Kamis, 19 November 2009

Tiada keraguan terhadap janji Allah


bayt2.jpg

JANGAN SAMPAI MEMBUATMU RAGU TERHADAP JANJI ALLAH Yang dijanjikan kepadamu oleh Tuhanmu melalui mimpi dalam tidurmu, atau melalui kalam Malaikat atau melalui ilham APABILA TIDAK TERWUJUD APA YANG TELAH DIJANJIKAN, MESKIPUN TELAH JELAS DITETAPKAN WAKTUNYA (OLEH ALLAH), SUPAYA KERAGUAN ITU TIDAK MERUSAKKAN MATA HATI KAMU DAN TIDAK MEMADAMKAN CAHAYA SIR (RAHSIA ATAU BATIN) KAMU.


Apabila seseorang telah dijanjikan sesuatu oleh Tuhannya dan telah dijelaskan pula waktu datangnya janji tersebut, kemudian janji itu tidak terjadi sesuai dengan yang ia ketahui, maka jangan sampai hal yang demikian ini menyebabkan keraguan terhadap janji Tuhan. Bisa jadi terwujudnya janji tersebut masih bergantung dengan beberapa sebab dan beberapa syarat menurut hikmah, ilmu, dan kehendak serta pilihan Allah. Dan hal seperti ini yang dialami sebagian aulia yang mendapatkan berita bahwa akan terjadi sesuatu pada tahun ini. Kemudian hal tersebut tidak terjadi. Maka keadaan ini tetap tidak menyebabkan keraguan dan tetap yakin akan terjadinya apa yang dijanjikan, akan tetapi disikapi dengan meneliti keadaan dirinya dan semakin meningkatkan adab di hadapan Tuhannya, dan hatinya tetap mantap dengan janji itu dan tidak meraguinya. Demikian pula tidak goyah i’tikadnya . oleh karena itu barang siapa yang mampu bersikap demikian, sesungguhnya ia telah ‘aarifun biLlah (mengerti Tuhannya), selamat bashirahnya, bersinar sirrnya. Apabila tidak, maka keadannya adalah sebaliknya. Al-Haqq SWT tidaklah mengingkari janji. Maka seharusnya bagi seorang hamba mengetahui posisi dan keadaan dirinya serta ber adab di hadapan Tuhannya dan hatinya tetap mantap dan tenang dengan janji Allah serta tidak ragu-ragu sedikitpun.

...

Tiada doa yang tertolak


لاتكن تأخر امد العطاء مع الالحاح فى الدعاء موجبا ليأسك فهو ضمن لك الاجابة فيما يختار لك لافيما تختار لنفسك, فى الوقت الذى يريد لافي الوقت الذى تريد
JANGANLAH KARANA KELAMBATAN MASA PEMBERIAN TUHAN KEPADA KAMU, PADAHAL KAMU TELAH BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM BERDOA, MEMBUAT KAMU BERPUTUS ASA, SEBAB الله MENJAMIN UNTUK MENERIMA SEMUA DOA, MENURUT APA YANG DIPILIH-NYA UNTUK KAMU, TIDAK MENURUT KEHENDAK KAMU, DAN PADA WAKTU YANG DITENTUKAN-NYA, TIDAK PADA WAKTU YANG KAMU TENTUKAN.
Hukum yang berlaku bagi seorang hamba adalah jika ia tidak menentukan pilihan untuk dirinya dan tidak menentukan suatu keadaan dari beberapa keadaan yang ia anggap baik bagi dirinya di hadapan Tuhannya, karena pada hakekatnya ia sama sekali tidak mengetahui apa yang baik bagi dirinya di hadapan Tuhannya. Terkadang ia membenci sesuatu padahal itu baik baginya. Dan terkadang ia mencintai sesuatu padahal itu buruk baginya.
Telah berkata Sayyidy Syaikh Aby’l Hasan Asy-Syadzily RA , “Janganlah engkau memilih sesuatu dalam hal urusanmu, dan memilihlah untuk tidak memilih. Dan larilah dari pilihan itu dan dari larimu dari pilihan itu kepada الله Azza WaJalla. Dan Tuhanmu telah menciptakan segala sesuatu dan memilihnya.
Telah datang seseorang menghadap Syaikh Abu’l Abbas Al-Mursy RA dan pada saat itu beliau sedang mengalami kesakitan. Maka berkatalah orang tersebut, “Semoga الله menyembuhkanmu wahai tuanku.” Namun Syaikh Abu’l Abbas hanya diam saja dan tidak menjawab. Kemudian untuk beberapa saat orang itu diam. Kemudian orang itu berkata lagi, “Semoga الله memberikan kesentosaan kepada engkau wahai tuanku”. Maka berkatalah Syaikh Abu’l Abbas, ‘Adapun engkau memintakan kepadaku sesentosaan, sesungguhnya aku telah memintanya. Dan keadaan apa yang ada padaku sekarang ini adalah termasuk kesentosaan. Demikianlah RasuluLlah SAW telah meminta keselamatan kepada الله Ta’ala kemudian beliaupun mengalami cedera pada perang khaibar. Dan Sayyidina abu Bakar Ash-Shiddiq RA telah meminta keselamatan kepada الله Ta’ala dan sesudah itu beliau meninggal karena diracun. Dan Sayyidina ‘Umar RA telah meminta keselamatan kepada الله Ta’ala dan setelah itu beliau meninggal karena Tha’un. Dan Sayyidina Utsman RA telah meminta kepada الله Ta’ala keselamatan, namun setelah itu beliau meninggal dalam keadaan tersembelih. Dan Sayyidina ‘Aly RA telah memohon kepada الله Ta’ala keselamatan, dan setelah itu beliau meninggal karena dibunuh. Apabila engkau memohon kepada الله Ta’ala kesentosaan, maka memohonlah kepadanya sekiranya menurut-Nya itu adalah kesentosaan bagimu.
Maka wajib bagi seorang hamba untuk menyerahkan dirinya kepada Tuhannya dengan anggapan bahwa semua kebaikan adalah apa yang dipilihkan untuknya meskipun terkadang pilihan itu tidak sesuai dengan kehendak diri dan hawa nafsunya. Oleh karena itu apabila ia meminta sesuatu yang baik kepada الله Ta’ala maka ia yakin bahwa doanya pasti terijabah. Sebagaimana firman الله Ta’ala,”Telah berkata Tuhanmu, ‘Mintalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan untukmu’”. Dan telah berfirman pula الله Ta’ala, “Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka katakanlah sesungguhnya Aku itu dekat, Aku mengabulkan permintaan orang yang berdoa apabila ia berdoa”
Hadits diriwayatkan dari sahabat Jabir RA berkata, “Aku mendengar RasuluLlah SAW bersabda, ‘Tiada seorang hamba yang berdoa kepada الله Ta’ala melainkan الله Ta’ala memberikan apa yang ia minta, atau dihindarkan dari kejahatan yang sebanding dengan permintaan itu selagi ia tidak meminta suatu perbuatan dosa atau memutuskan silaturahmi”.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik dari RasuluLlah SAW beliau bersabda, “Tiada seorang pun yang berdoa melainkan di kabulkan, atau dihindarkan dari keburukan yang sepadan dengan doanya atau dihilangkan dosanya yang nilainya sepadan dengan apa yang ia minta selagi tidak meminta keburukan atau memutuskan silaturahmi”.
Dengan demikian, terkabulnya doa adalah suatu yang pasti bagi setiap pendo’a sebagaimana janji الله Ta’ala. Adapun bentuknya adalah terserah الله Ta’ala demikian pula waktu keterkabulannya. Dan terkadang tercegahnya pemberian dan tertundanya pemberian adalah merupakan bentuk ijabah dari الله Ta’ala bagi orang yang faham terhadap الله Ta’ala. Maka jadilah hamba itu tidak berputus asa dari kemurahan الله Ta’ala. Apabila ia melihat pencegahan dari الله atau tertundanya pemberian meskipun ia telah bersungguh-sungguh dalam berdoa maka terkadang pemberian itu ditunda untuk diberikan di akhirat kelak dan itu lebih baik baginya. Dan telah datang penjelasan dalam khabar bahwa seorang hamba dibangkitkan pada hari kiyamat kemudian الله Ta’ala berfirman kepadanya, Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu untuk menyampaikan semua hajatmu kepada-Ku ?” maka hamba itu menjawab “Ya, aku telah menyerahkan segala permohonanku kepada-Mu”. Maka berfirmanlah الله Ta’ala, “Tiada sesuatupun yang engkau minta melainkan Aku Ijabah untukmu. Akan tetapi Aku berikan sebagian ketika di dunia dan sebagian lagi tidak aku berikan di dunia namun Aku simpan untukmu di akhirat. Maka sekarang ambilah…..” sehingga hamba itu berkata, “Aduhai seandainya tidak diberikan kepadaku di dunia semua permintaanku”.
Dan sungguh telah datang penjelasan dari RasuluLlah SAW tentang arti cegahan الله dari keterkabulan dengan segera di dalam doa dalam sabda beliau SAW, “Akan di ijabah bagi kamu sekalian selagi tidak tergesa-gesa dan ia berkata aku telah berdo’a akan tetapi tidak di ijabah.”
Telah berdoa Musa dan Harun AS atas kekejaman fir’aun ketika mereka berdoa”. Wahai Tuhanku, hancurkanlah harta benda mereka, dan tutuplah hati mereka sehingga mereka tidak akan beriman kepada-Mu hingga mereka melihat adzab yang pedih”. Kemudian الله Ta’ala memberitahu kepada mereka berdua bahwa الله Ta’ala telah mengabulkan doanya dengan firman-Nya,”Sungguh telah Aku kabulkan doa kamu berdua maka beriastiqamahlah kalian berdua dan janganlah engkau ikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui”. Mereka (para ulama) berkata bahwa waktu antara firman الله Ta’ala Sungguh telah Aku kabulkan... dengan binasanya fir’aun adalah 40 tahun.
Telah berkaa Sayyid Aby’l Hasan Asy-Syadzily RA tentang firman الله Ta’ala “Dan beristiqamahlah kamu berdua” artinya adalah jangan tergesa-gesa atas apa yang engkau pinta dan janganlah engkau ikuti jalan orang yang tidak mengetahui. Mereka itu adalah orang yang tergesa-gesa di dalam doa. Dan yang demikian ini dapat menghalangimu dari mendapatkan kemuliaan dan pahala dari الله Ta’ala dari sebab terus menerusnya berdoa seperti mahabbah kepada الله Ta’ala dan ridha kepada-Nya. Dan sungguh telah diriwayatkan dari RasuluLlah SAW bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya الله Ta’ala mencintai orang yang bersungguh-sungguh di dalam doanya” . dan telah datang penjelasan di dalam hadits, bahwa JIbril AS berkata, “Wahai Tuhanku hamba-Mu Fulan telah berdoa maka kabulkanlah doanya. Maka berfirman الله Ta’ala, “Biarkanlah ia, sesungguhnya Aku sengang mendengarkan suara doanya”. Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik RA dari RasuliLlah SAW. Dan sesuai dengan kondisi ini adalah penjelasan bahwa sebagian manusia ada yang disegerakan الله Ta’ala dalam mendapatkan apa yang ia pinta karena الله Ta’ala membenci suaranya ketika berdoa.
Telah berkata Abu Muhammad Abdul Aziz Al-Mahdawy RA, “Barang siapa yang di dalam doanya tidak meninggalkan pilihannya dan tidak ridho dengan pilihan tuhannya, maka pada hakekatnya itu adalah istidraj dan ia termasuk orang yang telah dikatakan, “Penuhilah hajatnya karena Aku tidak suka mendengarkan suaranya”. Akan tetapi apabila di dalam doanya disertai berserah diri dengan pilihan الله Ta’ala bukan pilihan hawa nafsunya maka sesungguhnya ia telah terijabah meskipun ia belum diberi.


Sumber : Kitab Syarah al-Hikam
Jika berkenan silahkan mengcopy untuk di upload dengan mencantumkan/membuat link ke www.manakib.wordpress.com
...

Sebagian tanda Kebutaan Mata Hati

(KESUNGGUHAN KAMU UNTUK MEMPEROLEH APA YANG TELAH DIJAMIN الله UNTUKMU) Yaitu segala sesuatu yang telah الله tanggung seperti rizki sebagai kemurahan الله dan kebaikan-Nya, sebagaimana firman الله “Dan berapa banyak segala yang melata di atas bumi tidak membawa rizkinya. الله lah yang memberi rizki kepada mereka, demikian pula rizkimu…” SEDANGKAN KAMU LALAI TERHADAP KEWAJIPAN YANG DIAMANATKAN KEPADAMU) yaitu beberapa amalan ibadah yang menyebabkan kamu sampai kepada-Nya seperti beberapa bacaan dzikir dan shalawat dan lain-lain dari bermacam-macam keta’atan sebagai mana firman الله “Dan tidaklah Aku jadikan Jin dan Manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku. ( yang demikian ini MENUNJUKKAN KEBUTAAN MATA HATIMU).
Sesuatu yang telah ditanggung الله bagi hambanya adalah rizki yang dengan rizki tersebut hamba الله dapat mempertahankan eksistensinya untuk hidup di dunia. Dan arti pertanggungan الله dalam hal rizki hamba-Nya adalah bahwa الله menjamin rizki untuk kelangsungan hidup hamba-Nya dan الله menghendaki hamba tersebut hatinya menjadi lapang serta tidak menanggung beban berat dalam mencarinya, atau hati menjadi susah karenanya. Adapun yang dituntut oleh الله atas hambanya adalah amal ibadah agar hamba tersebut dapat sampai kepada kebahagiaan di akhirat dan dekat dengan الله Ta’ala. Dan yang dimaksudkan ibadah sebagai tuntutan dari الله adalah bahwasanya serangkaian keta’atan tersebut menjadi beban yang harus dilakukan oleh hamba secara bersungguh-sungguh sebagaimana telah diatur dalam syari’at mengenai sebab dan waktunya dan lain sebagainya. Pada sebagian atsar diterangkan firman الله Ta’ala “Wahai hambaKu ta’atlah kepadaKu dan janganlah engkau mengaturKu untuk hal kebaikanmu”.
Telah berkata Ibrahim Al-Khawash, “Ilmu itu kesemuanya terdapat dalam dua kalimat yaitu ‘Jangan engkau bebani diri dengan sesuatu yang telah dijamin, dan jangan sia-siakan sesuatu yang diwajibkan. Oleh karena itu barang siapa yang telah mampu menempati keadaan ini (yaitu bersungguh-sungguh dalam menjalankan kewajiban dan melapangkan hati terhadap sesuatu yang telah ditanggung الله Ta’ala) maka sungguh telah terbukalah mata hatinya dan telah bersinarlah nuurul Haq / cahaya kebenaran di dalam hatinya dan telah berhasilah ia mencapai puncak tujuan. Akan tetapi bagi yang sebaliknya, maka sengguh telah kabur dan butalah mata hatinya.
Adapun pengarang kitab ini rahimahuLlah memberikan istilah Ijtihad (bersungguh-sungguh), hal ini memberikan isyarah bahwa mencari rizki secara wajar dan tidak memforsir diri hanya untuk tujuan duniawi semata adalah tidak terecela dan mubah hukumnya, dan bukan termasuk perkara yang dapat mengeruhkan mata hati. Telah disebutkan dalam kitab Tanwirul Qulub, perihal firman الله Ta’ala, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk melakukan shalat, dan bersungguhlah dalam mengerjakannya. Sesungguhnya Aku tidak meminta rizki darimu akan tetapi Aku lah yang memberimu rizki” Maksud ayat ini adalah “Laksanakanlah pelayanan kepadaKu maka Aku akan melaksanakan pembagian rizki dariKu –Qum bikhidzmatiNa, wa Nahnu Naquumu laka biqismatiNaa.” Di sini terdapat dua perkara, yaitu perkara yang telah dijamin/ditanggung الله maka janganlah engkau sedih karenanya, dan perkara tuntutan الله kepadamu maka jangan di sia-siakan. Oleh karena itu barang siapa yang bersungguh-sungguh atas sesuatu yang telah dijamin sementara ia melalaikan sesuatu yang diwajibkan, maka tampak jelaslah kebodohannya, dan telah meluaslah kelalaiannya.
Bukankah kita telah melihat bahwa الله telah memberi rizki kepada orang yang durhaka kepada-Nya, maka bagaimana mungkin الله tidak memberi rizki kepada hambanya yang ta’at. Jikalau الله telah mengalirkan rizki-Nya kepada orang yang ingkar / kufur kepada-Nya, bagaimana mungkin الله tidak memberi rizki kepada hambanya yang beriman. Bukankah kita sebagai orang mukmin telah mengetahui dengan jelas bahwa dunia telah dijamin bagi kita, dan amal untuk akhirat adalah tuntutan bagi kita. Sebagaimana firman الله,”Watazawwaduu fa inna khaira zaad at-taqwa dan persiapkanlah bekal dan sebaik-baik bekal adalah taqwa”. Sebagian dari mereka (orang-orang shalih) berkata, “Sesungguhnya الله telah menjamin kemaslahatan duniaku dan الله menuntut amal untuk akhiratku. Dan Tidaklah الله menuntut kemaslahatan duniaku dan menjamin akhiratku.”
Sumber : Kitab Syarah al-Hikam
Jika berkenan silahkan mengcopy untuk di upload dengan mencantumkan/membuat link ke www.manakib.wordpress.com


...

TENANGKAN DIRIMU

coprmohd.gif

TENANGKAN DIRIMU wahai murid DARI TADBIR yaitu dalam urusan duniawimu. Yang dimaksud tadbir adalah seseorang yang menentukan sesuatu atas dirinya mengenahi sesuatu hal / keadaan dimana hal tersebut bersesuaian dengan syahwatnya, kemudian ia mengikutinya dengan beberapa rekayasa dan usaha untuk mendapatkannya. Dan hal yang demikian ini adalah kepayahan yang besar bagi manusia karena terkadang banyak sekali keinginan yang diharapkan akan tetapi sedikit yang di dapat yang sesuai dengan keinginannya. Adapun isyarat kata ARIH NAFSAKA / tenangkan dirimu dimaksudkan bahwa yang harus ditinggalkan adalah usaha yang menyebabkan kepayahan yang sangat. Adapun usaha untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari dengan tujuan untuk memperkuat ibadah kepada Allah tidaklah tercela. KARENA SESUATU YANG TELAH DIJAMIN BAGIMU OLEH ALLAH (DARI RIZKI) MAKA JANGANLAH KAMU MENGAMBIL ALIH PERAN ITU. Yakni sesungguhnya setiap urusan menjadi lapang apabila sudah ada yang mengerjakan selain dirimu yaitu Allah Ta’ala. Dan apa saja yang telah ditanggung / dikerjakan oleh Selainmu, maka tidak ada faidah keikut sertaanmu dalam peran itu dan apa yang engkau adalah pekerjaan yang sia-sia / fudhul. Apalagi sampai menyebabkan menginggalkan ibadah dan bertentangan dengan hukum Tuhan. Dan seorang murid dijelaskan dalam masalah ini karena apabila la bertawajuh menghadapkan seluruh jiwa raganya kepada Allah dan keadaannya sibuk dengan berbagai wirid thariqah dalam amaliyah sehari-hari, maka pada umumnya akan tertinggallah penghidupannya (menjadi miskin harta benda). Maka dalam kondisi seperti ini, datanglah syaitan mendekatinya dan memasukkan rasa was-was/raug-ragu ke dalam hati murid, sehingga ia akan merekayasa sesuatu usaha untuk dirinya dimana apa yang ia bayangkan dan ia angan-angankan kebanyakan tidak pernah akan terjadi. Dan untuk mengobati hal ini adalah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah dan memperbanyak riyadhah sehingga syaitan menjauh darinya dan hatinya berhasil menjadi lapang.
Usaha makhluk dalam urusan dunia secara memforsir diri dan penuh rekayasa sebagaimana yang di sebutkan di atas adalah tercela karena pada hakikatnya Allah SWT telah menjamin dan menanggung bagi mereka akan rizki mereka. Dan Allah yang mengatur segalanya. Adapun yang di tuntut oleh Allah dari manusia adalah kelapangan hati dari kesibukan urusan dunia sehingga mereka dapat berkonsentrasi beribadah kepada Allah dan memenuhi kewajiban yang dibebankan kepada mereka. Akan tetapi kebanyakan yang berlaku pada seorang hamba adalah ia membebankan dirinya sendiri untuk sibuk dengan urusan duniawi karena dorongan untuk memenuhi tuntutan hawa nafsu dan syahwat mereka dan sudah pasti yang demikian ini adalah kepayahan yang sangat karena dengan kesibukannya melayani tuntutan syahwat pastilah akan berkurang pelayanannya terhadap Tuhannya. Hal demikian ini tentu menyimpang dari kaidah-kaidah penghambaan diri kepada Allah dan berubah menjadi penghambaan diri kepada hawa nafsu dan syahwat.
Kemudian dalam kesungguhan menmcari rizki untuk pemenuhan tuntutan syahwat akan terdapat beberapa bahaya diantaranya meninggalkan ibadah kepada allah, melakukan hal-hal yang menyimpang dari hukum Allah, menyia-nyiakan umur sehingga sedikit ubudiyahnya kepada Allah, dimana hal-hal tersebut sangat dijauhi oleh orang-orang berakal. Syaikh Sahal bin AbdulLah berkata, “ tinggalkanlah tadbir dan ikhtiyar karena sesungguhnya keduanya dapat memperkeruh hati manusia dalam kehidupannya”.
Sayyidy Abu Al-Hasan Asy-Syazily RA berkata, “jika memang tidak boleh tidak / harus bagi dirimu untuk ber tadbir, maka berusahalah untuk tidak bertadbir.

...

Selasa, 27 Oktober 2009

SHIDIQ





Alloh SWT berfirman, “


يَاأاَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْ ااتَّقُواْ اللّهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ


Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (At-Taubah 119)


RasuluLlah SAW bersabda :


لآ يَزَالُ الْعَبْدُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللّهِ تَعَالَى صِدِّيْقًا لآ يَزَالُ الْعَبْدُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللّهِ كَذَّابًا


Ustadz Abu Ali Ad Daqaq berkata, “Shidiq/benar adalah tiang semua perkara. Dengannya perkara menjadi sempurna, di dalamnya perkara menjadi tersusun rapi. Kebenaran / shidiq lah yang mengiringi kenabian. Alloh SWT berfirman :


فَأُولئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ انَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِوَالصَّالِحِيْنَ


Mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Alloh yaitu para Nabi, para Shidiqiin, para syuhada dan shalihiin”. (An-Nisa 68)


Shadiq atau orang yang ahli kebenaran adalah suatu nama yang harus dikaitkan dengan kebenaran. Sedangkan shidiq untuk tingkatan yang lebih tinggi adalah orang yang banyak atau sangat dalam hal kebenaran. Orang seperti ini kehidupannya banyak didominasi oleh nilai-nilai kebenaran. Hal itu seperti as-sakiir yaitu orang yang ahli mabuk (karena Tuhan) dan al-khamir yaitu orang yang sangat kecanduan minuman khamer. Paling rendah tingkatan shidiq adalah kesamaan baginya antara yang rahasia dan yang tampak. Orang yang shidiq adalah orang yang benar dalam ucapannya, sementara as-shidiqqi adalah orang yang benar dalam segala ucapan, perbuatan dan keadaannya.


Ahmad bin Khadrawaih berkata, “Barang siapa yang menginginkan Alloh senantiasa bersamanya, maka hendaklah tetap dalam kebenaran. Sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang benar”. Al-Junaid mengatakan, “Orang yang benar dalam keseharian akan mengalami pembolak-balikan sebanyak 40 kali, sedangkan orang yang riya dalam 40 tahun tetap dalam satu keadaan”.
Abu Sulaiman Ad-Daraani berkata, “Kalau orang yang benar hendak mensifati apa yang ada di dalam hatinya maka lidahnya tidak akan berkata sesuatupun”.


Dikatakan, “Kebenaran adalah ucapan yang benardi tempat-tempat yang rusak. Kebenaran adalah kesesuaian antara rahasia dan ucapan”.
An-Naqad mengatakan, “Kebenaran adalah pencegahan yang haram”.


Abdul Wahid bin Zaid mengatakan, “Kebenaran adalah pemenuhan hak Alloh dengan perbuatan”.
Sahal bin AbduLlah mengatakan, “hamba yang mencium bau dirinya (nafsunya) atau yang lain maka tidak akan mencium bau kebenaran”.
Abu Said Al-Quraisy mengatakan, “Orang yang benar adalah orang yang mempersiapkan kematiannya dan dia tidak malu jika rahasia pribadinya terungkap”.


Alloh SWT berfirman :


فَتَمَنَّوُاالْمَوْتَ اِنْكُنْتُمْ صَادِقِيْنَ
..”maka inginkanlah kematian jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (Al-Baqarah 94).


Dari Ustadz Abiu Ali Ad-Daqaq yang mengkisahkan bahwa suatu hari Abu Ali Ats-Tsaqafi berkata yang kemudian ditimpali oleh AbduLlah bin Manazil, “Hai Abu Ali, persiapkanlah kematianmuyang merupakan suatu kepastian.”
Peringatan itu disambut sama oleh Abu Ali, “Dan engkau AbduLlah, persiapkanlah kematianmu yang sudah pasti (datang)”.
AbduLlah pun lantas menggelantungkan tangannya dan meletakkan kepalanya sedemikian rupa seraya berkata, “Saya pasti mati”.
Maka Abu Ali terpaku karena dia tidak mungkin menerimanyadengan apa yang dikerjakan AbduLlah, juga karena Abu Ali mempunyai beberapa ketergantungan (pekerjaan) sementara AbduLlah tidak memiliki kesibukan sama sekali (tajrid).


Ahmad bin Muhammad Ad-Dinawari memberikan fatwa, tidak lama kemudian seorang wanita tua berteriak di majlis dengan teriakan yang nyaring. Abul Abas yang melihatnya nberkata, “Kematian pasti datang. Dia melangkah”.
Wanita tua itu menoleh kepadanya seraya berkata, “Saya pasti mati”. Dan sekejap kemudian maut pun menjemputnya


Muhammad Al Washiti berkata, “Kebenaran adalah kebenaran tauhid yang seiring dengan tujuan”. Diceritakan bahwa Abdul Wahid bin Zaid suatu hari memandang seorang bocah dari salah seorang anak temannya. Bocah itu badannya sangat kurus.


“Apa engkau selalu berpuasa wahai anakku ?”
“Saya tidak selamanya berbuka”. Jawab anak itu.
“Apakah kamu selalu shalat malam ?”
“Saya tidak selamanya tidur”.
“Apa yang membuat badanmu kurus ?”
“Keinginan yang selalu ada dan ketersimpanan yang selalu menetap dalam keinginan”.
“Engkau diamlah, maka tidak akan ada yang dapat mencelakakan dirimu”.


Anak itu berdiri kemudian melangkah dua langkah lalu bergumam,”Tuhan, jika Engkau benar, maka ambilah saya”. Seketika itu juga sang anak jatuh tersungkur dalam keadaan tidak bernyawa.


Abu Amar Az-Zujaji bercerita,” Ibu saya telah meninggal dan saya mewarisi darinya sebuah rumah lalu saya jual seharga 50 dinar kemudian saya berangkat pergi haji. Ketika sampai di kota Babil, seorang pegawai pengairan menemani saya dan bertanya ,’Apa yang engkau bawa ?’


Sebelum menjawab, saya berkata di dalam hati, ‘kebenaran adalah kebaikan’. Kemudian saya baru menjawab dengan jelas, “Yang aku bawa uang 50 dinar”.


“Serahkan kepadaku”.
Sayapun menyerahkan bungkusan uang itu. Dia menghitungnya dan memang ditemuakn sejumlah yang saya sebut, namun kemudian ia mengembalikannya kepadaku seraya berkata, “Ambil bungkusan ini, kebenaran (kejujuran) mu telah memberikan kepadaku”.


Dia lantas turun dari kuda dan emngatakan, “Naiklah binatang ini”.
“Tidak, saya tidak menginginkannya”.
“Harus !” Katanya lebih tegas.
Lelaki it uterus mendesakku sampai saya menaiki kendaraannya. “Dan saya akan mengikuti jejakmu”…katanya kemudian


Pada tahun berikutnya dia menjumpaiku dan tetap bersikap seperti semula kepadaku hingga ia mati.


Ibrahim Al-Khawash berkata, “Orang yang benar tidak bias kamu lihat kecuali dalam kewajiban yang ditunaikannya atau keutamaan yang dikerjakan untuk Tuhannya”.
Al-Junaid mengatakan, “Hakikat kebenaran adalah keberadaanmu yang berani membenarkan sesuatu di tempat-tempat yang tidak akan menyelamatkanmu kecuali kebohongan”.


Dikatakan bahwa ada tiga hal yang tidak bias disalahkan yaitu orang yang benar yang merasakan manisnya kehadiran Al-Haq, rasa segan karena penghormatan pada Alloh, dan cahaya ta’at yang membias di wajah. Dikatakan pula bahwa Alloh pernah mewahyukan pada Nabi Dawud AS, “Hai Dawud, Barang siapa membenarkan-Ku dlam kerahasiaannya, maka aku pasti membenarkannya dihadapan para makhluk di dalam suasana ramai”.


Diveritakan bawa Ibrahim bin Dauhah bersama Ibrahim bin Satanabah Al-Badiyah memasuki suatu ruangan. Tiba-tiba Ibnu Satanabah mengatakan, “Buanglah apa saja yang kamu bawa yang membuatmu ketergantungan”.


“Lalu saya membuang semua yang ada padaku selain dinar”. Kata Ibnu Daulah.


“Hai Ibrahim janganlah kamu menyiibukkan yang tersembunyi. Buanglah apa yang ada bersamamu dari hal-hal yang membuatmu ketergantungan”.


“sayapun lantas membuang dinar”.


“Hai Ibrahim, buang apa yang ada bersmamu dari hal-hal yang membuatmu ketergantungan”.


“Saya berusaha mengingat-ingat apa yang saya bawa. Saya baru sadar bahwa saya membawa seutas tali sandal. Saya lalu membuangnya. Saya sudah tidak butuh lagi tali sandal dalam perjalanan kecuali yang saya dapatkan di hadapan saya”.


Melihat itu Ibrahim bin Satanabah berkata, “Seperti inilah orang yang bekerja pada alloh dengan kebenaran”.


Dzun Nun Al-Mishri berkata, “Kebenaran adalah pedang Alloh. Tidak ada satupun yang ditempatinya malinkan akan diputusnya”.
Sahal bin AbduLlah mengatakan, “Awal penghianatan orang-orang yang benar adalah ucapan-ucapan mereka dengan diri mereka sendiri”.
Fatah Al-Maushuli pernah ditanya tentang kebenaran, dia lantas memasukkan tangannya ke dalam tungku panas tempat pembakaran besi dan mengeluarkan besi panas dan diletakkan di telapak tangannya, “Inilah kebenaran”. Ucapnya.


Yusuf bin Asbath mengatakan, “Karena di waktu malam saya bias bergadang dengan kebenaran bersama Alloh, maka hal itu lebih saya sukai daripada saya memukulkan pedangku di jalan Alloh”.


Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Kebenaran adalah keberadaanmu sebagaimana yang kamu lihat pada dirimu atau kamu melihat dirimu sebagaimana keberadaanmu”.


Al-Harits Al-Muhasibi pernah ditanya tentang tanda-tanda kebenaran lalu dijawab, “Orang yang benar adalah orang yang tidak peduli seandainya segala hal yang berharga menjadi miliknya keluar masuk ke dalam hati para makhluk untuk perbaikan dirinya. Dia juga tidak senang menampakkan pada manusia kebaikan-kebaikan amalnya meski hanya seberat biji-bijian. Atau juga tidak membenci jika perbuatan buruknya ditampakkan pada manusia. Jika tidak denmikian ini maka belumlah termasuk akhlak orang-orang yang benar”.


Sebagian sufi mengatakan, “Orang yang belum menuneikan kewajiban abadi, maka kewajiban yang insidentil tidak akan diterima.” Lalu ditanyakan, “Apa yang dimaksud kewajiban abadi ?” Kemudian dijawab, “Kebenaran”.


Dikatakan, “Jika engkau menmcari Alloh dengan kebenaran, maka Alloh pasti akan memberimu cermin yang kamu dapat melihat segala hal keajaiban dunia dan akhirat di dalam cermin itu. Dikatakan pula, engkau wajib bersama kebenaran. Sekiranya kamun takut kebenaran akan membahayakanmu, sesungguhnya dia akan memberimu manfaat. Kalau sekiranya kamu melihat kebenaran dapat memberimu manfaat, sesungguhnya ia malah akan membahayakanmu.”


Dikabarkan, segala sesuatu adalah sesuatu, membenarkan kebohongan bukanlah sesuatu. Tanda orang bohong adalah kedermawanannya dengan sumpah meski tanpa diminta (untuk bersumpah).


Ibnu Sirin mengatakan, “Ucapan lebih luas dari kebohongan orang yang cerdik”. Dikatakan pula bahwa yang melunakkan pedang adalah kebenaran.
...

Senin, 26 Oktober 2009

Sesungguhnya aku ini adalah fitnah oleh karena itu janganlah engkau kufur

Manakala seorang salik berkeinginan untuk berhenti pada sesuatu yang telah dibukakan untuk dirinya (dari beberapa ma’rifat), niscaya akan ada seruan dari alam hakikat “Sesungguhnya yang engkau cari (bukan itu) tetapi masih berada di depanmu”. Dan manakala ditampakkan keindahan alam semesta (yang menarik hati untuk condong kepadanya, maka hakikatnya akan menyeru, “Sesungguhnya aku ini adalah fitnah oleh karena itu janganlah engkau kufur”.


Orang yang menempuh perjalanan menuju Alloh akan ditampakkan di tengah perjalanannya berbagai cayaha dan rahasia-rahasia. Apabila timbul keinginan untuk berhenti pada penampakan-penampakan itu, dimana ia berkeyakinan bahwa ia telah sampai pada tujuan dan ma’rifah, niscaya akan ada seruan yang lembut (hatif) dari alam hakikat, “sesungguhnya sesuatu yang engkau cari masih berada di depanmu, oleh karena itu bersungguh-sungguhlah dalam berjalan dan jangan berhenti”. Dan manakala diperlihatkan keelokan dunia dan alam semesta beserta kecantikannya sehingga membuat hati condong dan tertarik kepadanya, niscaya ia akan dipanggil dari alam hakikat, “sesungguhya aku adalah fitnah maka janganlah engkau kufur dan pejamkanlah matamu dari semua itu dan janganlah engkau berpaling kepadanya, dan abadikan suluk (perjalananmu)”.


Ketahuilah sesungguhnya apabila engkau masih memiliki hasrat dan keinginan selain Alloh berarti engkau masih dalam perjalanan yang jauh dan belum sampai tujuan. Jika engkau membersihkan segala keinginanmu, niscaya telah sampailah engkau. Alangkah sesuainya apa yang disampaikan oleh Abul Hasan At-Tustari mengenai hal di atas :


Dan janganlah engkau menoleh kepada yang lain dalam perjalananmu
Karena sesungguhnya segala sesuatu selain Alloh akan berubah
Maka jadikanlah dzikir kepada-Nya sebagai perisai




Pada kesempatan lain dikatakan,” Ingatlah jika engkau ingin mendapatkan bagian dari apa yang diperoleh para kekasih Alloh, wajib bagi kamu untuk meninggalkan manusia kecuali mereka yang dapat menunjukkanmu jalan kepada Alloh baik dengan isyarah yang benar dan amal yang kokoh yang tidak berlawanan dengan kitab dan sunah, dan berpalinglah dari dunia secara keseluruhan. Dan janganlah kamu termasuk golongan orang yang berpaling dari dunia akan tetapi mengharapkan sesuatu yang lain, akan tetapi jadikanlah keberpalingan itu menuju penghambaan kepada Alloh SWT yang memerintahkanmu untuk berpaling dari musuh-Nya. Apabila engkau telah mendapatkan dua perkara ini (berpaling dari manusia dan zuhud atas dunia) maka engkau akan teguh bersama Alloh dengan bermuraqabah kepada-Nya, senantiasa bertaubat, beristighfar dan senantiasa kembali kepada-Nya, tunduk dengan hukum-hukum-Nya, dan istiqamah


Adapun penafsiran masalah di atas yaitu, bahwa engkau berdiri sebagai hamba Alloh dan selalu mengawasi hatimu agar hatimu tidak melihat sesuatu di dunai ini selain Dia. Apabila datang di hatimu sesuatu selain Dia, maka akan ada seruan kebenaran (hatif yang haq) yang berkata, “Sesungguhnya engkau telah buta dari jalan kebenaran. Bagaimana engkau berdiri dihadapan Alloh dengan keadaan seperti itu sementara engkau telah pula mendengarkan firman-Nya ,” Dan sesungguhnya Alloh mengawasi segala sesuatu”.


Maka pada saat itu akan tumbuhlah rasa malu pada dirimu yang akan membawamu kepada taubat dan semestinya engkau abadikan taubatmu
...

Template by - Abdul Munir - 2008