terukir abadi dalam prasasti sejarah heroisme dan duka nestapa perjuangan Ahlul Bait Nabi demi tegaknya agama Muhammad SAWW.
——————————–
[1] Maqtal Al-Husain hal. 120
[2] Permintaan Imam Husain as ini tentu saja bukan dalam rangka memelas kepada manusia-manusia buas yang berdiri angkuh di depan beliau, melainkan sebagai itmam alhujjah, sebagai penuntasan hujjah di depan Allah, umat manusia, dan sejarah bahwa beliau benar-benar telah disia-siakan, dianiaya, dan ditelantarkan oleh umat.
...
di
04.34
0
komentar
Dimulainya Perang Tak Seimbang
Pasukan dari pihak yang hak dan pihak yang batil akhirnya bergerak maju dalam posisi frontal. Dari pihak Imam Husain as, nampak wajah-wajah cemerlang dan berbinar seakan tak sabar lagi untuk berjumpa dengan Yang Maha Kuasa. Mereka siap terbang bahu membahu dan berlomba menuju alam keabadian di sisi Al-Khalik dengan kepakan sayap-sayap imannya yang lebar. Dengan jiwa yang membaja mereka siap mengarungi lautan darah membela kehormatan dan cita-cita mulia Al-Husain as, bintang kejora dari keluarga suci Rasul. Jiwa mereka yang sudah terpatri dalam semangat altruisme telah siap menyongsong kematian yang suci dan sakral sebelum Imam Husain as sendiri meneguk puncak kemuliaan derajat syahadah.
Saat bayangan kecamuk perang sudah nampak di depan mata itu, Hur datang mendekati Imam Husain sambil berkata: “Hai Putera Rasul, saat Ubaidillah menggiringku untuk memerangimu, dan lalu aku keluar dari Darul Imarah aku mendengar suara lapat-lapat dari belakang mengatakan: ‘Berita gembira tentang kebaikan untukmu, Hai Hur.’ Saat aku berpaling ke belakang, aku tak melihat satu orangpun sehingga aku lantas berkata dalam hati bahwa demi Allah ini bukanlah berita gembira karena aku akan pergi untuk memerangi putera Rasul, dan aku tadinya tak pernah berpikir bahwa suatu saat nanti aku akan bertaubat. Baru sekarang aku menyadari bahwa itu memang berita gembira.”
“Hai Husain, aku adalah orang pertama yang berani menghadangmu. Karena itu sekarang perkenankan aku untuk menjadi orang pertama yang akan berkorban untukmu agar di hari kiamat kelak aku bisa menjadi orang pertama yang dapat berjabat tangan dengan Rasulullah SAWW.”[1]
Imam Husain as mengizinkan permohonan Hur untuk maju sebagai orang pertama untuk berjihad. Hur pun maju dengan gagah berani. Saat berhadapan dengan barisan pasukan musuh yang berjumlah besar itu, dia berteriak lantang:
“Hai orang-orang Kufah, laknat untuk kalian dan ibu yang melahirkan kalian. Kalianlah yang mengundang hamba salih Allah ini untuk mendatangi kalian tetapi kemudian melupakan begitu saja janji yang pernah kalian nyatakan. Kalian sekarang malah mengepungnya. Kalian telah memjadikan bumi Allah yang luas ini sempit baginya sehingga tak ada lagi tempat yang aman bagi dia dan keluarganya. Kini mereka menderita bagai orang-orang tawanan. Kalian mencegah mereka untuk meneguk air sungai ElFrat sementara kalian membiarkan binatang-binatang liar meminumnya. Betapa celakanya perangai kalian terhadap anak keturanan Rasul. Di hari kiamat Allah pasti akan membiarkan kalian tercekik kehausan…”[2]
Kata-kata Hur kembali menyengat telinga pasukan dari Kufah tersebut. Tak tak tahan digedor emosi, mereka menyerang Hur. Sambil melawan dan mengayun-ayunkan pedangnya Hur berteriak-teriak lagi:
“Rumahku selalu menjadi tempat singgahnya para tamu dan aku tahu adat menghormarti tamu. Namun, untuk membela para tamu yang lebih mulia daripada para tamu Allah di Makkah dan Mina ini pedangku tak akan segan-segan membabat siapa saja. Akulah orang yang tumbuh besar di tengah keluarga pemberani dan aku mewarisi mereka.”
Selama melakukan perlawanan dan serangan di tengah pasukan musuh yang mengerubunginya, Hur sempat melihat anaknya yang juga termasuk satu diantara ribuan pasukan musuh. Hur meminta puteranya yang bernama Ali itu supaya bertobat, dan usaha Hur itu berhasil sebelum manusia yang terbebas dari angkara murka ini gugur sebagai syahid.
Dalam riwayat disebutkan bahwa saat melihat anaknya, Hur berkata: “Puteraku, kini sudah tiba saatnya bagimu untuk mempertontonkan keberanianmu di jalan putera Rasulullah hingga kamu gugur.” Kata-kata sang ayah segera membuat anaknya sadar. Putera bernama Ali dari keluarga pemberani itu segera menari-narikan pedangnya untuk membabat siapa saja dari pasukan musuh yang ada di dekatnya. Tak kurang dari 24 pasukan musuh mati terkapar akibat sabetan pedangnya sebelum dia sendiri kehabisan tenaga dan gugur dibantai musuh.
Saat menyaksikan anaknya tersungkur ke tanah tanpa nyawa, Hur memanjatkan puji syukur untuk anaknya: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahi-Mu dengan syahadah di sisi putera dari puteri Rasulullah.”[3]
Hur kemudian bergegas lagi menghadapi pasukan musuh. Saat itu dia melihat saudaranya yang bernama Mash’ab yang bergerak mendekatinya. Pasukan Umar bin Sa’ad segera menduga akan terjadi duel antara kakak dan adik. Mereka menyoraki keduanya. Namun, ketika berhadapan dengan Hur, Mash’ab tiba-tiba berkata:
“Aku ucapkan selamat kepadamu yang telah berhasil membebaskan diri dari kesesatan dan mendapatkan hidayah. Sekarang bawalah aku ke hadapan Imam Husain agar taubatku diterima.”
Hur lantas membawanya menghadap Imam Husain dan memperkenalkannya kepada beliau. Mash’ab pun bertaubat dan masuk ke dalam barisan pengikut Imam Husain as. Umar bin Sa’ad semakin naik pitam melihat ulah dua orang kakak beradik itu. Dia segera memerintahkan Sofwan bin Handalah, orang yang dikenal jagoan di Kufah, untuk menghabisi Hur jika Hur memanantang duel.
Maka, begitu Hur memacu kudanya ke arena pertempuran, Sofwan segera menghadangnya sambil berteriak: “Hai Hur, betapa keparatnya perbuatanmu. Kamu berpaling dari khalifah Yazid dan menyebrang ke kelompok Husain.”
Hur menjawab: “Setahuku kamu adalah lelaki yang pintar, tetapi sekarang aku heran mengapa kamu sampai mengeluarkan kata-kata seperti ini. Kamu memintaku supaya meninggalkan Husain lalu memilih bergabung dengan Yazid, si tukang mabuk dan penzina itu?!”
Mendapati jawaban seperti ini, tanpa basa-basi lagi Sofwan menghunus pedang dan mengayunkannya ke arah tubuh Hur. Namun dengan tangkasnya Hur menangkis ayunan pedang jagoan Kufah itu. Belum sempat melancarkan serangan lagi, Sofwan tiba-tiba mengerang kesakitan begitu mendapat serangan balas dari Hur. Ketangkasannya ternyata tak sehebat Hur. Dada Sofwan tertembus tombak yang dihunjamkan Hur. Sofwan sang jagoan itu roboh bersimbah darah.
Tiga saudara Sofwan geram menyaksikan pemandangan itu. Hur segera dikeroyok oleh mereka. Tapi ketiga orang itu ternyata tak ada artinya di depan kehebatan Hur yang baru saja menjadi komandan pasukan musuh itu. Tiga-tiganya roboh menyusul Sofwan ke alam baka. Hur kemudian menantang orang-orang lain untuk duel. Tapi begitu tak seorang pun berani menjawab tantangannya, Hur segera mendobrak barisan musuh. Barisan itupun cerai-berai dan Hur segera kembali lagi menghadap Imam Husain dengan wajah ceria setelah berhasil menambah jumlah korban tewas di pihak musuh. Begitulah seterusnya apa yang dilakukan Hur hingga banyak korban yang berjatuhan akibat sabetan pedang Hur.
Di lain pihak, menyaksikan pasukannya kacau balau diterjang pendekar bernama Hur itu, Umar bin Sa’ad segera memekikkan suara: “Hujani dia dengan panah. Jangan biarkan dia lolos!”
Hujan panah pun menyerbu tubuh sang pendekar bernama Hur itu. Dia tak kuasa menghalau serangan selicik itu. Tubuhnya menjadi sarang beberapa anak panah beracun itu. Sebelum tubuhnya roboh, para sahabat Imam Husain as maju menerjang musuh dan sebagian lain membopong Hur yang dalam keadaan sekarat dan membawa ke hadapan Imam Husain as.
Imam kemudian mengusap wajah Hur sambil berucap: “Kini telah hur (bebas) sebagaimana nama yang diberikan ibumu untukmu. Kamu hur di dunia dan di akhirat.”[4] Hur sang manusia bijak dan pemberani itu kemudian menghembuskan nafas terakhir.
Dan kini giliran Mash’ab, saudara Hur, yang meminta izin kepada Imam Husain as untuk berbuat seperti Hur. Imam mengizinkan dan Mash’ab pun menantang musuh untuk berduel. Setelah tak seorangpun dari pihak musuh yang berani berduel, Mash’ab memulai serangannya dengan mengobrak-abrik barisan musuh. Seperti Hur, Mash’ab juga ahli perang. Pedang Mash’ab berkelebat ke sana kemari dan mengimbas siapapun yang ada di dekatnya. Korbannya berjatuhan. Namun, apalah artinya seorang Hur dan Mash’ab di depan lautan pasukan kuffar itu. Tubuh Mash’ab akhirnya menerima tikaman-tikaman senjata musuh setelah tubuhnya lemas kehabisan tenaga. Mash’ab pun roboh menyusul saudara dan kemenakannya setelah berusaha menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk mendekati junjungannya, Imam Husain as. Dia mengakhiri kehidupannya di alam fana ini setelah mengucapkan kata-kata: “Salam atasmu wahai putera Rasul.” Imam pun menjawab: “Salam pula atasmu, dan kami akan menyusulmu.”[5] Setelah itu beliau membacakan ayat suci AlQuran:
“Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah (janjinya).”[6]
Gugurnya beberapa orang bekas pasukan musuh itu kemudian disusul dengan terjunnya para sahabat Imam Husain as ke medan pertempuran. Mereka berguguran satu persatu setelah masing-masing berhasil merenggut ajal beberapa orang dari serdadu musuh. Diantara para sahabat setia itu adalah Muslim bin Ausajah, pemuda gagah berani yang berhasil membinasakan sejumlah besar pasukan musuh. Sebelum menemui ajalnya, pemuda ini sempat mengucapkan kata-kata indah kepada junjungannya, Imam Husain as.
“Wahai Putera Rasul!†Ucap Muslim. “Aku akan pergi untuk memberikan berita gembira kepada kakek dan ayahmu tentang ketibaanmu.†Arwah Muslim bin Ausajah terbang meninggalkan jasadnya yang fana setelah ucapan itu tuntas. Kematian Muslim itu kebetulan juga disaksikan anaknya. Darah sang anak mendidih menyaksikan kematian ayahnya dalam keadaan bersimbah darah. Dia segera menungangi kuda untuk memacunya ke arah pasukan musuh dan melancarkan serangan. Namun, gerakan itu dicegah oleh Imam Husain as. “Hai pemuda!†Panggil beliau. “ Ayahmu telah gugur. Jika kamu juga gugur, siapakah nanti yang akan melindungi ibumu?â€
Putera Muslim lantas bergerak mundur. Namun, tiba-tiba ibu putera Muslim itu mencegahnya sendiri. “Apakah kamu lebih mementingkan kehidupan di dunia ini daripada kebersamaan dengan Putera Rasul? Kalau begitu, aku tidak pernah rela kepadamu.â€
Mendengar kata-kata itu, putera Muslim bin Ausajah segera menarik tali kendali dan memacu kudanya ke medan pertempuran. Gerakan itu diiringi suara ibunya dari belakang: “Bergembiralah anakku, tak lama lagi kamu akan meneguk air telaga Al-Kautsar!†Suara ini rupanya menambah semangat putera Muslim sehingga tarian-tarian pedangnya berhasil memanen nyawa tak kurang dari 30 tentara musuh. Pemuda itu kemudian tersungkur dalam keadaan penuh luka. Kepalanya kemudian dipenggal dan dilempar ke dekat ibunya. Sang ibu segera mendekap dan menciuminya di depan beberapa pasang mata pengikut Imam Husain yang berlinang menyaksikan adegan tragis dan mengharukan itu.
Diriwayatkan pula bahwa saat kecamuk perang berlanjut hingga pertengahan hari Asyura, sahabat Imam yang bernama Abu Tsamamah Asshaidawi datang mendekati beliau sambil berkata: “Walaupun aku tahu musuh tidak akan memberi kesempatan, tetapi demi Allah, jangan sampai engkau terbunuh sebelum aku, wahai Putera Rasul. Walau demikian, aku ingin menghadap Allah dan kini aku ingin mendirikan solat di belakangmu karena waktu dhuhur telah tiba.â€
Wajah Imam Husain as menatap ke langit dan berucap: “Kamu telah mengingatkanku kepada sholat. Semoga Allah memasukkanmu ke dalam golongan orang-orang yang sholat dan ingat kepada-Nya. Mintalah kesempatan kepada musuh untuk kita tunaikan sholat.â€
Adalah Habib bin Madhahir yang menyampaikan permintaan Imam Husain itu kepada pihak musuh. Habib sendiri adalah orang yang pernah hidup menyaksikan Rasul serta termasuk sahabat dekat Imam Ali as, dan kini dia memendam kesetian yang luar biasa kepada Imam Husain as. Karenanya, dia termasuk orang yang gigih menyerukan kepada masyarakat kufah agar membaiat Muslim Bin Aqil yang datang mewakili Imam Husain as.
Dikisahkan bahwa setelah Habib menyampaikan permohonan tersebut, Hisshin bin Tamim, salah seorang komandan pasukan musuh berteriak: “Hai Husain, sholatlah sesuka hatimu, tapi ketahuilah sholatmu itu tidak akan diterima.â€
Habib menjawab: “Hai si tukang mabok! Apa mungkin Allah menerimamu tetapi menolak putera Rasul?!†Hisshin merasa dihina sehingga naik pitam. Tanpa basa-basi lagi dia segera menyerang Habib. Habib berusaha menangkis, menghindari serangan, dan membalas serangan sehingga terjadilah duel satu lawan satu. Setelah duel bertahan beberapa lama, Habib berhasil mengungguli Hisshin. Pentolan pasukan bejat ini terlempar dari kudanya, tetapi kemudian ditolong dan dilindungi oleh anak buahnya.
Habib lantas menghantamkan pedangnya ke arah beberapa pasukan musuh mengakibatkan sejumlah orang dari mereka tewas. Namun, saat Habib kecapaian dalam bertahan dan menyerang, hantaman pedang musuh lolos dari tangkisannya dan langsung mendarat di bagian kepalanya. Habib terjerembab dari atas kuda. Dalam keadaan lunglai, Habib mencoba bangkit bertahan. Namun, berdirinya Habib segera disusul dengan ayunan pedang Hisshin yang menghantam kepala Habib lagi. Sahabat setia Imam Husain as ini roboh dalam kondisi mengenaskan. Tak puas dengan itu, Hisshin datang lagi dan memenggal kepada Habib hingga terpisah dari jasadnya.
Kejadian ini menimbulkan sedikit percekcokan antara beberapa orang yang mengeroyok Hisshin. Mereka satu dengan yang lain saling berbangga sebagai orang yang paling berjasa membunuh Habib. Tetapi mereka kemudian sepakat menyerahkan kepala Habib kepada Hisshin dan menggantungnya ke leher kuda Hisshin. Kepala manusia mulia dipertontonkan ke sana kemari oleh Hisshin, dan Hisshin pun mendapat imbalan dari atasannya.
Periwayat juga menceritakan, di medan pertempuran Habib bin Madhahir sempat menyerukan kata-kata lantang kepada musuh:
“Hai manusia-manusia yang paling bejat! Demi Allah, seandainya jumlah balatentara kami setara dengan jumlah kalian atau setidaknya separoh dari jumlah kalian, niscaya kalian akan lari tunggang-langgang.”
Kematian Habib bin Madhahir membuat Imam Husain as tak kuasa menahan haru. Wajah beliau tampak sangat berduka menyaksikan gugurnya pemegang tiang bendera sayap kiri pasukan beliau. Kepergian Habib ke alam baka diiring kata-kata beliau: “Pahala Allah untukmu, hai Habib! Engkau adalah manusia penuh keutamaan dimana dalam satu malam engkau menghatamkan AlQuran.”
Imam Husain as kemudian memerintahkan Zuhair bin Al-Qain, Said bin Abdullah untuk berbaris di depan Imam Husain bersama separuh pasukan beliau yang masih tersisa untuk mengawal sholat beliau bersama separuh pasukan dan pengikut Imam Husain as lainnya, karena pasukan musuh nampak tidak mengizinkan beliau sholat.
Kekejaman musuh keluarga Nabi SAWW itu ternyata tak kenal waktu. Said bin Abdullah yang berdiri tepat di depan Imam Husain as menjadi sasaran beberapa anak panah. Tak urung, pria pemberani ini gugur setelah menjadi perisai hidup Imam Husain as. Dia roboh tepat di depan mata junjungannya yang suci itu. “Ya Allah, laknatlah golongan (musuh) itu seperti (laknat-Mu terhadap) kaum ‘Aad dan Tsamud.” Ucap Imam Husain as.
Pembantaian terhadap Said hingga gugur itu tidak dilanjutkan musuh sehingga Imam Husain as melanjutkan sholat hingga tuntas. Seusai sholat, Imam kembali menyiramkan semangat jihad kepada para pengikutnya. Beliau antara lain berkata:
“Pintu-pintu surga telah terbuka, angkasanya cerah, buah-buahannya telah matang, istana-istananya sudah berhias, anak-anak dan para bidadarinya sudah berkumpul. Rasulullah dan para syuhada yang gugur bersamanya serta ayah dan ibuku sedang menantikan kedatangan kalian. Mereka mengucapkan selamat kepada kalian. Mereka merindukan kalian.”
“Belalah agama kalian! Belalah kehormatan Rasulullah, imam kalian, dan putera dari puteri Nabi kalian sebab kalian sebenarnya sedang diuji dengan keberadaan kami. Kalian ada di sisi kakek kami dan kalian akan menjadi manusia mulia di sisi kami. Maka berjihadlah kalian, niscaya Allah akan membalas kalian dengan kebaikan.”
Para sahabat Imam Husain as tak kuasa menahan gejolak dan kobaran semangat sekaligus rasa haru mendengar kata-kata beliau. Mereka menangis tersedu-sedu, dan sebagian menjerit histeris. Diantara mereka ada berseru mewakili yang lain.
“Demi Allah.” Seru seseorang dari mereka. “Selagi hayat masih di kandung badan, jasad kami siap menantang hujaman pedang dan serbuan anak panah agar tak seorangpun dapat menyakitimu sedikitpun, agar kami dapat menjauhkanmu dari barisan musuh yang datang menyerang hingga kami akhirnya meneguk kematian. Kebaikan yang dicari oleh seseorang hari ini akanlah kekal pada esok hari…”[7]
Para pahlawan Karbala itu akhirnya terjun ke medan laga dan bahu membahu membela junjungannya dari kebejatan kaum zalim. Selagi tenaga masih tersisa mereka tak membiarkan siapapun untuk menjamah kehormatan cucu Rasul itu. Bahkan para pengikut Imam Husain as dari kalangan non- Bani Hasyim tidak membiarkan seorangpun dari Bani Hasyim yang terjun ke medan laga melawan musuh sebelum mereka sendiri yang maju. Kehidupan mereka di alam fana ini satu persatu redup. Arwah mereka terbang susul menyusul.
Zuhair bin AlQain adalah salah satu dari mereka. Selain pemberani, dia juga termasuk salah satu pemuka kabilahnya. Tak sedikit peperangan yang pernah dialaminya. Karena itu, kepadanyalah Imam Husain as menyerahkan tongkat komando sayap kanan. Banyak korban dari pihak musuh yang jatuh bergelimpangan akibat kehebatannya dalam bertempur. Siapapun yang berhadapan dengannya pasti akan tersungkur. Karena itu tak sembarang orang yang berani berhadapan dengannya kalau tidak ingin segera dikirimnya ke neraka. Semua pasukan musuh baru berani menghadapinya saat dia sudah tampak letih menerjang musuh yang terus mengerubunginya. Saat itulah, seseorang dari pihak musuh yang bernama Katsir bin Abdullah berani menyerangnya. Itupun dengan bantuan temannya, Muhajir bin Us. Serangan kedua orang inilah yang akhirnya merobohkan Zuhair. Robohnya pendekar beriman ini diiringi ucapan Imam Husain:
“Allah merahmatimu, hai Zuhair. Pembunuhmu akan mendapat laknat sebagaimana laknat atas orang-orang yang dikutuk menjadi kera dan babi.”
Satu lagi diantara pasukan Imam Husain as yang gugur di sahara Karbala yang tandus itu adalah Jaun, lelaki berkulit hitam. Dia adalah budak Abu Dzar yang sudah dibebaskan. Dia adalah termasuk orang yang meminta sendiri kepada Imam untuk turut serta dalam rombongan beliau dengan resiko apapun, termasuk berjihad melawan musuh.
Menjawab permintaan ini Imam Husain as berkata: “Dulu selagi sehat kamu selalu bersama kami, dan sekarang terserah kamu kemanapun kamu hendak pergi.”
Jaun berkata: “Hai Putera Rasul, dulu aku bersamamu di saat keadaan sedang baik dan menggembirakan. Kini, apakah adil jika aku membiarkanmu sendirian dalam kesulitan?! Demi Allah, bau tubuhku tidak sedap, aku lahir dari keturunan yang hina, dan warna kulitku hitam. Namun, apakah engkau tidak rela jika aku menjadi penghuni surga sehingga aroma tubuhku harum semerbak, jasmaniku tampak mulia, dan wajahnya putih?! Tidak, demi Allah aku tidak ingin berpisah denganmu sampai darahku yang kelam ini melebur dengan darahmu.”
Dengan restu Imam Husain as di Karbala, bekas budak itu ikut berjuang melawan musuh. Seperti rekan-rekannya yang lain, dia juga berhasil merenggut nyawa beberapa orang dari balatentara musuh sebelum tubuhnya yang hitam itu akhirnya menjadi onggokan tanpa nyawa di tanah Karbala. Dia berhasil menggapai impiannya membela keluarga Rasul untuk kemudian bergabung dengan mereka sebagai para ‘bangsawan’ di alam surga.
Demikianlah, para pahlawan pembela Islam dan Ahlul Bait suci itu berguguran satu persatu. Darahnya telah menyiramkan cahaya spiritual yang terang benderang di bumi Karbala, bumi duka nestapa. Jasad-jasad mereka yang fana memang sudah tergolek tanpa nyawa seperti yang diharapkan musuh. Namun, jejak-jejak spiritual mereka akan tetap abadi dan tidak akan pernah sirna untuk selamanya.
...
di
04.31
0
komentar
