Kamis, 31 Desember 2009

Ridha ( الرض )

بسم الله الرحمن الرحيم

Takutlah pada manisnya ta’at karena ia akan dapat menjadi racun yang membunuh

Ridha ( الرض )

Allah SWT berfirman :

رضي الله ورضوا عنه دٍْْلك الفوز الظيم الماءدة 119

Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada-Nya. Itulah kemenangan yang besar.

Dari Jabir diceritakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Pada suatu hari ahli surga berada di suatu tempat. Tiba-tiba ada cahaya memancar di atas pintu surga. Mereka mengangkat kepala. Allah SWT telah memuliakan mereka seraya berfirman : Wahai ahli surga memohonlah kepada-Ku. Mereka mengatakan, ‘Kami memohon keridhaan-Mu’. Allah SWT berfirman, : Keridhaan-Ku adalah Aku menghalalkan tempat tinggal untuk kalian dan kemuliaan-Ku selalu bersama kalian. Pada saat ini memohonlah kepada-Ku. Mereka mengatakan, ‘ kami memohon tambahan’. Kemudian mereka diberi hewan kendaraan yang terdiri dari yaqut berwarna merah. Tali pengikatnya terbuat dari zamrud berwarna hijau dan merah. Mereka mendatangi hewan kendaraan itu yang sedang meletakkan telapak kakinya . Demikian pula Allah SWT memberikan pohon-pohon yang berbuah yang berdampingan dengan para bidadari. Mereka mengatakan ‘ Kami perempuan-perempuan yang nikmat dan yang tidak menyengsarakan. Kami wanita yang kekal yang tidak akan mati, dan kami sebagai isteri-isteri orang beriman dan sangat mulia’. Setelah itu Allah SWT memberikan bukit pasir yang terdiri dari minyak misik putih yang semerbak baunya sampai ke surga Adn. Para Malaikat mengatakan, “Yaa Tuhan ,orang-orang telah datang’. Allah SWT berfirman : Selamat datang wahai orang-orang baik dan ta’at.’ Kemudian hijab (tirai) terbuka. Mereka memandang Allah SWT. Mereka bersenang – senang dengan cahaya Tuhannya, sehingga sebagian mereka tidak dapat melihat sebagian yang lain. Allah SWT berfirman : kembalikanlah mereka wahai malaikat ke gedung-gedung tempat tinggal mereka dengan membawa hadiah. Merekapun lantas kembali dan sebagian mereka dapat lagi melihat sebagian yang lain. Itulah yang dimaksud firman Allah SWT :

نزلا من غفور الرحيم
Sebagian Rezeki datang dari Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih

Ulama Irak dan Khurasan berbeda pendapat tentang ridha, apakah ridha itu termasuk keadaan ( الاحوال ) atau tempat / maqam (Kedudukan). Menurut Ulama Khurasan, ridha termasuk bagian dari maqam yaitu puncak dari tawakal. Artinya ridha dapat ditafsiri sebagai sesuatu yang dapat menghantarkan hamba kepada Allah SWT karena usaha-usahanya. Sedangkan menurut ulama Irak, ridha termasuk bagian dari sesuatu yang turun dan bersemayam di hati sebagaimana keadaan yang lain. Menyatukan dua pendapat tadi sangatlah baik dan mungkin yaitu bahwa permulaan ridha dapat diusahakan oleh hamba dan ini merupakan bagian dari tempat ( المقام ), sedangkan puncaknya yang merupakan bagian dari keadaan (الاحوال), maka itu tidak dapat diusahakan.
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq menyatakan, “Tidak dapat disebut ridha jika seseorang belum pernah mendapatkan cobaan. Namun dapat disebut ridha jika dia tidak menentang hukum dan keputusan Allah SWT.”
Perlu diketahui bahwa kewajiban hamba adalah ridha terhadap keputusan yang telah diperintahkan untuk ridha kepadanya. Karena segala sesuatu tanpa keputusan akan menjadi boleh. Kewajiban hamba adalah ridha terhadap keputusan seperti ridha terhadap kemaksiyatan dan fitnah ujian orang-orang Islam.
Menurut guru sufi, ridha ibarat pintu Allah SWT yang besar. Orang yang memuliakan ridha maka dia akan dipertemukan dengan kecintaan yang penuh dan dimuliakan dengan pendekatan yang paling tinggi. Menurut Abdul Wahid bin Zaid, ridha diibaratkan pintu Allah SWT yang besar dan merupakan surga dunia. Seorang hamba hampir tidak meridhai Allah SWT kecuali Dia meridhaknnya.
Allah SWT berfirman :

رضي الله عنهم ورضوا عنه
Allah ridha kepada mereka dan merakapun ridha kepada-Nya.

Syaikh Abul Qasim Alqusyairi meriwayatkan bahwa Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq bercerita tentang seorang murid yang bertaya kepada gurunya, “Apakah seorang hamba dapat mengetahui bahwa Allah SWT ridha kepadanya ?”
“Tidak. Bagaimana dia akan mengetahui hal itu sedangkan ridha itu merupakan hal yang ghaib”.
“Dia mengetahui hal itu”. Bantah si murid.
“Bagaimana mungkin ?”
“Jika hatiku ridha kepada Allah SWT maka berarti saya tahu bahwa Dia ridha kepadaku”.
“Engkau benar wahai anakku”.

Dalam sebuah cerita disebutkan bahwa nabi Musa AS pernah mengatakan, “Yaa Tuhanku tunjukkanlah kepadaku perbuatan yang apabila saya kerjakan Engkau ridha kepadaku”. Allah SWT berfirman : ‘Engkau tidak akan mampu mengerjakan hal itu.’ Nabi Musa AS kemudian merebahkan diri dan bersujud serta berdoa. Setelah itu Allah SWT menurunkan wahyu :Wahai Putera Imran, Aku akan ridha apabila engkau ridha terhadap keputusan-Ku.

Menurut AbduRrahman Ad-daraani, apabila hamba meninggalkan syahwat maka dia adalah orang yang ridha. Menurut Ibrahim An-Nash Abadzi ‘Barang siapa yang ingin sampai ke tempat ridha maka kerjakanlah apa-apa yang telah dijadikan oleh Allah SWT ridha. Menurut AbduLlah bin Khafif ridha terbagi menjadi dua yaitu ridha dengan-Nya dan ridha kepada-Nya. Yang dimaksud ridha dengan-Nya adalah memikirkan dan merenungkan-Nya. Sedangkan ridha kepada-Nya adalah melaksanakan apa-apa yang telah diputuskan.
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Jalan orang menuju Allah SWT lebih panjang yakni jalan latihan, sedangkan jalan orang yang waspada lebih dekat akan tetapi lebih sulit yakni mengerjakan dengan ridha dan ridha dengan keputusan.”
Menurut Ruwaim, yang dimaksud ridha adalah jika seandainya Allah SWT menjadikan neraka jahanam di sebelah kanannya maka dia tidak akan memohon agar neraka jahanam dipindah ke sebelah kirinya. Menurut Abu Bakan bin Thahir yang dimaksud ridha adalah menghilangkan kebencian di dalam hati, sehingga tidak sedikitpun yang tertinggal di dalam hatinya kecuali kebahagiaan dan kesenangan. Menurut Muhammad Al-Wasithi “Ridha harus dikerjakan berdasarkan kemampuan. Ridha tidak dapat dipaksakan untuk dikerjakan karena akan menjadi penghalang dengan tidak mendapatkan kenikmatan dan tidak dapat melihat hakikat sesuatu yang dipandang.
Perlu diketahui bahwa pernyataan Al-Washiti adalah sesuatu yang besar yang di dalamnya terkandung pernyataan untuk memutuskan orang-orang secara samar. Oleh karena itu tenang dalam menghadapi berbagai keadaan di hadapan mereka merupakan penghalang dari berbagai perubahan keadaan yang lain. Barang siapa yang menikmati ridha dan menemukan bau harumnya maka ia akan terhalang dengan keadaannya sendiri yang mengakibatkan jauh dari Allah SWT. Al Washithi juga menegaskan, “Takutlah pada manisnya ta’at karena ia akan dapat menjadi racun yang membunuh”.
Menurut Abu AbdiLlah bin Khafif yang dimaksud ridha adalah tenangnya hati menerima hukum-hukum Allah SWT dan ia bersepakat dengan segala sesuatu yang Allah SWT ridha dan memilihnya sebagai pegangan.
Rabi’ah Al-Adawiyah pernah ditanya, “Kapan seseorang disebut sebagai orang yang ridha ?”. Dia menjawab, ‘Apabila dia senang ketika mendapatkan musibah sebagaimana dia senang ketika mendapatkan kenikmatan’.
Menurut suatu cerita, As-Syibli pernah berkata kepada Al-Junaid “Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah SWT yang Maha Tinggi dan Maha Agung”. Kemudian Al-Junaid mengatakan, ‘Ucapanmu itu adalah ucapan orang yang sempit hati. Orang yang sempit hatinya akan meninggalkan ridha karena ada keputusan”. Stelah itu Asy-Syibli diam.
Abu Sulaiman berpendapat bahwa yang dimaksud ridha adalah jangan memohon kepada Allah SWT untuk mendapatkan surga dan jangan pula memohon perlindungan-Nya agar terhindar dari neraka.
Menurut Dzun-Nun tanda-tanda ridha ada tiga, 1. meninggalkan ikhtiyar sebelum keputusan, 2. menghilangkan kepahitan sebelum keputusan, 3. cinta apabila mendapatkan cobaan.
Pernah ditanyakan kepada Husain bin Ali RA bahwa Abu Dzar mengatakan , “Fakir lebih aku cintai daripada sehat”. Husain mengatakan, ‘Mudah-Mudahan Allah SWT memberikan rahmat kepada Abu Dzar. Adapun saya maka aku tegaskan barang siapa bersungguh-sungguh di atas kebaikan dengan memilih Allah SWT maka dia tidak akan menerima sesuatu selain apa yang telah diputuskan-Nya.” Fudhail bin Iyadh pernah mengatakan kepada Bisyir, “ Ridha lebih utama daripada zuhud di dunia karena orang yang ridha tidak mengharapkan sesuatu atas kedudukannya”.
Abu Utsman pernah ditanya tentang sabda Nabi Muhammad SAW, “Saya memohon kepada-Mu keridhaan setelah keputusan”. Dia menjawab, “ridha sebelum keputusan adalah ridha yang sebenarnya.’
Abu sulaiman mengatakan, “Saya berharap mampu mengetahui ujung dari ridha. Seandainya Allah SWT memasukkan diriku ke dalam neraka, maka saya akan tetap ridha”.
Menurut Abu Umar Ad-Dimsyaqi yang dimaksud ridha adalah menghilangkan keluh kesah dimana saja hukum berlaku. Menurut Al-Junaid yang dimaksud ridha adalah menghilangkan ikhtiyar (usaha/pilihan). Menurut Ibnu Atha’ yang dimaksud ridha adalah melihatnya hati kepada lamanya pilihan Allah SWT bagi hamba dengan meninggalkan kemarahan. Sedangkan menurut Ruwaim, yang dimaksud ridha adalah menerima hukum dengan senang hati.
Menurut Harits Al-Muhasibi, yang dimaksud ridha adalah tenangnya hati di bawah tempat-tempat berlakunya hukum. Menurut An-Nuuri yang dimaksud ridha adalah senangnya hati karena menerima pahitnya keputusan.
Al-Jauzi mengatakan, “Barang siapa ridha tanpa batas maka Allah SWT akan mengangkat derajatnya di luar batas”. Sedangkan Abu Turab An-Nakhsyabi mengatakan, “Siapapun tidak akan pernah mendapatkan ridha jika di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari dunia”.
Diriwayatkan dari Al-Abbas bin Abdul Munthalib, bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “
دْاق طعم الايمان من رضي باالله ربا

Akan merasakan lezatnya iman orang yang ridha terhadap Allah SWT sebagai Tuhannya.

Diceritakan bahwa Umar bin Al-Khatab menulis surat kepada Abu Musa Al-Asy’ary, ....”bahwa kebaikan terletak pada keridhaan. Maka jikalau engkau mampu jadilah orang-orang yang ridha, jika tidak mampu jadilah orang yang sabar”.
Dalam sebuah cerita disebutkan bahwa Uthbah bin Ghulam biasa menghabiskan malam-malamnya hingga pagi dengan berucap, “jika Engkau menghukumku maka aku akan tetap mencintai-Mu dan jika Engkau mengasihiku maka akupun tetap mencintai-Mu”.
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Mabusia ibarat tembikar ia tidak memiliki pikiran menentang hukum Allah SWT. Beliau juga berkata, “seorang lelaki marah kepada budaknya. Budak itu meminta tolong kepada orang lain agar tuannya memberi maaf. Budak itu menangis sampai penolong itu bertanya ‘Kenapa engkau menangis padahal tuanmu telah memaafkanmu ?’ Maka tuannya menjawab, “Dia hanya meminta keridhaanku bukan yang lain.
...

Al-Muraqabah




Allah SWT berfirman, “Wa kaanaLlaahu ‘alaa kulli syai’in raqiibaa”. ‘Dan sesungguhnya Allah SWT Maha mengawasi atas segala sesuatu’.
Malaikat Jibril AS datang menemui RasuluLlah SAW dalam bentuk rupa seorang laki-laki.
“Yaa Muhammad, apa itu iman”. Tanya Jibril.
“Percaya kepada Allah SWT, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, dan takdir baik dan buruknya, dan hari akhir”.
“Engkau benar”.
Para sahabat yang menyaksikan keadaan tersebut merasa heran, bagaimana mungkin orang yang bertanya ia sendiri yang membenarkannya. Bukankah ia datang untuk bertanya, tetapi mengapa terkesan menggurui RasuluLlah SAW. Di tengah keheran para sahabat, lelaki itu kembali bertanya, “Berilah aku penjelasan tentang islam”.
RasuluLlah SAW menjawab, “Bersyahadat, Menegakkan shalat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan hajji ke BaituLlah”.
“Benar Engkau, berilah aku penjelasan tentang ihsan”.
RasuluLlah ASW menjawab, “Beribadah kepada Allah SWT seakan-akan engkau melihat-Nya. Aapabila engkau tidak dapat melihatnya maka sesungguhnya Dia melihatmu”.
“Engkau benar”. Jawab Jibril kemudian pergi.

Ungkapan sabda RasuluLlah SAW “Jika engkau tidak dapat melihat Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu”. Adalah merupakan isyarat tentang muraqabah (pengawasan).
Muraqabah adalah ilmu hamba untuk melihat Allah SWT. Sedangkan yang konsisten terhadap ilmu itu adalah yang mengawasi (menjaga atau merasa bahwa dirinya selalu diawasi sehingga membentuk sikap yang selalu awas terhadap hukum-hukum Allah SWT. Ini adalah dasar dari segala kebajikan. Orang tidak akan sampai pada tingkatan ini kecuali setelah menyelesaikan pengawasan (penjagaan-terhadap dirinya sendiri). Apabila seseorang mengawasi dirinya sendiri terhadap apa-apa yang telah lampau, memperbaiki keadaannya di masa sekarang, maka ia akan selalu berada di jalan yang benar, mengadakan perhubungan dengan Allah SWT secara baik sambil menjaga hati, memelihara nafs agar selalu berhubungan dengan-Nya, memeliharanya dalam segala hal, maka ia akan mengetahui bahwa Allah SWT adalah Dzat Maha Pengawas dan Dzat Yang Maha Dekat dengan dirinya. Allah SWT mengetahui keadaannya, melihat perbuatannya, dan mendengar ucapannya. Barang siapa yang melupakan semua itu maka ia akan terlepas dari taraf permulaan keterhubungan dengan-Nya. Lalu bagaimana tentang hakikat “Dekat / Al qurb”.
Ahmad Al Jariri mengatakan, “barang siapa yang tidak memperkuat taqwa dan pengawasan antara dirinya dan Allah SWT, maka ia tidak akan sampai kepada mukasyafah (terbukanya tabir rahasia) dan musyahadah (persaksian dengan-Nya).”
Al-Kisah, ada seorang raja yang memiliki budak yang sering menghadap kepadanya jika dibandingkan dengan budak-budak yang lain. Kebanyakan mereka tidak semahal dan seistimewa budak yang satu ini. Mereka mengungkapkan hal itu kepada raja, maka rajapun kemudian menjelaskan kepada mereka tentang keutamaan budak itu dalam hal pelayanan-nya kepada raja jika dibandingkan dengan budak yang lain. Pada suatu hari budak itu berada di atas kendaraan kuda bersama-sama dengan raja, melewati sebuah gunung yang dipenuhi salju. Sang raja melihat salju-salju itu dan kemudian menundukkan kepalanya. Seketika itu pula sang budak memacu kudanya menuju ke arah salju yang dilihat raja. Orang-orang tidak mengerti mengapa budak itu tiba-tiba pergi ke arah salju. Sang budak terus saja memacu kudanya mendaki gunung yang penuh salju hingga ketika sampai di puncak ia mengambil salju itu dan dibawanya untuk diberikan kepada raja. Sang raja berkata kepadanya, “Apa yang membuatmu tahu bahwa saya menghendaki salju ?” Dia menjawab, ‘Karena tuan melihat salju itu’. Tak lama kemudian pandangan raja menerawang seraya mengatakan, “Dia aku berikan keistimewaan karena telah memuliakan diriku dan selalu hadir dalam diriku. Tiap-tiap orang memiliki kesibukan sendiri-sendiri sedangkan kesibukannya adalah selalu menjaga pandangan/lirikanku dan keadaanku”.
Sebagian ulama mengatakan, barang siapa yang menjaga Allah SWT di dalam hatinya maka Allah SWT akan menjaga seluruh anggota badannya”. Abul Husain bin Hindun pernah ditanya, “Kapan penggembala dapat menghalau kambingnya dengan tongkat pemeliharaan agar terhindar dari perangkap kebinasaan ?”. Dia menjawab, “Jika ia mengerti bahwa di hadapannya terdapat Dzat Yang Maha Mengawasi”.
Menurut satu cerita, Ibnu Umar RA berada di dalam perjalanan. Dia melihat seorang budak yang sedang menggembala seekor kambing.
“Bisakah engkau menjualnya seekor kepadaku ?” tanya Ibnu Umar dengan maksud untuk menguji.
“Kambing itu bukan milik saya”. Jawabnya
“Katakan saja kepada pemiliknya bahwa serigala telah memakannya”.
Budak itu menjawab,”Lalu di mana Allah SWT ?”
Ibnu Umar diam untuk beberapa saat. Dai merenungkan kata-kata penggembala itu. Kemudian ia mendesah sambil mengatakan, “Budak itu mengatakan di mana Allah SWT”.
Al-Junaid mengatakan bahwa barang siapa yang dapat merealisasikan pengawasan (muraqabag), maka dia akan takut kehilangan bagian dair Tuhannya, bukan takut kepada orang lain.
Seorang guru sufi memiliki seorang murid yang diistimewakan. Guru itu sering datang kepadanya dari pada datang kepada murid-murid yang lain. Mereka bertanya kepada gurunya tentang hal itu , maka sang gurupun menjawab, “Akan saya jelaskan persoalan ini kepada kalian”.
Selang beberapa lama, guru itu memanggil murid-muridnya. Masing-masing dari mereka diberi seekor burung sambil berpesan, “Sembelihlah burung ini di suatu tempat yang tidak diketahui oleh siapapun”. Mereka semua kemudian pergi dan tak lama kemudian kembali dengan membawa burung yang telah disembelih di tangan mereka masing-masing. Akan tetapi salah seorang dari mereka datang dengan membawa burung yang masih hidup.
“Mengapa burung itu tidak kamu sembelih ?”
Murid itu menjawab “Guru memerintahkan saya untuk menyembelih burung di suatu tempat yang tidak diketahui oleh siapapun. Saya telah berusaha ke berbagai tempat akan tetapi tidak menemukan satu tempatpun yang tidak dilihat oleh Allah SWT.
Guru itu tersenyum. Dia berkata kepada murid yang lain, “Karena inilah saya mengistimewakannya dengan selalu datang kepadanya.”
Menurut Dzunun al-Mishri yang dimaksud hubungan pengawasan adalah mementingkan sesuatu yang telah dipentingkan oleh Allah SWT, mengagungkan sesuatu yang telah diagungkan oleh Allah SWT, dan mengecilkan sesuatu yang telah dikecilkan-Nya. Menurut Ibrahim An-Nashr Abadzi : Raja’ (Harap) akan menggerakkan kepada keta’atan, khauf (takut) akan menjauhkan dari maksiyat, dan muraqabah (pengawasan) akan mengantarkan kepada jalan hakikat.
Ja’far bin Nashr pernah ditanya tentang pengawasan maka ia menjawab, “Menjaga hati untuk memandang Allah SWT dalam setiap gerakan”. Ahmad Al-Jariri mengatakan, “Urusan kita terbagi menjadi dua, yaitu konsistensi diri dalam pengawasan terhadap Allah SWT dan tertanamnya ilmu secara lahiriyah . sedang menurut AbduLlah Al-Murta’isy mengatakan bahwa yang dimaksud pengawasan adalah memelihara hati dengan memperhatikan Allah SWT dalam setiap langkah dan perkataan”.
Ibnu Atha’pernah ditanya, “apa yang paling utama dari ta’at ?” dia menjawab, “Mengawasi Allah SWT sepanjang masa”. Ibrahim Al-khawas mengatakan, “Pemeliharaan akan menyebabkan pengawasan, sedang pengawasan akan menyebabakan kemurnian rahasia maupun terang-terangan karena Allah SWT”. Menurut Abu Utsman Al-Maghribi, “Konsistensi diri manusia yang paling utama adalah meneliti , mengawasi dan mensiasati perbuatannya dengan ilmu”.
Abu Utsman mengatakan, ‘Abu Hafs mewasiyatkan kepadaku, ‘Apabila kamu duduk bersama orang lain , jadilah penasihat kepada hatimu dan dirimu, serta janganlah kamu tertipu oleh perkumpulan mereka. Mereka mengawasi lahirmu, sedang Allah SWT mengawasi bathinmu”.
Abu Sa’id Al-Kharraz mengatakan, “Salah seorang dari guruku telah mengatakan kepadaku, ‘tetaplah memelihara dan mengawasi hatimu”’. Dia mengatakan, ‘Suatu hari saya berjalan di tengah padang pasir. Tiba-tiba di belakangku terdengar suara desingan. Suara itu sangat menakutkan. Saya hendak menoleh tetapi saya tahan. Setelah itu saya melihat sesuatu menyentuh punggungku lantas ia pergi. Sambil saya menjaga hati saya menoleh, ternyata saya berhadapan dengan hewan yang sangat besar”’.
Al-Wasithi berkata, “Seutama-utama ta’at adalah menjaga waktu. Dia tidak meniti-niti hambanya diluar batasnya, demikian pula tidak meniti selain kepada Tuhannya, dan tidak bersahabat selain dengan waktunya”. ...

Sabar







Allah SWT berfirman, “Washbir, mawaa shabruka illa biLlaah” yang artinya, “Sabarlah engkau yaa Muhammad, dan tidaklah kesabaranmu itu kecuali dengan pertolongan Allah”. (An-Nahl 27).
Dari ‘Aisyah RA, diceritakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Inna shabra ‘inda shadmatil uula”. ‘Sesungguhnya sabar yang sempurna itu pada pukulan yang pertama’.
Dari sahabat Anas bin Malik diriwayatkan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Sabar yang paling sempurna adalah pada pukulan (ketika menghadapi cobaan) yang pertama”. Sabar itu terbagi menjadi dua, yaitu sabar yang berkaitan dengan usaha hamba dan sabar yang tidak berkaitan dengan usaha hamba. Sabar yang berkaitan dengan usaha hamba terbagi menjadi dua, yaitu sabar terhadap apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan sabar terhadap apa yang dilarang-Nya. Sedang sabar yang tidak berkaitaan dengan usaha adalah sabar terhadap penderitaan yang terkait dengan hukum karena mendapatkan kesulitan.
Al- Junaid mengatakan, “Perjalanan dari duniia menuju akhirat adalah mudah dan menyenangkan bagi orang yang beriman. Putusnya hubungan makhluk di sisi Allah SWT adalah berat. Perjalanan dari diri sendiri menuju kepada Allah SWT adalah berat. Dan sabar kepada Allah SWT tentunya akan lebih berat”. Beliau ditanya tentang sabar lalu menjawab, “Menelan kepahitan tanpa bermasam muka”.
Menurut Ali bin Abi Thalib, sabar merupakan bagian dari iman sebagaimana kepala merupakan bagian dari tubuh. Menurut Abul Qasim, yang dimaksud firman Allah SWT,”Sabarlah engkau (yaa Muhammad)” adalah pondasi ibadah. Sedangkan firman Allah SWT,”tiada kesabaranmu kecuali dengan pertolongan Allah”. Adalah ubudiyah (penghambaan). Barang siapa yang naik dari satu derajat ke derajat yang lain karena pertolongan Allah maka dia pindah dari derajat kaidah menuju derajat ubudiyah. RasuluLlah SAW bersabda, “BiKa ahya wa biKa amuut” . dengan pertolongan-Mu aku hidup, dan dengan pertolongan-Mu aku mati”.
Abu Sulaiman pernah ditanya tentang sabar, dia menjawab, “Demi Allah kami tidak bersabar terhadap apa yang kami cintai, maka bagaimana kami bersabar terhadap apa yang kami benci ?”
Menurut Dzunun Al-Mishri, yang dimaksud sabar adalah menjauhi hal-hal yang bertentangan, bersikap tenang ketika menelan pahitnya cobaan dan menampakkan sikap kaya dengan menyembunyikan kefakiran di medan kehidupan.” Menurut Ibnu Atha, yang dimaksud sabar adalah tertimpa cobaan dengan tetap berperilaku yang baik. Menurut satu pendapat, yang dimaksud sabar adalah orang yang sangat sabar yaitu orang yang mengembalikan pada dirinya terhadap sesuatu yang dibenci ketika menghadapi serangan.
Menurut sebagian ulama, yang dimaksud sabar adalah tertimpa cobaan dengan tetap bersikap baik dalam pergaulan sebagaimana ketika dalam keadaan sehat (selamat). Allah SWT berfirman, “Dan akan Kami balas orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari pada apa yang mereka usahakan”. (An-Nahl 96).
Menurut Amr bin Utsman, yang dimaksud sabar adalah tetap bersama Allah SWT dan menerima cobaan-Nya dengan lapang dada dan senang hati. Menurut Ibrahim Al-Khawash yang dimaksud sabar adalah tetap konsisten dengan hukum-hukum al-Qur’an dan As-Sunah. Menurut Yahya kesabaran orang-orang yang cinta kepada Allah SWT lebih kuat daripada kesabaran orang-orang yang zuhud
Sya’ir :
Sabar akan menghiasi dengan keindahan
Di seluruh tanah air
Sabar tidak akan terhiasi dengan keindahan
Kecuali hanya bila tertuju pada-Mu

Menurut Ruwaim, yang dimaksud sabar adalah meninggalkan keluhan. Menurut Dzunun Al-Mishri yang dimaksud sabar adalah memohon pertolongan kepada Allah SWT.
Sya’ir :
Saya akan bersabar agar Engkau rela
Saya lenyapkan rasa keluh kesah
Agar Engkau juga rela
Saya merasa cukup
Apabila sabarku
Telah melenyapkan diriku.

Menurut abduLlah bin Khafif sabar terbagi menjadi tiga yaitu orang yang menerima sabar, orang yang sabar, orang yang sangat sabar. Menurut Ali bin Abi Thalib, sabar ibarat binatang kendaraan yang tidak pernah jatuh tersungkur.
Ali bin AbdiLlah Al-Bashri mengatakan bahwa seorang laki-laki berhenti di depan As-Syibli seraya bertanya, “Sabar yang bagaimana yang lebih kuat atas orang-orang yang sabar?’
“Sabar di dalam Allah SWT”.
“Bukan”.
“Sabar untuk Allah SWT”
“Bukan”.
“Jadi sabar yang bagaimana” As-Sybli balik bertanya.
“Sabar menghindarkan diri dari Allah SWT”. Setelah itu As-Syibli berteriak yang menyebabkan ruh-nya hampir saja lenyap. Menurut Abu Muhammad Ahmad Al-Jariri yang dimaksud sabar adalah tidak memisahkan antara kenikmatan dan ujian dengan pemikiran yang tenang, sedangkan yang dimaksud penerimaan sabar adalah tenang menghadapi cobaan dengan mendapatkan beratnya ujian. Sebagian ulama mengatakan :
saya bersabar
tetapi saya belum mengetahui
keinginan-Mu atas sabarku
saya sembunyikan dari-mu
apa-apa yang terkait denganku
dari tempat sabar
karena hati nuraniku takut
mengeluh pada kerinduanku
terhadap air mataku secara rahasia
sehingga ia tetap mengalir, dan sayapun tidak mengetahui.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.
Yang dimaksud firman Allah SWT, Ishbiruu washabiruu warabithuu, Sabarlah, dan sabarkanlah, dan berjagalah kamu sekalian”. (Ali Imran 200). Sebagian berpendapat bahwa yang dimaksud ayat ini adalah sabarlah dengan diri kamu sekalian untuk ta’at kepada Allah SWT, sabarlah dengan hati kalian untuk menerima cobaan-Nya, dan sabarlah dengan tabir rahasia hati kalian untuk rindu kepada-Nya. Sedangkan menurut sebagian ulama yang lain yang dimaksud ayat itu adalah sabarlah kalian karena Allah SWT, sabarlah kalian dengan-Nya, dan bersabarlah kalian bersama-Nya.
Menurut satu pendapat, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud AS, “Ber budi pekertilah dengan budi pekerti-Ku, sesungguhnya sebagian dari budi pekerti-Ku adalah sangat sabar”. Dalam ungkapan lain disebutkan, telanlah kesabaran. Apabila Allah SWT mematikanmu maka Dia akan mematikanmu dengan mati syahid. Apabila Allah SWT menghidupkanmu maka Dia akan menghidupkanmu dengan kemuliaan.
Menurut sebagian ulama, sabar karena Allah SWT adalah suatu kelelahan, sabar dengan Allah SWT adalah ketetapan, sabar di hadapan Allah SWT adalah cobaan, sabar bersama Allah SWT adalah pemenuhan, dan sabar menghindar dari Allah SWT adalah kehanyutan.
Sya’ir :
Sabar menghindarkan diri dari-Mu
Akan mengabkibatkan tercela
Sedangkan sabar dalam segala hal
Akibatnya terpuji
Bagaimana sabar dari orang yang tinggal di sampingku
Dengan menempati yang kanan dari pada yang sebelah kiri
Apabila orang yang bersendau gurau
Dengan segala sesuatu
Maka saya telah melihat kecintaan
Yang bersendau gurau dengan orang lain

Menurut sebagian yang lain, sabar mencari adalah tanda keberhasilan, sedangkan sabar menerima ujian adalah tanda kebahagiaan. Menurut yang lain, yang dimaksud menyabarkan diri adalah sabar di atas sabar sehingga dapat mencakup sabar di dalam sabar dan melemahkan sabar dari sabar sebagaimana diungkapkan dalam sya’ir :

Orang yang sabar di dalam sabar
Akan dimintai pertolongan
Oleh orang yang sangat sabar
Sehingga orang yang cinta
Menyebutnya dengan sebutan sabarnya sabar


Menurut satu cerita, Asy-Syibli dicegat ditengah perjalanan di daerah Maratsani. Sekelompok orang datang kepadanya.
“Siapa kalian”. Tanya Asy-Syibli.
“Para kekasihmu yang sedang beraziarah kepadamu.”
Kemudian beliau melemparkan batu kepada mereka sehingga mereka lari. Beliau mengatakan kepada mereka, “Wahai orang-orang pembohong, jika kalian para kekasihku, maka tentu engkau akan sabar menerima cobaanku”.
Di dalam sebagian hadits disebutkan, “Dengan penjagaan Mata-Ku (Allah), orang-orang yang sabar sebenarnya tidak bersabar untukku. Allah SWT berfirman, “Bersabarlah engkau kepada hukum Tuhanmu, sesungguhnya engkau dalam penjagaan Kami”. (At-Thuur 48).
Sebagian ulama mengatakan, saya berada di Makkah, saya melihat orang fakir mengelilingi BaituLlah. Dia mengeluarkan Ruq’ah (semacam azimat atau bungkusan yang berisi tulisan) dari dalam sakunya. Dia melihat ruq’ah itu lalu pergi. Esok hari ia berperilaku seperti itu, beberapa hari saya memperhatikannya. Dia selalu mengerjakan hal itu setiap hari untuk kepentingannya sendiri. Suatu hari ia berkeliling dan melihat ruq’ahnya. Sedikit demi sedikit ia menjauh lantas terjatuh dan meninggal dunia. Ruq’ah itu kemudian saya keluarkan dari dalam sakunya. Ternyata di dalam ruq’ah itu berisikan firman Allah SWT,”Bersabarlah engkau terhadap hukum Tuhanmu sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami”. (At-Thuur 48).
Sebagian ulama lain mengatakan, “saya memasuki negara India. Saya melihat seorang laki-laki menggunakan satu mata. Orang-orang memberikan nama kepadanya si Fulan yang sangat sabar. Saya bertanya kepada mereka tentang keadaannya, lantas dijawab bahwa ketika dia menginjak awal remaja, saat teman-temannya hendak bepergian dia keluar dari tempat tinggalnya. Salah satu dari kedua matanya melelehkan air mata, sedang mata yang satunya tidak menangis. Dia mengatakan kepada mata satunya yang tidak melelehkan air mata, ‘Kenapa engkau tidak melelehkan air mata atas perpisahan temanku? Saya tentu akan mengharapkanmu untuk melihati dunia’. Dia memejamkan matanya selama dua tahun tanpa pernah membukanya.
Menurut satu pendapat, yang dimaksud firman Allah SWT, “Bersabarlah engkau dengan sabar yang baik”. (Al-Ma’arij 5) adalah sabar yang benar sehingga orang yang tertimpa musibah di tengah-tengah masyarakat tidak dapat diketahui. Umar bin Khatab pernah mengatakan, “seandainya sabar dan syukur diibaratkan dua ekor unta, maka saya tidak peduli mana diantara keduanya yang akan saya naiki”.
Dalam satu ungkapan, Ibnu Syibrimah apabila mendapat cobaan dia mengatakan, “Sekarang berawan, besok ia akan hilang”. Di dalam hadits pernah disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah ditanya tentang Iman beliau menjawab, “As-shabru wassamaahah”. ‘Sabar dan toleransi.’
Syaikh Sary pernah ditanya tentang sabar. Ketika beliau hendak menjawab, kaki beliau dihinggapi kalajengking yang menyengat berulang-ulang. Beliau tetap diam dan tak bergerak. Beliau ditanya, ‘mengapa kalajengking itu tidak kau jauhkan dari kakimu ?’. beliau menjawab, “Saya malu kepada Allah SWT membicarakan sabar sementara saya belum bisa bersabar”.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang-orang fakir yang bersabar adalah tamu-tamu Allah SWT di hari kiyamat. Dalam suatu cerita Allah SWT menurunkan wahyu kepada sebagian Nabi-Nya,”Cobaan-Ku telah Aku turunkan kepada sebagian hamba-Ku kemudian ia berdo’a kepada-Ku, tetapi Aku tidak mengabulkannya. Kemudian ia mengeluh kapada-Ku. Aku berfirman kepada-Nya, ‘wahai hamba-Ku, bagaimana Aku dapat mengasihimu dengan suatu pemberian sehingga Aku akan mengasihimu”.
Arti firman Allah SWT, “Dan Aku jadikan mereka pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka mau bersabar”. Ayat itu, kata Ibnu Uyainah, adalah ketika mereka menghendaki suatu pemimpin dalam suatu urusan, maka Kami jadikan ia (orang yang sabar) sebagai pemimpinnya.
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaaq mengatakan, “yang dimaksud pembatasan sabar adalah tidak merintangi takdir. Apabila menampakkan cobaan tanpa mengeluh atau mengadu, maka bukan berarti hal itu menikadakan sabar. Allah SWT berfirman tentang kisah Nabi Ayub AS, “Sungguh Kami mendapati Ayub sebagai orang yang sabar, Dia adalah sebaik-baik hamba”. (Shad 44). Ayat ini ditopang oleh ifrman-Nya, yang lain seperti perkataan Nabi Ayub AS,“Kemelaratan telah menimpa diriku” (Al-Anbiya 83). Dari ungkapan ini dapat ditafsirkan bahwa maksudnya adalah,”Kemelaratan telah menimpa diriku agar Engkau memberikan kesenangan kepada orang-orang yang lemah.” Menurut sbagian ulama, ayat yang berbunyi, “sungguh Kami mendapati Ayub sebagai orang yang sabar”. Bukan dengan kata seorang yang sangat sabar karena semua kondisi Ayub tidak dapat disamakan dengan sabar. Sebaliknya semua kondisinya telah berubah menjadi ni’matnya musibah. Sehingga dalam kondisi ni’mat maka tidak dapat diklasifikasikan sebagai orang yang sangat sabar . Oleh karena itu Allah SWT tidak berfirman “sebagai orang yang sangat sabar”.
Uastadz Abu Ali Ad-Daqaaq berkata, “Hakikat sabar adalah menghindarkan diri dari cobaan dan menerima apa yang telah menimpanya seperti Nabi Ayub AS beliau tetap mengatakan di akhir cobaannya, “Kemelaratan telah menimpa diriku, sedang Engkau lebih pengasih dari segala yang pengasih” (Al-Anbiya 83).
Dia menjaga etika berbicara dengan mengatakan Engkau lebih pengasih dari segala yang pengasih tidak mengatakan, Kasihanilah aku.
Perlu diketahui bahwa sabar itu tebagi menjadi dua, yaitu kesabaran orang yang beribadah, dan kesabaran orang yang cinta. Sebaik-baik sabar orang yang beribadah adalah terjaga. Dan sebaik baik kesabaran orang yang cinta adalah tertinggal.
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Nabi Ya’qub telah mengoptimalkan perjanjian sabar dengan dirinya sendiri dengan mengatakan, “As-shabrun jamiil “ Namun ketika tidak mendapatkannya, beliau mengatakan, “Aduh alangkah duka citaku mengenang yusuf”.
...

Yakin





“Orang-orang yang beriman kepada (kitab) yang diturunkan kepada Engkau (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang diturunkan sebelmum Engkau, sedang mereka yakin akan adanya hari akhir”. (QS Al-Baqarah 4).


Dari AbduLlah bin Mas’ud diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Engkau tentu tidak akan rela kepada seseorang sebab kemurkaan Allah kepada mereka. Dan tiadalah engkau memuji seseorang atas keutamaan Allah Ta’ala yang diberikan kepada mereka. Dan engkau tidak akan mencela seseorang atas apa yang tidak diberikan Allah kepadamu. Karena sesungguhnya rizki Allah Ta’ala, kelobaan orang yang loba tidak akan dapat menghalanginya darimu, dan kebencian orang yang benci tidak akan mampu menolaknya. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala dengan sifat ‘adil-Nya menjadikan kebahagiaan dan kesenangan dalam kerelaan dan keyakinan, dan menjadikan kesusahan dan dukacita dalam keraguan dan kemurkaan”.

Ahmad bin Ashim Al-Anthaki mengatakan, “Sesungguhnya sesedikit apapun yakin apabila sudah sampai ke lubuk hati maka hati akan penuh dengan cahaya, keragu-raguan akan hilang, hati akan penuh dengan syukur, dan bertambah takut kepada Allah”.

Diriwayatkan dari Abu Ja’far Al-Hadad yang mengatakan bahwa Abu Thurab An-Nakhsyaby pernah melihatku ketika aku sedang duduk di tengah padang pasir dekat kolam ikan, sedangkan saya selama 16 hari belum makan dan minum.

“Bagaimana posisimu saat ini ?“ Tanya Abu Thurab kepadaku.

“Saya sedang diantara ilmu dan yakin. Saya sedang menungu sesuatu yang dapat mengalahkan sehingga saya dapat bersamanya, yakni apabila ilmu yang menang maka saya akan minum, dan apabila yakin yang menang maka saya akan pergi”.

“Keadaanmu akan tetap seperti itu”. Katanya.

Menurut Abu Utsman Al-Hirri, yang dimaksud yakin adalah sedikitnya cita-cita bagi masa yang akan datang. Menurut Sahal bin AbduLlah, yakin merupakan tambahan iman dan realitas kebenaran. Dia juga berpendapat, yakin merupakan cabang dari ima, bukan pembenaran. Sedangkan menurut sebagian ulama, yakin adalah ilmu yang tersimpan di dalam hati. Ungkapan ini memberikan petunjuk kepada hal-hal yang tidak perlu diusahakan. Sahal bin AbduLlah mengatakan, permulaan yakin adalah terbukanya tabir rahasia. Oleh karena itu sebagian ulama salaf mengatakan, “apabila tabir penutup telah terbuka, maka keyakinan akan bertambah, pertolongan Allah akan didapatkan, musyahadah akan dapat dioptimalkan”.

Menurut Abu AbdiLlah bin Khafif yang dimaksud yakin adalah nampaknya berbagai rahasia melalui penerapan hukum-hukum yang implisit. Menurut Abu Bakar bin Thahir, ilmu selalu bertentangan dengan keragu-raguan sedangkan yakin tidak mendatangkan keragu raguan. Dia memberikan sinyalemen tentang hal itu pada ilmu kasbi (yang diusahakan) dan hal-hal yang berlaku untuk sesuatu yang badhi’i (riil). Oleh karena itu ilmu yang dimiliki oleh orang dalam permulaan merupakan urusan ilmu kasbi (yang diusahakan) sedangkan yang akhir merupakan urusan badhi’i.

Muhammad bin Husain mengatakan, “Sebagian ulama menyebutkan permulaan tempat (maqam) adalah ma’rifat, kemudian yakin, pembenaran, ikhlas, persaksian, kemudian ta’at”. Iman adalah nama yang mencakup keseluruhan. Ini dapat dijadikan indikasi bahwa permulaan wajib adalah ma’rifat kepada Allah SWT. Ma’rifat tidak aakn terealisir kecuali mendahulukan syarat-syaratnya. Ini dapat disebut pandangan yang benar. Apabila argumrntasi dapat teraplikasi dan keterangan dapat terealisir, maka pandangan yang benar akan menjadi optimal sejalan dengan aplikasi cahaya dan realisasi analisa seperti orang yang tidak membutuhkan analisa argumentasi. Inilah yang disebut keadaan yakin. Membenarkan Allah SWT terhadap apa – apa yang telah diinformasikan adalah mendengarkannya untuk memenuhi ajakan terhadap apa yang telah disampaikan melalui perbuatan di masa yang akan datang, karena pembenaran akan terwujud dalam bentuk-bentuk yang bersifat informatif. Ikhlas selalu terkait dengan hal-hal yang diikuti pelaksanaan perintah. Memenuhi ajakan dapat direalisasikan dengan persaksian yang baik. Pelaksanaan taat dapat dioptimalkan dengan tauhid (menyatu) dengan apa-apa yang diperintah dan menghindari apa-apa yang dilarang. Pengertian ini dapat dijadikan indikasi oleh Imam Abu Bakar Furak sebagaimana ungkapannya, “dzikir lisan merupakan kelebihan yang akan memenuhi hati”.

Menurut Sahal bin AbduLlah, diharamkan bagi hati mencela semerbak baunya hati karena ketenangan di dalam hati tidak tidak akan tertuju kepada Allah SWT. Menurut Dzunun Al-Mishri, yakin akan mendorong pendeknya angan-angan dan cita-cita, cita-cita yang pendek akan mendorong zuhud, zuhud akan memberikan hikmah, dan hikmah akan memberikan pandangan kritis yang membawa akibat yang baik. Dia juga berpendapat ada tuga bentuk dari tanda-tanda yakin. Pertama, sedikit pergaulan dalam bermasyarakat. Kedua, meninggalkan pujian dalam pemberian. Ketiga, tidak mencela orang lain apabila mendapatkan rintangan. Juga terdapat tiga bentuk dari tanda yakinnya yakin. Pertama, memandang Allah SWT dalam segala sesuatu. Kedua, kembali kepada Allah SWT dalam segala urusan. Ketiga, meminta pertolongan kepada Allah SWT dalam segala hal.

Menurut Al-Junaid RA yang dimaksud yakin adalah ilmu yang stabil dan tidak berbolak-balik, tidak berpindah-pindah dan tidak nerunah-ubah di dalam hati. Sedangkan menurut Ibnu atha’, atas kadar kedekatan mereka kepada taqwa, maka mereka akan menemukan yakin sebagaimana yang telah mereka temukan. Pondasi takwa adalah meninggalkan larangan, berarti meninggalkan hawa nafsumaka mereka akan sampai kepada yakin. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud yakin adalah mikasyafah (rahasia terbukanya tabir). Mukasyafah terbagi menjadi tiga. Pertama mukasyafah terhadap hal-hal yang baik. Kedua, mukasyafah dengan menampakkan kemampuan. Ketiga, mukasyafah hati dengan esensi keimanan.

Perku diketahui bahwa mukasyafah dalam pembahasan ulamamerupakan pelajaran yang dapat merealisasikan sesuatu dalam hati dengan mengatur ingatan tanpa menimbulkan keragu-raguan. Terkadang mereka hendak bermukasyafah dengan hal-hal yang dekat yang dapat terlihat diantara keadaan jaga dan tidur. Akan tetapi kebanyakan diantara mereka meredaksionalkan hal itu dengan tidur.

Syaikh Imam Al-Qusyairi mendengar dari Al-Imam Abu Bakar bin Furak yang mengatakan, bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Utsman Al-Maghribi, “Apa yang ingin engkau katakan”.

“Saya telah melihat pribadi-pribadi orang demikian....demikian...”. jawab Abu Utsman.

“Apakah engkau melihat dengan mu’ayyanah (penglihatan mata secara alngsung) atau mukasyafah (penglihatan mata hati) ?”.

“Dengan mukasyafah”. jawabnya

Menurut Amir bin Qais, seandainya tertutupnya rahasia telah terbuka, maka keyakinan akan menjadi bertambah. Menurut satu pendapat, yang dimaksud yakin adalah melihat benada yang nyata dengan kekuatan iman. Sedangkan pendapat lain menyebutkan, ayng dimaksud yakin adalah hilangnya segala hal yang bertentangan di dalam hati. Menurut Al-Junaid yang dimaksud yakin adalah hilangnya keragu-raguan di hadapan Allah SWT.

Saya (syaikh Al-Qusyairi) telah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq mnegungkapkan sabda Nabi Muhammad SAW tentang Nabi Isa bin Maryam AS, “Apabila Nabi Isa bertambah yakin, niscaya ia akan mampu berjalan di udara”. Beliau memberi petunjuk tentang hal itu terhadap keadaan Nabi Muhammad SAW sendiri yang telah mampu berjalan di malam mi’raj . di dalam kitab lathifal-Mi’raj dijelaskan, “Saya melihat Buraq sedang menunggu lantas saya berangkat”.

Syaikh Sary As-Saqathi perbah ditanya tentang yakin, beliau menjawab, “yang dimaksud yakin adalah ketenangan dirimu ketika mengelilingi jalur-jalur yang ada di dalam dadamu untuk meyakinkan bahwa gerakanmu di dalam dada tidak akan memberikan pertolongan dan tidak akan pula dapat menolak apa yang telah ditetapkan”.

Menurut Sahal bin AbduLlah, hati yang hadlir di hadapan Allah SWT lebih utama daripada yakin karena hadir ibarat tempat perlindungan sedangkan yakin ibarat pemikiran. Seakan-akan yakin dijadikan sarana untuk memulai hadlir , sedangkan hadlir merupakan kontinuitas yang abadi. Demikian juga seakan-akan hasil dari yakin diperbolehkan lepas dari hadlir dan dapat mentransfer kebolehan hadlir tanpa yakin. Oleh karena itu Imam Nawawi mengatakan, “yakin adalah musyahadah, yakni di dalam musyahadah terdapat yakin yang tidak menimbulkan keragu-raguan, kareana ia akakn disaksikan oleh orang yang tidak mempercayai tempat perlindungannya. Sedangkan menurut Abu Bakar Al-Waraq, yakin diibaratkan raja yang ada di dalam hati. Dengan yakin iman akan menjadi sempurna, dan Allah SWT akan diketahui, dan dengan akal Allah SWT akan dimengerti. Menurut Al-Junaid, para pemimpin berjalan di atas air dengan yakin, sedangkan orang yang meninggal dunia karena kehausan lebih utama keyakinannya daripada mereka.

Ibrahim Al-Khawas bercerita, “Saya bertemu seseorang pemuda di padang Tih, seakan-akan ia tampak seperti sebatang perak.

“Engkau hendak ke mana wahai pemuda ?” tanyaku.

“Hendak ke Makkah”.

“Apakah engkau berjalan tanpa membawa bekal, kendaraan dan nafkah ?”.

Dia menjawab, “Wahai orang yang lemah keyakinan, Dzat Yang mampu menjaga langit dan bumi, apakah Dia tidak akan mampu mengantarkan diriku ke Makkah tanpa ketergantungan ?”.

Ketika saya memasuki Makkah tiba-tiba saya berada di tempat tawaf, dan pemuda itu bersyair :

Wahai mataku yang terkelupas selamanya.

Wahai jiwa kematianku yang berdukacita

Jangan kau mencintai seseorang.

Kecuali Dzat Yang Maha Agung dan Mulia.


Ketiak dia melihat diriku, dia mengatakan kepadaku, “apakah engkau selalu lemah keyakinan ?”

Menurut Ishaq an-Nahr Jauri, apabila seorang hamba telah menyempurnakan hakikat yakin, maka cobaan akan menjadi kenikmatan dan kemudahan akan menjadi musibah. Menurut Abu Bakar Muhammad Al-Waraq, yakin terbagi menjadi tiga, Pertama yakin kepada kabar (yaitu ilmu yang dihasilkan dari khabar para Nabi SAW tentang sesuatu yang ghaib dari kesaksiannya berupa surga, neraka dan berbagai keadaan di hari kiyamat). Kedua yakin kepada petunjuk atau bukti (yaitu ilmu atau keyakinan yang dihasilkan dengan pemikiran yang berdasarkan dalil tentang kejadian alam, dan semuanya itu menunjukkan kebaruannya, kesempurnaan-Nya, kesempurnaan sifat-sifat-Nya, ketiga yakin kepada persaksian (ilmu).

Abu Thurab An-Nakhsyabi mengataakn, “Saya pernah emlihat seorang pemuda di padang pasir yang berjalan tanpa membawa bekal. Saya bergumam, ‘apabila pemuda itu tidak mempunyai keyakinan, maka ia akan meninggal dunia’”. Lantas saya bertanya, “Wahai pemuda, apakah di tempat seperti ini engkau tidak membawa bekal ?”.

Dia menjawab,” Wahai orang tua, angkatlah kepalamu apakah engkau emlihat selain Allah SWT ?”

Saya mengatakan, “pergilah sekehendakmu”.

Abu Said Ahmad Al-Kharaz mengatakan, yang dimaksud ilmu adalah sesuatu yang dapat memberikan pekerjaan kepadamu, sedangkan yang dimaksud yakin adalah sesuatu yang dapat mengantarkan dirimu (pada apa yang engkau harapkan).

Ibrahim AL-Khawas mengatakan, “Saya mencari penghidupan untuk mendapatkan makanan yang halal. Lantas saya berburu ikan. Suatu hari saya terjatuh ke dalam jala yang di dalamnya terdapat ikan. Ikan itu saya keluarkan dan jalanya saya lemparkan ke dalam air. Setelah itu saya terjatuh lagi ke dalam jala yang di dalamnya terdapat ikan yang lain. Ikan itu lantas saya lemparkan. Kejadian itu berulang-ulang sehingga ada suara ghaib mengatkan kepadaku, “Engkau tidak akan menemukan penghidupan kecuali engkau datang kepada orang yang ingat kepada kami lantas engkau bunuh mereka”. Setelah itu saya pecahkan kayu (alat untuk berburu) dan aku tinggalkan binatang buruan ...

Syukur




Allah SWT berfirman, “Jika kamu sekalian bersyukur, maka Aku (Allah) akan memberikan tambahan nikmat kepada kamu sekalian”.
Dari Yahya bin Ya’la dari Abu Khubab dari Atha’ diceritakan bahwa ia bertemu Aisyah RA bersama Ubaid bin Umair, lalu mengatakan, “Berikanlah kami berita tentang sesuatu yang paling mengagumkan dari RasuluLlah SAW yang pernah engkau lihat”.
Aisyah menangis lantas menjawab, “Keadaan RasuluLlah yang mana yang tidak mengagumkan ? di waktu malam Beliau datang kepadaku. Beliau masuk ke tempat tidur bersamaku sehingga kulitku bersentuhan dengan kulitnya. Beliau mengatakan, Wahahai putri Abu Bakar, tinggalkanlah diriku, saya sedang beribadah kepada Tuhanku”.
“Saya ingin lebih dekat denganmu”. Pintaku. Wanita agung ini lantas minta izin untuk mengambil gerabah air. Beliau berwudhu dan menuangkan air begitu banyak. Setelah itu RasuluLlah SAW berdiri dan mengerjakan shalat. Beliau menangis sehingga air matanya bercucuran sampai ke dadanya. Beliau ruku’, sujud, dan mengangkat kepala dan masih dalam keadaan menangis. Beliau selalu seperti itu sampai Bilal datang, kemudian menyerukan azan untuk mengerjakan shalat. Aku  bertanya kepada RasuluLlah SAW, “Ya RasuluLlah SAW, apa yang membuatmu menangis, padahal Allah SWT telah mengampuni dosamu baik yang telah lalu maupun yang akan datang ?”
Beliau menjawab, “Apakah saya tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur. Kenapa saya tidak berbuat yang demikian, sedangkan Allah SWT menurunkan kepadaku ayat :
Inna fii khalqissamaawaati……sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, perbedaan siang dan malam , kapal yang berlayar di lautan (membawa) barang yang berfaedah bagi manusia, hujan yang diturunkan dari langit, lalu dihidupkan-Nya dengan air tersebut bumi yang telah mati, berkeliaran di atasnya tiap-tiap yang melata, angin yang bertiup dan awan yang terbentang antara langit dan bumi, sesungguhnya semua itu merupakan ayat-ayat bagi orang yang berfikir. (QS Al-Baqarah 164).
Atas pandangan ini dapat   ditarik pengertian bahwa Allah SWT selalu bersyukur, artinya Allah SWT akan membalas hamba-Nya yang bersyukur. Pembalasan ini dinamakan syukur sebagaimana firman Allah SWT :
Dan pembalasan orang yang berbuat jahat adalah kejahatan yang setimpal. (QS. Asy-Syura 40)
Menurut satu pendapat, bersyukurnya Allah SWT adalah memberikan pahala atas perbuatan pelakunya sebagaimana ungkapan bahwa hewan yang bersyukur adalah hewan yang gemuk karena selalu diberi makan. Hal ini dapat dikatakan bahwasanya hakikat syukur adalah memuji yang memberikan kenikmatan dengan mengingat kebaikannya. Bersyukurnya hamba kepada Allah SWT adalah memuji-Nya dengan mengingat kebaikan-Nya. Sedangkan syukurnya Allah SWT kepada hambanya bearti Allah SWT memuji kepadanya dengan mengingat kebaikannya. Perbuatan baik hamba adalah ta’at kepada Allah SWT sedangkann perbuatan baik Allah SWT terhadap hambanya adalah memberikan kenikmatan dengan memberikan pertolongan sebagai tanda syukur. Hakikat syukur bagi hamba adalah ucapan lisan dan pengakuan hati terhadap kenikmatan yang telah diberikan oleh Tuhan.
Syukur terbagi menjadi tiga, Pertama syukur dengan lisan. Yakni mengakui kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah SWT dengan sikap merendahkan diri. Kedua, syukur dengan badan, yakni bersikap selalu sepakat dan melayani (mengabdi) kepada Allah SWT dengan konsisten menjaga keagungan-Nya. Syukur lisan adalah syukurnya orang berilmu, ini dapat direalisasikan dengan bentuk ucapan. Syukur dengan badan adalah syukurnya ahli ibadah. Ini dapat direalisasikan dengan bentuuk perbuatan. Syukur dengan hati adalah syukurnya orang ahli ma’rifat. Ini dapat direalisasikan dengan semua hal ihwal hanya untuk Allah secara konsisten.
Menurut Abu Bakar Al-Waraq, yang dimaksud mensyukuri nikmat adalah memperhatikan pemberian dan menjaga kehormatan. Menurut Hamdun Al-Qashar yang dimaksud mensyukuri nikmat adalah memperhatikan dirinya meskipun tidak diundang. Menurut Al-Junaid, yang dimaksud syukur adalah sebab, karena dia mencari dirinya yang telah memperoleh kelebihan. Dia selalu menghadap Allah SWT karena memperoleh bagian dirinya. Menurut Abu Utsman, yang dimaksud syukur adalah mengetahui kelemahan syukur itu sendiri.
Ada yang berpendapat, bahwa syukur di atas syukur adalah lebih sempurna dari syukur itu sendiri. Artinya kita harus memperhatikan syukur karena merasa telah mendapatkan pertolongan dari Allah SWT berupa kenikmatan. Kita bersyukur di atas syukur dan bersyukur di atas syukurnya syukur sampai kepada sesuatu  yang tidak ada puncaknya. Menurut yang lain, yang dimaksud syukur adalah menyandarkan berbagai kenikmatan kepada Allah SWT dengan sikap merendah diri. Menurut Al-Junaid yang dimaksud syukur adalah tidak menganggap dirinya sendiri sebagai pemilik kenikmatan. Sedangkan menurut Ruwaim, yang dimaksud syukur adalah melepaskan kemampuan, merasa semua itu adalah pemberian Allah bukan atas usahanya sendiri.
Menurut satu pendapat, yang dimaksud syakir orang yang bersyukur adalah orang yang mensyukuri sesuatu yang ada. Sedangkan  yang dimaksud syakur (orang yang ahli bersyukur) adalah orang yang ahli mensyukuri sesuatu yang tidak ada. Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri pemberian, sedangkan yang dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri penolakan. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud syakir adlah orang yang mensyukuri pencegahan. Menurut sebagian yang lain lagi, yang dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri pemberian, dan yang dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri cobaan. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri kemurahan, sedang yang dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri penangguhan.
Al-Junaid berkata, “saya bermain di depan Syaikh Sarry As-Saqathi ketika aku berumur  tujuh tahun. Di hadapannya terdapat sekelompok orang yang sedang membicarakan syukur. Dia mengatakan kepadaku, “Wahai anak kecil, apa itu syukur ?” Saya menjawab, ‘Tidak mempergunakan nikmat untuk bermaksiyat kepada Allah SWT’. Beliau mengatakan, “Lisanmu hampir saja mendapatkan bagian dari Allah SWT”. Kemudian Al-Junaid berkata, ‘saya selalu menangis apabila mengingat kata-kata yang diucapkan oleh Sariy’”.
Menurut As-Syibly, yang dimaksud syukur adalah memperhatikan Dzat yang memberikan kenikmatan, bukan kepada kenikmatan-Nya. Menurut satu pendapat, yang dimaksud syukur adalah mengatur sesuatu yang telah ada mencari sesuatu yang belum ada. Menurut Abu Utsman, yang dimaksud syukur orang awam adalah orang yang bersyukur kepada yang memberikan makanan dan pakain. Sedangkan yang dimaksud syukurnya orang khawash adalah orang yang bersyukur kepada sesuatu yang terlintas di dalam hati.
Menurut satu ungkapan, Nabi Dawud AS pernah mengatakan, “Yaa Tuhan, bagaimana saya bersyukur kepada-Mu sedangkan syukurku kepada-Mu adalah ni’mat darimu.” Maka Allah SWT menurunkan wahyu kepadanya :”Dawud sekarang Engkau telah bersyukur kepada-Ku”.
Demikian juga yang terjadi pada Nabi Musa AS ketika bermunajat kepada Allah, “Yaa Allah Engkau telah menciptakan Nabi Adam dengan kekuasaan-Mu dan berbuat demikian…demikian…. Bagaimana tentang syukurku ?” Allah SWT berfirman, “Adam mengetahui hal-hal itu dari-Ku. Oleh karena itu kema’rifatannya merupakan syukur kepada-Ku”.
Menurut satu cerita, seorang laki-laki  memasuki rumah Sahal bin AbduLlah. Dia mengadukan sesuatu kepadanya, “Sesungguhnya seorang pencuri telah memasuki rumahku dan mengambil barang daganganku.” Setelah itu pencuri mengatakan, “Bersyukurlah kepada Allah SWT. Seandainya ada pencuri memasuki hatimu, sedang ia adalah setan kemudian ia merusak tauhidmu, apa yang harus kau kerjakan ?”
Menurut satu pendapat, yang dimaksud syukur kedua mata adalah menutupi cacatnya teman yang pernah kita lihat. Sedangkan yang dimaksud syukurnya kedua telinga adalah menutupi cacatnya teman yang pernah kita dengar. Menurut yang lain, yang dimaksud syukur adalah merasa senang dengan pemberian yang belum pernah didapatkan.
Al-Junaid mengatakan, Syaikh Sariy apabila hendak menolongku dia bertanya kepadaku. Suatu hari ia bertanya kepadaku, “Wahai Abul Qasim, apa syukur itu ?”
“Jangan meminta pertolongan agar mendapatkan kenikmatan dari Allah SWT” .
“Dari mana hal itu kau peroleh ?”
“Dari tempat-tempat pengajianmu”
Menurut satu pendapat, Hasan bin Ali pernah metapkan syukur sebagai rukun. Dia juga pernah mengatakan, “Ya Tuhan Engkau telah memberikan kenikmatan kepadaku, tetapi Engkau tidak mendapati diriku sebagai orang yang bersyukur. Engkau telah memeberikan cobaan kepadaku, namun Engkau tidak mendapati diriku sebagai orang yang sabar. Engkau tidak pernah menghilangkan kenikmatan hanya disebabkan tidak adanya syukur dan Engkau tidak pernah menimpakan kesusahan disebabkan tidak adanya sabar. Ya Tuhan tiada Dzat Yang Maha Mulia kecuali kemuliaan-Mu”.
Sebagian ulama mengatakan, “apabila engkau perpendek tanganmu untuk menghindari balasan, maka panjangkanlah lisanmu dengan bersyukur”.
Menurut satu pendapat, ada empat perbuatan yang tidak menghasilkan buah. Pertama, orang tuli yang berbicara. Kedua, orang yang memberikan kenikmatan kepada orang yang tidak pernah bersyukur. Tiga, orang yang menanam biji-bijian di tanah yang keras. Ke empat, orang yang menyalakan lampu di tengah sinar matahari”.
Ketika Nabi Idris AS diberi ampunan, Beliau bertanya tentag kehidupan. Beliau kemudian balik ditanya oleh malaikat, “Untuk apa?”.
“Untuk mensyukurinya, karena sebelumnya saya tidak pernah berbuat untuk mendapatkan ampunan”.
Setelah itu Malaikat menurunkan sayapnya dan membawa Nabi Idris AS ke langit.
Dalam cerita yang lain dijelaskan salah seorang dari para Nabi menemukan batu kecil yang mengeluarkan air begitu banyak. Dia sangat mengaguminya. Maka kemudian Allah SWT memberikan kemampuan kepada batu tersebut untuk berbicara.
“Saya pernah mendengar Allah SWT berfirman, “Takutlah kepada api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan”. (QS. Al-baqarah 24).
“Saya (batu) menangis karena takut kepada Allah SWT”. Kata sang batu.
Nabi tersebut kemudian mendoakan agar Allah SWT menyelamatkan batu itu. Setelah itu Allah SWT menurunkan wahyu kepada sang Nabi, “Aku telah menyelamatkan batu itu dari api neraka”.
Sang Nabi kemudian pergi. Dan setelah kembali dia melihat air masih memancar dari batu tersebut, karenanya sang Nabi merasa heran. Allah SWT kembali memberikan kemampuan kepada batu tersebut untuk berbicara. Maka Nabi lantas bertanya, “Mengapa engkau masih menangis ?”
“Allah SWT telah mengampuniku.” Jawab sang batu.
Nabi itu kemudian berkata seraya pergi, “Yang pertama ia menangis karena berduka cita dan takut, sedangkan yang kedua ia menangis karena bersyukur dan bahagia”.
Menurut satu pendapat, yang dimaksud orang yang mensyukuri kelebihan adalah orang yang mendapatkan kenikmatan. Allah SWT berfirman, “Jika kamu bersyukur maka Aku Allah akan memberikan tambahan kepada kamu sekalian”. (QS Ibrahim 7).
Sedangkan yang dimaksud orang yang bersabar adalah orang yang mendapatkan cobaan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Anfal 46).
Sekelompok orang datang kepada Umar bin Abdul Aziz. Diantara mereka terdapat seorang pemuda yang sedang berpidato. Umar bin Abdul Aziz berkata, “Hindarilah kesombongan”.
Dijawab, “Seandainya urusan ini dikaitkan dengan umur, maka tentu diantara orang-orang Islam terdapat orang yang lebih berhak memegang jabatan khalifah,” Jawab sang pemuda.
“Bicaralah”.
“Kami bukan utusan raghbah (para pecinta) dan bukan pula termasuk rahbah (orang-orang yang takut kepada Allah). Yang dimaksud raghbah adalah orang-orang yang mendapatkan keutamaan, sedang yang dimaksud rahbah adalah orang yang mendapatkan keadilan.”
“Siapa kalian sebenarnya? “. Tanya khalifah Umar bin Abdul Aziz.
“Kami adalah utusan syukur. Kami datang ke sini untuk bersyukur dan berpaling”.
Menurut satu pendapat, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Musa AS “Kasihanilah hamba-hamba-Ku yang mendapatkan cobaan dan keselamatan”.
“Bagaimana halnya dengan orang-orang yang selamat ?” Tanya Musa AS.
“karena sedikitnya mereka bersyukur terhadap keselamatan yang telah Kuberikan .”Jawab Allah.
Menurut pendapat yang lain, memuji ditujukan kepada jiwa, sedangkan syukur ditujukan kepada kenikmatan panca indera. Menurut sebagian ulama, memuji adalah permulaan dan bersyukur adalah tebusan. Dalam hadits sahih disebutkan bahwasanya permulaan orang yang dipanggil ke surga adalah orang-orang yang memuji Allah SWT dalam segala hal. Menurut sebagian yang lain memuji Allah SWT ditujukan kepada sesuatu yang diberikan, sedangkan syukur ditujukan kepada sesuatu yang dikerjakan. ...

Tawakal




Allah SWT berfirman, “Barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Thalaq 3).
Allah SWT juga berfirman, “Hanya kepada Allah hendaklah orang-orang yang beriman mneyerahkan diri”. (QS. Ali Imran 160).
Di dalam ayat yang lain Allah SWT juga berfirman, “Hanya kepada Allah hendaklah kamu sekalian menyerahkan diri jika kamu sekalian adalah orang – orang yang beriman”.

Dari AbduLlah bin Mas’ud diceritakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Diperlihatkan kepada saya berbagaia umat yang berkumpul. Kemudian saya melihat umatku memenuhi lembah dan gunung. Mereka jumlahnya banyak dan kehebatannya mengagumkan saya. Setelah itu saya ditanya, ‘Apakah engkau rela ?’. Saya menjawab ‘ya’. Bersama mereka terdapat 70 ribu orang yang masuk surga tanpa hisab. Mereka tidak menipu, mereka tidak menghambur-hamburkan harta, dan mereka tidak mencuri. Kepada Tuhannya mereka menyerahkan diri”.
‘Ukasyah bin muhsin Al-Asadi kemudian berdiri seraya berkata, “Wahai RasuluLlah, berdoalah kepada Allah SWT agar saya dijadikan diantara mereka.”
“Yaa Allah jadikanlah ‘Ukasyah termasuk diantara mereka”. Doa RasuluLlah. Yang lainnya juga berdiri seraya mengatakan, “Berdoalah kepada Allah agar saya juga dijadikan diantara mereka”.
“’Ukasyah telah mendahuluimu”. Jawab RasuluLlah.

Abu Ali Muhammad Ar-Rudzabaari mengatakan bahwa saya peranah meminta sesuatu kepada Umar bin Sinan.
“Berceritalah kepadaku tentang Sahal bin AbdulLah,” Pintaku.
“Sahal telah mengatakan bahwa tanda orang yang bertawakal ada tiga, yaitu tidak meminta, tidak menolak, dan tidak memakan”.
Abu Musa Ad-Dubaili mengatakan tentang abu Yazid Al-Bustami yang pernah dimintai keterangan tentang tawakal.
“apa tawakal itu ?”
“Menurutmu sendiri apa ?”
“Seandainya ada hewan yang galak dan ular berbisa berada di sebelah kanan dan kiri kakimu, engkau tidak akan berubah”.
“Ya, jawabanmu mendekati benar.” Jelas Abu Yazid. “Hanya saja seandainya ahli surga diberikan kenikmatan di dalam surga dan ahli neraka disiksa di dalam neraka lantas engkau membedakan antara keduanya, maka engkau tidak termasuk kelompok orang bertawakal”.
Menurut Sahal bin AbduLlah , permulaan tempat dalam penyerahan diri kepada Allah adalah seorang hamba harus berada di hadapan Allah SWT seperti orang meninggal dunia yang berada di hadapan orang yan  memandikannya. Dia dapat membolak balik  sekehendak hatinya. Tidak ada gerakan dan tidak ada pengaturan. Menurut Hamdun Al-Qashar yang dimaksud tawakal adalah berpegang teguh kepada Allah SWT.
Seorang laki-laki bertanya kepada Hatim Al-Asham, “Dari mana engkau makan ?”. Dia menjawab dengan mengutip firman Allah, “Kepunyaan Allah perbendaharaan langit dan bumi tetapi orang-orang munafik tidak mengerti”. (QS. Al-Munafikuun 7).
Perlu diketahui bahwa tempat tawakal adalah berada di dalam hati. Gerakan yang dilakukan dengan anggota lahir tidak meniadakan tawakal yang dilakukan dengan anggota hati. Terlebih lagi seorang hamba yang menyatakan bahwa ketentuan hidup adalah semata-mata dari Allah SWT. Apabila ada sesuatu yang sulit, maka itu karena ketentuanNya. Apabila sesuatu itu relevan, maka itu karena kemudahanNya.
Anas bin Malik mengatakan, “seorang laki-laki datang keada RasuluLlah SAW dengan membawa unta, dia bertanya, “Yaa RasuluLlah apakah unta ini saya tinggalkan dan saya bertawakal ?”. Beliau menjawab, “Ikatlah dan bertawakalah”.
Menurut Ibrahim Al-Khawash, barang siapa yang tawakalnya benar terhadap dirinya sendiri, maka tawakalnya juga benar terhadap orang lain. Bisyr Al-hafi mengatakan, “Salah seorang ulama mengatakan, ‘Saya bertawakal kepada Allah SWT sedangkan orang lain berbohong kepadaNya. Seandainya ia bertawakal kepada Allah SWT, maka pasti ia rela terhadap apa ytang dikerjakan (dikehendaki) oleh Allah SWT.”
Yahya bin Muadz pernah ditanya, “Kapan seorang laki-laki dianggap tawakal ?”.
“Apabila ia rela kepada Allah SWT”.
Ibrahim AL-Khawas mengatakan, “Suatu hari saya berjalan di daerah padang pasir. Tiba-tiba ada suara menanggilku. Saya menoleh ke belakang, ternyata ada seorang arab dusun berjalan seraya mengatakan, “Ya Ibrahim, tawakal itu ada di hadapan kami. Oleh karena itu tinggalah bersama kami sehingga tawakalmu menjadi benar. Apakah engkau tidak tahu bahwa engkau sangat berharap ingin memasuki kota yang terdapat berbagai makanaan dan mengantarkanmu kepada pemukiman. Potonglah harapan untuk tinggal di kota itu dan bertawakalah”.
Ibnu Atha’ pernah ditanya tentang hakikat tawakal. Dia menjawab, Keragu-raguan tidak akan muncul dalam dirimu yang menyebabkan engkau sangat susah. Oleh karena itu engkau selalu memperoleh hakikat ketenangan menuju pada kebenaran yang engkau tempuh.”
Menurut Ibnu Nashr As-Siraj Arth-Thuusi bahwa syarat tawakal sebagaimana yang diungkapkan oleh Asbu Thurab An-Naskhsyabi adalah melepaskan anggota tubuh dalam penghambaan, mengantungkan hati dengan ketuhanan, dan bersikap merasa cukup. Apabila dia diberikan sesuatu maka ia bersyukur. Apabila tidak, maka ia bersabar. Menurut Dzunun Al-Mishri yang dimaksud tawakal adalah meninggalkan hal-hal yang diatur oleh nafsu dan melepaskan diri dari daya upaya dan kekuatan. Seorang hamba kana selalu memperkuat tawakalnya apabila megerti bahwa Allah SWT selalu mengetahui dan melihat segala sesuatu.
Abu Ja’far bin Farj mengatakan, “Saya pernah melihat seorang laki-laki yang mengetahui unta A’isyah karena ia sangat cerdik. Ia dipukul dengan cambuk. Saya bertaya kepadanya , “Dalam keadaan bagaiamana sakitnya pukulan lebih mudah diketahui ?”. Dia menjawab, Apabla kita dipukul karena dia, maka tentu dia mengetahuinya”.
Husin bin Manshur pernah bertanya kepada Ibrahim Al-Khawash, “Apa yang pernah egkau kerjakan dalam perjalanan dan meninggalkan padang pasir ?”
“Saya bertawakal dengan memperbaiki diriku sendiri”.
Husin bin Manshur mengatakan, “Apakah engkau telah melenyapkan umurmu di dalam umur bathinmu ?”
Manurut Abu Nashr As-Siraj, Ath-Thuusi yang dimaksud tawakal sebagaimana yang diungkapkan oleh Abu Bakar Ad-Daqaq adalah menolak kehidupan pada masa sekarang dan menghilangkan cita-cita pada masa yang akan datang. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Sahal bin AbdulLah bahwa yang dimaksud tawakal adalah melepaskan segala apa yag dikehendaki dengan menyandarkan diri kepada Allah SWT. Menurut Abu Ya’qub Ishaq An-Nahr Jauzi, yang dimaksud tawakal adalah menyerahkan diri kepada Allah SWT, dengan sebenarnya sebagaimana yang terjadi pada Nabi Ibrahim pada saat Allah SWT berfirman, kepada Malaikat Jibril; AS “Ibrahim telah berpisah (bercerai) denganmu. Dirinya telah hilang bersama Allah SWT oleh karena itu tidak ada yang mengetahui orang yang bersama Allah  kecuali Allah SWT”.
Dzunun Al-Mishri pernah ditanya oleh sesorang, “Apa yang dimaksud dengan tawakal. ?”
Dijawab, “Melepaskan hal-hal yang bersifat dipertuan dan meninggalkan berbagai sebab”.
“Berilah saya tambahan penjelasan.”
“Mempertemukan diri dengan hal-hal yang bersifat ibadah dan mengeluarkannya dari hal-hal yang bersifat rububiyah”.
Hamdun Al-Qashar  juga pernah ditanya tentang tawakal, dia menjawab, “Apabila engkau mempunyai sepuluh ribu dirham, maka engkau berkewajiban menanggung hutang yang jika engkau meninggal dunia, engkau tidak akan aman dari hutang yang menjadi tanggunganmu. Apabila engkau mempunyai hutang 10 dirham,dan masih belum membayar, maka engkau jangan berputus asa dan memohonlah kepada Allah SWT agar segera terlunasi. “ Begitu juga AbduLlah Al- Quraisyi pernah ditanya oleh seseorang tentang tawakal, dia menjawab, “Selalu berhubungan dengan Allah SWT dalam segala hal”. Orang itu mengatakan, ‘berilah diriku tambahan penjelasan”. Dia menjawab, “Meninggalkan segala sebab yang akan menimbulkan sebab lain, sehingga Dzat Yang Maha Pengatur dapat meluruskannya.”
Menurut Ahmad bin Isa Al-Kharaz, yang dimaksud tawakal adalah gelisah tanpa tenang dan tenang tanpa gelisah. Menurut yang lain, yang dimaksud tawakal adalah keseimbangan, baik ketika mendapatkan rejeki yang banyak maupun sedikit. Menurut Ahmad bin Masruk, yang dimaksud tawakal adalah tunduk dalam melaksanakan keputusan dan hukum. Menurut Abu Utsman Sa’id Al-Hairi yang dimaksud tawakal adalah merasa cukup terhadap apa yang diberikan Allah SWT dengan berpegang teguh kepada-Nya. Sedangkan menurut Husain bin Manshur yang dimaksud orang yang benar-benar tawakal adalah orang yang tidak makan di suatu tempat yang sebenarnya dia lebih berhak.
Umar bin Sinan mengatakn, “Ibrahim Al-Khawas ketika lewat bertemu kami, kami mengatakan, ‘ceritakanlah kepada kami sesuatu yang mengagumkan sebagaimana yag engkau lihat di dalam perjalananmu.’ Dia mengatakan, “Saya bertemu Nabi Khidir AS dia bertanya kepadaku tentang pergaulan dengan orang lain. Saya takut ketawakalanku akan menjadi rusak dengan ketenanganku. Oleh karena itu saya berpisah dengannya”. Dalam cerita yang lain disebutkan, Sahal bin AbduLlah pernah ditanya tentang tawakal, dia menjawab, ”Hati yang hidup dan selalu bersama Allah SWT tanpa ketergantungan”.
Saya (Syaikh Al Qusyairi) telah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan., “penyerahan diri kepada Allah SWT  memiliki tiga tingkat, yaitu tawakal, taslim, dan tafwidh. Orang yang bertawakal adalah orang yang merasa tenang dengan janji Allah SWT. Orang yang taslim adalah orang yang  merasa cukup dengan ilmu-Nya. Sedangkan orang yang tafwidh adalah orang yang rela dengan hukum-Nya. Oleh karena itu tawakal adalah permulaan, taslim adalah pertengahan, dan tafwidh adalah akhir”. Ustadz Abu Ali juga pernah ditanya tentang tawakal dan beliau menjawab,” makan tanpa loba”.
Yahya bin Mu’adz mengatakan, “Pakaian bulu domba ibarat kedai, pembicaraan tentang zuhud ibarat perusahaan (pekerjaan), kedatangan khalifah ibarat sesuatu yang nampak. Semua saling bergantung. “ dalam suatu cerita, seorang laki-laki datang kepada As-Syibli. Dai mengeluh karena terlalu banyak keluarga. Syibli megatakan, “pulanglah ke rumahmu,. Barang siapa yang rizkinya tidak diserahkan kepada Allah SWT, maka singkirkanlah dia darimu”.
Sahal bin AbduLlah mengatakan, “Barang siapa mencela gerakan ibadah, maka ia mencela sunah. Barang siapa mencela tawakal, maka ia mencela iman”.
Ibrahim Al-Khawas mengatakan, “Suatu hari saya berada di jalan Makkah. Saya melihat orang yag kasar.
‘Apakah engkau jin atau manusia ?’ tanyaku.
‘Saya adalah jin’
‘Engkau hendak ke mana ?’
‘Saya hendak ke Makkah’.
‘Apa engkau tidak membawa bekal ?’
‘Ya saya bepergian bersama orang yang tawakal’.
‘Apakah tawakal itu ?’
‘Berpegang teguh kepada Allah SWT.’

Ubrahim Al-Khawash selali mempertajam tawakalnya. Dia membawa jarum, benang, wadah air kecil, dan potongan kain. Dia ditanya, “Wahai Abu Ishaq, kenapa engkau membawa ini, sedangkan engkau tidak  membawa apa-apa’.
Dia menjawab, “Ini merupakan perumpamaan tawakal yang tidak akan rusak karena Allah SWT memberikan bagian kepada kita. Orang fakir hanya membawa satu pakaian. Terkadang pakaian itu robek. Apabilaia tidak membawa jarum dan benang, maka auratnya akan kelihatan dan shalatnya akan batal. Apabila ia tidak membawa wadah air kecil, maka bersucinya akan batal. Apabila engkau melihat orang fakir tanpa membawa wadah air kecil , jarum dan benang, maka perhatikanlah ketika ia shalat”.
Syaikh AL-Qusyairy berkata, “Saya pernah mendengar Syaikh Abu ALi Ad-Daqaq berkata, ‘tawakal adalah sifat orang mukmin, taslim adalah isfat para wali, dan tafwidh adalah sifat orang-orang yang bersatu dengan Allah SWT. Demikian juga , tawakal adalah sifat orang awam, taslim adalah sifat orang khawash, dan tafwidh adalah sifat orang khawashl khawas.” Oleh karena itu dia mengatakan, tawakal adalah sifat para Nabi, Taslim adalah sifat Nabi Ibrahim, dan tafwidh adalah sifat Nabi Muhammad SAW.
Abu Ja’far Al- Hadad mengatakan, “Saya pernah tinggal / hidup kurang lebih selama sepuluh tahun. Saya selalu bertawakal, bekerja di pasar setiap hari. Mengambil upah dan tidak pernah masuk WC umum. Selain itu saya selalu berkumpul orang-orang fakir di daerah Syuniziyah dan selalu memperhatikan keadaanku”.
Hasan bin Abi Sinan mengatakan, Saya telah melaksanakan empat kali haji dengan jalan kaki dan selalu bertawakal. Suatu saat kakiku tertusuk duri. Saya ingat bahwa diriiku dimaksudkan untuk bertawakal. Duri itu kemudian saya cabut dan saya masukkan ke dalam tanah kemudian saya berjalan seperti semula.” Abu Hamzah juga pernah mengatakan, “Saya merasa malu kepada Allah SWT memasuki daerah padang pasir dalam keadaan kenyang. Saya mempercayakan diriku bertawakal agar perjalananku tidak membawa bekal kenyang yang sedang saya persiapkan.”
Hamdun Al-Qashar pernah ditanya tentang tawakal, dia menjawab, “Tawakal memiliki kedudukan/derajad tinggi  yang belum pernah saya capai. Bagaimana tawakal akan dibicarakan oleh orang yang keadaan imannya belum sempurna ?”
Menurut sebagian ulama, orang yang bertawakal adalah ibarat anak kecil yang tidak megerti apa-apa. Dia hanya tinggal di tetek (susu) ibunya. Demikian juga orang yang bertawakal. Dia tidak akan medapatkan petunjuk kecuali kembali kepada Allah SWT.
Sebagian ulama mengatakan, “Saya pernah berada di daerah padang pasir. Kafilah telah datang. Saya melihat seseorang di depanku. Saya dengan segera menuju ke arah orang itu. Tiab-tiba ada seorang perempuan membawa tongkat. Dia berjalan dengan sangat memprihatinkan. Saya menduga dia adalah buta. Saya masukkan tanganku ke dalam saku dan saya mengeluarkan 20 dirham seraya mengatakan, “Ambilah dan tinggalah di sini sampai kafilah itu datang, kemudian sewalah kafilah itu. Nanti malam datanglah kepadaku agar saya mengatur  (menyelesaikan urusanmu). Dia mengatakan dengan menggunakan isyarat tanganya, ‘seperti ini keadaannya di udara’. Ternyata di telapak tangannya terdapat beberapa dinar. Dia mengatakan lagi, ‘Engkau mengambil beberapa dirham dari saku, sedang saya mengambil beberapa dinar dari Yang Maha Samar (Allah SWT)’”. 
Abu Slaiman Ad-Daraani pernah melihat seorang laki-laki di Makkah. Dia tidak memperoleh apa-apa kecuali setengah air zamzam. Kemudian hari telah berlalu, suatu hari Abu Sulaiman bertanya kepadanya, “Apakah engkau tahu bagaimmana seandainya zamzam itu berubah apa yang engkau minum?’.Orang laki-laki itu berdiri dan menghadapkan kepalanya. Dia menjawab, ‘Mudah-mudahan Allah SWT memberikan balasan kebaikan kepadamu yang telah memberikan petunjuk kepadaku. Sesungguhnya saya adalah orang yang mneyembah zamzam selama tiga hari dan itu telah berlalu”’.
Ibrahim Al-Khawash berkisah, di pertengahan jalan di Syam saya melihat seorang pemuda yang baik budi pekertinya. Dia bertanya kepada saya, “Apakah kamu mempunyai teman ?”
“Saya sedang lapar” jawab saya.
“Jika engkau lapar, saya sangat lapar” katanya.
Selama tiga hari kami bersama-sama, setelah itu kami mendapatkan jalan keluar.
“Mari kita pergi”. Ajak saya.
“Saya tidak ingin mengambil jalan tengah”.
“Wahai pemuda berhati-hatilah”.
“Wahai Ibrahim jangan sombong, sesungguhnya Allah SWT adalah Dzat Yang Maha melihat . apa hakmu dan dimana tawakalmu “. Kemudian ia melanjutkan, “Saya memperkecil tawakal untuk menghilangkan berbagai kesulitan yang menimpamu. Janganlah kau cela dirimu sendiri, kecuali kepada orang yang serba berkecukupan”.
Menurt satu pendapat, yang di maksud tawakal adalah menghilangkan keragu-raguan dan menyerahkan diri kepada Allah SWT. Dalam satu cerita disebutkan, sekelompok orang datang kepada Syaikh Junaid, mereka bertanya, “Di mana kami harus mencari rizki ?”
“Asalkan engkau tahu di manapun engkau boleh mencari rizki”
“kami memohon kepada Allah SWT mengenai hal itu”.
“Jiak kalian mengetahui bahwa Allah SWT melupakanmu maka ingatlah kepadaNya”.
“kami akan masuk rumah dan bertawakal”.
“Cobaan itu adalah kebimbangan”
“Bagaimana dengan daya upaya ?”
“Daya upaya harus ditinggalkan”. Jawab Syaikh Junaid.

Abu Sulaiman Ad-Daraani mengatakan kepada Ahmad bin Abul Hawari, “Wahai Ahmad, jalan munuju akhirat adalah banyak. Gurumu adalah orang yang mengetahui beberapa jalan itu kecuali tawakal. Oleh karena itu saya tidak pernah mencium baunya.
Menurut satu pendapat, yang dmaksud tawakal adalah menurut terhadap apa-apa yang telah diautur oleh Allah SWT dan menghindarkan diri dari apa-apa ang diatur oleh manusia. Menurut yang lain, yang dimaksud tawakal adalah hati yang sunyi dari pemikiran tentang hal-hal yang bertentangan dalam mencari rizki.
Hrist Al-Muhasibi pernah ditanya tentang tawakal, “Apaka tawakal itu akan diikuti oleh loba ?” dia menjawab, tawakal akan diikuti oleh beberapa pikiran melalui jalan karakter, tidak dirusak oleh sesuatu , dan sangat kuat untuk tidak menggantungkan diri kepada orang lain”.
Menurut satu cerita dituturkan bahwa Ahmad An-Nuri dalam keadaan lapar di padang pasir. Dia dipanggil oleh suatu suara, “Mana yang paling engkau sukai antara sebab dan cukup dan cukup itu sendiri ?” Dia menjawab, “Cukup, tidak ada yang melebihi darinya”. Setelah itu dia tidak makan selama tuju belas hari. Abu Ali Ar-Rudzabaari pernah mengatakan, “Apabila setelah lima hari tidak makan, orang fakir mengatakan, ‘saya lapar’, maka bawalah ia ke pasar dan suruhlah ia bekerja”’.
Menurut sautu ungkapan, Abu Thurab An-Nakhsyabi pernah melihat orang sufi yang mengulurkan tangannya pada buah semangka untuk dimakan setelah tiga hari ia belum mendapatkan makanan. Abu Thurab mengatakan kepadanya,”predikat tawasul tidak layak kau sandang, untuk itu pergilah ke pasar (untuk bekerja)
Abu Ya’qub Al-Atha Al Bashri bercerita : Pernah suatu kali saya datang ke tanah haram selama 10 hari. Saya dalam keadaan lemah, sedangkan nafsuku berbisik kepadaku. Setelah itu saya keluar ke padang pasir dengan maksud agar memperoleh sesuatu yang dapat menghilangkan kelamahanku.  Di sana saya melihat buah saljanah yang terbuang, kemudian saya ambil. Hatiku sangat berduka cita, seakan-akan ada orang yang mengatakan kepadaku, ‘Engkau datang selama sepuluh hari yang pada akhirnya hanyan mendapatkan bagian buah saljana itu.” Buah itu saya lemparkan dan saya masuk ke masjid kemudian saya duduk. Ternyata di masjid saya duduk berdampingan dengan seorang laki-laki non arab, dia duduk di sampingku dan meletakkan laci.
“Ini untukmu” Katanya.
“Bagaimana engkau memberikan keistimewaan kepadaku ?”
“Kami berada di tengah laut selama sepuluh hari. Saya berada di atas kapal yang hampir tenggelam. Setiap hari dari kelompok kami bernadzar, apabila Allah SWT menyelamatkan kami semua, maka kami akan memeberikan sedekah. Sedangkan saya bernadzar apabila Allah SWT menyelamatkan diriku maka saya akan memberikan sedekah dengan benda ini kepada orang yang pertama saya jumpai dari orang-orang yang berdampingan, dan engkau adalah orang pertama yang saya jumpai. “
“Bukalah”. Pintaku kepadanya. Dia lantas membukanya, di dalamnya terdapat ka’ak yang terpupuk, buah badam yang terkupas, dan gula manis yang penuh. Setelah itu saya genggam, saya pegang dengan tangan kanan dan satu genggam saya pegang dengan tangan kiri.”
“Berikanlah sisa ini kepada putera-puteramu sebagai hadiah dariku untuk mereka”. Kataku kemudian.
Setelah itu saya bergumam pada diri sendiri, “Rezekimu datang dengan mudah kepadamu sejak sepuluh hari yang engkau sendiri mencari di padang pasir”.
Abu Bakar Ar-Razi mengatakan bahwa dia berada di samping Mimsyad Ad-Dinawari.setelah itu pembicaraan tentang hutang digulirkan oleh Mimsyad. Dia mengatakan,”Saya mempunyai hutang sehingga hatiku merasa tidak tenang. Suatu saat saya bermimpi seakan-akan ada yang mengatakan “Wahai orang yang kikir, engkau telah mengambil hak kami sejumlah ini…, engkau mengambil dan kami memberi. Engkau masih belum membayarnya, baik kepada penjual sayur, penjagal maupun kepada orang lain. “
Diriwayatkan dari Banan Al-Hammal dia berkata : Saya berada di tengah jalan Makah. Saya datang dari Mesir dengan memabwa bekal. Seorang perempuan datang kepadaku seraya mengatakan, “Wahai Banan, engkau adalah tukang pikul yang sedang memikul bekal di atas punggungmu. Engkau menduga bahwa Allah SWT tidak akan memberikan rizki kepadamu. “
“Saya telah membuang bekalku dan saya tidak makan, meskipun saya memperoleh makanan sampai tiga kali”.
Setelah itu saya menemukan gelang kaki di tengah jalan. Saya bergumam pada diri sendiri, ‘Gelang ini akan saya bawa sehingga pemiliknya datang kepadaku. Apabila ia memberikan hadiah kepadaku, akan saya tolak.’
Tiba – tiba saya berjumpa dengan perempuan itu lagi.
“Engkau adalah pedagang, engkau telah mengatakan ‘Sehingga pemiliknya datang’”. Untuk itu barang ini akan saya ambil,” Setelah berkata, ia melemparkan beberapa dirham seraya mengatakan, ‘Pergunakanlah, engkau dapat memanfaatkan dirham itu menuju tempat yang dekat dari Makkah. “
Dalam irwayat lain disebutkan bahwa Banan Al-Hammal membutuhkan seorang pelayan perempuan yang dapat melayaninya.  Dia menyebarkan informasi kepada saudara-saudaranya. Mereka berkumpul dan bersepakat menetapkan harga. Mereka mengatakan bahwa suatu saat sekelompok orang akan datang dan kami akan membelinya apabila cocok. Ketika sekelompok orang itu datang, mereka sepakat untuk membeli satu pelayan perempuan.
“Perempuan ini cocok”. Guamam mereka. “Berapa harga perempuan ini ?’ Tanya mereka kepada pemiliknya.
“Pelayan perempuan ini tidak untuk dijual”.
Mereka akhirnya mendesak untuk menjual perempuan itu.
“Pelayan perempuan ini untuk Banan”. Jawab seseorang yang membawa perempuan itu. “Perempuan ini adalah hadiah dari seorang perempuan dari Samarqand. Oleh karenanya pelayan perempuan ini saya bawa untuk diberikan kepada orang yang dimaksud dan hal itu perlu saya ceritakan”. Lanjutnya.
Hasan Al-Khayyat bercerita : saya berada di samping Bisyir Al-Hafi. Suatu saat sekelompok orang datang kepadanya. Mereka memberi salam kepadanya.
“Dari mana kalian ?” tanya Bisyir
“Kami dari Syam. Kami datang ke sini untuk memberikan salam kepada tuan kemudian melaksanakan ibadah haji”.
“Mudah-mudahan Allah SWT mengampuni kalian”.
“Bisakah tuan keluar melaksanakan ibadah haji bersama kami ?” pinta mereka.
“Boleh, dengan tifga syarat, yaitu kita tidak boleh membawa sesuatu, kita tidak boleh meminta sesuatu kepada orang lain, dan apabila ada orang yang memberikan sesuatu kepada kita, kita tidak boleh menerimanya”.
“Apabila kita tidak membawa sesuatu, maka kita akan tetap baik. Apabila kita tidak meminta, maka kita pun akan tetap baik. Akan tetapi apabila kita tidak mau menerima pemberian orang lain, tentu kuta tidak akan mampu”. Jawab mereka
“Kita harus bertawakal di atas bekal haji”. Jawab Bisyir. Kemudian ia menoleh kepada Hasan Al-Khayyat seraya mengatakan, “Wahai Hasan, orang fakir terbagi menjadi tiga, Pertama orang fakir yang tidak meminta. Apabila diberi ia tidak akan menerimanya. Orang fakir ini termasuk golongan ruhaniawan. Kedua, orang fakir yang tidak meminta, apabila diberi ia akan menerimanya. Orang fakir ini akan diberikan beberapa kenikmatan dan ketenangan dihadapan Tuhan. Ketiga, orang fakir yang meminta, apabila diberi ia akan menerimanya sekedar cukup, orang fakir ini tebusannya adalah sedekah”.
Hubaib Al-Ajami pernah ditanya “Kenapa engkau meninggalkan dagangan ?”
“Saya telah menemukan penjamin seperti orang kepercayaan,” jawabnya. Menurut satu cerita, ada seorang laki-laki di perjalanan. Ia membawa roti. Dia mengatakan, “Jika saya makan maka saya akan mati”. Setelah itu Allah SWT menyerahkan urusan itu kepada malaikat. Allah SWT berfirman kepadanya, “Apabila orang itu makan, maka berilah ia rizki. Apabila ia tidak makan, maka jangan kau berikan dia rizki yang lain.” Makanan itu masih tetap utuh disamping orang tersebut sampai ia meninggal dunia.
Menurut satu pendapat, barang siapa yang terlibat di medan tafwidh (penyerahan diri secara total – di atas tawakal), maka apa yang dimaksudkan akan tercapai sebagaimana pengantin perempuan yang dibawa kepada suaminya. Perbedaan antara tadhyi’  (membinasakan diri atau sikap pasrah yang dapat menyebabkan binasa) dengan tafwidh (penyerahan diri  kepada Allah SWT) terletak pada kualitas iman dan keyakinan dalam pemasrahan diri kepada Allah SWT. Tadhyi’ di hadapan Allah SWT sangat tercela. Sedangkan tafwidh di hadapan-Nya sangat terpuji. Menurut AbduLlah bin Mubarak, barang siapa yang mengambil uang haram, maka dia bukan orang yang tawakal.
Abu Said Al-kharraz mengatakan, “saya pernah satu kali masuk di padang pasir tanpa membawa bekal. Di sana saya mendapatkan kesulitan. Setelah itu, saya melihat marhalah (tanda jarak perjalanan) dari tempat yang jauh. Saya merasa bahagia karena sudah hampir sampai. Kemudian saya berfikir bahwa diri ini menempati satu tempat yang membutuhkan orang lain. Saya tidak berani menempuh marhalah itu kecuali membawa bekal. Dalam keadaan seperti itu saya terpaksa menggali lobang di atas pasir. Di dalam lobang itu saya dapat melindungi tubuhku sampai pada dadaku. Di tengah malam penduduk mendengar suara keras “Wahai penduduk marhalah sesungguhnya  Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Penolong yang telah menahan dirinya di atas pasir ini. Oleh karenanya temuilah dia.” Setelah itu sekelompok orang datang kepadaku. Mereka mengeluarkan diriku dan membawaku ke sebuah desa”.
Abu Hamzah Al-Kharrasani mengatakan bahwa dalam satu tahun ada dua orang lewat di atas sumur.  Salah satunya mengatakan kepada yang lain, “ke sinilah, kita harus menutup sumur ini agar tidak ada orang yang terjatuh.” Mereka lalu datang dengan memabwa kayu dan tumpukan debu serta menutup atas (atap) sumur tersebut. Abu Hamzah Al-Kharrasani ingin memanggil, tetapi tidak jadi melakukannya. Lantas ia mengatakan kepada diri sendiri, “Saya hanya ingin memanggil Dzat Yang lebih dekat dari pada kedua orang tersebut”.
Selang beberapa waktu, ada sesuatu yang datang dan membuka atas (atap) sumur tersebut serta mendekatkan kakinya, seakan-akan ia mengatakan dengan suara menggerutu, “menggantunglah kepadaku”. Ia tahu bahwa suara itu keluar darinya. Setelah itu ia menggantungkan kepadanya sehingga ia dapat keluar. Ternyata sesuatu itu adalah hewan yang buas. Kemudian hewan itu pergi. Tiba-tiba ada suara mengatakan kepada Abu Hamzah, apakah seperti ini tidak lebih baik. Kami telah menyelamatkan dirimu dari kebinasaan dengan kebinasaan”. Setelah itu Abu Hamzah berjalan sambil mendendangkan syair :
Kutampakkan kepada-Mu rasa takut yang telah ku sembunyikan.
Hatiku menampakkan sesuatu yang diucapkan oleh mataku.
Rasa maluku telah melarangku dari-Mu untuk menyembunyikan keinginan.
Dan Engkau memberikan pemahaman  dengan terungkapnya sesuatu.
Engkau telah mempermudah urusanku lantas Engkau tumpahkan kedua orang yang menyaksikan kesamaranku.
Oleh karena itu.
Kelemah lembutan akan diperoleh dengan kelemah lembutan.
Engkau telah memperlihatkan diriku sesuatu yang samar.
Seakan-akan Engkau memberikan kabar kepadaku
Dengan sesuatu yang samar.
Bahwa Engkau berada dalam kebahagiaan.
Saya dapat melihat-Mu dariku.
Karena kehebatanku takut kepada-Mu.
Engkau menggembirakan diriku
Dengan lemah lembut dan cinta kasih.
Kau hidupkan orang yang cinta.
Sedangkan Engkau mencintai kematian.
Alangkah herannya hakikat kehidupan.
Yang terpaut dengan kematian.

Hudzaifah Al-Mar’asyi pernah ditanya ketika sedang melayani dan berguru kepada Ibrahim bin Adham.
“Apa yang paling mengagumkan yang pernah engkau lihat ?”
Dia menjawab bahwa beberapa hari yang lalu kami berada di jalan Makkah dan kami tidak menemukan makanan. Kami memasuki Kuffah dan tinggal di Masjid Khurrab. Setelah itu Ibrahim bin Adham melihatku seraya mengatakan “Ya Hudzaifah, saya melihatmu nampak lapar”.
“Itu hanya pandangan guru”.
“Ambilkan pena dan kertas untukku”.
Hidzaifah pergi kemudian kembali seraya menyerahkan pena dan kertas kepada Ibrahim yang langsung ditulisnya dengan kalimat, “BismiLlahiRrahmaaniRrahiim, Engkaulah Dzat yang dituju dalam segala hal dan Engkaulah Dzat yang dijadikan petunjuk dalam setiap arti”. Kemudian tulisan disambung dengan beberapa syair :
Saya adalah orang yang memuji.
Saya adalah orang yang bersyukur
Saya adalah orang yang ingat.
Saya adalah orang yang lapar.
Saya adalah orang yang kehilangan.
Saya adalah orang yang talanjang.
Terhadap yang enam itu (syair di atas)
Saya menjamin separuhnya.
Jadilah Engkau Yang menjamin separuhnya lagi.
Wahai Dzat Pencipta.
Memuji kepada selain-Mu.
Adalah jilatan api neraka.
Yang telah Kau panaskan.
Selamatkanlah orang yang selalu menyembah-Mu.
Dari masuk neraka.
Neraka di sampingku.
Seperti sebuah pertanyaan.
Apakah Engkau tahu
Bahwa Engkau tidak memaksaku masuk neraka.

Setelah itu Ibrahim memberikan ruq’ah (semacam bungkusan berisi uang logam atau papan tulis) kepada Hudzaifah. Dia mengatakan, “Keluarlah, hatimu jangan kau gantungkan kepada selain Allah SWT. Dan berikanlah ini kepada orang yang pertama yang engkau jumpai.”
Hudzaifah merasa bahagia atas peristiwa tersebut. Orang  pertama yang ia jumpai adalah orang yang berada di atas keledai. Ia berikan ruq’ah itu kepadanya. Orang itu mengambilnya lantas menangis. Ia bertanya kepada Hudzaifah, “Apa yang sedang dikerjakan oleh pemilik ruq’ah ini “”
“Dia berada di Masjid Fulani”.
Orang itu memberikan kantong kepada Hudzaifah yang berisi enam ratus dinar. Setelah itu Hudzaifah berjumpa dengan laki-laki lain dan bertanya, “Siapapemilik keledai ini ?” tanya Hudzaifah
“Orang nasrani”. Jawabnya.
Lantas Hudzaifah mendatangi Ibrahim bin Adham. Ia  menceritakan kejadian tersebut. Ibrahim lalu berpesan, “Jangan kau sentuh keledai itu. Sebentar lagi orangnya akan datang”.
Selang beberapa waktu orang nasrani itu datang sambil menundukkan kepalanya. Ia menghadap Ibrahim lalu duduk bersimpuh di hadapannya dan menyatakan keislamannya.


Syukur

Allah SWT berfirman, “Jika kamu sekalian bersyukur, maka Aku (Allah) akan memberikan tambahan nikmat kepada kamu sekalian”.
Dari Yahya bin Ya’la dari Abu Khubab dari Atha’ diceritakan bahwa ia bertemu Aisyah RA bersama Ubaid bin Umair, lalu mengatakan, “Berikanlah kami berita tentang sesuatu yang paling mengagumkan dari RasuluLlah SAW yang pernah engkau lihat”.
Aisyah menangis lantas menjawab, “Keadaan RasuluLlah yang mana yang tidak mengagumkan ? di waktu malam Beliau datang kepadaku. Beliau masuk ke tempat tidur bersamaku sehingga kulitku bersentuhan dengan kulitnya. Beliau mengatakan, Wahahai putri Abu Bakar, tinggalkanlah diriku, saya sedang beribadah kepada Tuhanku”.
“Saya ingin lebih dekat denganmu”. Pintaku. Wanita agung ini lantas minta izin untuk mengambil gerabah air. Beliau berwudhu dan menuangkan air begitu banyak. Setelah itu RasuluLlah SAW berdiri dan mengerjakan shalat. Beliau menangis sehingga air matanya bercucuran sampai ke dadanya. Beliau ruku’, sujud, dan mengangkat kepala dan masih dalam keadaan menangis. Beliau selalu seperti itu sampai Bilal datang, kemudian menyerukan azan untuk mengerjakan shalat. Aku  bertanya kepada RasuluLlah SAW, “Ya RasuluLlah SAW, apa yang membuatmu menangis, padahal Allah SWT telah mengampuni dosamu baik yang telah lalu maupun yang akan datang ?”
Beliau menjawab, “Apakah saya tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur. Kenapa saya tidak berbuat yang demikian, sedangkan Allah SWT menurunkan kepadaku ayat :
Inna fii khalqissamaawaati……sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, perbedaan siang dan malam , kapal yang berlayar di lautan (membawa) barang yang berfaedah bagi manusia, hujan yang diturunkan dari langit, lalu dihidupkan-Nya dengan air tersebut bumi yang telah mati, berkeliaran di atasnya tiap-tiap yang melata, angin yang bertiup dan awan yang terbentang antara langit dan bumi, sesungguhnya semua itu merupakan ayat-ayat bagi orang yang berfikir. (QS Al-Baqarah 164).

Atas pandangan ini dapat   ditarik pengertian bahwa Allah SWT selalu bersyukur, artinya Allah SWT akan membalas hamba-Nya yang bersyukur. Pembalasan ini dinamakan syukur sebagaimana firman Allah SWT :
Dan pembalasan orang yang berbuat jahat adalah kejahatan yang setimpal. (QS. Asy-Syura 40)
Menurut satu pendapat, bersyukurnya Allah SWT adalah memberikan pahala atas perbuatan pelakunya sebagaimana ungkapan bahwa hewan yang bersyukur adalah hewan yang gemuk karena selalu diberi makan. Hal ini dapat dikatakan bahwasanya hakikat syukur adalah memuji yang memberikan kenikmatan dengan mengingat kebaikannya. Bersyukurnya hamba kepada Allah SWT adalah memuji-Nya dengan mengingat kebaikan-Nya. Sedangkan syukurnya Allah SWT kepada hambanya bearti Allah SWT memuji kepadanya dengan mengingat kebaikannya. Perbuatan baik hamba adalah ta’at kepada Allah SWT sedangkann perbuatan baik Allah SWT terhadap hambanya adalah memberikan kenikmatan dengan memberikan pertolongan sebagai tanda syukur. Hakikat syukur bagi hamba adalah ucapan lisan dan pengakuan hati terhadap kenikmatan yang telah diberikan oleh Tuhan.
Syukur terbagi menjadi tiga, Pertama syukur dengan lisan. Yakni mengakui kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah SWT dengan sikap merendahkan diri. Kedua, syukur dengan badan, yakni bersikap selalu sepakat dan melayani (mengabdi) kepada Allah SWT dengan konsisten menjaga keagungan-Nya. Syukur lisan adalah syukurnya orang berilmu, ini dapat direalisasikan dengan bentuk ucapan. Syukur dengan badan adalah syukurnya ahli ibadah. Ini dapat direalisasikan dengan bentuuk perbuatan. Syukur dengan hati adalah syukurnya orang ahli ma’rifat. Ini dapat direalisasikan dengan semua hal ihwal hanya untuk Allah secara konsisten.
Menurut Abu Bakar Al-Waraq, yang dimaksud mensyukuri nikmat adalah memperhatikan pemberian dan menjaga kehormatan. Menurut Hamdun Al-Qashar yang dimaksud mensyukuri nikmat adalah memperhatikan dirinya meskipun tidak diundang. Menurut Al-Junaid, yang dimaksud syukur adalah sebab, karena dia mencari dirinya yang telah memperoleh kelebihan. Dia selalu menghadap Allah SWT karena memperoleh bagian dirinya. Menurut Abu Utsman, yang dimaksud syukur adalah mengetahui kelemahan syukur itu sendiri.
Ada yang berpendapat, bahwa syukur di atas syukur adalah lebih sempurna dari syukur itu sendiri. Artinya kita harus memperhatikan syukur karena merasa telah mendapatkan pertolongan dari Allah SWT berupa kenikmatan. Kita bersyukur di atas syukur dan bersyukur di atas syukurnya syukur sampai kepada sesuatu  yang tidak ada puncaknya. Menurut yang lain, yang dimaksud syukur adalah menyandarkan berbagai kenikmatan kepada Allah SWT dengan sikap merendah diri. Menurut Al-Junaid yang dimaksud syukur adalah tidak menganggap dirinya sendiri sebagai pemilik kenikmatan. Sedangkan menurut Ruwaim, yang dimaksud syukur adalah melepaskan kemampuan, merasa semua itu adalah pemberian Allah bukan atas usahanya sendiri.
Menurut satu pendapat, yang dimaksud syakir orang yang bersyukur adalah orang yang mensyukuri sesuatu yang ada. Sedangkan  yang dimaksud syakur (orang yang ahli bersyukur) adalah orang yang ahli mensyukuri sesuatu yang tidak ada. Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri pemberian, sedangkan yang dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri penolakan. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud syakir adlah orang yang mensyukuri pencegahan. Menurut sebagian yang lain lagi, yang dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri pemberian, dan yang dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri cobaan. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri kemurahan, sedang yang dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri penangguhan.
Al-Junaid berkata, “saya bermain di depan Syaikh Sarry As-Saqathi ketika aku berumur  tujuh tahun. Di hadapannya terdapat sekelompok orang yang sedang membicarakan syukur. Dia mengatakan kepadaku, “Wahai anak kecil, apa itu syukur ?” Saya menjawab, ‘Tidak mempergunakan nikmat untuk bermaksiyat kepada Allah SWT’. Beliau mengatakan, “Lisanmu hampir saja mendapatkan bagian dari Allah SWT”. Kemudian Al-Junaid berkata, ‘saya selalu menangis apabila mengingat kata-kata yang diucapkan oleh Sariy’”.
Menurut As-Syibly, yang dimaksud syukur adalah memperhatikan Dzat yang memberikan kenikmatan, bukan kepada kenikmatan-Nya. Menurut satu pendapat, yang dimaksud syukur adalah mengatur sesuatu yang telah ada mencari sesuatu yang belum ada. Menurut Abu Utsman, yang dimaksud syukur orang awam adalah orang yang bersyukur kepada yang memberikan makanan dan pakain. Sedangkan yang dimaksud syukurnya orang khawash adalah orang yang bersyukur kepada sesuatu yang terlintas di dalam hati.
Menurut satu ungkapan, Nabi Dawud AS pernah mengatakan, “Yaa Tuhan, bagaimana saya bersyukur kepada-Mu sedangkan syukurku kepada-Mu adalah ni’mat darimu.” Maka Allah SWT menurunkan wahyu kepadanya :”Dawud sekarang Engkau telah bersyukur kepada-Ku”.
Demikian juga yang terjadi pada Nabi Musa AS ketika bermunajat kepada Allah, “Yaa Allah Engkau telah menciptakan Nabi Adam dengan kekuasaan-Mu dan berbuat demikian…demikian…. Bagaimana tentang syukurku ?” Allah SWT berfirman, “Adam mengetahui hal-hal itu dari-Ku. Oleh karena itu kema’rifatannya merupakan syukur kepada-Ku”.
Menurut satu cerita, seorang laki-laki  memasuki rumah Sahal bin AbduLlah. Dia mengadukan sesuatu kepadanya, “Sesungguhnya seorang pencuri telah memasuki rumahku dan mengambil barang daganganku.” Setelah itu pencuri mengatakan, “Bersyukurlah kepada Allah SWT. Seandainya ada pencuri memasuki hatimu, sedang ia adalah setan kemudian ia merusak tauhidmu, apa yang harus kau kerjakan ?”
Menurut satu pendapat, yang dimaksud syukur kedua mata adalah menutupi cacatnya teman yang pernah kita lihat. Sedangkan yang dimaksud syukurnya kedua telinga adalah menutupi cacatnya teman yang pernah kita dengar. Menurut yang lain, yang dimaksud syukur adalah merasa senang dengan pemberian yang belum pernah didapatkan.
Al-Junaid mengatakan, Syaikh Sariy apabila hendak menolongku dia bertanya kepadaku. Suatu hari ia bertanya kepadaku, “Wahai Abul Qasim, apa syukur itu ?”
“Jangan meminta pertolongan agar mendapatkan kenikmatan dari Allah SWT” .
“Dari mana hal itu kau peroleh ?”
“Dari tempat-tempat pengajianmu”
Menurut satu pendapat, Hasan bin Ali pernah metapkan syukur sebagai rukun. Dia juga pernah mengatakan, “Ya Tuhan Engkau telah memberikan kenikmatan kepadaku, tetapi Engkau tidak mendapati diriku sebagai orang yang bersyukur. Engkau telah memeberikan cobaan kepadaku, namun Engkau tidak mendapati diriku sebagai orang yang sabar. Engkau tidak pernah menghilangkan kenikmatan hanya disebabkan tidak adanya syukur dan Engkau tidak pernah menimpakan kesusahan disebabkan tidak adanya sabar. Ya Tuhan tiada Dzat Yang Maha Mulia kecuali kemuliaan-Mu”.
Sebagian ulama mengatakan, “apabila engkau perpendek tanganmu untuk menghindari balasan, maka panjangkanlah lisanmu dengan bersyukur”.
Menurut satu pendapat, ada empat perbuatan yang tidak menghasilkan buah. Pertama, orang tuli yang berbicara. Kedua, orang yang memberikan kenikmatan kepada orang yang tidak pernah bersyukur. Tiga, orang yang menanam biji-bijian di tanah yang keras. Ke empat, orang yang menyalakan lampu di tengah sinar matahari”.
Ketika Nabi Idris AS diberi ampunan, Beliau bertanya tentag kehidupan. Beliau kemudian balik ditanya oleh malaikat, “Untuk apa?”.
“Untuk mensyukurinya, karena sebelumnya saya tidak pernah berbuat untuk mendapatkan ampunan”.
Setelah itu Malaikat menurunkan sayapnya dan membawa Nabi Idris AS ke langit.
Dalam cerita yang lain dijelaskan salah seorang dari para Nabi menemukan batu kecil yang mengeluarkan air begitu banyak. Dia sangat mengaguminya. Maka kemudian Allah SWT memberikan kemampuan kepada batu tersebut untuk berbicara.
“Saya pernah mendengar Allah SWT berfirman, “Takutlah kepada api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan”. (QS. Al-baqarah 24).
“Saya (batu) menangis karena takut kepada Allah SWT”. Kata sang batu.
Nabi tersebut kemudian mendoakan agar Allah SWT menyelamatkan batu itu. Setelah itu Allah SWT menurunkan wahyu kepada sang Nabi, “Aku telah menyelamatkan batu itu dari api neraka”.
Sang Nabi kemudian pergi. Dan setelah kembali dia melihat air masih memancar dari batu tersebut, karenanya sang Nabi merasa heran. Allah SWT kembali memberikan kemampuan kepada batu tersebut untuk berbicara. Maka Nabi lantas bertanya, “Mengapa engkau masih menangis ?”
“Allah SWT telah mengampuniku.” Jawab sang batu.
Nabi itu kemudian berkata seraya pergi, “Yang pertama ia menangis karena berduka cita dan takut, sedangkan yang kedua ia menangis karena bersyukur dan bahagia”.
Menurut satu pendapat, yang dimaksud orang yang mensyukuri kelebihan adalah orang yang mendapatkan kenikmatan. Allah SWT berfirman, “Jika kamu bersyukur maka Aku Allah akan memberikan tambahan kepada kamu sekalian”. (QS Ibrahim 7).
Sedangkan yang dimaksud orang yang bersabar adalah orang yang mendapatkan cobaan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Anfal 46).
Sekelompok orang datang kepada Umar bin Abdul Aziz. Diantara mereka terdapat seorang pemuda yang sedang berpidato. Umar bin Abdul Aziz berkata, “Hindarilah kesombongan”.
Dijawab, “Seandainya urusan ini dikaitkan dengan umur, maka tentu diantara orang-orang Islam terdapat orang yang lebih berhak memegang jabatan khalifah,” Jawab sang pemuda.
“Bicaralah”.
“Kami bukan utusan raghbah (para pecinta) dan bukan pula termasuk rahbah (orang-orang yang takut kepada Allah). Yang dimaksud raghbah adalah orang-orang yang mendapatkan keutamaan, sedang yang dimaksud rahbah adalah orang yang mendapatkan keadilan.”
“Siapa kalian sebenarnya? “. Tanya khalifah Umar bin Abdul Aziz.
“Kami adalah utusan syukur. Kami datang ke sini untuk bersyukur dan berpaling”.

Menurut satu pendapat, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Musa AS “Kasihanilah hamba-hamba-Ku yang mendapatkan cobaan dan keselamatan”.
“Bagaimana halnya dengan orang-orang yang selamat ?” Tanya Musa AS.
“karena sedikitnya mereka bersyukur terhadap keselamatan yang telah Kuberikan .”Jawab Allah.
Menurut pendapat yang lain, memuji ditujukan kepada jiwa, sedangkan syukur ditujukan kepada kenikmatan panca indera. Menurut sebagian ulama, memuji adalah permulaan dan bersyukur adalah tebusan. Dalam hadits sahih disebutkan bahwasanya permulaan orang yang dipanggil ke surga adalah orang-orang yang memuji Allah SWT dalam segala hal. Menurut sebagian yang lain memuji Allah SWT ditujukan kepada sesuatu yang diberikan, sedangkan syukur ditujukan kepada sesuatu yang dikerjakan.
...

Template by - Abdul Munir - 2008