Selasa, 17 Agustus 2010

MENJAGA HATI PARA GURU


Alloh berfirman menerangkan kisah Nabi Musa AS bersama Nabi Khidir AS :
قال له موسى هل أتبعك علَى ان تعلمني مما علمْت رشدا

Musa berkata kepada Khidir ,, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu ?” (QS Al-Kahfi 66)

Berkata Imam al Junaid, Ketika Nabi Musa AS ingin bersama Nabi Khidir AS, maka Nabi Musa AS disyaratkan untuk menjaga kesopanan yang telah disepakati dengannya. Syarat ini berkaitan dengan permintaan izin Nabi Musa AS untuk diperbolehkan bersahabat dengan Nabi Khidir AS, kemudian Nabi khidir AS memberikan syarat kepada Nabu Musa AS utuk tidak menentang atau memprotes keputusannya. Kemudian ketika Nabi Musa AS tidak menepati peraturan yang pertama dan kedua, maka kekeliruan Nabi Musa AS ini dimaafkan. Akan tetapi ketika pelanggaran itu sampai ketiga kalinya, tiga merupakan batas terakhir, maka Nabi Khidir AS memutuskan untuk berpisah dengannya seraya mengatakan,
هذا فراق بيني وبينك
“Inilah perjalanan antara aku dan kamu”. (QS Al-Kahfi 78).
RasuluLlah SAWW bersabda, “Tidaklah anak muda memuliakan seorang guru karena umurnya, melainkan Alloh akan mentakdirkannya di masa tuanya dengan dijadikan orang lain yang akan berganti menghormati (memuliakannya).”
Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq RahimahuLlah berkata, “awal setiap perpisahan adalah karena adanya pelanggaran, yakni orang yang melanggar gurunya sehingga ia tidak lagi tetap pada thariqah (jalan) gurunya dan hubungan antara keduanya menjadi terputus, walaupun keduanya berada dalam satu tanah. Barang siapa yang bersahabat dengan seorang syaikh atau guru kemudian menentangnya dengan hatinya, maka ia telah merusak perjanjian hubungan murid dengannya, dan ia wajib bertobat”.
Berkata seorang Syaikh, “Menentang guru tidak ada taubatnya (secara sempurna)”.
Syaikh Abu AbdruRrahman As-Sulami berkata, “Saya pernah keluar menuju Marwa di saat guru saya Al-Ustadz Abu Sahal Ash-Sha’luki masih hidup. Sebelum saya keluar beberapa hari yang lalu, dia mengadakan majlis pembacaan Al-Qur’an dan khataman. Ketika pulang, saya melihat dia sedang menggantikan majlis ini dan mengadakan pembicaraan dengan Abul Ghaffani pada saat itu. Saat itu hati saya merasa tidak setuju dan bergumam dalam diri saya sendiri, “Dia telah menggantikan majlis khataman dengan majlis pembicaraan”. Di hari yang lain, guru saya berkata kepada saya, “Wahai Abu AbduRrahman, apa yang dikatakan orang-orang tentang saya ?” Jawabku, “Mereka mengatakan bahwa tuan guru telah menggantikan majlis khataman Al-Qur’an dengan majlis pembicaraan”. Lalu Ustadz Abu Sahal Ash-Sha’luki menjawab dengan menjelaskan, “Barang siapa yang berkata kepada gurunya dengan mengatkan mengapa atau untuk apa, maka ia tidak akan beruntung selamanya”.
Telah diketahui bersama bahwa Al-Junaid berkata, “Saya pernah datang kepada Sarry As-Saqthi di suatu hari. Dia menyuruh saya untuk mengerjakan sesuatu, dan saya melaksanakannya dengan cepat. Ketika saya kembali kepadanya, ia memberi saya selembar kertas dengan berkata,” Inilah tempat pelaksananamu tentang keperluan saya yang kamu laksanakan dengan cepat”. Kemudian saya membaca tulisan kertas tersebut yang ternyata tertulis : “Saya mendengar seorang penggiring onta mendendangkan lagu di lembah :
Saya menangis
Tahukah kamu apa yang menyebabkan aku mnangis ?
Saya menangis karena takut kamu akan meninggalkanku
Dan takut kamu akan memutuskan tali hubunganku
Serta kamu biarkan aku hidup sendiri.

Diriwayatkan dari Abul Hasan Al-Hamdani Al-Alawi yang berkata, “Di suatu malam saya berada di tempat Abu Ja’far Al-Khuldi, saya diperintahkan untuk menggantungkan burung di sangkar di rumah saya, maka saya mengikuti petunjuknya. Kemudian Ja’far berkata kepadaku,, ‘Bangunkanlah di waktu malam’. Maka sayapun mengajukan suatu alasan (pertanyaan kepadanya) kemudian pulang ke rumah dan mengeluarkan burung dari sangkarnya. Burung itu berhenti di hadapan saya. Tiba-tiba muncul seekor anjing yang masuk lewat pintu , membawa burung tersebut ketika orang-orang yang hadir lengah. Ketika pagi hari tiba, saya datang kepada Ja’far. ketika dia melihatku, dia berkata, “Barang siapa tidak menjaga perasaan para guru maka Alloh akan menyuruh anjing untuk menyakiti (mengganggunya).”
AbduLlah ar-Razy telah mendengar Abu Utsman Said Al-Hirri menerangkan sifat Muhammad bin Al-Fadhal Al-Balkhi dan memujinya. AbduLlah ingin sekali mengunjunginya. Ketika mengunjunginya, hati AbduLlah tidak terkesan dengan Muhammad bin Al-Fadhal sebagimana yang diduga sebelumnya karena itu, AbduLlah kembali kepada Abu Utsman.
“Bagaimana kamu dapati dia ?”Tanya Abu Utsman.
“Saya menemuinya tidak seperti yang saya kira”. Jawab AbduLlah
“Karena kamu menganggap kecil (meremehkannya) . ketahuilah tidak seorangpun yang meremehkan orang lain melainkan ia akan dihalangi faedah darinya, karena itu kembalilah kepadanya dengan penuh penghormatan”.
AbduLlah akhirny kembali kepada Muhammad bin Al-Fadhal Al-Balkhi, dan dalam kunjungnnya itu dia membawa banyak manfaat.
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Ketika penduduk Balkh mengusir Muhammad bin Al-Fadhal dari daerahnya, dia mendoakan mereka, “Ya Alloh hilangkanlah kejujuran dari mereka.” Maka di daerah Balkh sesudah itu tiada seorangpun yang bisa dipercaya’”.
Ahmad bin Yahya Al-Abiwardi rahimahuLlah berkata.”Barangsiapa yang diridhai gurunya maka sepanjang hidupnya tidak dibalas (kejelekan) oleh Alloh agar rasa ta’zimnya kepada gurunya tidak hilnag. Ketika guru itu telah meninggal, maka Alloh menampakkan balasan keridhaan gurunya. Barang siapa yang gurunya tidak meridhainya maka maka selama hidup guru itu tidak diberi balasan oleh Alloh agar guru tersebut tidak menaruh belas kasihan kepdanya. Sesungguhnya para guru diciptakan sebagai orang-orang yang mulia. Ketika guru itu telah meninggal, maka murid tersebut akan memperoleh balasannya.
...

Minggu, 09 Mei 2010

Sifat sifat orang Munafik*(al Imam Jakfar Shodiq salam Allah atasnya)

Org munafik itu rela jika dia jauh dari rahmat Allah swt. Dia mengamalkan amalan lahiriah sejalan syariat,namun hatinya lalai,ceroboh dan tdk mengakui kebenarannya n mengolok oloknya.
Tanda kemunafikan itu adalah tdk peduli dengan banyaknya dusta, khianat, licik, membuat banyak pernyataan palsu, khianat mata, perangai kasar, pandir, tidak mempunyai rasa malu, menganggap remeh kemaksiatan, menginginkan orang orang beriman kehilangan iman mereka, menganggap ringan musibah yg berkenaan dengan agama, sombong, senang pujian, kedengkian, mengutamakan dunia atas akhirat, lebih memilih keburukan dari kebaikan, suka mengadu domba, suka berlengah lengah, suka berurusan dengan orang fasik, membantu orang jahat, berpaling dari kebaikan, menghina orang-orang yg berbuat kebaikan, menganggap baik kejahatan yg dilakukan, menganggap buruk kebaikan yg dilakukan orang lain, merendahkan diri terhadap orang kaya, merendahkan diri terhadap orang yg berkuasa-dholim, dan banyak lagi yg serupa dengan itu.

Allah telah menyebutkan sifat-sifat kaum munafik di beberapa tempat dalam kitabnya. Dia berfirman: ‘dan diantara manusia ada yg mengabdi kepada Allah secara setengah setengah, apabila dia mendapat kebaikan, dia merasa tenteram, sedangkan apabila dia mendapat musibah, dia kembali atas wajahnya (mjd kafir), dia rugi di dunia dan di akhirat, itu adalah kerugian yg nyata (QS 22:11), juga …’dan diantara manusia ada yg mengatakan kami telah beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal mereka bukanlah orang orang yg beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang orang yg beriman, namun mereka tdk menipu kecuali diri mereka sendiri, sementara mereka tdk menyadari. Di dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambahkan penyakit lagi pada mereka’(QS 2:8-10), Nabi saw bersabda, “Orang munafik itu apabila dia berjanji dia mengingkari, apabila dia berbuat dia bertindak jahat, apabila berkata dia berdusta, apabila diberikan amanat dia berkhianat, apabila diberi rizki dia melanggar, dan apabila tdk diberi dia menonjol nonjolkan kehidupannya”, beliau juga bersabda “Barangsiapa yg batinnya bertentangan dengan perilaku lahirnya, maka dia adalah munafik, siapapun dia,di manapun adanya,pada zaman apapun dia hidup dan dalam peringkat manapun dia berada’, juga bersabda ‘orang beriman makan untuk mengisi satu perut sedangkan orang munafiq untuk tujuh perut’.

Naudzubillah betapa banyaknya kita (maaf saya) masih memiliki sebagian atau semua tanda tanda kemunafikan semoga kita diberi kesempatan dan diberi kekuatan olehNya agar terlepas dari kemunafikan yang tampak (lahiriah) maupun yg tidak tampak (batiniah), hanya Allahlah yang Maha bekuasa atas segala sesuatu. ...

Kamis, 18 Maret 2010

Akal seorang muslim tidak akan sempurna kecuali jika ia memiliki 10 karakter (Imam Ali ar Ridha as)

IMAM ALI AR-RIDHA AS berkata:

"Akal seorang muslim tidak akan sempurna kecuali jika ia memiliki 10 karakter berikut:

1. Kebaikannya selalu diharapkan orang

2. Orang lain merasa aman dari kejahatannya

3. Menganggap banyak kebaikan orang yang sedikit

4. Menganggap sedikit kebaikan yang telah diperbuatnya kepada orang lain

5. Tidak pernah menyesal jika orang lain selalu meminta bantuan darinya

6. Tidak merasa bosan mencari ilmu sepanjang umurnya

7. Kefakiran di jalan Allah lebih disukainya dari pada kekayaan

8. Hina di jalan Allah lebih disukainya dari pada mulia di dalam pelukan musuh-Nya

9. Ketidaktenaran lebih disukainya dari pada ketenaran".

Kemudian Imam Ridha as bertanya: "Yang kesepuluh, apakah yang kesepuluh?"
"Apakah yang kesepuluh?", tanya seorang sahabat.

"Ia tidak melihat seseorang kecuali berkata (dalam hatinya):, 'Ia masih lebih baik dariku dan lebih bertakwa'", jawabnya singkat.

Salam sejahtera atasmu, wahai Imam Ridha as
Salam sejahtera atasmu wahai cucu baginda Rasul SAW
Dengan tulus, segenap orang mukmin di dunia ini menghanturkan shalawat kepadamu, duhai sumber pengetahuan dan hikmah.
...

Selasa, 16 Maret 2010

Artikel Lainnya

...

Penemu Sungai Dalam Laut Itu Pun Masuk Islam

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)

 
Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton acara TV `Discovery Chanel’ pasti kenal Mr. Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli Oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton oleh seluruh dunia.
 
Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba Captain Jacques Yves Costeau menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.
Fenomena ganjil itu membuat bingung Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
 
Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laayabghiyaan…” Artinya: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.
Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” Artinya “Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.



 
Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera.
 
Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahwa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.
 
Subhanallah… Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim. Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.”
Wallahu a’lam.
Catatan bagi komentator :
- Artikel ini adalah artikel lama.
- Fenomena seperti ini pertama kali ditemukan oleh Mr.Costeau
- Foto-foto di atas diambil oleh seorang penyelam bernama Anatoly Beloshchin baru-baru ini.
- Fenomena bertemunya dua laut tanpa bercampur airnya memang benar adanya seperti tercantum dalam Al-Qur`an. Itulah inti dari artikel ini, terlepas dari convert tidaknya Costeau. Karena walau pun Costeau tidak masuk Islam, di luar sana banyak orang yang masuk Islam. Islam agama yang perkembangannya cukup pesat.
- Memang benar saat ini negara barat lebih maju dari Islam. Karena kejayaan itu memang bergulir. Tetapi ingat, kejayaan barat dalam sains dan lain-lain itu tak lepas dari peristiwa perampasan terhadap ilmu yang ditemukan kaum Muslimin. Ketika orang Kristen menerapkan ilmu tersebut, secara tidak sadar, mereka juga telah mengakui kebenaran ilmu kaum Muslimin di masa lalu yang digali dari Al-Qur`an. Kaum musyrikin Quraisy juga mengakui bahwa Nabi Muhammad itu jujur, hanya saja mereka tidak beriman. Orang Kristen mengakui bahwa ilmuwan Muslim terdahulu itu benar ilmunya yang mereka gali dari Al-Qur`an, tetapi mereka tidak beriman. Itulah kesamaan mereka.
...

Rabu, 17 Februari 2010

KEMERDEKAAN





اللّه SWT berfirman, “وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةْ

“dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) tas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam keadaan kesusahan’” (Al-Hasyr 9)

          Artinya, orang-orang Anshar mengutamakan orang-orang Muhajirin atas mereka sendiri untuk memurnikan dari apa yang mereka keluarkan.

          Ibnu Abas RA. Menuturkan sabda َسُوْلُ اللّه SAWW yang mengatakan :
اِنَّمَا يَكْفِى أَحَدُكُمْ مَاقَنَعَتْ بِهِ نَفْسُهُ  وَإِنَّمَا يَصِيْرُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَذْرَعٍ وَشِبْرٍ  وَإِنَّمَايَرْجِعُ إِلَى آخِرِهِ

“Sesungguhnya seseorang dari kalian mencukupkan dengan apa yang menjadi kepuasan nafsunya, sampai menjadi empat hasta dan satu jengkal serta segala perkara kembali pada kesudahannya (akhirnya).”

          Syaikh Abu Ali Ad-Daqaaq mengatakan,”Sesungguhnya makna kemerdekaan/kebebasan dibatasi dalam ketiadaan seorang hamba dibawah pengaruh perbudakan makhluk ; tidak dikendalikan penguasa yang mengatur alam (para raja atau presiden) dan tanda sahnya kemerdekaan dibuktikan dengan keguguran sifat yang membedakan dari hatinya diantara hal-hal (yang menjadi pilihannya). Bagaimana semua posisi yang menghadangnya adalah sama”.

          Haritsah RA pernah mengatakan pada َسُوْلُ اللّه SAWW, “Jiwaku zuhud dari dunia. Bagiku tidak ada bedanya antara batu dan emas”. Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Barang siapa menghinakan dunia, maka dia bebas darinya, dan jika berpindah menuju kampung akhirat maka dia juga bebas darinya”. Beliau juga mengatakan bahwa orang yang bebas dari dunia maka akhirat kelak juga bebas darinya”.

          Syaikh Abu Ali Ad-Daqaaq mengatakan, “Ketahuilah bahwa hakikat kemerdekaan terletak dalam kesempurnaan penghambaan. Jika penghambaannya benar untuk اللّه, maka kemerdekaannya bersih dari perbudakan sesuatu yang berubah. Adapun orang yang berangan-angan bahwa dirinya dipasrahkan hanya kepada-Nya dengan melepaskan semua waktu untuk ibada dan menyatukannya dengan lrikan-Nya dari batasan amar makruf nahi munkar maka dia termasuk orang yang mengerti dalam membedakan beban-beban hukum. Demikian itu menjadikannya terlepas dari dua dunia”.
          اللّه SWT berfirman,
“وَاعْبُدْ رََّكَ حَتَّى يَأتِيَكَ الْيَقِيْنُ
          “dan sembahlah Tuhanmu hingga dating keyakinan padamu” (Al-Hijr 99)

          Yakni kematian. Penafsiran ini lebih disepakati para ahli tafsir.
          Tanda kemerdekaan bagi seorang hamba diantaranya adalah ketiadaan hatinya di bawah penghambaan makhluk, kepentingan-kepentingan dunia dan tujuan-tujuan akhirat. Dirinya adalah dirinya. Tidak satupun keduniaan yang bersifat sementara mampu memperbudaknya, tidak juga keinginan, angan-angan, permintaan, tujuan, harapan, dan keuntungan. Dirinya bebas dari semua itu. Dalf As-Syibli pernah ditanya, “Tidakkah engkau tahu bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Pengasih ?” lalu dijawab,”Benar semenjak saya mengetahui sifat kasih saying-Nya, saya tidak lagi meminta dia untuk mengasihi saya. Maqam kemerdekaan amatlah mulia”.

          Abul Abbas As-Sayyari berkata, “Seandainya shalat tanpa bacaan Al-Qur’an sah, maka sah pula gubahan syair ini :

          Saya berangankan suatu kondisi
          Berada dalam suatu zaman
          Yang engkau akan melihat dua biji mata saya
          Sebagai kemerdekaan yang terbit

          Banyak pendapat para guru sufi tentang makna kemerdekaan diantaranya adalah pendapat Husain bin Manshur yang mengatakan, “Barang siapa menghendaki kemerdekaan, maka teruslah dalam penghambaan (kepada اللّه)”.
          Imam Al-Junaid ditanya tentang orang yang tidak terpengaruh oleh dunia melainkan seukuran isapan satu biji-bijian terkecil, lalu dijawab, “Seorang budak juga tidak terpengaruh oleh keberadaan dirham. Sesungguhnya kau tidak akan sampai pada makna kemerdekaan sementara hakikat penghambaan yang menjadi tanggunganmu masih tersisa (terpengaruh kepentingan).

          Bisyir Al-Hafi berkata, “Barang siapa menginginkan kelezatan makanan kebebasan dan terbebas dari perbudakan, maka sucikanlah rahasia yang berada diantara idrinya dengan اللّه”.
          Husain Al-Manshur juga pernah mengatakan, “Jika seorang hamba mengambil hak beberapa maqam  penghambaan secara keseluruhan yang menjadikannya bebas dari kepayahan penghambaan, maka kerjakan fungsi penghambaan dengan tanpa tekanan dan beban. Itu adalah maqam para Nabi SAWW dan orang-orang yyang ahli kebenaran. Artinya, menjadi orang yang terbebani namun merasa tidak terbebani dan hatinya tidak diliputi rasa berat (karena penghambaannya kepada اللّه), meski hokum syariat pada kenyataannya membemani yang demikian”.

          Manshur Al-Faqih membacakan syair :
Tidakkah ersisa pada diri manusia
Kebebasan, dan tidak juga pada jun
Telah berlalu kebebasan dua golongan
Maka mereka menghiasi hidup dengan kepahitan

          Ketahuilah bahwa sesungguhnya sebagian besar kebebasan terdapat dalam pemberian pelayanan pad orang-orang faqir. Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Alloh memberikan wahyu kepada Nabi Dawud AS, ‘Jika kamu melihat-Ku dengan pencarian, maka jadikanlah dirimu sebagai pelayan-Ku’”.

          RasluLlah SAWW bersabda :

سيّدُالْقوْمِ خادمهم

          “Tuan bagi suatu kaum adalah yang menjadi pelayan bagi mereka”.
          Yahya bin Mu’adz mengatakan, “Anak-anak dunia adalah orang yang dilayani para budak dan pelayan, sedang anak-anak akhirat adalah orang-orang yang dilayani kelompok orang merdeka lagi orang baik”.

          Ibrahim bin Adham mengatakan, “Sesungguhnya kebebasan yang mulia adalah keluar (terbebasnya diri) dari penghambaan dunia sebelum dunia meninggalkannya”. Dia juga mengatakan, “Jangan berkawan kecuali kepada orang yang bebas (merdeka) lagi mulia. Mendengarlah dan jangan berbicara”.
...

Rabu, 10 Februari 2010

ZIKIR


ZIKIR
اللّه SWT Berfirman
ياأيّهاالذيْن أمنوااذْكراللّه ذكرا كثيْرا

Yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada اللّه dengan ingatan (zikir) yang banyak”. (Al-Ahzab 41)

َسُوْلُ اللّه SAWW bersabda :
ألا أنبّئكم بخير أعمالكم وأزْكاها عند ملككم وارفعها في درجاتكمْ وخير منْ إعطاءالذّهب والورق وأنتلقوا عدوّكم  وتضْربوا أعْناقهم ويضْربوا أعْناقكم قالوا ماذاك يارسول اللّه قال ذكراللّه


Artinya ”Ingatlah, akan aku beri tahu kalian tentang sebaik-baik amal kalian, paling suci dari amal kalian di sisi Raja kalian, dan paling tinggi untuk derajad kalian, dan lebih baik daripada pemberian emas dan perak, ataupun daripada engkau bertemu musuh kalian sehingga kalian memukul leher mereka atau mereka memukul leher kalian ?”
Para Sahabat bertanya, ”Apa itu wahai َسُوْلُ اللّه ?.
          Beliau menjawab, ”ZikruLlah”.

          َسُوْلُ اللّه SAWW bersabda :
لاتقوم الساعة على احد يقوال اللّه اللّه

”Hari kiyamat tidak akan terjadi pada seseorang yang mengucapkan اللّه اللّه
َسُوْلُ اللّه SAWW juga pernah bersabda :

لاتقوم الساعة حتّى لا يقال في الارض اللّه اللّه
          ”Kiyamat tidak akan terjadi sehingga di bumi ini tidak ada yang mengucapkan اللّه اللّه

          Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, ”Zikir adalah rukun yang sangat kuat dalam perjalanan menuju Al-Haq, bahkan keberadaannya merupakan tiang. Seseorang tidak akan sampai menuju اللّه kecuali dengan melanggengkan zikir.     

Zikir ada dua macam, zikir lisan dan zikir hati. Zikir lisan diperuntukkan bagi hamba yang mempergunakan kemampuannya sehingga menghantarkannya pada kelanggengan zikir di dalam hati. Zikir lisan ini memiliki pengaruh kepada zikir hati. Jika seorang hamba berzikir dengan lidah dan hatinya sekaligus, maka dia adalah seorang ahli zikir yang sempurna dalam sifat dan keadaan perjalanan spiritualnya.

          Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, ”Zikir menyebarkan kewalian. Barang siapa menetapi zikir maka dia akana dianugerahi penyebaran dan jika ia melepas zikirnya maka penyebaran kewalian akan dicabut darinya”.

          Diceritakan bahwa Dalf As-Syibli dalam permulaan perjalanan sufinya setiap hari menyerap sedikit demi sedikit dan mengendalikan nafsunya dengan teguh supaya tidak terputus dari kontinuitas zikir. Jiak sifat lupa memasuki hatinya, maka dia memukul nafsunya sampai pecah. Terkadang keteguhan ini lenyap sebelum menyentuh. Terkadang pula ia memukul dinding pembatas dengan dua tangan dan dua kakinya. Dikatakan, zikir kepada اللّه dengan hati adalah pedang para murid. Dengan pedang itu mereka berperang melawan musuh-musuh dan menghalau beberapa penyakit yang mencoba mengganggunya. Musibah ketika membayangi hamba dan sempat menggetarkan hatinya, maka dia membatasinya dari semua yang dibencinya pada saat itu juga.

          Muhammad Al-Washiti pernah ditanya tentang zikir maka dijawab, ”Zikir adalah keluar dari medan kelupaan menuju kepastian musyahadah yang mampu mengalahkan tekanan ketakutan dan tarikan rasa cinta”. Dzunun Al-Mishri berkata, ”Barang siapa ingat اللّه dengan ingatan yang hakiki, maka dia pasti lupa segala sesuatu di sisi ingatan-Nya (zikir kepada اللّه) dan اللّه akan menjaganya dari segala sesuatu. Baginya punya pengganti dari segala hal.
Abu Utsman pernah ditanya dari hal yang demikian, ”Kami berzikir kepada اللّه tetapi tidak menemukan kemanisan di dalam hati kami”. Kemudian dijawab,”Pujilah اللّه agar menghiasi diantara luka-lukamu dengan ketaatan”.
          Di dalam hadits yang masyhur َسُوْلُ اللّه SAWW pernah bersabda, ”
إِذَارأيْتم الْجنّة فارْتعوا بها قيْل له وما رياض الجنة فقال مجالس الذكر

          Jika kamu melihat surga maka merumputlah. Ditanyakan kepada Beliau, “Apakah itu kebun surga ?”. Beliau menjawab, “’Majlis zikir”.

          Jabir bin AbdiLlah menceritakan, “Suatu hari َسُوْلُ اللّه SAWW keluar menuju kami lalu bersabda, “

يا أيّهاالنْاس ارتعوا فيْ رياض الجنّة قلنا يا رسول اللّه ما رياض الجنة قال مجالس الذّكر قال اغدوا وروْحواْ والذْكروا من كان يحبُّ أنْ يعْلم منزلته عنْد اللّه تعالى فلينظر كيف منْزلة اللّه تعالى عنده فانّ اللّه تعالى ينزل العبد حيْث أنزله منْ نفْسه

          “Hai manusia merumputlah kalian semua di kebun surga.’Kami bertanya, ‘Wahai َسُوْلُ اللّه, apakah kebun surga itu ?’ Beliau menjawab, ‘Majlis zikir. Makan pagilah kalian dengan zikir, makan sorelah kalian dengan zikir. Barang siapa ingin mengetahui kedudukannya di sisi اللّه maka pandanglah bagaimana kedudukan اللّه di sisinya (di hatinya). Sesunggguhnya اللّه turun pada hamba menurut turunnya hamba di sisi-Nya”.

          Dalf As-Syibli mengatakan, “ Bukankah اللّه telah berfirman, “Aku duduk di sisi orang yang mengingat-Ku. Apa yang kalian peroleh wahai manusia, dari majlis Al-Haqq ini ?”’.

          As-Syibli kemudian mendendangkan sya’ir :
         
          Saya ingat pada-Mu
          Tidak, saya lupa pada-Mu sepintas
          Apa yang lebih ringan dalam zikir
          Selain zikir lidahku
          Saya dengan tanpa cinta
Mati dari keninginan
Hati pergi tanpa arah menujuku
Berputar dari timur ke barat
Ketika cinta melihatku
Sesungguhnya Engkau hadir padaku
Saya menyaksikan-Mu ada
Di segala tempat
Saya berdialog dengan yang diadakan
Dengan tanpa ucapan
Saya melirik yang diketahui
Dengan tanpa pandangan

          Diantara keistimewaan zikir adalah tidak dibatasi waktu, bahka tidak ada waktu melainkan seorang hamba diperintahkan berzikir, baik yang bersifat wajib maupun sunah. Salat meski memiliki kedudukan sebagai ibadah yang paling mulia, namun pada  waktu-waktu tertentu tidak boleh dilakukan. Sedangkan zikir dilakukan sepanjang waktu dalam berbagai keadaan.
اللّه berfirman :

الّذين يذكرون اللّه قياماً وقعوْداَ وعلى جنوبهمْ
“Orang-orang yang mengingat اللّه baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring (Ali Imran 191).

          Abu Bakar bin Furak mengatakan, “Posisi berdiri dengan kebenaran zikir dan posisi duduk dengan menahan diri dari sikap berpura-pura (berzikir).

          Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq pernah ditanya, “Apakah berzikir atau berpikir yang lebih mulia ?”
          “Apa yang terjadi pada Syaikh ?”
          “Syaikh AbduRrahman menajwab, “Bagi saya, zikir lebih sempurna daripada berfikir karena اللّه Dzat Al-Haqq disifati dengan zikir tidak dengan berfikir. Sesuatu yang menjadi sifat asli Al-Haqq adalah lebih sempurna dari sesuatu yang dikhususkan oleh makhluk sebagai sifat Al-Haqq”.
          Maka ustadz Abu Ali tersenyum membenarkan jawaban As-Syaikh.
         
          Muhammad Al-Kattani mengatakan, “seandainya tidak ada ketentuan yang mengatakan bahwa zikir kepada-Nya adalah kewajiban terhadap saya, niscaya saya tidak mengingat-Nya sebagai pengagungan kepada-Nya sebagaimana saya mengingat-Nya”.

          Ustadz Abu Ali mendendangkan syair kepada teman-temannya :

Tidakkah saya jika mengingat-Mu
Selain keninginan mengusirku
Hatiku, rahasiaku, ruhku
Ketika mengingat-Mu
Sehingga sekaan-akan mata-mata
Dari-Mu membisiku untuk-Mu
Celakalah
Zikir adalah untuk-Mu semata.

          Diantara keistimewaan zikir adalah menjadikan diterimanya zikir-zikir yang lain.

          Firman اللّه SWT :

فاذْكروْنِي اذْكركُمْ
Ingatlah Aku, maka aku akan mengingatmu (Al-Baqarah 152)

        Dalam suatu hadits disebutkan bahwa Jibril As pernah berkata kepada َسُوْلُ اللّه SAWW bahwa اللّه SWT berfirman “Aku memberi umatmu sesuatu yang belum pernah Aku berikan kepada umat-umat yang lain”.

        “Apa itu wahai Jibril ?”
        “Yaitu firman-Nya yang mengatakan, ‘(Karena itu) ingatlah kalian maka Aku akan mengingatmu (Al-Baqarah 152). Tidak ada seorangpun selain umat ini yang pernah mengucapkannya.

        Menurut penafsiran, ayat tadi bermakna bahwa malaikat selalu berkonsultasi dengan orang yang berzikir ketika hendak mencabut nyawanya.

        Di dalam sebagian kitab-kitab agama disebutkan bahwa Nabi Musa AS pernah bertanya, “Wahai Tuhan, di mana Engkau berada ?”
        “Di hati hamba-Ku yang beriman”.

        Sufyan Atsauri pernah bertanya kepada Dzunun Al-Mishri tentang zikir lalu dijawab, “Zikir adalah kegaiban orang yang berzikir dari zikir itu sendiri”. Kemudian beliau melantunkan sebuah syair :

Tidak, karena saya melupakan-MU
lebih banyak dari mengingat-Mu
Namun dengan itu lidahku mengalir.

        Sahal bin AbdiLlah berkata, Tiada hari melainkan Dzat Yang Maha Agung memanggil-manggil, “Wahai hamba-Ku, kalian tidak pernah berlaku adil terhadap-Ku. Engkau memohon kepada-Ku tetapi engkau pergi kepada selain-Ku. Aku menghilangkan musibah-misibah darimu tetapi engkau memikul beban-beban kesalahan. Wahai anak Adam, apa yang akan kamu katakan kelak ketika datang kepada-Ku ?”

        Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, “Di surga terdapat lembah yang subur. Ketika seseorang berzikir, maka para malaikat menanam pohon-pohon di lembah itu. Ketika sebagian malaikat berhenti, maka ditanyakan kepadanya, “Mengapa kamu berhenti ?” lalu dijawab, “Kawanku (orang yang berzikir) telah membuat badanku lelah dan payah ”.

        Dikatakan bahwa mencari kelezatan yang hilang ada di dalam tiga hal yaitu di dalam shalat, zikir dan membaca Al-Qur’an. Sesungguhnya kalian pasti menemukannya karena jika tidak maka ketahuilah bahwa pintu sedang ditutup.

        Ahmad Al-Aswad bercerita, “Saya pernah bersama Ibrahim Al-Khawas dalam suatu perjalanan. Kami mendatangi suatu tempat yang di dalamnya banyak terdapat ular. Ketika tiba pada suatu pesisir pantai, Ibrahim merapatkan sampannya lalu duduk dan sayapun ikut duduk. Akhirnya malampun tiba. Udara yang sangat dingin mendorong ular keluar dari sarang mereka. Binatang berbisa tersebut merayap kesana kemari untuk mencari mangsa dan terus berjalan hingga mendekati kami. Ibrahim berbisik kepadaku, ”berzikirlah kepada اللّه”. Sayapun mengucapkan zikir, dan anehnya binatang-binatang tersebut menjauh. Tidak berapa lama ular ular tersebut mendatangi kami, dan Ibrahim mengingatkan kami seperti semula, dan saya menurutinya hingga pagi hari. Setelah matahari cerah, dia berdiri dan berjalan, kemudian saya ikut berdiri dan berjalan. Baru beberapa langkah kami berjalan, tiba-tiba seekor ular besar jatuh di bekas tempat duduk Ibrahim dalam keadaan tidur melingkar. Sayapun berkata, “ alangkah pulas tidur ular ini”. Lalu dijawab Ibrahim, “Tidak, semenjak beberapa masa yang silam, saya tidak pernah tidur malam lebih nyaman daripada pagi ini “.

        Dikatakan, “Barang siapa yang tidak merasakan kerasnya lupa, maka dia tidak dapat merasakan manisnya zikir.” Sarry As- Saqathy berkata, Dalam sebagian kitab disebutkan, “Jika mengingat-Ku lebih menguasai hamba-Ku, berarti dia rindu kepada-Ku yang membuat Aku rindu kepadanya”. Sarry mengatakan, “اللّه memberi wahyu kepada Dawud AS, “Bersama-Ku, bergembiralah dan dengan mengingat-Ku, bersenang-senanglah”.

        Ahmad An-Nuri mengatakan, “Segala sesuatu memiliki siksaan, dan siksaan bagi orang makrifat adalah keterputusannya dari zikir”. Di dalam kitab Injil disebutkan, “Ingatlah Aku ketika kamu marah, maka Aku pasti mengingatmu ketika Aku marah. Ridhalah dengan pertolongan-Ku karena pertolongan-Ku lebih baik daripada pertolonganmu kepada dirimu sendiri”.

        Seorang pendeta yahudi pernah ditanya, “Apakah tuan puasa ?”
        “Saya puasa dengan mengingat-Nya. Jika saya mengingat selain-Nya berarti saya telah berbuka”.

        Seseorang yang mengabadikan hatinya dengan zikir maka setan yang mendekatinya pasti terbanting, sebagaimana manusia yang mendekati setan tanpa zikir juga pasti terbanting. Para setan bingung menyaksikan hal ini. Mereka bermusyawarah, “Apa yang dimilikinya ?” lalu dijelaskan, “Manusia telah menyentuhnya”.

        Sahal bin AbduLlah mengatakan, “Saya tidak mengetahui maksiyat yang lebih buruk melebihi lupa/lalai kepada Tuhan”. Dinyatakan bahwa zikir khafi (secara rahasia) tidak bisa diangkat ke langit oleh para malaikat karena tidak tampak baginya. Zikir semacam ini merupakan rahasia antara seorang hamba dengan اللّه. Salah seorang ulama sufi menuturkan pengalaman anehnya. Dia mengatakan, “Diceritakan kepada saya tentang seorang ahli zikir yang tinggal di sarang harimau. Sayapun mendatanginya. Di sana saya melihat dia sedang duduk berzikir. Tiba-tiba seekor harimau menerkam dan berusaha merobek-robek badannya. Dia pingsan dan sayapun pingsan. Ketika dia sadar dan saya juga mampu berdiri, maka saya bertanya kepadanya, “Ada apa?”. Diapun menjawab bahwa اللّه telah merobohkan harimau itu”.

        AbduLlah Al- Jariri mengatakan, “Diantara sahabat-sahabat kami ada seorang pria yang banyak mengucapkan اللّه..اللّه. ketika dia berjalan di sela-sela barisan pohon kurma, tiba-tiba sebatang pohon kurma tumbang dan menimpa kepala ahli zikir tersebut.kepalanya pecah dan darah mengalir dari sekujur tubuhnya. Di tanah tertulis ribuan kata اللّه, اللّه dengan tinta darahnya”.

...

Template by - Abdul Munir - 2008