Minggu, 22 Agustus 2010

PRAWIRA


PRAWIRA

Alloh SWT berfirman :
انّهم فتية آمنوا برّبهم وزدناهم هوداً
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk “. (QS : Al-Kahfi 13)
RasuluLloh SAWW bersabda :
لا يزالُ الله تعالى في حاجة العبد مادام العبد في حاجة أخيه المسلم
Alloh Ta’ala senantiasa memenuhi kebutuhan hamba selama hamba tersebut memenuhi kebutuhan saudara muslimnya.
          Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Asal sifat prawira atau pemuda yang satria adalah keberadaannya yang senantiasa dalam urusan saudaranya. Beliau berkata, “Kesempurnaan akhlak semacam ini tidak ada yang memiliknya selain RasuluLlah SAWW. Setiap orang pada hari kiyamat akan  mengatakan “diriku....diriku...” sementara Nabi kita mengucapkan “Umatku...umatku..”
          Imam Al-Junaid mengatakan, “Sifat perwira atau satria adalah memaafkan kesalahan kawan-kawannya.” Dikatakan juga bahwa sifat al-futwah atau perwira adalah ketiadaan diri memandang lebih atas yang lainnya. Abu Bakar Al-Waraq mengatakan “Seorang pemuda satria adalah yang tidak memiliki musuh”. Muhammad bin Ali At-Turmudzi mengatakan,”Sifat perwira adalah menjadikan nafsu sebagai musuh Tuhanmu.” Dikatakan, seorang pemuda satria adalah yang tidak memiliki musuh dengan sapapun.
          Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, saya pernah mendengar Nashr Abadzi mengatakan bahwa para pemuda Ashabul Kahfi dinamakan pemuda satria adalah karena keimanannya pada Alloh dengan tanpa perantara”.
          Dikatakan juga bahwa pemuda satria adalah mereka yang berani menghancurkan berhala, sebagaimana yang digambarkan Alloh SWT dalam  firman-Nya :
  سمعنا فتى يذكر هم يقال له ابراهيم
Kami dengar seorang pemuda yang dipanggil –dengan nama- Ibrahim (yang mencela berhala-berhala ini) QS Al-Anbiya 60)
Pemuda ini menghancurkan berhala-berhala kaum kafir.
 فجعلهم جذذا
Maka Ibrahim menjadikan berhala-berhala itu terpotong-potong (QS Al-Anbiya 58)
Berhala pada diri manusia adalah hawa nafsunya, maka seseoarang yang mampu menentang hawa nafsunya pada hakikatnya adalah satria.
          Harits Al-Muhasibi mengatakan, “Sifat perwira adalah kemampuan mengambil sifat tengah-tengah dan adil”. Amru bin Utsman Al-Maky mengatakan, “Perwira adalah budi pekerti yang luhur”. Al-Junaid pernah ditanya tentang ini lalu dijawab, “mereka adalah orang yang tidak menjauhi orang miskin dan tidak menentang orang kaya”.
          Abul Qasim Nashr Abadzi mengatakan, “Sifat prawira adalah cabang dari sifat Al-Futuwah (satria) yang keberadaannya menentang rasa eksis dan harga diri”.
          Ahmad bin Hambal ditanya tentang ini lalu   dijawab, “Meninggalkan apa yang kamu inginkan dan kami takutkan”. Sebagian kaum sufi ditanya, “Apakah yang dimaksud al-futuwah ?’  lalu dijawab, “tidak membeda-bedakan antara orang yang makan bersamanya adalah seorang wali atau orang kafir”. Sebagian orang sufi menceritakan kisah seorang majusi yang bertamu ke rumah Nabi Ibrahim AS. Majusi itu meminta jamuan makan kepadanya.
          “Ya dengan syarat kamu harus masuk Islam”. Tawar Nabi Ibrahim AS.
          Orang majusi tersebut tidak mau dan meninggalkan Nabi Ibrahim AS, lalu Alloh menegur Nabi Ibrahim AS, “Hai Ibrahim, semenjak 50 tahun Saya memberinya makan meski dia kafir. Seandainya engkau mampu memberinya sesuap saja dengan tanpa syarat untuk merubah agamanya...?”
          Nabi Ibrahim AS merasa bahwa wahyu tersebut adalah teguran halus dari Alloh SWT. Beliau merasa bersalah atas sikapnya terhadap orang majusi tadi. Maka Nabi Ibrahim AS keluar mencari orang majusi tadi hingga menemukannya. Beliau meminta maaf atas sikapnya yang kurang meyenangkan. Orang majusi heran dan menanyakan sebab-musabanya. Maka Nabi Ibrahim pun menjelaskan sehingga orang majusi tersebut memeluk Islam dengan sendirinya.
          Al-Junaid mengatakan, “sikap perwira adalah kemampuan menahan penderitaan dan mencurahkan kemurahan.” Sedangkan menurut Sahal bin AbduLlah adalah mengikuti sunah. Ada beberapa pendapat yang memberikan definisi al-futuwah. Sebagian mengartikan pemenuhan janji dan pemeliharaan baik. Sebagian lagi mengartikan sebagai perolehan nikmat dan anda tidak memandangnya sebagai kelebihan anda. Ada juga yang mengartikan tidak lari ketika seseorang peminta menghadapnya atau tidak menutup jalan orang yang hendak mendatangi tujuannya atau juga tidak merasa rendah , direndahkan atau mencari-cari alasan.
Terkadang juga diartikan perwira penampakan nikmat  dan merahasiakan penderitaan, atau digambarkan seperti orang yang mengundang sepuluh orang dan tidak merasa keberatan jika yang hadir sebelas orang. Pada prinsipnya, sikap perwira adalah kemampuan untuk meninggalkan sikap membeda-bedakan.
Ahmad bin Hadrawaih mengusulkan kepada isterinya untuk mengundang seseorang. “Saya ingin mengadakan jamuan yang mengundang seorang penyair pengembara yang cerdas. Dia di negerinya dikenal sebagaai seorang tokoh muda yang berjiwa satria,” katanya.
          “Engkau tidak akan mendapatkan petunjuk dengan mengundang dia’” timpal isterinya.
          “Saya harus mendapatkan”.
          “Jika memaksakan, maka engkau harus menyembelih beberapa ekor kambing, sapi dan himar. Kemudian lemparkan binatang sembelihan itu dari pintu seseorang ke pintu rumahmu.”
          Mengenai kambing dan sapi maka saya memahminya, tetapi mengenai himar apa fungsinya ?”
          “Engkau hendak mengundang seorang pemuda satria untuk datang ke rumahmu, maka jangan menjadikannya lebih sedikit dari kebaikan yang dimiliki seekor anjing.”
          Dikisahkan sekelompok ulama mengadakan jamuan makan yang diantaranya terdapat syaikh Syairazi. Ditengah-tengah mereka makan, tiba-tiba rasa kantuk menyerang meraka .
“Apa penyebab kami tertidur ?”
“Tidak tahu. Namun barang kali ada yang bisa mencari alasan dari cerita saya ini. Sebelum mengadakan jamuan ini saya telah berusaha keras untuk bisa mengumpulkan hidangan dengan bahan-bahan yang jelas kecuali seekor anak kambing. Saya belum sempat menanyakan status hukum anak kambing itu”.
          Pagi berikutnya dia dan para undangan ini mendatangi penjual anak kambing. Mereka menanyakan asal mula anak kambing yang dibeli tuan pengundang.
“Saya sebelumnya tidak memiliki apa-apa,” jelas penjual kambing.” Kemudian saya mencucri seekor anak kambing dari seorang petani dan menjualnya.”
          Merekapun ahirnya mendatangi petni dan meminta keridhaannya. Petaniitu bersedia dengan ganti rugi  seribu ekor anak kambing, dan kami memberinya dengan tambahan sebidang tanah, dua anak sapi, seekor himar, dan beberapa alat pertanian.
          Dikisahkan pula tentang seorang pria yang menikahi seorang gadis. Sebelum menikmati malam pertamanya, laki-laki itu melihat penyakit cacar di sebagian tubuh isterinya. Dia terkejut dan spontan mengatakan “subhanaLloh, mataku sakit, saya menjadi buta”.  Isterinya terkejut tetapi tidak berapa lama ia kembali tenang karena suaminya masih bersikap baik dan setia. Dan waktupun berjalan. Sepasang suami isteri itupun hidup bahagia. Mereka menjalani hidup selama 20 tahun, selama itu pula ia tidak pernah mengalami perlakuan buruk dari suaminya sampai ia meninggal. Semenjak ditinggal mati isterinya, lelaki itu kembali membuka matanya.
          “Bagaimana mungkin anda bisa menjadi demikian ?”tanya tetangga yang heran melihat dirinya tidak buta lagi.
          “Saya sebenarnya tidak buta, hanya saja berpura-pura buta supaya isteriku tidak sedih karena  beban mental yang  disebabkan penyakit cacarnya”.
          “Engkau adalah satria sejati”. Timpal seseorang.
          Dzunun al-Mishri mengatakan,”Barang siapa yang menghendaki kepandaian (sikap satria) maka wajib atasnya meghidangkan air di Baghda”.
          “Bagaimana keadaannya ?”
          “Ketika saya dibawa menghadap khalifah karena tuduhan kafir, saya melihat seorang pelayan penghidang minuman yang memakai surban dan sarung tangan model mesir. Pelayan itu membawa beberapa guci keramik lengkap dengan gelasnya. Saya menunjuk ke arahnya seraya mengatakan, “Itu adalah seorang penghidang minuman khusus untuk raja.”
          Orang-orang menyangkalnya. “Bukan, dia adalah penghidang minuman untuk umum’. Melihat pengakuan itu, sayapun langsung mengambil guci dan meminumnya. Saya mengatakan kepada orang-orang di sekitarku, ‘Barang siapa mengikutiku, maka saya memberinya dinar.’ Namun tidak seorangpun yang berani megambilnya.’
          “Engkau hanyalah seorang tawanan. Bukanlah termasuk golongan satria jika kami mengambil sesuatu darimu.” Kata salah seorang pengunjung yang tidak setuju dengan tawaran Dzunun.
          Dikatakan juga bahwa sikap mengambil untung dari seorang kawan termasuk bukan jiwa satria.
          Diceritakan seorang pemuda Naisabur yang dikenal memiliki jiwa satria mengadakan perjalanan menuju kota Nasa. Ditengah istirahatnya disebuah penginapan, seorang pria bersama kawan-kawanya bertamu kepadanya untuk meminta jamuan. Para undangan itupun datang dan mereka makan bersama-sama. Selesai makan, seorang pelayan wanita keluar ke ruangan jamuan sambil membawa minuman. Dia menuangkan minuman ke masing-masing gelas di tangan para undangan. Namun begitu sampai kepada tuan rumah, dia menarik tangnnya dan mengambil wudhu. Para undangan keheranan dan bertanya-tanya. Pemuda itu mendekat seraya berkata, “Bukan termasuk orang yang satria jika membiarkan pelayan wanita menuangkan air ke dalam gelas di genggaman kaum pria”.
          “Saya semenjak beberapa tahun memasuki rumah ini,” Kata seorang pengunjung,’ belum pernah melihat seorang wanitapun yang menuangkan air minuman ke dalam gelas di tangan kaum pria”.
          Manshur Al-Maghribi berkata, “Seseorang bermaksud menguji Nuh Al-Ayyari An-Naisaburi, seorang ulama sufi naisabur. Orang itu kemudian membeli seorang budak wanita yang diberi pakaian laki-laki, dan memang budak itu dirias sehingga tampak seperti seorang pria tampan. Wajahnya sangat elok dan sikapnya menggemaskan. Budak itu dibawa ke rumah Nuh selama beberapa bulan. Selang beberapa waktu, bekas tuannya datang dan bertanya, “Apakah tuanmu (Nuh) telah mengetahui bahwa engkau adalah seorang budak wanita ?”
          “Tidak, dida tidak pernah menyentuhku sama sekali. Dia hanya membayangkan bahwa aku adalah seorang budak laki-laki”.
          Dikisahkan bahwa seorang laki-laki keji dan licik diminta istana untuk menyerahkan seorang budak guna melayani raja. Laki-laki itu menolak, maka raja memaksanya dengan memberi hukuman seribu cambuk, dan laki-laki itu tetap pada pendiriannya. Dia tidak mau menyerahkan budaknya meski dihukum berat. Bersamaan dengan itu, dimalam harinya dia bermimpi sampai mengeluarkan air mani. Dia tidak segera mandi jinabat hingga pagi hari karena udaranya sangat dingin. Seseorang yang meilhatnya bertanya, “engkau telah mempertaruhkan jiwamu.” Lalu dijawab, “saya sebenarnya malu kepada Alloh yang hanya mampu bersabar menerima pukulan seribu cambukan hanya karena makhluk, sementara untuk mandi jinabat dengan air yang dingin saja saya tidak mampu, padahal itu untuk memenuhi syariatnya.”
          Sekelompok pemuda berkunjung ke rumah seorang pemuda yang dikenal memiliki jiwa satria. Pemuda itu menerima mereka dan mengajaknya bepergian. Di tengah perjalanan mereka menghentikan langkah. Masing-masing mempersilahkan berangkat duluan,”Silahkan anda berangkat duluan’. Mereka diam tidak melangkah. Disusul orang kedua dan ketiga yang juga mengatakan hal yang sama, dan mereka tetap juga tidak bergeming dari posisinya. Hal itu berjalan cukup lama sampai tiap-tiap pengunjung saling berpandang-pandangan.
          “Tidaklah satria seseorang yang mempekerjakan orang yang melanggarnya dalam mendahului perjalanan,” kata sebagian mereka.
          “Lantas mengapa anda sendiri memperlambat langah ?” tanya seeorang kepada pemuda yang memiliki jiwa satria tadi.
          “Dia menjawab, “Di tengah jalan saya dihadang seekor semut. Tidaklah termasuk orang yang sopan jika ia saling mendaului, sementara seekor semut dibiarkan tertinggal  di belakang ; juga bukan seorang satria / perwira seseorang yang menyingkirkan semut dari jalan yang sedang dilaluinya. Karena itu saya diam menanti sampai semut itu merayap menghilang”.
          “alangkah baiknya engkau wahai pemuda !” para tamu itu kagum melihat kemuliaan akhlak pemuda itu. “Seperti engkaulah orang yang patut disebut satria”.
          Dikisahkan juga tentang seorang jama’ah haji yang ketiduran di kota Madinah. Dalam setengah sadarnya, ia dikejutkan oleh bayangan yang seakan-akan berhasil mencuri kantong uang dinarnya. Laki-laki tersebut lagsung terjaga dari tidurnya, lalu keluar dan diluar tenda dia melihat Ja’far Ash-Shadiq. Dia mencurigai Ja’far karena dialah orang yang pertama kali dilihatnya.
          “Engkau mencuri kantongku ?” Tuduhnya.
          “Apa isi kantongmu ?”
          Seirbu uang dinar.”
          Ja’far tidak menyangkal. Beliau langsung pulang mengambil sejumlah uang yang dinyatakan hilang dan memberikannya kepada laki-laki tadi. Lelaki itu kemudian membawanya pulang dan di dalam rumahnya ia melihat kantong uang dinarnya yang disangkanya hilang. Dia menyesal karena telah gegabah menuduh seseorang mencurinya, padahal ia tidak mengenal siapa lelaki itu. Dai kemudian mendatangi lelaki itu dan meminta maaf kepadanya, lalu mengembalikan uang dinar yang diterima darinya. Ja’far menolak seraya mengatakan,”Sesuatu yang telah saya keluarkan dari tangan saya tidak mungkin saya minta kembali”.
          Musafir ini merasa tidak enak, dia tidak tahu siapakah lelaki aneh  yang telah dituduhnya mencuri, “Siapakah beliau ?” tanyanya kepada seseorang.
          “Ja’far  Ash-Shadiq” jawabnya.
          Syaqiq Al-Balkhi pernah bertanya kepada Ja’far bin Muhmmad tentang alfutuwah ((jiwa satria)
          “Menurutmu sendiri apa “
          “Jika kami diberi, kami berterimakasih, jika tidak diberi kami bersabar”.
          “Anjing-anjing di kota kami juga berbuat seperti itu,”Timpal Ja’far.
          Wahai cucu RasuluLloh, kalau begitu menurut tuan apa makna alfutuwah ?”
          “Jika diberi kami memuliakannya, jika tidak diberi kami berterimakasih”.
          AbduLlah AL-Murta’isyi bercerita : Bersama Abu Hafsh kami serombongan menjenguk seorang ulama yang sedang menderita sakit keras.
          “Apakah tuan ingin sembuh ?”
          “ya”
          “Pukulah dia”. Perintah Abu Hafsh
          Si orang yang sakit tersebut kemudian berdiri lalu keluar bersama kami. Akhirnya, kami semua menjadi penghuni tempat tidur orang yang sakit dan kami menjadi orang yang dikunjungi.
...

Selasa, 17 Agustus 2010

CEMBURU



Alloh berfirman :
قل انّماحرّم ربّي الفواحش ما ظهر وما بطن
“Katakanlah , Tuhanku mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi”. (QS Al-A’raf 33)
RasuluLlah SAWW bersabda :
ما احد اغير من الله تعالى ومن غيرته حرّم الفواحش ما ظهر منها وما بطن
“Tiadalah seseorang yang lebih cemburu dari Alloh. Termasuk kecemburuannya adalah mengharamkan perbuatan yang keji baik yang tampak maupun yang tersembunyi”.
Sabda Beliau yang lain :
انّ الله يُغار وإنّ المؤمنين يغار وغيرة الله تعالى أن يأتي العبد المؤمن ما حرّم الله تعالى عليه
“sesungguhnya Alloh cemburu dan orang mukmin cemburu. Kecemburuan Alloh adalah jika seorang hamba yang beriman melakukan perbuatan yang diharamkan Alloh Ta’ala”.
Ustadz Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Cemburu adalah kebencian terhadap keikut sertaan orang lain”. Jika Alloh telah cemburu artinya Alloh tidak rela keikut sertaan selain-Nya yang berhak ditaati hamba-Nya. Diceritakan dari Sariy As-Saqthi bahwa pernah dibacakan sebuah ayat di hadapannya :
وإذا قرأت القرآن جعلنا بينك وبين الذين لا يؤمنون بألاخرت حجابا مستوراً
“Dan paabila kamu membaca Al-Qur’an, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup”. (QS Al-Isra 45)
Kata sarry kepada sahabat-sahabatnya, “Tahukah kamu apa yang  dimaksud dengan dinding itu ?” Dinding penutup adalah cemburu. Tiada seorangpun yang lebih cemburu daripada Alloh”. Adapun yang dimaksud Sariy dalam ucapannya, “dinding penutup ini adalah cemburu”, adalah Alloh tidak menjadikan orang-orang kafir mengetahui kebenaran agama”.
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “sesungguhnya orang-orang yang malas beribadah adalah mereka yang mengikat kebenaran di bawah kaki mereka seperrti orang yang hina, sehingga mereka lebih suka menjauh dari Alloh dan Alloh menjadikan mereka menunda-nunda ibadahnya. Mereka menjadi terlambat dalam hal ini mereka seolah-olah mengatakan :
Aku adalah orang yang jatuh cinta
Pada orang yang aku cintai
Akan tetapi keburukan menghalangiku
Dari memandang orang yang saya cintai
Dalam hal ini mereka juga mengatakan,”Bagi orang sakit yang tidak dikunjungi bagaikan orang yang mengininkan akan tetapi tidak terbalaskan keinginannya”.
Al-Abbas Al-Zauzani berkata,”Saya memiliki suatu awal kebaikan. Saya tahu berapa jarak yang akan saya tempuh untuk mencapai tujuan keselamatan yang saya inginkan. Disuatu malam saya melihat dalam mimpi melihat saya tergelincir dari lereng yang tinggi, lalu saya ingin sekali sampai ke puncak. Saya sangat sedih sekali, kemudian saya terbangun. Saya mendengar seseorang berkata, “Wahai Abbas, Alloh belum menghendakimu sampai kepada sesuatu yang kamu ingini, namun Alloh membuka Al-Hikmah dari lisanmu”. Kata Al-Abbas “Lalu di pagi harinya saya diilhami beberapa kalimat Al-Hikmah”.
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Seorang Syaikh memiliki kondisi dan waktu tesendiri bersama Alloh sehingga ia tidak tampak seaat di tengah-tengah orang fakir, kemudian setelah itu ia tampak tidak seperti pada waktu itu”. Hal itu ditanyakan kemudian dijawab, “Ah, sesungguhnya tabir telah menutupinya”.
Ustadz Abu Ali jika di tengah-tengah majlisnya terjadi sesuatu yang mengganggu hati para jama’ah, ia mengatakan, “Ini adalah termasuk kecemburuan Alloh, Dia menginginkkan cerahnya waktu ini tidak dilalui bersama mereka”.
Dia ingin mendatangi kita
Sehingga ketika melihat suatu cermin kecantikan wajahnya
Meka dia menghalanginya untuk mendatanginya
Sebagian ulama shufi ditanya, “Apakah kamu ingin melihatnya ?”
“Tidak”.
Kenapa?”
Saya mensucikan kecantikan itu dari pandangan orang sepertiku”
Sesungguhnya saya hasud
Terhadap kedua pandangan mataku terhadapmu
Sehingga kupejamkan mataku
Jika aku melihatmu
Saya melihatmu berlenggang penuh keindahan
Yang membuatku tertarik
Sehingga saya cemburu kepdamu
Karena keindahanmu
Dalf Asy-Syibli pernah ditanya.”Kapan kamu beristirahat ?”
“Jika saya tidak melihat orang yang mengingatnya” jawabnya.
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq pernah menyampaikan sabda Nabi SAWW tentang tabiat beliau kepada seorang pasukan berkuda dari suku badui yang mengundurkan diri, lalu beliau mengijinkannya.
“Semoga Alloh memanjangkan usiamu,” kata Baduwi, “dari suku manakah kamu?”
Seseorang dari Quraisy” jawab Nabi SAWW.
Para sahabat yang mendengar menjadi marah dan langsung menghardiknya, “Celakalah kamu sampai kamu tidak tahu Nabimu”
Menurut Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq jawaban Rasul yang berbunyi “Seseorang dari Quraisy” adalah suatu gambaran tentang kecemburuan. Jika tidak, maka bagi setiap muslim wajib mengetahui RasuluLloh SAWW. Alloh kemudian menjadikan lisan para sahabat untuk memperkenalkan Beliau kepada orang baduwi. Sementara menurut sebagian ulama, cemburu adalah termasuk sifat sufi pemula. Sesunguhnya orang yang mengesakan tidak dapat menyaksikan kecemburuan dan tidak punya pilihan lain dan juga tidak bertindak sesuka hatinya dalam kekuasaan. Akan tetapi, urusan-urusan Alloh lah yang paling utama dalam memutuskan semua yang diputuskan.
Sa’id bin Salam Al-Maghribi berkata, “Cemburu itu perbuatan orang-orang yang belum mantap tauhidnya, adapun orang-orang yang ahli hakikat, tidak “
Dalf Asy-Syibli berkata, “Cemburu ada dua, kecemburuan manusia kepada yang lain dan kecemburuan Tuhan kepada hati memberi tenaga pada manusia untuk tidak peduli pada selain Alloh”. Lebih jelasnya dapat difahami pada keterangan berikut ini : Cemburu itu ada dua, kecemburuan Alloh pada haba yang mengandung makna mengajak manusia untuk tidak menjadikan makhluk sebagai sekutu-Nya sehingga ia menninggalkan-Nya. Kecemburuan hamba karena Alloh mengandung pengertian tentang seorang hamba yang tidak melakukan apa saja selain karena Alloh. Dengan demikian cemburu pada Alloh adalah suatu kebodohan, atau bisa saja menjadikannya meninggalkan agama. Sedangkan cemburu karena Alloh bisa menjadikannya megagungkan hak-hak Alloh dan membersihkan perbuatan untuk ditujukan semata-mata karena Alloh. Dan ketahuilah bahwa termasuk sunatuLloh kepada para Wali-Nya adalah bahwa jika mereka berada pada selain Alloh, cenderung pada selain-Nya, maka Alloh akan mengacaukan hati-Nya, sehingga mereka kembali membersihkan hatinya semata-mata karena Alloh tanpa tergiur kepada selain Alloh. Sebagaimana Nabi Adam AS ketika merasa senang diabadikan di surga, maka Alloh mengeluarkannya. Sebagaimana Nabi Ibrahim AS ketika Beliau heran diperintah untuk menyembelih Nabi Ismail AS, maka Alloh mengeluarkan sifat heran tersebut dari hati Nabi Ibrahim AS : 
“Ketika keduanya berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya (nyatalah kesabaran keduanya) (QS Ash-Shafat 103)
‘Dan Alloh pun membersihkan hatinya dengan tebusan yang lain’
Muhammad bin Hasan bercerita :Ketika saya mengelilingi gunung libanon, tiba-tiba muncul seorang pemuda di hadapan kami yang badannya terbakar oleh panasnya udara. Ketika melihat saya dia langsung berpaling dan berlari, lalu saya mengejar dan mengikutinya.
“Nasihatilah saya !” teriak saya dari jarak yang agak dekat.
Tanpa berpaling, pemuda itu meninggalkan pesan, Hati-hatilah sesungguhnya Dia sangat pencemburu. Dia tidak ingin di hati hamba-Nya ada ketertarikan kepada selain-Nya”. Pemuda itu segera menghilang dan saya merenungkan kata-katanya”.
An-Nashr Abadzi berkata, “Alloh itu sangat pencemburu. Diantara kecemburuann-Nya adalah Dia tidak memberikan jalan untuk menuju kepada-Nya di jalan selain jalan-Nya.” Dikatakan bahwa Alloh telah mewahyukan kepada sebagian Nabi-Nya bahwa si Fulan membutuhkan-Ku dan Aku juga membutuhkannya. Jika ia telah memenuhi kebutuhan-Ku maka Aku akan memenuhi kebutuhannya”.
Setelah memperoleh wahyu, maka Nabi tersebut bertanya dalam munajatnya, “Tuhan, bagaimana Engkau mempunyai kebutuhan ?”
“Dia mempunyai kecenderungan kepada selain-Ku, kemudian membersikan hatinya, sehingga Aku memenuhi kebutuhan-Nya, “ Jelas Alloh
Al-Kisah, Abu Yazid Al-Bustami pernah melihat dalam mimpi ada sekelompok bidadari. Dai memandang mereka sampai menghabiskan waktunya dalam berapa hari. Ketika mimpinya terulang lagi, ia tidak menoleh dan mengatakan kepada mereka, “Kamu sekalian hanya akan menyibukkan saya”.
Suatu hari Rabiah Al-Adawiyah mengalami sakit. Salah seorang pengunjung menanyakan keadaannya.
“Apa penyebab penyakitmu ?”
“Saya telah melihat surga di hatiku, lalu Tuhan mendidikku. Dia menegurku,dan saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” Dia berkata sambil memandang Tuhan di dalam hatinya.
Diriwayatkan dari Sariy As-Shaqthi yang menceritaakan, :Saya pernah mencari seorang teman. Daerah-daerah yang saya duga menjadi tempat tinggalnya saya datangi, sampai akhirnya saya tiba dan melewati daerah berbukitan. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh sekelompok orang yang terkena penyakit parah. Diantara mereka ada yang buta, ada pula yang menderita penyakit yang menyengsarakan. Saya Tanya kepada seseorang tentang keadan mereka.
“Di tempat ini setahun sekali dilewati oleh seorang laki-laki aneh yang mendoakan orang-orang sakit yang meminta doanya, dan ternyata mereka sembuh”. Jawab mereka.
Kemudian dengan sabar saya ikut menananti kedatangannya bersama mereka. Waktupun berjalan dan waktu yang saya tunggu pun tiba, ia mendekati orang-orang yang memohon berkah doanya, lalu mendoakan dan mereka sembuh. Tanpa berkata berkata apa-apa lelaki aneh itu melanjutkan perjalanannya. Saya memandangnya sejenak lalu mengikuti jejaknya. Setelah agak jauh, saya menyapanya, “Tuan saya mempunyai penyakit bathin, apa obatnya ?”.
“Wahai Sariy, tinggalkanlah saya. Sesunguhnya Dia sangat pencemburu. Dia tidak mau melihatmu cenderung kepada selain-Nya sehingga Dia berpaling darimu.” Laki-laki aneh itu meninggalkan pesan kemudian pergi.
Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Diantara kecemburuan-Nya terlihat ketka orang-orang berzikir kepada-Nya dengan hati yang lengah, maka Dia tidak mempedulian mereka”.
Ustaz Abu Ali Ad-Daqaq  RahimahuLloh berkata, “ketika seorang Baduwi masuk masjid RasuluLloh SAWW dan kencing di dalamnya, para sahabat marah dan mengusirnya. Mereka merasa malu dan tidak bisa menerima perbuatannya. Demikian juga seorang hamba yang tahu keagungan Tuhannya. Dia merasa sulit mendengarkan zikir orang yang lengah dan beribadah dengan tidak menjaga kesopanan”.
Al-Kisah ketika Dalf Asy-Syibli ditinggal mati puteranya yang bernama Abul Hasan, isterinya gelisah dan memotong-motong rambutnya. Sementara Asy-Syibli masuk kamar mandi dan melumuri jenggotnya dengan sabun yang hendak dicukurnya. Setiap orang yang datang hendak berta’ziyah menanyakanya, “Apa yang kamu lakukan, wahai Abu Bakar ?”
“Ikut berduka cita bersama isteriku”. Jawabnya.
“Jelaskan kepada kami wahai Abu Bakar, mengapa seperti itu yang kamu lakukan ?”
“Saya tahu mereka mengucapkan bela sungkawa kepadaku dengan hati yang lengah. Mereka mengatakan, ‘semoga Alloh memberimu pahala’ maka saya menebus kelengahan zikir mereka dengan jenggotku.” Jawab Asy-Syibli.
Ahmad An-Nuri seoarng shufi pengembara ketika sedang dalam perjalanannya dia mendengar suara azan, lalu menjawabnya dengan jawaban lain, “Tusukan dan racun kematian.” Selang beberapa detik dia mendengar lolongan suara anjing, lalu menjawab, “Baik, semoga engkau berbahagia”. Orang yang mendengarnya memprotes,” Sesungguhnya hal ini sama dengan meninggalkan agama karena mengatakan tusukan dan racun kematian untuk jawaban suara azan dan menyambut lolongan anjing dengan jawaban yang baik.” Dia menjawab, “Karena suaranya bagaikan kepala orang yang berzikir kepada Alloh dengan hati yang lengah. Sedangkan tentang anjing itu Alloh berfirman :
وإنّ من شئء إلا يسبح بحمده
Dan tidak satupun makhluk melainkan bertasbih dengan memuji-Nya (QS Al-Isra 44)
Dalf Asy Syibli pernah berazan. Ketika sampai pada kalimat syahadatain ia berkata, “Kalau bukan karena Engkau memerintahkan saya, pasti saya tidak ingat selain-Mu”.
Al-Kisah seseorang mengucapkan “Maha besar Alloh”  lalu ditmpali seorang ulama sufi, “Saya suka jika kamu membersihkan zikirmu ini”.
Abul Hasan Al-Khazfani mengatakan, Tiada Tuhan selain Alloh dari dalam hati : Muhammad utusan Alloh, dari telinga. Barang siapa melihat dari lahir kata ini, pasti dia akan mengira bahwa ucapan ini meremehkan syariat dan tidak mengingat bahaya kecemburuan Alloh. Karena kekuasaan Alloh mengecilkan yang lain-Nya”
...

MENJAGA HATI PARA GURU


Alloh berfirman menerangkan kisah Nabi Musa AS bersama Nabi Khidir AS :
قال له موسى هل أتبعك علَى ان تعلمني مما علمْت رشدا

Musa berkata kepada Khidir ,, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu ?” (QS Al-Kahfi 66)

Berkata Imam al Junaid, Ketika Nabi Musa AS ingin bersama Nabi Khidir AS, maka Nabi Musa AS disyaratkan untuk menjaga kesopanan yang telah disepakati dengannya. Syarat ini berkaitan dengan permintaan izin Nabi Musa AS untuk diperbolehkan bersahabat dengan Nabi Khidir AS, kemudian Nabi khidir AS memberikan syarat kepada Nabu Musa AS utuk tidak menentang atau memprotes keputusannya. Kemudian ketika Nabi Musa AS tidak menepati peraturan yang pertama dan kedua, maka kekeliruan Nabi Musa AS ini dimaafkan. Akan tetapi ketika pelanggaran itu sampai ketiga kalinya, tiga merupakan batas terakhir, maka Nabi Khidir AS memutuskan untuk berpisah dengannya seraya mengatakan,
هذا فراق بيني وبينك
“Inilah perjalanan antara aku dan kamu”. (QS Al-Kahfi 78).
RasuluLlah SAWW bersabda, “Tidaklah anak muda memuliakan seorang guru karena umurnya, melainkan Alloh akan mentakdirkannya di masa tuanya dengan dijadikan orang lain yang akan berganti menghormati (memuliakannya).”
Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq RahimahuLlah berkata, “awal setiap perpisahan adalah karena adanya pelanggaran, yakni orang yang melanggar gurunya sehingga ia tidak lagi tetap pada thariqah (jalan) gurunya dan hubungan antara keduanya menjadi terputus, walaupun keduanya berada dalam satu tanah. Barang siapa yang bersahabat dengan seorang syaikh atau guru kemudian menentangnya dengan hatinya, maka ia telah merusak perjanjian hubungan murid dengannya, dan ia wajib bertobat”.
Berkata seorang Syaikh, “Menentang guru tidak ada taubatnya (secara sempurna)”.
Syaikh Abu AbdruRrahman As-Sulami berkata, “Saya pernah keluar menuju Marwa di saat guru saya Al-Ustadz Abu Sahal Ash-Sha’luki masih hidup. Sebelum saya keluar beberapa hari yang lalu, dia mengadakan majlis pembacaan Al-Qur’an dan khataman. Ketika pulang, saya melihat dia sedang menggantikan majlis ini dan mengadakan pembicaraan dengan Abul Ghaffani pada saat itu. Saat itu hati saya merasa tidak setuju dan bergumam dalam diri saya sendiri, “Dia telah menggantikan majlis khataman dengan majlis pembicaraan”. Di hari yang lain, guru saya berkata kepada saya, “Wahai Abu AbduRrahman, apa yang dikatakan orang-orang tentang saya ?” Jawabku, “Mereka mengatakan bahwa tuan guru telah menggantikan majlis khataman Al-Qur’an dengan majlis pembicaraan”. Lalu Ustadz Abu Sahal Ash-Sha’luki menjawab dengan menjelaskan, “Barang siapa yang berkata kepada gurunya dengan mengatkan mengapa atau untuk apa, maka ia tidak akan beruntung selamanya”.
Telah diketahui bersama bahwa Al-Junaid berkata, “Saya pernah datang kepada Sarry As-Saqthi di suatu hari. Dia menyuruh saya untuk mengerjakan sesuatu, dan saya melaksanakannya dengan cepat. Ketika saya kembali kepadanya, ia memberi saya selembar kertas dengan berkata,” Inilah tempat pelaksananamu tentang keperluan saya yang kamu laksanakan dengan cepat”. Kemudian saya membaca tulisan kertas tersebut yang ternyata tertulis : “Saya mendengar seorang penggiring onta mendendangkan lagu di lembah :
Saya menangis
Tahukah kamu apa yang menyebabkan aku mnangis ?
Saya menangis karena takut kamu akan meninggalkanku
Dan takut kamu akan memutuskan tali hubunganku
Serta kamu biarkan aku hidup sendiri.

Diriwayatkan dari Abul Hasan Al-Hamdani Al-Alawi yang berkata, “Di suatu malam saya berada di tempat Abu Ja’far Al-Khuldi, saya diperintahkan untuk menggantungkan burung di sangkar di rumah saya, maka saya mengikuti petunjuknya. Kemudian Ja’far berkata kepadaku,, ‘Bangunkanlah di waktu malam’. Maka sayapun mengajukan suatu alasan (pertanyaan kepadanya) kemudian pulang ke rumah dan mengeluarkan burung dari sangkarnya. Burung itu berhenti di hadapan saya. Tiba-tiba muncul seekor anjing yang masuk lewat pintu , membawa burung tersebut ketika orang-orang yang hadir lengah. Ketika pagi hari tiba, saya datang kepada Ja’far. ketika dia melihatku, dia berkata, “Barang siapa tidak menjaga perasaan para guru maka Alloh akan menyuruh anjing untuk menyakiti (mengganggunya).”
AbduLlah ar-Razy telah mendengar Abu Utsman Said Al-Hirri menerangkan sifat Muhammad bin Al-Fadhal Al-Balkhi dan memujinya. AbduLlah ingin sekali mengunjunginya. Ketika mengunjunginya, hati AbduLlah tidak terkesan dengan Muhammad bin Al-Fadhal sebagimana yang diduga sebelumnya karena itu, AbduLlah kembali kepada Abu Utsman.
“Bagaimana kamu dapati dia ?”Tanya Abu Utsman.
“Saya menemuinya tidak seperti yang saya kira”. Jawab AbduLlah
“Karena kamu menganggap kecil (meremehkannya) . ketahuilah tidak seorangpun yang meremehkan orang lain melainkan ia akan dihalangi faedah darinya, karena itu kembalilah kepadanya dengan penuh penghormatan”.
AbduLlah akhirny kembali kepada Muhammad bin Al-Fadhal Al-Balkhi, dan dalam kunjungnnya itu dia membawa banyak manfaat.
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Ketika penduduk Balkh mengusir Muhammad bin Al-Fadhal dari daerahnya, dia mendoakan mereka, “Ya Alloh hilangkanlah kejujuran dari mereka.” Maka di daerah Balkh sesudah itu tiada seorangpun yang bisa dipercaya’”.
Ahmad bin Yahya Al-Abiwardi rahimahuLlah berkata.”Barangsiapa yang diridhai gurunya maka sepanjang hidupnya tidak dibalas (kejelekan) oleh Alloh agar rasa ta’zimnya kepada gurunya tidak hilnag. Ketika guru itu telah meninggal, maka Alloh menampakkan balasan keridhaan gurunya. Barang siapa yang gurunya tidak meridhainya maka maka selama hidup guru itu tidak diberi balasan oleh Alloh agar guru tersebut tidak menaruh belas kasihan kepdanya. Sesungguhnya para guru diciptakan sebagai orang-orang yang mulia. Ketika guru itu telah meninggal, maka murid tersebut akan memperoleh balasannya.
...

Template by - Abdul Munir - 2008